Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Berpisah


__ADS_3

Eleena menunggu Nalendra dengan gelisah. Tidak lama kemudian dari arah pintu yang terbuka. Seorang pemuda berpakaian hitam mendekat kearahnya, pemuda itu melingkarkan tangannya ke leher Eleena.


"Apa kau menungguku?"


Eleena tersenyum dan memeluk Nalendra dengan erat.


"Iya, aku menunggumu. Bagaimana dengan retakan itu, apa itu sangat berbahaya?"


Nalendra meletakan dagu manja di pundak Eleena dan merapikan rambut panjang Eleena dengan jemarinya.


"Hanya masalah kecil, retakan itu sudah ditutup dengan baik oleh Damian. "


Eleena mengusap punggung Nalendra dengan lembut.


"Syukurlah kalau semua baik-baik saja, aku harap masalah ini lekas selesai. "


Nalendra mengangkat kepalanya lalu menunduk menatap Eleena.


"Ya. raja ini juga berharap begitu. "


Apa lukamu sudah sembuh?"tanya Eleena lembut.


Nalendra tersenyum nakal.


"Apa kau ingin melihatnya sendiri?"


Eleena tersipu malu tapi dia menjawab dengan yakin.


"Tentu saja, aku akan melihatnya sendiri. "


Eleena tanpa basa basi langsung menanggalkan pakaian pemuda itu satu persatu dengan pelan.


Dia melihat bekas luka berbentuk lingkaran yang sangat aneh di dada bidangnya. Eleena menyentuh bekas luka itu dengan lembut.


"Apa bekas ini tidak bisa hilang?"


"Bekas itu tidak bisa hilang. "Jawab pemuda itu.


Eleena menempelkan bibirnya yang lembut dan basah di atas bekas luka itu, Nalendra tersentak kaget. Suhu tubuhnya meningkat karena gairah, dia ingin segera meniduri gadis ini. Namun, sepertinya Eleena belum puas bermain. Dia mengecup dada pemuda itu dari atas hingga turun ke otot yang memanjang secara vertikal dari tulang ******** ke bawah tulang rusuk di atas organ-organ internal perut yang berbentuk kotak-kotak. Nalendra ingin segera menyalurkan hasrat dan gairah yang menggebu.


Eleena tersenyum, dia seperti gadis nakal sekarang tapi Eleena tidak peduli. Nalendra mendorong tubuh Eleena di atas kasur dengan perlahan tanpa melepas ciuman. Eleena yang di bawah Nalendra tertawa kecil. Nafas berat pemuda itu membuat Eleena bergairah.


"Apa kau sudah tidak sabar untuk meniduriku? Tetapi biarkan aku yang melakukan sekarang. "Kata Eleena mendorong pemuda itu ke samping. Sekarang Eleena berada di atas pemuda itu.


Nalendra tertawa pelan,


"Lakukanlah dengan baik. "


Eleena menyelipkan rambutnya di belakang telinga, dia menunduk dan mencium bibir tipis berwarna merah pemuda itu dengan lembut, Eleena menggigit kecil telinga pemuda itu. Telinga Nalendra terasa geli dan basah, Nalendra memutar pinggang gadis itu dengan lembut, kedua tangan Eleena ditekan dengan kuat, jemari pemuda itu merayap di atas lengan belakang sang gadis. Nalendra mencium bibir mungil Eleena dengan panas setelah puas bermain dengan bibir mungil Eleena. Kecupan itu turun ke leher. Eleena melenguh karena merasa nikmat.


"Ahh.. "


Lenguhan itu membuat Nalendra semakin bergairah. Nalendra merobek pakaian Eleena dengan tidak sabar.


Malam itu di Istana bawah tanah yang sudah panas menjadi semakin panas. Sepasang kekasih ini saling mendesah, memuaskan, dan mencari kenikmatan. Hingga mereka tidak sadar jika fajar hampir menyingsing. Eleena telah memakai pakaian berwarna ungu muda yang sangat cantik, rambut hitamnya di jepit dengan jepit emas berbentuk bunga sakura. Nalendra sudah memakai pakaian berwarna hitam favoritnya, rambut merahnya di kuncir tinggi dengan mahkota emas yang sangat mewah. Nalendra selalu terlihat tampan dilihat dari sudut manapun. Eleena mengerjapkan mata besarnya, dia terpesona dengan ketampanan pemuda itu. Nalendra yang di tatap Eleena begitu intens tersenyum kecil.

__ADS_1


"Kenapa apa kau sedang mengagumi ketampanan raja ini? "


Eleena yang tertangkap basah mengedipkan mata dengan cepat, dia lalu tersenyum seperti orang bodoh dan bertanya kikuk.


"Apa itu terlihat jelas? "


Nalendra menjawab,


"Tentu saja, dasar tidak tahu malu. "


Eleena yang dikatai tidak tahu malu tertawa lepas. Apa yang dikatakan Nalendra benar dia gadis yang tidak tahu malu. Tetapi, dia tidak peduli.


"Tunggu raja ini di pintu Istana, raja ini akan menemui Damian terlebih dahulu. "Kata Nalendra datar.


Eleena mengangguk mengerti, lalu pergi meninggalkan kamar mewah bernuansa hitam dan merah ini.


Nalendra melangkah pergi menuju aula Istana Bawah Tanah untuk berpamitan dengan Damian. Dia akan kembali ke Istana Kegelapan. Damian yang di tinggal pergi Nalendra merasa sedih itu terlihat ketika Nalendra akan melangkahkan kaki. Damian bergelayutan di kaki Nalendra seperti anak kecil.


"Pergi!"Kata Nalendra ketus dia berusaha melepas kaki kanannya dari cengkraman Damian.


"Tidak, kenapa harus pergi sekarang tidak bisakah pergi besok saja. "Kata Damian yang semakin merangkul kaki panjang Nalendra dengan erat.


"Berdirilah!kau membuat raja ini malu, jangan seperti anak kecil!"Kata Nalendra mendorong kepala Damian dengan kasar.


Damian mendongak dan menatap Nalendra yang ekspresinya sangat tidak enak untuk dipandang.


"Kau akan kembali lagi bukan?"


Nalendra menendang Damian dengan kuat sehingga pria itu terdorong jauh dari tempatnya berdiri.


"Raja ini akan kembali setelah menyelesaikan masalah dengan Eleena. "


"Apa kau akan pergi meninggalkan gadis itu, ketika memburu hantu ganas?"


Nalendra menyilangkan tangan dan menatap Damian.


"Benar, raja ini tidak ingin dia terluka. Kau tahu sendiri bukan betapa mengerikannya hantu ganas. Mereka sangat membenci nafas dan keberadaan manusia itu sendiri. "


Damian mengangguk, yang dikatakan Nalendra benar hantu ganas sangat berbahaya mereka sangat membenci kehadiran manusia. Tidak ada manusia yang bertahan hidup setelah berurusan dengan hantu ganas, mereka semua mati mengenaskan dan mengerikan.


"Aku tahu kau tidak akan membawa gadis itu bersamamu lukamu masih belum sembuh dan kekuatanmu belum juga stabil. "Kata Damian penuh perhatian.


Damian tahu karena pemuda ini tidak seperti biasanya. Bibirnya sedikit pucat, luka luarnya mungkin sudah sembuh tetapi luka dalamnya belum sembuh sepenuhnya. Sesekali pemuda itu terbatuk menandakan tubuhnya tidak baik-baik saja.


"Bagaimana kau bisa tahu?"tanya Nalendra.


Damian tertawa,


"Aku mengenalmu sudah lama, bagaimana mungkin aku tidak tahu. Lihatlah!"Kata Damian menarik pakaian Nalendra dengan paksa. Di sana di dada pemuda itu terdapat luka memar kebiruan yang masih terpampang jelas di dadanya. Meski Nalendra sudah berusaha menutupi luka itu supaya Eleena tidak khawatir dan cemas tapi pemuda itu dengan mudah menemukan luka memar itu.


Nalendra menarik pakaiannya kembali dengan kasar. Damian tertawa kecil melihat reaksi pemuda itu. Nalendra menjawab cepat.


"Raja ini tahu, kau tidak usah seperti itu. Raja ini tidak suka kau menarik pakaian milik Raja ini. "


Damian menggelengkan kepala, dan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak usah sok kuat di depanku, aku tahu semuanya. "


Nalendra tidak ingin menjawab, dia tidak bisa berbohong kepada Damian. Semua yang dia lakukan Damian akan tahu, pemuda itu seperti penguntit yang menganggu. Meski begitu Damian adalah teman satu-satunya Nalendra. Dia memang menyebalkan tetapi pemuda itu selalu baik kepadanya walau terkadang sifatnya kekanak-kanakan muncul seperti saat ini. Mereka menyebut para iblis makhluk yang kejam tak berperasaan tapi semua itu karena dunialah yang membuat mereka menjadi seperti ini.


"Raja ini akan pergi dulu mengantarkan gadis itu. Setelah itu raja ini akan menemanimu ke dunia atas untuk memburu hantu ganas. "Kata Nalendra meyakinkan.


Damian menepuk pundak Nalendra pelan.


"Baik, pergilah jangan biarkan gadis itu menunggu dan berpisah lah dengan baik. Supaya gadis itu tidak khawatir dan cemas. "Kata Damian memperingati dan menyarankan.


Nalendra menjawab,


"Baik, raja ini pergi dulu. "


Nalendra pergi meninggalkan Damian yang berdiri di aula istana bawah tanah. Damian tersenyum dan bergumam pelan. Namun, gumaman itu hanya di dengar olehnya sendiri.


"Semoga kalian baik-baik saja. "


Eleena berdiri di depan pintu gerbang Underworld, memainkan rambut panjangnya dengan gusar kadang kala dia bersenandung lirih untuk menghapus kebosanan yang mencekam. Nalendra datang dari pintu aula utama. Pemuda itu tersenyum tipis dan memanggil gadis itu.


"Ayo kita kembali ke istana kegelapan. "


Eleena berbalik dan tersenyum,


"Baik. "


Nalendra mengulurkan tangan. Eleena menerima uluran tangan. Dengan sekejap mata dia telah kembali ke istana kegelapan. Nalendra terbatuk pelan.


"Apa kau baik-baik saja?"tanya Eleena lembut.


Nalendra menjawab dingin dan tegas,


"Raja ini, baik-baik saja. "


Nalendra memukul tengkuk gadis itu dengan kuat dan keras. Seketika itu juga gadis itu lpingsan di dalam pelukan Nalendra. Nalendra mencium bibir Eleena dengan lembut lalu dia memberikan sebuah kalung cantik yang terbuat dari kristal berwarna merah.


Nalendra memanggil seseorang. Orang itu berpakaian putih, wajahnya tampan, berusia sekitar 20 tahunan dia adalah Briyan. Pemuda itu dengan tidak tahu malu dan tidak takut mati menerobos istana kegelapan dengan paksa. Nalendra yang masih terluka mau tidak mau harus menghadapi orang merepotkan ini. Mereka sempat bertukar pukulan dan mengadu kekuatan sebentar. Pertarungan itu dimenangkan oleh Nalendra tapi pemuda ini masih dengan keras kepalanya ingin menjemput Eleena pulang. Nalendra tidak ingin Eleena kembali ke Kerajaan Akasia tapi ketika Damian membutuhkan bantuannya mau tak mau dia harus memulangkan Eleena. Karena untuk sementara waktu Nalendra tidak bisa menjaga gadis ini.


"Bawa gadis ini pulang raja ini tidak membutuhkannya lagi. "Kata Nalendra dingin acuh tak acuh. Pemuda itu melempar tubuh gadis itu kepada Briyan. Briyan dengan cekatan menangkap gadis itu dengan lembut.


Briyan mengerutkan dahi dan menatap marah iblis di depannya.


"Aku tidak ingin kau menemuinya lagi, aku juga tidak akan mengijinkan Eleena mencari mu. Kau adalah Raja Iblis, aku tidak akan membiarkan iblis kejam dan mengerikan sepertimu bersama dengan Eleena. Langkahi dulu mayat ku sebelum kau ingin bersama Eleena. Aku tidak akan pernah melepaskan dia camkan itu. "


Nalendra tertawa keras seolah dia mendengar lelucon yang menggelikan.


"Ambil gadis itu dan pergi dari tempat raja ini sekarang juga! kalau tidak raja ini akan meratakan Kerajaan Akasia menjadi debu. "


Briyan tersenyum mengejek.


"Aku juga tidak ingin tinggal berlama-lama di istana yang gelap dan mengerikan ini. Karena kau sudah mengembalikan Eleena dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak akan membuat masalah lagi. Aku berharap ini adalah pertemuan terakhir kita. "Kata Briyan melangkah pergi meninggalkan Istana kegelapan dengan cepat.


Briyan memanggil bawahannya dengan lantang dan keras. Dia masuk ke dalam kereta kuda mewah diikuti dengan ratusan pengawal dan prajurit.


"Ayo kita pergi. "

__ADS_1


Nalendra tersenyum muram.


"Raja ini akan menjemputmu kembali setelah semua urusan selesai. "Lalu melangkah pergi menuju aula Istana Kegelapan. Dia duduk di atas singgasana yang dingin dan sepi.


__ADS_2