Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Eleena dan Putra Mahkota


__ADS_3

Di Kerajaan Akasia


"Briyan...Briyan tolongin Eleena. "Teriak gadis kecil berpakaian merah, rambutnya diikat tinggi dengan tali berwarna hitam, bunyi lonceng yang renyah menembus telinganya, lonceng itu diikatkan di pergelangan kakinya. 


Briyan yang dipanggilnya dari kejauhan menatap gadis cilik itu tidak percaya. Dibelakang gadis itu dikejar oleh sekelompok orang yang dikenalinya. Briyan hanya menghela nafas. 


"Pasti dia membuat masalah lagi dengan sekelompok orang itu. "Gumam Briyan.


Sekelompok orang di belakang Eleena meneriaki namanya dengan lantang. 


"Tuan putri. "


"Tuan putri. "


"Jangan lari!"


Eleena yang sadari tadi berlarian menghindari sekelompok orang itu seketika menghentikan kakinya dan berdiri di belakang Briyan. Nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan berlari. 


Briyan yang melihat Eleena bersembunyi di punggungnya hanya tertawa pelan. 


"Kali ini masalah apa lagi yang kau buat. "Kata Briyan lembut. 


Sekelompok orang yang berlarian tadi menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat kepada Putra Mahkota. Mereka mengucapkan kata terbata-bata. 


"Pangeran, Tuan..put putri telah membakar kedai k..kami. "Kata wanita separuh baya dengan pakaian kuning lusuh, wajahnya dipenuhi noda hitam karena angus. 


Pemuda di samping wanita paruh baya itu membuka mulutnya ragu-ragu. 


"Pangeran, Tuan putri melepaskan kambing kami dan sekarang kambing itu berlarian ke rumah warga dan sebagian hilang. "


Pria paruh baya disebelah pemuda itu juga membuka mulutnya,


"Pangeran, nona Eleena telah menceburkan anak kami ke dalam danau dan sekarang dia sakit karena terlalu lama didanau. "


Saat orang keempat dan kelima akan membuka mulut Briyan membuka mulutnya dan menatap sekelompok orang ini.


"kau juga punya keluhan lain kata Briyan kepada orang keempat dan kelima itu. "


Mereka berbicara lembut tapi ragu-ragu,


"Iya. Pangeran. "


Briyan menatap sekelompok orang itu dengan tatapan kasihan. 


"Tulis keluhan kalian dan kirimkan ke Kerajaan, Kerajaan akan mengganti semua masalah yang di timbulkan Eleena dengan harga yang pantas dan sesuai. "Perintah Briyan tegas.


Sekelompok orang itu mengangguk mengerti dan pergi meninggalkan mereka dengan perasaan lega. 


Eleena yang masih berdiri di belakang Briyan menarik pelan baju Briyan. Briyan yang merasa ditarik bajunya membalikan badannya dan menunduk menatap wajah Eleena. Eleena saat itu masih berusia sembilan tahunan dan Briyan berusia empat belas tahun. Eleena mendongakkan kepala dan berkata lirih. 


"Maafkan aku, aku tidak sengaja. " Eleena tersenyum kikuk.


Briyan mendesah, dia mengoceh tidak karuan.


"Kau, selalu saja meminta maaf seperti ini jika aku tidak salah hitung kau sudah minta maaf selama dua ratus empat puluh delapan kali selama dua tahun, dan selama dua ratus empat puluh delapan kali aku memaafkanmu tapi kau mengulanginya lagi lagi dan lagi, tidak bisahkah kau tidak membuat masalah sehari saja. " Protes Briyan dengan nada lembut.


"Benarkah, sebanyak itukah "tanya Eleena tanpa ekspresi. Briyan sangat sabar menghadapi Eleena dia tidak pernah marah kepadanya. Briyan seperti seorang kakak bagi Eleena.

__ADS_1


Briyan yang merasa gadis itu menyebalkan sekaligus menggemaskan mencubit pipinya dengan keras. Eleena mengerang kesakitan. Briyan berlari dan Eleena berlarian mengejar Briyan. 


Saat itu musim semi bunga sakura bermekaran dengan cantik dan indah, matahari sangat cerah seolah tersenyum melihat mereka. 


Setelah hari itu, surat keluhan menumpuk di atas meja Juna, Juna tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya. Dia memanggil Galang, Galang adalah ayah Eleena. Galang adalah pejabat kerajaan yang sangat dipercayai Juna, dia menorehkan banyak prestasi di Istana Kerajaan Akasia, Kontribusinya terhadap kerajaan juga sangat menganggumkan dan memuaskan. 


Galang yang dipanggil oleh Raja segera menuju ke Aula Istana, menghadap Juna yang duduk disinggasananya emasnya. 


"Yang mulia. "Kata Galang sambil berlutut kepada orang dihadapanya. 


Galang tahu jika dia dipanggil oleh Rajanya pasti putrinya sedang membuat masalah lagi dan Rajanya lah yang membereskan semuanya. Itu karena Eleena adalah Tunangan putra mahkota. Putrinya memang selalu membuat masalah dia adalah anak yang sangat liar sulit untuk dijinakan tapi Putra mahkota sangat sabar menghadapi Eleena dia memang pasangan yang cocok dan pas untuk Eleena.


"Lihat ini. "Kata Juna menunjuk tumpukan surat diatas meja. Juna terkekeh pelan, 


"Bukankah ini prestasi yang sangat mulia. 


Galang yang melihat tumpukan surat keluhan diatas meja tercengang dan berkata dengan pelan. Galang merasa malu dan merasa bersalah, 


"Maafkan putri hamba Yang mulia. "


Juna yang melihat Galang merasa bersalah segera mendekat dan meletakan tangannya ke bahu galang menyuruhnya berdiri. 


"Tidak apa-apa dia hanya anak kecil, wajar jika dia membuat masalah. "Kata Juna penuh perhatian. 


"Baik, Yang Mulia dan terimakasih telah menjaga dan memperhatikan putri hamba."Kata Galang.


Juna menatap Galang lembut, 


"Seharusnya saya yang berterimakasih kepadamu, karena telah banyak berkontribusi untuk Kerajaan. 


Juna mengangguk mengerti.


Eleena kecil kembali ke rumahnya saat hari menjelang malam ibunya telah mondar mandir dari tadi di ambang pintu dia menunggu Eleena pulang, melihat Eleena datang dari arah Gerbang dia segera berlari memeluk putrinya. 


"Anak nakal dari mana saja kamu?"tanya Bella lembut. Bella adalah ibu Eleena dia adalah wanita yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. 


Eleena mengerjabkan matanya yang besar dan tersenyum lembut. 


"Dari tempat Briyan. "


"Apa kau membuat masalah lagi?"tanya Bella lembut. 


Galang yang baru saja datang memotong pembicaraan mereka.


"Benar, anak itu selalu membuat masalah dan Rajalah yang memberereskannya. "


Eleena menoleh menatap ayahnya dan hanya tersenyum kecut. 


Bella yang mendengar anaknya membuat masalah mulai mengoceh tidak karuan dia menggelitik tubuh kecil Eleena dan berlari mengejar Eleena. Gilang yang melihat pemandangan itu tersenyum lebar dan mulai mengejar Eleena kecil dan menangkapnya, Gilang mengangkat Eleena dan melemparnya tinggi diatas dan kemudian menangkapnya dengan baik.


"Dasar anak nakal kau selalu membuat masalah. "Kata Gilang.


Bella dan Gilang membawa anaknya masuk kedalam rumah dikuti para pelayan.


Malam itu adalah salah satu malam yang membahagiakan Eleena. Eleena sangat bahagia hidupnya sempurna. Hingga suatu ketika ibunya sakit dan meninggal karena penyakit dia sangat sedih dunianya yang sempurna runtuh satu persatu. Dan menghilang begitu saja. 


Saat Eleena empat belas tahun

__ADS_1


"Briyan..apa kau akan pergi lama?"tanya Eleena dari atas tempat tidur. Briyan yang berada di sebelahnya menjawab lembut. 


"Kenapa kau tidak ingin aku pergi?tanya Briyan sambil menumpuk beberapa pakaian dan beberapa benda di kain lebar berwarna putih dan mengikatnya dengan rapi. 


"Berapa lama kau akan pergi?"tanya Eleena sambil merebahkan tubuhnya dengan sembarangan di tempat tidur yang besar dan mewah.


"Mungkin tiga tahun."Kata Briyan lembut menatap Eleena. 


"Boleh aku ikut denganmu dirumah sangat membosankan dan nenek sihir itu selalu membuat ulah. "Kata Eleena ada nada kesal dan marah saat dia mengucapkan nenek sihir. 


"Tidak boleh, kau pikir aku sedang mengajakmu bertamasya. "Kata Briyan datar. 


Eleena tahu Briyan sedang tidak bertamasya. Pemuda itu pergi untuk belajar dan melatih ilmu bela diri dia pulang kerumah karena sedang berlibur.


"Kau tega meninggalkanku? "tanya Eleena sedih. 


"Tidak, bersabarlah sebentar lagi aku akan membawamu dan kau juga harus melatih ilmu pedangmu dengan giat, jangan bermalas-malasan. "Kata Briyan dengan tenang. 


Eleena mencibir, 


"Bagaimana jika aku pergi sebelum kau kembali? "


Briyan memukul kepala Eleena. 


"Aku akan mencarimu ke seluruh penjuru dunia jangan coba-coba untuk kabur. "Briyan memperingati Eleena dengan lembut. 


Eleena mengusap kepalanya. 


"Benar begitu. "


"Iya"Jawab Briyan singkat. 


Eleena berdiri dari tempat tidur, menarik tangan Briyan, dan tersenyum. 


"Ayo aku akan mengantarmu pergi. "


Eleena menganggap Briyan hanya sebagai kakaknya tidak ada perasaan lain dihatinya. Memang benar ada perjanjian pernikahan antara Eleena dan Briyan tapi itu janji masa kecil. Mungkin Briyan juga tidak menganggapnya serius seperti Eleena.


Dia tidak pernah bermimpi atau berangan-angan untuk menikah dengan Briyan. Pemuda itu terlalu baik dan sempurna. Namun, berbeda dengan Nalendra dia sudah jatuh cinta kepadanya saat pertama kali bertemu dengannya. Tatapan mata Nalendra sangat dingin, didalam mata dingin seperti es itu Eleena tahu betapa kesepiannya dirinya dia ingin menemaninya menghapus kesepian di hidupnya. Dia jahat tapi juga tidak jahat dia baik tapi juga tidak baik. 


Ribuan kenangan itu seperti kelopak bunga yang berjatuhan seperti hujan.


Eleena terbangun dari tidurnya,


Pemuda itu sudah tidak ada ditempat tidur. Benar saja saat ini Eleena tidak bisa melupakan malam itu sedetikpun. Gambar itu terlalu jelas saking jelasnya Eleena sangat malu dia menutup tubuhnya dengan selimut sutra berwarna merah. Dia menatap tubuhnya di dalam selimut, Tubuhnya dipenuhi dengan tanda berwarna merah dan gigitan yang memalukan. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah malam yang panas itu. Apakah dia harus berpura-pura bodoh?


Bagaimana jika dia tetap bermuka tebal saja toh dia memang tidak tahu malu dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa saja. 


"Bermuka tebal lebih cocok. " Kata Eleena pada diri sendiri. Dia mengangguk puas. 


Amanda yang berada di luar mengetuk pintu Eleena dengan perlahan dan berteriak lantang. 


"Kak Eleena apa kau sudah bangun?"Kata Amanda yang berdiri di sana. 


Eleena yang mendengar suara Amanda dari balik pintu langsung menurunkan selimut dan berdiri mengambil pakaian sembarangan. Eleena berjalan Ke arah pintu dan membuka pintu itu perlahan. 


Amanda yang dibukakan pintu tercengang jubah itu adalah Jubah Tuan Nalendra. Dengan canggung Amanda masuk ke dalam kamar untuk melayani Eleena. Pemandangan di kamar Eleena hampir membuat Amanda pingsan wajah Amanda memerah menahan malu ranjang itu sangat berantakan seperti habis terkena badai.

__ADS_1


__ADS_2