Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Tolong, Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Nalendra menatap gadis yang tertidur di atas ranjang berwarna hitam, rambut hitamnya berantakan, kaki telanjangnya memperlihatkan kulit yang


sangat halus dan lembut seperti porselin, dia meringkuk seperti bayi terlihat lucu dan menggemaskan. Gadis itu memiliki kebiasaan tidak menutup pintu saat dia terjaga atau tertidur. Sehingga siapapun bisa masuk kedalam dengan mudah, benar-benar kebiasaan yang sangat buruk. Untungnya di Istana Kegelapan hanya ada beberapa pelayan wanita. Sudah dua tahun dia mencari gadis itu, tapi siapa sangka dia menemukan gadis itu secara tidak terduga. Giok Tulang Dewa ditubuhnya harus dia segel dengan darahnya jika tidak gadis itu akan dalam bahaya. Giok itu telah memilihnya tapi jika terus seperti itu giok itu akan mengambil alih tubuhnya. Kecuali jika gadis itu bisa mengendalikan Giok itu. Jika Eleena bisa mengendalikan Giok Tulang Dewa, hal itu akan sempurna tapi harga yang dibayar sangat tinggi dia harus merasakan kesakitan yang tak berujung yang teramat pedih.


Giok itulah yang selalu memberitahu Nalendra jika gadis ini dalam bahaya, jadi ketika dia berada di Dermaga Berbintang itu bukan karena ketidaksengajaan giok itulah yang telah memberi tahu Nalendra bahwa gadis itu dalam bahaya. Nalendra membuka pakaian yang dikenakan, di dadanya terdapat bekas luka berbentuk aneh. Bekas luka itu tidak dapat hilang luka itu persis berada dimana giok itu bersemayam ditubuh gadis itu. Kadang cahayanya berpendar dan meredup. Jika bekas luka itu sakit dan berpendar berarti Eleena dalam bahaya. Benar-benar merepotkan dia seperti anjing yang dikekang tidak bisa melepaskan kecuali orang itu yang melepaskannya. Gadis yang tidur di atas ranjang tiba-tiba gelisah. Tubuhnya mengejang, dia membolak balikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, suaranya terengah-engah, gadis itu masih memejamkan matanya dia menggertakkan giginya dengan kuat. Nalendra yang melihat itu segera mendekat kearah gadis itu dia duduk diatas ranjang dan menopang tubuh gadis itu dengan salah satu tangannya. Nalendra menepuk ringan pipi Eleena tapi dia tidak juga sadar. Gadis itu masih memejamkan mata dia mengerang kesakitan.


"Sakit. "


"Ini sangat sakit. "


"Tolong aku."


"Sakit. "


Tubuhnya bergetar karena kesakitan. dia menggigit bibirnya hingga berdarah karena menahan rasa sakit yang tak berujung.


"Tolong."


"Tolong keluarkan benda ini. "


"Sakit. "


"Benda ini sangat sakit. "


Gadis itu kesakitan keningnya dipenuhi dengan keringat dingin. Nalendra tidak bisa menahan lebih lama lagi.Giok itu harus segera disegel dengan darahnya tanpa pikir panjang Nalendra menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah dan mencium gadis itu dengan lembut. Darahnya bercampur dengan darah dibibir Eleena rasa besi yang sangat kuat memenuhi mulutnya, dia menutup bibirnya dengan bibir gadis itu. Nalendra seperti terbakar api, sangat panas dan bergairah disaat yang bersamaan. Seolah tubuh Eleena seperti minyak yang membuat api itu berkobar dengan sangat hebat. Nalendra menurunkan bibirnya di leher gadis itu, menjilat leher gadis itu dengan sangat lihai.Gadis itu melenguh.

__ADS_1


Setelah puas mengigit dan menjilat bibir dan Leher Eleena. Bibirnya turun ke pundak gadis itu dia menggigit pundak gadis itu dengan kuat.


"Kau adalah milikku tak akan ku biarkan orang lain memilikimu. " Sebuah tanda berbentuk bulan sabit berwarna merah muncul di pundak gadis itu. Itu adalah tanda jika gadis itu adalah miliknya tanda itu tidak akan bisa hilang. Mata Nalendra berkabut karena gairah, merasakan sensasi gila yang diberikan Eleena. Dia ingin merasakan tubuh Eleena yang memabukkan ini. Kemudian Nalendra tersadar sejenak tubuhnya masih sangat panas dia mengucapkan mantra aneh. Nalendra mengeluarkan kekuatannya dan menekan kekuatannya kepada tubuh gadis itu.


"Segel. " Giok itu berpendar di dada Eleena dan kemudian meredup.


Gadis itu perlahan membuka matanya. Dia menatap pemuda didepannya jaraknya sangat dekat hembusan nafas panas Nalendra menyentuh pipinya, Gadis itu memeluk pemuda itu dengan sangat erat seolah olah dia telah terbangun dari mimpi yang menakutkan, Eleena menangis sesenggukan dia sangat takut. Benda itu sudah berada ditubuh gadis itu sejak malam itu. Eleena tidak tahu dari mana benda mengerikan ini berasal.


"Benda itu berulah lagi aku sangat takut. "Kata Eleena dengan tubuh bergetar ketakutan. Nalendra yang masih terbakar gairah mendorong dan menekan Eleena di ranjang untuk menggodanya. Gadis itu berada dibawahnya persis seperti saat pertama ketika Nalendra tidur di ranjangnya. Nalendra menatap gadis itu dan membelai wajahnya dengan lembut. Eleena yang merasakan gerakan yang Tiba-tiba tersentak kaget dan menatap mata pemuda itu. Tangan ramping Nalendra yang membelai wajahnya membuat tubuh Eleena menegang.Pemuda itu kemudian berbisik dengan sangat lembut.


"Mulai sekarang kau adalah milikku, selama ada aku benda itu tidak akan melukai atau menyakitiku lagi. "


Suara serak dan lembut pemuda itu sangat menenangkan sekaligus menggoda. Nalendra berdiri dengan cepat dan berjalan pergi meninggalkan Eleena. Tapi kemudian Eleena segera berdiri dan berlari kearah pemuda itu, dia memeluk tubuhnya dari belakang. Nalendra tersentak. Dia membalikan badan dan menatap gadis itu.


"Kau ingin menggoda Raja ini?" tanya Nalendra. Suara itu sangat lembut belum pernah Eleena mendengar suara Nalendra yang selembut itu.


"Tolong jangan pergi." Eleena memohon, dia tidak ingin sendiri dalam ruangan besar ini karena dia merasa suara mengerikan itu berbisik di telinga Eleena. Suara itu mengatakan bahwa dia ingin Eleena mati.


Awalnya Eleena hanya menganggap remeh benda itu dia pikir hanya ilusi dan halusinasinya saja tapi lama kelamaan benda itu mulai membuat tubuhnya kesakitan dan tidak nyaman.


Nalendra mengusap rambut Eleena,


"Kau yang telah menggoda Raja ini terlebih dahulu, malam ini Raja ini tidak akan melepaskanmu dengan mudah."


Nalendra awalnya ingin pergi, untuk menenangkan dirinya dan membuang pikiran mesum itu jauh-jauh tapi gadis ini malah mengejarnya. Dia sudah tidak bisa menahan lagi. Diangkatnya tubuh Eleena dengan kedua tangan kemudian membanting nya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Jangan harap kau bisa pergi, malam ini Raja ini akan membuatmu tidak melupakan malam ini sedetikpun. "


Nalendra merobek pakaian biru muda gadis itu selapis demi lapis. Dia mencium gadis itu dengan ganas, ciuman itu beralih ke pipinya kemudian kelehernya.Eleena merasa panas dan bergairah, dia mendesah menikmati setiap sentuhan yang diberikan Nalendra. Dia ingin lebih dan lebih lagi.Setelah malam dingin yang dipenuhi dengan kesepian yang tak berujung selama ratusan tahun lamanya. Untuk pertama kalinya Nalendra merasakan ranjangnya sangat panas.


...****************...


Di Kerajaan Akasia.


Pagi itu sangat cerah, Ocehan burung terdengar nyaring dengan sangat indahnya. beberapa orang berlalu lalang, Kota ini sangat damai dan tentram. Ada beberapa bunga sakura yang bermekaran di kiri dan kanan di jalan yang lenggang ini. Kadang kala pemuda itu bersiul dan bersenandung dengan riang. Langkah kakinya berhenti di Gerbang Istana, Seorang penjaga yang melihat kedatangan pemuda itu membungkuk dan membuka gerbang itu tanpa bertanya. Istana ini sangat Megah didominasi oleh warna putih keemasan. Istana itu memiliki halaman yang sangat luas. Rumput-rumput dipotong dengan sangat rapi, bunga berwarna-warni ditata dengan apik memenuhi halaman ini. Di depannya terdapat air mancur besar yang menambah berkelasnya Istana ini. Karpet merah membentang di sepanjang jalan.


Dia memasuki Aula Istana yang didominasi oleh warna biru dan putih. didepannya ada singgasana kebesaran berwarna keemasan.


Pemuda itu adalah Briyan,Briyan memiliki wajah cerah dengan tatapan mata lembut, rambutnya berwarna hitam dan sedikit bergelombang. dia memakai baju berwarna hijau yang dirancang khusus oleh pemakainya.


Briyan mendekat ke arah pria yang berusia sekitar empat puluh tahunan, dia memakai jubah kebesaran berwarna putih. Jubah itu sangat mewah dijahit dengan benang emas yang detail dan hati-hati. Rambutnya dikucir tinggi dengan mahkota berwarna putih.


" Ayah. "Panggil Briyan kepada pria setengah baya itu. Orang yang dipanggil menolehkan kepalanya dan tersenyum lembut.


Juna adalah Raja Kerajaan Akasia dan teman baik ayah Eleena, Sudah lebih dari dua tahun dia menyuruh Briyan untuk mencari Eleena. Saat itu Kerajaan Akasia sedang dalam masa krisis bencana angin badai yang hampir merusak separuh kerajaan membuat kerajaan ini terpuruk selama setahun lebih dan mulai berangsur- angsur membaik seperti saat ini. Juna merasa bersalah dengan Ayah Eleena karena tidak bisa menjaga Eleena dengan baik.


"Briyan, apa kau sudah menemukannya Eleena? "Kata Juna masih dengan senyum lembut diwajahnya dia mengusap kepala Briyan dengan lembut.


"Sudah, Dia berada di desa Dermaga berbintang. "Kata Briyan pada pria paruh baya itu dengan senyum lembut diwajahnya.


Briyan adalah Tunangan Eleena, para penatua sudah menjodohkan Eleena dengan Briyan sejak kecil. Briyan adalah teman masa kecil Eleena, pemuda itu menyukai Eleena sejak kecil. Setelah usianya delapan belas tahun gadis itu akan dinikahkan dengan Briyan. Eleena yang kabur dari rumah membuat penatua resah, dia menyuruh Briyan untuk mencari Eleena bagaimanapun caranya, tapi gadis itu seperti menghilang begitu saja. Hingga suatu hari dia mendapat kabar bahwa Eleena berada di Desa Dermaga Berbintang. Dia sangat senang dan bahagia.

__ADS_1


"Dia memang sudah seharusnya kembali setelah dua tahun bermain-main, besok kau pergilah ke Desa itu jemput Eleena pulang. "Kata Juna dengan tegas tapi tidak menghilangkan kelembutan diwajahnya.


Briyan mengangguk dan mengundurkan diri dari Aula Istana. Besok dia akan bertemu dengan gadis itu dadanya berdebar dengan sangat kencang dia sangat merindukan Eleena.


__ADS_2