Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Bertemu Ayah


__ADS_3

Pagi hari di Kerajaan Akasia


Setelah mendandani Banyu dengan begitu cantik Eleena tersenyum puas. Banyu yang didandani seperti seorang gadis oleh Eleena hanya mengerucutkan bibir sebal.


"Apa harus seperti ini?"tanya Banyu jengkel.


Eleena tersenyum menatap hasil karyanya sekali lagi, lalu menganggukan kepalanya puas.


"Tentu saja, kau sangat cantik akan rugi jika disia-siakan begitu saja. "


"Tapi aku tidak suka benda ini terlalu banyak dan berat di kepala. "Kata Banyu menunjuk beberapa jepit rambut emas yang memenuhi kepala.


"Ini yang paling sederhana, menurutlah kalau tidak aku akan mencakar mu. "Kata Eleena mengangkat tangan membentuk cakaran.


Banyu menghembuskan nafas berat.


"Kau mencari kesempatan dalam kesempitan dasar gadis licik. "


Eleena yang dikatai gadis licik tertawa pelan. Dia memang sedang memanfaatkan Banyu untuk menyalurkan bakat yang terpendam.


"Mulai sekarang aku akan memanggilmu Benita. "


"Aku tidak suka itu sangat jelek. "


"Kau harus bersabar dan menurutiku selama beberapa hari kalau tidak aku akan mengadukanmu kepada Nalendra. "Kata Eleena tersenyum licik.


"Kau..memang benar-benar menyebalkan. "


"Benar. "Kata Eleena mengejek.


"Terserah kau saja, aku tidak ingin kepalaku dipotong oleh tuan Nalendra. "Kata Banyu memegangi leher ketakutan.


Eleena tertawa pelan, Banyu adalah pemuda yang sangat ramah dan mudah berteman berbeda dengan Guntur yang pendiam. Eleena nyaman dan senang dengan kehadiran Banyu, dia seperti mendapat teman baru.


Setelah mendandani Benita atau Banyu dengan cantik Eleena mengajak Banyu untuk pergi ke aula istana. Juna telah berjanji akan mengantar Eleena untuk bertemu ayahnya, Tapi. Ketika Eleena sampai di aula istana Juna sudah tidak ada.


Briyan yang melihat Eleena mondar mandir seperti orang yang gelisah mendekat kearah gadis itu. Di samping gadis itu ada seorang perempuan berambut putih yang menatapnya kesal, seolah berkata 'Jangan mendekat'. Namun, Briyan tidak peduli, yang dia pedulikan hanya gadis itu.


"Eleena. "Panggil Briyan.


Merasa ada yang memanggil dia celingak-celinguk mencari suara itu. Di depannya ada seorang pemuda tampan memakai pakaian berwarna putih, rambut hitamnya di kucir tinggi menggunakan mahkota emas.

__ADS_1


Eleena tersenyum,


"Briyan. "


Briyan menyunggingkan senyum di wajah tampannya.


"Ada apa, apa kau mencari ayah?"tanya Briyan.


"Benar, kemarin dia berjanji akan mengantarku menemui ayah. "


"Aku akan mengantarmu, tapi siapa wanita disebelahmu? aku tidak ingat kau datang dengannya. "


"Dia adalah Benita. Kakak Nalendra. "


Banyu yang diperkenalkan sebagai Benita dan kakak Nalendra melebarkan pupil matanya tidak percaya dengan gadis di sampingnya.


"Salam kenal aku Benita. "Kata Banyu acuh.


"Salam kenal juga aku Briyan. "Kata Briyan.


Briyan membuka mulutnya lagi dan bertanya,


"Lalu dimana orang itu?"


Briyan yang mendengar bahwa pemuda itu tidak ada di dekat Eleena merasa senang. Dia merasa mempunyai banyak waktu untuk membicarakan banyak hal kepada Eleena.


"Baik, aku akan mengantarmu bertemu paman Gilang. "Kata Briyan sambil berjalan menuju ke luar istana.


Eleena mengikuti Banyu untuk melewati halaman istana dengan cepat, itu karena semua orang melongo menatap kecantikan Banyu, Banyu yang ditatap sedemikian rupa sangat kesal dia sangat malu. Eleena yang melihat wanita ini begitu kesal tersenyum kecut.


Memerlukan waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat ini. Eleena dan Banyu menaiki kereta kuda untuk mencapai tempat ini.


Tempat ini berada di luar istana yang tepatnya berada di rumah lama Eleena. Rumah ini masih sama seperti sebelumnya saat Eleena pergi meninggalkan rumah. Halaman rumah ini luas, pohon bunga plum yang berada di kediaman mekar dengan indah, terdapat kolam air yang berisi ikan beraneka ragam dan banyak bunga berwarna-warni yang sedang mekar. Eleena tidak tahu harus tertawa atau menangis ketika kembali ke rumah ini. Dia ingat ketika meninggalkan rumah ini dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan yang sangat dalam.


Dia berpikir rumah ini telah hancur diterpa bencana dahsyat kala itu. Tapi ternyata tidak. Itu karena rumah Eleena jauh dari Kerajaan Akasia dan berada di pinggiran desa. Waktu itu angin menerpa Kerajaan Akasia dan kota yang berada di Kerajaan, Sedangkan di pinggir desa hanya terkena dampak kecil.


Seorang pria berusia empat puluhan tahunan, memakai pakaian berwarna biru tua sedang berdiri di pinggir kolam. Nampaknya dia sedang memberi makan ikan-ikan kecil yang berwarna-warni. Ada juga dua penjaga bersenjata lengkap berbaju hitam berdiri di samping pria tua tersebut. Pria tua itu terus menerus memberi makan ikan tanpa menyadari jika makanan yang diberikannya telah memenuhi kolam.


Eleena yang melihat hal itu terkejut kemudian tersadar jika ayahnya sedikit gila. Eleena memanggil orang itu dengan lembut.


"Ayah.."

__ADS_1


Pria tua yang sedang dipanggil ayah memalingkan kepalanya. Pria itu masih terlihat tampan tapi wajahnya sudah tidak muda lagi, terdapat guratan halus dipipinya, beberapa helai rambut putih menggantung di antara rambut hitamnya. Pria itu menyipitkan mata dan bertanya keheranan, seolah wajah gadis ini sangat asing,


"Kamu siapa?"


Eleena melebarkan matanya, dia tidak menyangka jika ayahnya tidak mengingatnya.


Briyan yang melihat ekspresi terkejut di wajah Eleena segera mendekat ke arah gadis itu dan mencoba mengatakan sesuatu untuk menenangkan. Namun, secara tiba-tiba pria itu berteriak dengan keras sambil menutupi telinga dengan kedua tangan.


"Pergi! Pergi! Jangan mendekat! Hantu itu akan datang dia akan membunuhmu!"


"Pergi!Jangan kesini lagi pergi! Cepat pergi!


"Pergi!"


Mata Eleena berkabut saat melihat ayahnya berperilaku seperti orang yang kesetanan. Entah apa yang telah dilalui ayahnya hingga menjadi seperti ini. Dadanya sakit dia ingin menangis tapi jika dia menangis itu akan merusak semuanya jadi dia mendekat ke arah pria itu dan memeluknya.


Pria tua yang dipeluk mencoba memberontak dan memukuli Eleena dengan keras, dia marah karena tindakannya di halangi. Banyu dan Briyan mencoba untuk menarik Eleena tapi Eleena mengangkat tangan seolah mengatakan "Biarkan saja, aku tidak apa-apa" Mereka yang menyaksikan hal itu kemudian melepaskan tangan. Eleena yang dipukul meringis kesakitan, dia tidak menyerah hingga kemudian pria tua itu berhenti memberontak dan sedikit tenang.


"Ayah, ini aku Eleena. "Kata Eleena lembut.


Pria tua itu menatap wajah Eleena seolah mencari sesuatu seperti kebohongan dan kebenaran. Melihat gadis ini tidak bohong kemudian pria itu menangis tersedu-sedu. Eleena yang mendengar ayahnya menangis. Memeluknya semakin erat. Eleena menangis dalam diam sesekali tangan mungilnya mengusap air mata yang mengalir dengan kasar.


"Eleena, benarkah itu kamu? Maafkan ayah Eleena. "


Eleena tersenyum dan mengatakan


"Aku tidak apa-apa ayah. "


Pria tua itu tersenyum dan membelai wajah Eleena dengan sangat lembut seolah-olah Eleena adalah gelembung yang mudah pecah.


"Paman ini Briyan, aku telah menepati janjiku untuk membawa Eleena kembali. "


Gilang terharu dia tidak menyangka akan bertemu dengan malaikat kecilnya lagi. Dia mengira bahwa Eleena masih marah dan tidak ingin kembali.


Gilang menarik Briyan di pelukannya dan berkata lembut.


"Terimakasih. "


Briyan sudah memberi tahu bagaimana keadaan ayahnya saat berada di dalam tandu, bahwa terkadang emosi pria tua ini tidak stabil, seperti mengamuk dan menangis secara tiba-tiba. Kemudian berteriak histeris seperti orang yang ketakutan, tapi terkadang juga dia bersikap seperti orang normal pada umumnya. Itu semua karena Luta pernah mencoba membunuhnya tapi kemudian percobaannya gagal dan diketahui pihak istana. Dia menjadi gila.


Maharani mengetahui bahwa Luta ingin membunuh Gilang. Perempuan itu pergi dari rumah dia tidak ingin ditangkap dan dihukum karena kesalahan anaknya. Setelah dicari beberapa hari orang itu sudah meninggal secara mengenaskan. Tidak ada yang tahu siapa yang telah membunuh Maharani.

__ADS_1


Semua itu sangat janggal tapi pihak Kerajaan kemudian menutupi masalah ini seolah tidak terjadi apa-apa. Luta menjadi hantu ganas dan target utamanya adalah Eleena. Itu semua sangat aneh. Lalu kenapa? dan mengapa? Semua itu masih menjadi pertanyaan.


__ADS_2