
Keesokan harinya.
Eleena mual dan muntah parah sajak dari tadi. Kepalanya pusing dan badannya lemas, makanan yang diberikan oleh pelayan tidak di sentuhnya. Nalendra yang panik memanggil beberapa tabib untuk memeriksanya tetapi tabib selalu menjawab.
"Nona Eleena baik-baik saja, mual dan muntah saat kehamilan adalah hal yang wajar. "
Namun, Nalendra tidak ingin jawaban seperti itu. Pemuda itu bahkan hampir membunuh tabib, karena jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Jika tidak ada Eleena yang menghalangi pemuda itu mungkin mereka sudah mati.
Nalendra berteriak, suaranya dipenuhi dengan kecemasan dan kekhawatiran. Mata dinginnya yang sedingin es sedikit memanas.
"Baik-baik saja katamu, sejak dari tadi dia muntah dan mual, wajahnya sangat pucat. Apa kau ingin menipu Raja ini?"
Tabib tua menjawab dengan bibir bergetar dan ucapan yang terbata-bata.
"Tidaakk...orang tua..ini..tidak bera..ni. "
Lalu pemuda itu mencengkeram leher tabib tua dengan kuat.
"Apa kamu tidak ingin hidup lagi. "
Eleena yang sedang berbaring di ranjang dengan lemah segera duduk dan memukul tangan pemuda itu dengan keras.
"Pergi! dan jangan berteriak lagi! kepalaku pusing dan perutku tidak kunjung membaik. "
Lalu Nalendra melepas cengkeraman tangannya dan melangkah pergi dengan wajah cemberut.
Semenjak hari itu Nalendra sering marah. Semua orang yang berada di Istana Kegelapan di santapnya. Apa yang dilakukan pelayan dan bawahannya selalu salah.
Pelayan dan bawahan yang mendengar kehamilan Eleena sangat bahagia. Karena sebentar lagi mereka akan kedatangan iblis kecil. Meski Nalendra adalah Raja Iblis Kegelapan tetapi dia tidak suka dipanggil Yang Mulia atau Raja. Karena panggilan terhormat seperti itu hanya boleh diucapkan oleh dirinya.
Banyu dan Guntur menghadap tuannya takut-takut. Guntur membungkukkan badan dan berbicara perlahan.
"Tuan, Raja Neraka meminta anda untuk datang ke dunia bawah, karena hantu ganas tidak ingin membuka mulutnya dia akan membuka mulutnya jika tuan yang mengintrogasi. "
Nalendra yang duduk di singgasana melempar gulungan di tangannya. Mereka yang melihat ekspresi mengerikan di wajah Nalendra menelan ludahnya kembali. Mereka tahu jika akhir-akhir ini emosi tuannya sedang tidak baik. Nalendra berdiri cepat dari singgasana dan menuruni tangga satu persatu, tuannya tidak kunjung menjawab tetapi dilihat dari raut wajahnya dia sedang marah. Mereka mengikuti Nalendra di belakang dengan rasa syukur. Hari ini nyawanya mungkin masih bisa di selamatkan.
Di dunia bawah.
Damian sudah lelah ingin rasanya dia membunuh hantu ganas yang menyebalkan ini. Meski dia orang yang baik menurut dirinya sendiri, tetapi kesabarannya hanya setipis satu helai rambut. Hantu ganas yang disiksa sedemikian rupa tidak juga membuka mulutnya.
"Katakan siapa orang bertopeng tersebut? Lalu apa tujuannya?dimana hantu ganas lainnya? "
Sudah seratus kali Damian bertanya seperti itu tetapi hantu itu tidak menjawab dan hanya berkata.
"Aku akan membuka mulut jika iblis itu yang bertanya ini tidak ada hubungannya denganmu. "
__ADS_1
Dan telah ratusan kali juga dia dicambuk hingga tubuhnya hancur dan disatukan kembali. Nalendra datang bersama dengan Banyu dan Guntur dia sengaja memanggil mereka untuk membawa Nalendra ke dunia bawah. Nalendra melipat tangan di dada.
"Pergilah, Raja ini akan memberi hantu jelek ini sedikit pelajaran. "
Mereka menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan Nalendra dan hantu ganas di tempat tersebut.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan. "
Hantu ganas tersenyum jelek.
"Raja iblis sebelumnya aku mengucapkan selamat atas kehamilan kekasihmu. "
"Berhenti omong kosong dan beritahu siapa orang bertopeng itu?"
Hantu ganas tertawa terbahak-bahak,
"Aku juga tidak tahu persis siapa orang bertopeng tetapi aku tahu orang itu berasal dari Kerajaan Akasia. Dia selalu memakai topeng ketika mengunjungimu. Raja Iblis apa kamu tahu jika tubuh istimewa yang dimiliki kekasihmu sangat diinginkan banyak orang. Setelah hari ini mungkin dia tidak akan aman lagi. Aku hanya ingin memperingatimu, kamu beruntung mendapatkan tubuh istimewa, apa kamu tidak akan menggunakannya? dan untuk hantu ganas lainnya kau harus mencarinya sendiri. "
Nalendra mengepalkan tangan. Dia yang sudah marah menjadi sangat marah. Nalendra sudah tahu tentang tubuh istimewa. Tubuh itu anugerah juga malapetaka bagi Eleena. Nalendra tidak ingin kehilangan gadis itu.
"Raja ini sudah tahu tidak usah kau jelaskan dan Raja ini tidak akan melakukan hal licik sepertimu kepada gadis itu, kau terlalu banyak bicara tidak penting. "
Hantu ganas tertawa mengejek.
"Ternyata kamu sangat menyukai gadis itu sehingga kamu tidak ingin memanfaatkannya. Aku tidak mengira iblis jahat sepertimu begitu menyukainya. "
Hantu ganas menutup mulutnya takut. Dia tidak ingin tubuhnya diledakkan.
Mengintrogasi hantu ganas juga tidak berguna dan hanya membuang banyak waktu. Nalendra pergi meninggalkan hantu ganas dan menuju aula istana bawah tanah.
Di Aula Istana Bawah Tanah.
Damian duduk di singgasana dan dikelilingi oleh banyak wanita. Wanita itu sedang memuaskan gairah pemuda itu dengan lihai, berbagai macam gaya telah mereka coba, Wanita cantik dan telanjang mencium dan menjilat tubuh bagian atas Damian dengan mahir, ada juga yang bermain di tubuh bagian bawah Damian, mereka mengulum dan menjilat milik pemuda itu dengan rakus.
Damian mendesah dan melenguh panjang.
Nalendra yang melihat pemandangan vulgar dan tidak senonoh berdiri menjauh dari pemuda itu tanpa mempedulikan mereka. Penampakan seperti ini sudah biasa ketika dia berada di istana dunia bawah. Damian yang mengerang kenikmatan tidak berhenti dan terus melanjutkan aksi tidak senonohnya tanpa mempedulikan Nalendra yang sedang berdiri disana. Dia menolehkan kepala dan tersenyum lebar kepada Nalendra.
"Bagaimana apa kamu sudah mendapatkan informasi dari hantu jelek itu?"
Nalendra menggelengkan kepala dan melipat tangan di dada angkuh.
"Tidak, dia hanya berbicara omong kosong. "
Damian menyuruh semua wanita itu pergi lalu sengaja memakai pakaiannya dengan pelan dan berjalan mendekat ke arah pemuda itu.
__ADS_1
"Apa dia juga hanya mengatakan bahwa orang bertopeng dari Kerajaan Akasia?"
Nalendra mengangguk,
"Benar, hantu jelek itu hanya mengatakan itu. "
Damian berpikir sejenak, menebak-nebak siapa orang bertopeng itu tetapi tidak ada petunjuk dan ciri-ciri. Semuanya sia-sia.
"Percuma, tidak ada petunjuk dan ciri-ciri kita tidak akan berhasil untuk menangkapnya kecuali orang itu menampakkan dirinya. "
Nalendra tidak menjawab, pikirannya dipenuhi dengan kebuntuan. Nalendra tidak ingin berpikir lagi dia hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. Meski orang itu adalah orang yang berbahaya Nalendra tidak takut.
"Raja ini akan kembali ke Istana Kegelapan. "
Namun, Damian berdiri di depan pemuda itu dan menghalanginya untuk pergi.
"Jangan pergi dulu, bagaimana dengan keadaan gadis itu? Apakah akan baik-baik saja kalau gadis itu benar-benar hamil?"
Nalendra menundukkan kepala dan menjawab datar.
"Raja ini juga tidak tahu. "
Damian menghela nafas dan menepuk pundak Nalendra pelan.
"Untuk mengendalikan giok kematian bukanlah hal mudah, ketika membangun pondasi. Dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa, apa dia bisa bertahan dengan rasa sakit itu? Eleena harus memilih antara keselamatannya atau keselamatan janin itu. "
Nalendra menjawab,
"Raja ini tahu, akan tetapi mengingat betapa keras kepalanya dia, Eleena pasti akan memilih keduanya tidak peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan. Membujuk pun tidak berguna. Raja ini hanya akan memberitahunya, keputusan apa yang akan dia pilih itu terserah dengannya. "
Damian tersenyum, dia merasa pemuda di depannya sedikit berbeda dari sebelumnya. Mungkin sekarang dia mulai mendapatkan hatinya kembali.
"Baik, itu terserah dengan dirimu apapun keputusannya kita harus menghormatinya. Tetapi apa kamu rela jika kehilangan dirinya?"
Nalendra terdiam, tentu saja dia tidak ingin kehilangan gadis itu tetapi jika harus membunuh makhluk kecil di perut Eleena Nalendra juga tidak bisa. Dia bukanlah pria brengsek yang tidak bertanggungjawab oleh apa yang telah dia lakukan kepada gadis itu, bagaimanapun anak itu juga adalah anaknya. Nalendra memang kejam dan berdarah dingin tetapi dia mencintai Eleena dan tidak ingin kehilangan mereka.
Nalendra tidak menjawab tetapi Damian tahu apa yang dipikirkan bocah itu. Jadi dia menepuk wajah Nalendra pelan dan berkata.
"Lakukan apa yang menurutmu benar, jangan takut Eleena bukanlah gadis yang lemah, dia tetap akan mencari cara untuk bertahan hidup meski dia berada di gurun pasir sendirian. "
Nalendra mengangguk dan tersenyum simpul.
"Baik, Raja ini pergi dulu. Gadis itu sedikit rewel. "
Damian melepaskan tangan dan tertawa lepas.
__ADS_1
"Pergilah, mungkin dia sedang mencarimu. "
Nalendra tidak menjawab dia membalikkan badan dan melambaikan tangan.