
Di Dermaga Berbintang sangat sepi dan tenang. Hanya ada suara jangkrik dan air yang mengalir dari sungai di depan rumah. Tanaman berwarna hijau terbentang luas menambah elok dan estetikanya rumah yang berada ditengah-tengah hamparan hijau yang memanjakan mata. Lentera yang menghiasi sepanjang jalan menambah kesan indah desa kecil ini.
Dia melihat beberapa bayangan orang bertopi jerami di bawah bulan yang bersinar terang, bayangan itu berlari dengan sangat cepat. Eleena merasa ada yang tidak beres. Dia sekarang sudah berada di dalam kamar. Dari arah luar terdengar jeritan panik yang melengking. Alisnya berkerut saat berdiri membuka jendela, dia melihat orang-orang berpakaian kusut berlarian keluar rumah. Mereka berhamburan seperti semut. Di belakangnya ada sekelompok orang berpakaian hitam mengejarnya seperti hewan yang gigih mengejar mangsa. Kelompok serba hitam membunuh mereka satu persatu ada yang dipenggal, ditusuk, dan ada juga yang lehernya disayat dengan sangat mengerikan.
Eleena tercengang menatap pemandangan di depannya, dia membeku sesaat. Ini bukan ilusi hantu lagi ini adalah kenyataan yang sesungguhnya. Matanya berkabut menahan air mata yang akan tumpah. Kemudian Eleena berlari kearah orang berpakaian serba hitam tanpa rasa takut. Eleena mengangkat pedang dengan berani. Mulai menyerang, bertarung dan bertahan pada sekelompok orang berpakaian hitam. Eleena dikepung dari segala arah. Jika Eleena menolehkan kepala sedikit saja mungkin kepalanya tidak bisa diselamatkan lagi. Jadi Eleena terduduk pasrah. Eleena ingin melawan tapi dia tidak bisa, kekuatannya habis, dan tubuhnya sudah dipenuhi goresan pedang yang mengerikan.
Dari gerombolan pasukan, seorang pria berjubah tertutup dari atas hingga bawah mendekati Eleena dan mencengkeram tangan Eleena dengan kasar. Eleena merintih kesakitan kuku pria itu menggores tangannya. Pria misterius meraih dagu Eleena kasar setelah melihat wajah Eleena dengan puas dia tersenyum.
"Gadis yang cantik, menyerah lah."
Eleena menatap jijik pemuda itu, meludahi wajahnya dan berteriak marah, "Kau laki-laki bajingan!Aku tidak akan membiarkanmu membunuh dan merusak desaku!Jangan mimpi sekalipun itu mimpi aku tidak akan membiarkanmu. Bunuh saja aku! "
Pria misterius menjadi marah, buku jari-jarinya mencengkeram sangat kuat. Seumur hidupnya hanya gadis ini yang berani menghinanya, "Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah! Kau hanya perempuan rendahan, aku akan menyiksamu, mempermainkan mu, setelah bosan aku akan membunuhmu. "Kata Pria misterius tajam.
Kemudian Pria misterius mengambil tali dari Kantong belakang yang terletak di pinggangnya, mengikatnya gadis itu dengan kencang di batang pohon. Pria misterius merobek bajunya, menyumpal mulut Eleena dengan kasar. Setelah puas dia melengkungkan bibir.
"Awasi perempuan rendahan ini jangan sampai kabur jika dia kabur aku akan mencincang tubuh kalian dan memberikan kepada babi. "Perintah Pria misterius dengan nada tegas dan mengerikan.
Mereka bergidik ngeri dan sekelompok itu mengangguk patuh. Pria misterius meninggalkan mereka, melangkah menuju hutan.
Pria itu menyipitkan mata, tatapan bengisnya mengarah ke wajah tenang itu selama beberapa saat dan mendengus dingin. Meski tiba-tiba dikepung ditengah malam. Pandu sama sekali tidak panik karena dia tidak takut sama sekali dia melengkungkan bibirnya seolah pengepungan ini tidak membuatnya gentar. Pedang berbilah satu berwarna hitam, diayunkan ke arah Para prajurit berbaju serba hitam. Segera prajurit itu melayang satu persatu seperti bulu yang berterbangan. Pria misterius berjubah hitam terbungkus dari kaki hingga kepalanya mengangkat sabre di tangannya.
Bunyi Klang! Klang! Klang! saling bertubrukan dan bersahutan. Pedang itu mengarah ke leher Pria misterius tapi dia menghindar dengan sangat cepat. Pandu tidak menyerah diarahkan pedang itu kearah perut Pria misterius. Seketika itu juga perut Pria misterius itu bolong darah mengucur dari perut Pria misterius. Pria misterius tidak mau kalah diangkatnya sabre dan di sayatnya tangan dan kaki Pandu. Pandu terjatuh terbaring di tanah meringis kesakitan tak jauh berbeda dari Pria misterius itu dia terduduk di tanah merintih kesakitan ditekannya luka diperutnya dengan kuat supaya darah berhenti mengalir. Kemudian para prajurit yang teramat banyak tidak tahu dari arah mana segera mengepung Pandu prajurit itu memakai baju zirah lengkap beserta atribut yang dipakainya. Mereka membawa tombak tajam perak.
Pandu terkekeh pelan dan tersenyum mengejek. Pria misterius kesal dia merasa sangat terhina dan berkata marah, "Kau sudah dikepung tidak ada jalan untuk kembali. Ikutlah bersama kami dan jangan melawan!"
Pandu hanya menatap Pria misterius itu datar, bibirnya berkedut menahan tawa seolah olah melihat lelucon yang sangat menggelikan.
"Baiklah..baiklah aku akan mengaku kalah dan ikut bersama kalian tapi itu. "
Pandu terdiam.
Dengan cepat Pandu melemparkan bubuk berwarna putih, bubuk putih itu menghalangi pandangan para prajurit, dan Pria misterius. Pandu menghilang di hadapan mereka dan hanya suara dari kejauhan yang terdengar.
__ADS_1
"Tapi aku hanya bohong sayang sekali. "
Pria misterius marah pandanganya hanya menyapu kekosongan di kegelapan malam,
"Bersembunyilah dengan baik, aku akan menemukanmu dan membunuhmu bagaimanapun caranya. "
Pria misterius segera berdiri dibantu sabrenya sebagai tumpuan.
Pria misterius menatap tajam para prajurit yang mengelilinginya dia membentak marah.
"Kalian tidak berguna sama sekali! Bagaimana mungkin menangkap satu orang saja tidak bisa kalian payah!"
"Apa kalian tidak ingin hidup?"
Pria misterius mengangkat sabrenya dan mengayunkan ke arah prajurit tapi dia tidak bisa, sabernya membelah udara yang kosong.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara lirih dan rendah, Hans menatap Pria misterius dan kemudian berkata, "Sudahlah jangan banyak bicara kita kembali saja dulu obati lukamu dan baru kita mengatur rencana lain. "
Pria misterius merespon dengan menganggukkan kepala, dia kemudian membalikkan badan, berjalan pelan kearah prajurit. Pria misterius mendorong prajurit yang sedang berjejer dengan kedua tangannya. Pria misterius berhenti di depan pohon.
Hans menatap gadis itu dan berkata enteng,
"Bunuh saja dia jangan biarkan dia hidup, dia akan merusak rencana kita. "
Pria misterius menatap gadis itu menyeluruh tangannya membelai alis cantik gadis itu seakan belum puas tangannya mulai menyusuri hidung dan bibir gadis itu.
Pria itu tersenyum dan berbisik pelan ditelinga gadis itu, "Sayang sekali. Kau sangat cantik tapi aku harus membunuhmu. "
Pria misterius mengangkat sabrenya tinggi-tinggi gadis di depannya menutup mata pasrah, "Apa aku akan mati seperti ini, aku berharap bisa melihatmu sekali saja, aku ingin mengucapkan selamat tinggal."
Tiba-tiba dalam secepat kilat tangan pemuda itu sudah terlempar jauh bersama sabre yang di genggam erat. Pria misterius menatap tangan yang telah terpotong rapi dengan mulut menganga. Darah mengucur deras dari lengan kanannya yang telah dipotong. Pria berambut merah turun dari atas langit kemudian melepas ikatan di tangan dan kaki Eleena dengan sihirnya. Nalendra mengangkat gadis itu dengan lembut dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Pria misterius berteriak kesakitan, tubuhnya bergetar tak terkendali, bibir dan giginya terkatup rapat. Hans tercengang sekaligus tidak percaya menatap pemandangan di depannya. Gerakan Nalendra terasa lebih cepat dari kedipan mata.
__ADS_1
Sementara pria berambut merah sibuk melepaskan dan menyelamatkan gadis itu. Hans kemudian tersadar dan segera berlari ke arah Pria misterius dan membawanya pergi dengan secepat kilat. Mereka menghilang ke dalam hutan yang sangat gelap.
Melihatnya Nawang dan Renata segera mengejar dua pria misterius itu.
Pria berambut merah marah dari kegelapan malam. Banyu dan Guntur mencabik para prajurit dengan kuku runcing dan tajam mereka. Segera barisan prajurit berpakaian serba hitam terbang melayang diudara tubuhnya terpotong menjadi dua bagian mereka menjilat darah di jarinya dan tersenyum mengerikan
Eleena membuka matanya dia telah berbaring dipelukan Nalendra. Eleena menatap Pemuda itu dengan tatapan rumit ada rasa bahagia, cemas, dan sedih bercampur satu berkecambuk di dalam hatinya. Eleena menyunggingkan senyum di bibir pucatnya. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan pria berambut merah di ambang kematian. Air mata yang sadari tadi dibendungnya mulai mengalir deras.
Eleena memeluk pemuda itu dengan sangat erat. Menghirup aroma tubuh Nalendra yang menenangkan dan memejamkan matanya dia tertidur karena kecapekan.
Nalendra membiarkan Eleena memeluknya dengan erat. Entah mengapa melihat gadis ini ada perasaan aneh dihatinya.
Wayan menatap Tuannya tidak percaya matanya melotot mulutnya menganga. Baru kali ini Tuannya mempedulikan seseorang bahkan Tuannya mengutamakan menolong gadis ini. Sunggu pemandangan yang aneh dan langka. Tuannya yang kejam dan bengis membunuh tanpa berpikir dengan sesuka hatinya melunak oleh gadis yang baru ditemuinya. Wayan memejamkan mata membukanya, memejamkan mata lagi dan membukanya kemudian menggosok matanya berharap ini hanya ilusi dan halusinasi tapi tidak ini bukan halusinasi ini yang sebenarnya.
Banyu menatap Wayan seperti orang bodoh seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan Wayan, "Apa kau bodoh! "
Wayan menggelengkan kepala polos,
"Tidak aku tidak bodoh hanya saja. "
Banyu menatap Guntur dan bertanya, "Bukankah dia adalah Preman pasar?"
"Benar dia adalah gadis itu, "Jawab Guntur singkat.
Wayan menatap Banyu kemudian menatap Guntur dengan heran, "Preman pasar?Siapa dia sebenarnya?"
"Orang yang kita temui dua minggu lalu di dalam hutan saat bersama tuan. Gadis itu sungguh liar dan tidak tahu diri bahkan dia berani menendang Tuan Nalendra. "Cerita Banyu sedikit ada nada kesal dihatinya.
Kemudian suara yang keras dan dingin menghentikan mereka, "Sudah cukup berhenti membicarakanya. "
"Wayan, lakukan tugasmu. "Perintah Nalendra tanpa ekspresi.
"Ayo. "
__ADS_1
"Kita kembali ke Istana Kegelapan. "
Segera mereka meninggalkan Dermaga Berbintang bersama Eleena yang berada dipelukannya.