Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Menghitung Hari


__ADS_3

Briyan tercengang, ekspresinya yang semula khawatir dan cemas berubah secara bertahap, leher dan wajahnya memerah, tatapan Briyan yang menyiratkan api kemarahan bisa membakar apa saja yang dilaluinya, Briyan berdiri dengan kedua tangan terkepal erat. Pemuda itu berbicara di antara sela giginya yang terkatup rapat.


"Hamil satu bulan? apa tabib tidak salah memeriksa. "


Tabib tua menatap Eleena sekilas kemudian menatap pemuda yang berdiri di sampingnya. Tabib tua berkata yakin,


"Tidak, saya tidak salah melakukan pemeriksaan. Orang tua ini yakin pemeriksaan itu sudah benar dan akurat, denyut nadi nona Eleena meningkat lebih cepat dari orang biasanya hal itu sangat berbeda dengan wanita yang tidak hamil. "


Eleena tidak kalah terkejutnya dengan Briyan. Raut wajahnya kini sangat bingung dan bingung. Eleena tidak tahu harus takut atau bahagia, takut karena dia belum bisa menjadi orang tua yang baik, bahagia karena anak yang dikandungnya adalah anak dari orang yang dicintainya.


Briyan terdiam lalu berkata,


"Baik aku mengerti, aku ingin tabib tidak membicarakan kehamilan Eleena kepada para penatua dan orang kerajaan. Aku sendiri yang akan memberitahu mereka tentang kehamilan Eleena dan aku akan menyuruh pelayan mengantar tabib ke depan. "


Tabib tua melengkungkan bibir dan mengangguk sedikit. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan kehamilan Nona Eleena, tetapi tabib berfikiran positif mungkin kehamilan nona Eleena mendadak sehingga putra mahkota terkejut.


"Baik, orang tua ini tidak akan memberitahu kehamilan nona Eleena kepada orang lain dan saya mohon undur diri. "


Briyan memanggil pelayan wanita. Pelayan wanita mengantar tabib istana kembali. Setelah tabib pergi. Kamar ini menjadi tegang dan hening. Eleena tahu Briyan pasti akan marah dan membencinya tapi Eleena sudah siap menghadapi ledakan amarah mengerikan pemuda itu.


Briyan yang semula terdiam berkata lantang dan keras, nada suaranya di penuhi kemarahan yang mengerikan.


"Apa dia anak iblis itu! Katakan padaku Eleena apa dia anak dari iblis itu?!"


Eleena menundukkan kepala dia tidak berani menatap mata Briyan. Eleena mengumpulkan keberanian dan mengangkat kepalanya pandangannya melirik kesana-kemari tanpa sadar dia sudah menggigit bibirnya dengan kuat. Eleena berkata lirih.


"Iya, maafkan aku. "


Briyan memegang kepalanya lalu memegang mulutnya dia tidak tahu harus berkata apa. Pemuda itu kecewa dan marah. Namun, itu semua sia-sia semua sudah terjadi. Briyan tidak menyangka Eleena sudah tidur dengan iblis itu, dia yang salah jika saja dia menemukan Eleena lebih dulu daripada iblis itu, jika saja Briyan tidak pergi waktu itu. Selalu ada di samping dan bersama Eleena semua ini tidak akan terjadi. Semua salahnya tetapi Briyan tidak ingin kehilangan Eleena tidak untuk yang sekian kalinya. Briyan berbicara dengan bibir bergetar,


"Baik, aku mengerti aku akan pergi sebentar. "


Briyan pergi meninggalkan Eleena dengan langkah cepat. Briyan berhenti di ambang pintu dan berteriak lantang dan keras kepada penjaga yang berdiri di depan ruangan.


"Jaga dia dengan baik, jangan biarkan Nona Eleena kabur jika dia kabur aku akan mematahkan kedua kaki kalian. "


Penjaga mengangguk cepat, dan menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"Baik Pang...eran. "


Briyan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan kedua penjaga yang sedang ketakutan.

__ADS_1


Tidak biasanya putra mahkota berkata seperti itu, dia selalu lembut dan kalem entah karena apa pemuda itu berubah menjadi menyeramkan mereka tidak tahu.


Eleena menundukkan kepala dan mengusap perutnya lembut. Dia menyunggingkan senyum di wajah cantiknya. Hatinya menghangat di perutnya sekarang ada Nalendra kecil Eleena akan menjaga dan melindungi janin ini dengan segenap hatinya.


Briyan menghadap para penatua dan ayahnya yang sedang berkumpul di aula istana, pemuda itu sengaja tidak memberi tahu hubungan Eleena dengan Raja Iblis Kegelapan. Jika mereka tahu hubungan Eleena dan Raja Iblis mungkin mereka akan menghukum dan mengasingkan Eleena. Briyan tidak ingin hal itu terjadi, dia sangat mencintai gadis itu apapun akan ia lakukan asal gadis itu baik-baik saja, di hukum atau tidak, masalah nanti dia tidak peduli.


Briyan memberi hormat kepada Penatua dan Raja Kerajaan Akasia. Penatua dan Juna menatap Briyan yang sedang berdiri di antara mereka.


"Ayah dan sesepuh Kerajaan Akasia, sebelumnya Briyan minta maaf karena telah mengganggu kalian ada sesuatu yang ingin Briyan katakan kepada para penatua dan ayah. "


Juna menatap anak laki-lakinya yang sedikit gelisah dia menganggukan kepala dan memberi isyarat dengan tangannya untuk berbicara.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan. "


Para penatua menganggukan kepala dan memberi perintah Briyan untuk berbicara.


"Apa ada masalah lain mengenai hal tadi? "


Briyan menganggukan kepala dan menghela nafas untuk menenangkan diri. Briyan menatap mereka sekilas dan melengkungkan bibirnya.


"Aku ingin pernikahanku dengan Eleena dilaksanakan seminggu lagi. "


Mereka terkejut mendengar apa yang di katakan oleh pangeran, mereka saling menatap satu persatu. Ruangan seketika menjadi ramai dan riuh. Sebagian dari mereka mencemooh dan menentang ide gila Briyan.


"Itu tidak mungkin bagaimanapun mempersiapkan pernikahan bukan hal mudah apalagi pernikahan di majukan beberapa minggu, dari mulai persiapan dan mengundang orang lain tidak cukup dalam waktu satu minggu. "


Mereka menganggukan kepala, setuju dengan apa yang di katakan oleh Raja Kerajaan Akasia.


"Benar. Itu tidak mungkin pangeran, kenapa? apa kamu tidak sabar untuk menikahi Eleena?"Kata penatua Jang ekspresi di wajahnya di penuhi keterkejutan dan keheranan.


Briyan tersenyum dan menganggukan kepala sedikit. Dia berbicara dengan lantang dan yakin tidak ada penolakan di setiap ucapannya.


"Saya tidak peduli, jika melakukan pernikahan mewah tidak bisa dalam satu minggu lakukan pernikahan biasa saja yang terpenting mengundang keluarga dan saudara terdekat. "


Juna menatap Briyan dengan kerutan di antara kedua alis. Dia menolak usul yang di berikan oleh Briyan.


"Briyan kamu Putra Mahkota pewaris tahta Kerajaan Akasia, bagaimana mungkin ayah bisa menikahkan kamu dengan cara yang biasa-biasa saja. "


Briyan menjawab, suaranya dalam dan penuh penekanan di setiap ucapannya.


"Saya tidak peduli pokoknya saya ingin pernikahan di laksanakan dalam waktu seminggu. "

__ADS_1


Melihat ketegangan di aula istana yang seperti busur panah yang siap di tarik kapan saja. Penatua Lim menengahi perdebatan dengan bijak. Penua Lim mengelus jenggotnya yang sudah memutih dan berkata lembut.


"Baik, kami akan mempersiapkan pernikahanmu dalam waktu seminggu, orang tua ini percaya jika kamu memiliki alasan lain. "


Juna ingin menentang ucapan Briyan dan Penatua Lim, tetapi para penatua mengedipkan mata dan tersenyum sedikit. Mereka seperti berkata 'Sudahlah biarkan saja' Juna yang sedikit marah melunakkan hatinya dan menggelengkan kepala sedikit.


Juna menatap Briyan sekilas lalu menghela nafas kegigihan Briyan untuk menikahi Eleena membuatnya terharu. Dia tidak menyangka putranya sudah dewasa dan bisa membuat pilihan sendiri. Juna tersenyum dia mendekat ke arah Briyan dan meremas pundaknya pelan.


Juna berdiri di depan Briyan dan memutar badannya untuk menatap para penatua. Juna berkata lantang dan keras.


"Baik, pernikahan akan dilangsungkan dalam waktu seminggu.


Seketika itu juga orang yang berada di Aula Istana bersorak dan tertawa riang. Mereka saling menatap dan bertepuk tangan, dalam waktu seminggu mereka akan melangsungkan hari baik.


Briyan bahagia, dia tidak menyangka jika ini semua berjalan dengan mudah meski sedikit ada perdebatan. Mungkin orang akan mengganggap Briyan bodoh karena menikahi Eleena yang sedang hamil. Tetapi dia tidak peduli, karena masalah ini cepat atau lambat akan di ketahui semua orang Briyan tidak ingin melihat Eleena sengsara.


"Terimakasih ayah. "


Juna membalikkan badan dan menatap putranya.


"Apa kamu sangat menyukainya sehingga ingin segera menikahinya, apakah ini tidak terlalu buru-buru, apa kamu sudah mendiskusikan dengan Eleena. "


Briyan menjawab dengan sopan dan berkata yakin.


"Tidak ayah semakin cepat semakin lebih baik dan untuk masalah Eleena biar saya yang mengurusnya sendiri, dia pasti akan setuju jika pernikahan di majukan. "


Juna mengerti dia percaya kepada putranya. Briyan adalah pria yang sudah dewasa dan berpikiran terbuka apapun masalahnya dia percaya Briyan bisa mengatasi dengan mudah. Juna tersenyum lembut dan menganggukan kepala.


"Baik ayah percaya padamu Briyan. Kamu adalah kebanggaan ayah. "


Briyan tersenyum dan memberi hormat.


"Terimakasih ayah dan para penatua. Briyan undur diri dulu. "


Juna dan para penatua mempersilahkan Briyan untuk mengundurkan diri setelah putranya pergi meninggalkan Aula Kerajaan. Juna memanggil para pelayan dan bawahannya. Para pelayan dan bawahanya segera berkumpul di Aula Istana.


"Siapkan pernikahan Putra Mahkota dalam waktu seminggu jangan biarkan ada kesalahan sedikitpun. Jika ada sesuatu yang aneh dan janggal atasi masalah dengan cepat. "


Para pelayan menjawab.


"Baik Yang Mulia. "

__ADS_1


Berita pernikahan Eleena dan Putra Mahkota di umumkan di seluruh Kerajaan Akasia sontak saja para penduduk menjadi heboh. Mereka menyebut Eleena dan Putra Mahkota adalah pasangan yang di berkati oleh dewa dan surga. Mereka adalah pasangan yang cocok dan serasi.


__ADS_2