Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Penangkapan Bunglon


__ADS_3

Rasa sakit berdenyut di dalam hatinya dia tidak tahu harus berkata apa lagi, yang bisa di katakan adalah sesuatu yang bodoh.


"Ayah kenapa kamu melakukan ini kepada Eleena?"


Gilang memalingkan wajah cantik putrinya dengan kasar lalu ia berdiri dengan cepat.


"Untuk membangkitkan ibumu memerlukan pengorbanan, meski kamu adalah putri satu-satunya yang aku miliki aku tetap akan melakukannya. Bella mati karena kamu Eleena dan sekarang kamu bersama Raja Iblis itu kau benar-benar hebat. Apa kamu ingat saat Bella mati menggantikanmu? Jika tidak aku akan mengingatkanmu lagi. "


Beberapa tahun lalu.


Eleena kecil sedang berlari riang gembira ke arah ibunya. Bella tersenyum lebar dan memeluk Eleena kecil dengan bahagia. Bagi Bella gadis kecil ini adalah hidupnya meski terkadang dia suka membuat masalah Bella tetap menyayanginya. Eleena kecil menyentuh wajah cantik ibunya dengan tangan mungilnya.


"Ibu kenapa ibu sedih, hari ini Eleena tidak nakal dan tidak membuat masalah kepada para pedagang. Karena Eleena patuh hari ini Eleena bahkan mendapat hadiah. "Kata Eleena kecil sambil menunjukkan lampion kecil berbentuk kelinci yang sangat lucu.


Bella tersenyum dan menatap lembut wajah menggemaskan putrinya dengan tatapan tidak terbaca. Ia mengusap kepala Eleena dengan lembut.


"Siapa yang memberimu lampion secantik ini?"


Eleena mencubit dagunya seperti orang dewasa yang sedang berpikir keras tetapi bukannya malah terlihat serius namun malah terlihat sangat menggemaskan.


"Eleena tidak tahu ibu. Tapi orang itu sangat tampan dan berambut merah. "


Bella tersentak mendengar perkataan Eleena dia segera meraih tubuh mungil Eleena dan memeluknya erat. Saking eratnya pelukan yang diberikan ibunya Eleena kecil berteriak kesakitan.


"Ibu sakit, ibu terlalu erat memeluk Eleena. "


Bella tersadar dari lamunannya dan melonggarkan pelukannya lalu dia memasuki rumah dengan cepat. Semenjak hari itu ibunya bersikap sangat aneh dan sering mengurung dirinya di dalam kamar. Karena hal itu juga Eleena kecil jarang bertemu dengan ibunya, dia lebih sering keluar rumah bermain bersama Briyan. Gilang yang merasa istrinya sedikit berbeda mendekat ke arahnya lalu dia bertanya dengan lembut.


"Kenapa apa Eleena membuat masalah lagi?"


Bella menggelengkan kepala dan berbicara dengan keras, ada kemarahan di dalam suaranya yang lembut.


"Dia datang dan sudah bertemu dengan Eleena. Apa yang harus kita lakukan? apa kita harus menyerahkan Eleena kepada iblis itu aku tidak menginginkan hal itu. Kamu yang telah mengambil mutiara itu dan kamu yang telah mengkhianatinya tetapi kenapa harus anak kita yang menanggung semua ini, ini sangat tidak adil Gilang dan ini semua salahmu. "

__ADS_1


Gilang menjawab dengan cepat.


"Aku tahu apa yang telah aku lakukan salah tetapi ini demi Kerajaan Akasia. "


Bella semakin marah, bibirnya bergetar karena amarah.


"Lupakan ambisi gilamu, sudah cukup Gilang aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi. "


Mereka tidak tahu jika dibalik pintu ada Eleena yang sedang menguping pembicaraan mereka, semenjak hari itu mereka sering bertengkar kesehatan ibunya semakin menurun dan di malam hari saat salju turun begitu lebat ibunya meninggal secara mendadak.


Eleena menatap Gilang dengan mata berkaca-kaca, dia teringat pada seorang pria berambut merah yang memberinya lampion berbentuk kelinci pada saat dia masih kecil. Wajah itu dan rambut merahnya dia adalah Nalendra pantas saja Eleena merasa tidak asing dengan pemuda itu. Itu karena dia sudah mengenal Nalendra sebelumnya.


Waktu itu adalah festival kasih sayang Eleena kecil pergi bersama dengan Briyan tapi karena banyaknya orang berlalu lalang saat di tengah jalan Eleena berpisah dengan Briyan. Eleena kecil menangis sambil mencari Briyan di antara ribuan manusia tetapi dia tidak menemukan pemuda itu. Karena takut Briyan tidak menemukannya Eleena kecil berdiri di samping pohon paling besar. Namun, bukannya Briyan yang datang menemuinya tetapi seorang pria tampan, berpakaian serba hitam, dan berambut merah.


Pria itu tersenyum, tangan besarnya diulurkan kepada Eleena kecil dia mengajak Eleena berkeliling menikmati hari kasih sayang dan membelikan beberapa makanan. Setelah puas mengajak Eleena berkeliling dia mengantar dirinya pulang. Pria itu berkata dengan lembut.


"Pulanglah, kita akan bertemu lagi suatu saat. "


Eleena yang saat itu belum paham hanya menganggukkan kepala tanpa berpikir. Karena Eleena pikir pemuda itu adalah orang yang sangat baik. Setiap hari dan setiap saat Eleena selalu menantikan kedatangan pemuda itu.


Gilang melipat tangan di dada dan menatap Eleena kesal.


"Anak ayah yang paling cantik, apa kamu mau membantuku untuk membangunkan ibumu. Sepertinya dia sangat merindukanmu. "


Eleena merasa ayahnya bukanlah ayah yang Eleena kenal dia sangat berbeda dari dia yang dulu wajah itu tatapan itu sangat berbeda dengan seseorang yang dia kenal.


"Ayah, ibu sudah meninggal lama dia tidak mungkin hidup lagi ayah. Sadarlah jangan seperti ini kamu membuatku takut. "


Gilang tersenyum lebar dia menatap lucu gadis di depannya.


"Aku tidak peduli yang aku inginkan hanya dia kembali Eleena. "


Eleena berkata lembut dia mencoba tawar menawar dengan pelan.

__ADS_1


"Ayah ayo kita pulang, jangan seperti ini. "


Gilang mengedikkan bahu dan berkata lantang dan keras.


"Berisik berhentilah berbicara aku tidak ingin mendengar omongan yang tidak penting dari mulutmu jika kamu berbicara lagi aku akan merobek mulutmu. "


Eleena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Ayah yang Eleena kenal bukan orang seperti ini tetapi mengapa dia sangat berbeda. Eleena seperti tidak mengenal orang tersebut dia mundur dengan perlahan di bantu dengan kedua kakinya. Tidak lama kemudian seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, berpakaian coklat datang mendekat ke arah Gilang pemuda itu berbisik di telinga Gilang.


Eleena tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan tapi sesekali Gilang menganggukkan kepala dan tersenyum. Senyum itu bukanlah senyum yang cemerlang tetapi senyum yang sangat memuakkan bagi Eleena. Pemuda itu menatap Eleena sekilas lalu dia memalingkan wajahnya dengan cepat. Gilang dengan wajah cemberut menatap Eleena, ada kilatan amarah di kedua mata hitamnya yang seperti gelapnya malam.


Gilang mendekat ke arah Eleena lalu membantunya berdiri dia mengambil penutup mata hitam dan mengikat penutup mata.


"Diam dan jangan melawan, kita akan pergi. "


Gilang membantu Eleena berjalan dengan cepat. Ia harus cepat membawa gadis ini pergi karena iblis gila itu sedang menuju tempat ini. Jika rencananya gagal maka semuanya akan sia-sia, Gilang tidak menginginkan hal tersebut tetapi dia sangat sial di belakangnya seseorang sedang menendang punggung Gilang dengan keras dia terlempar jauh ke depan. Eleena terkejut dan terdorong ke belakang dengan keras mungkin sebentar lagi tubuhnya akan menyentuh dinginnya lantai. Tapi seseorang menopang tubuhnya dengan cepat .


"Maaf aku datang sedikit terlambat apa kamu baik-baik saja. "


Mendengar suara yang familiar terdengar di telinganya dia merasa lega dan bahagia.


"Aku baik-baik saja, tapi memang kamu datang sedikit terlambat. "


Pemuda itu tersenyum dan memeluk tubuh mungil Eleena dengan erat.


"Apa kamu masih marah kepadaku?"


Eleena menjawab,


"Tidak, bagaimana mungkin aku bisa marah denganmu. "


Nalendra senang karena gadis ini baik-baik saja. Dia melepas penutup mata Eleena dan menatap kedua mata jernih sang gadis.


"Gadis nakal aku akan membawamu pulang. "

__ADS_1


Banyu dan Guntur datang tepat waktu dia menahan dan menangkap Gilang. Nalendra berkata lantang dan keras.


"Pandu berhentilah melawan, kamu orang yang bodoh. Menurutmu dengan menyamar menjadi Gilang kamu bisa menipu Raja ini. Rencana yang kamu jalankan gagal semua. "


__ADS_2