
Desa itu sudah hancur, rumah-rumah yang dulu berdiri kokoh di sana telah berubah menjadi puing-puing yang menyedihkan, suara canda tawa yang menggema di sepanjang jalan tidak terdengar lagi. Kini yang terdengar hanyalah suara daun yang bergesekan dengan angin. Eleena menatap rumah yang sudah setengah hancur dengan mata berkabut, rasa sakit di hatinya tak terlukiskan. Dia ingin marah dan menangis tapi semua itu sia-sia mereka sudah mati. Dua tahun ini adalah dua tahun terbaiknya mereka adalah orang yang baik tapi takdir lah yang berkata lain. Eleena ingat kedatangannya yang pertama kali di desa ini, waktu itu musim dingin salju turun sangat lebat semua rumah dan pepohonan ditutupi salju yang sangat tebal perutnya sangat lapar dia berjalan tak tentu arah yang terpenting adalah mencari keramaian. Eleena tidak sanggup berdiri lagi, kepalanya sangat pusing dia sangat lapar dan sialnya dia tidak membawa uang sepeserpun. Selama tiga hari itu juga Eleena memakan apa saja yang dia temui terkadang dia memakan makanan sampah yang tidak layak, mencuri dagangan orang lain, bahkan pernah berebutan dengan anjing liar. Eleena tidak menangis walaupun hidupnya sangat menyedihkan, itu semua adalah harga yang dibayar untuk meninggalkan kemewahan yang dia miliki. Baginya hidup dirumahnya dan di jalanan sama saja jika dia ditawari segunung emas untuk tetap tinggal dirumahnya Eleena tetap akan menolaknya yang dia inginkan adalah kebebasan. Dia tidak ingin setiap hari bertengkar dan dihajar oleh nenek sihir yang menyebalkan itu dia sangat membenci orang munafik yang penuh dengan trik dan tipu daya. Jika Eleena mengingat orang tersebut rasanya dia ingin mencabik-cabik tubuhnya. Maharani selalu bersikap baik dan lemah lembut kepada ayahnya tapi semua itu hanya akting belaka Eleena sudah sangat muak. Saat itu dia berjalan melewati hutan yang mengerikan tapi bagaimana dia bisa berakhir di kota lain Eleena tidak ingat. Namun, waktu itu bencana angin ****** beliung yang teramat besar menerpa beberapa kota-kota besar. Banyak rumah yang hancur dan juga orang yang mati, mayat mereka bergelimpangan di berbagai tempat Eleena berada diantara tumpukan mayat yang diperkirakan sudah meninggal beberapa hari. Mayat itu sangat bau, tubuhnya dikerumuni oleh lalat dan belatung. Tapi, yang anehnya, Eleena seharusnya sudah mati tapi entah kenapa dia bisa hidup lagi. Tubuhnya yang hancur perlahan-lahan kembali seperti sediakala tanpa luka dan cacat sedikitpun. Dia sangat ketakutan ketika menyaksikan tubuhnya yang telah hancur perlahan-lahan menyatu lagi. Eleena tidak percaya dia seperti orang gila berlarian tak tentu arah hingga suatu ketika dia berhenti di pinggir sungai dia menatap tidak percaya pada pantulan air sungai yang menggambarkan dirinya. Dia menepuk pipinya berharap semua itu mimpi, Eleena tercengang di dadanya tepatnya di atas jantungnya ada benda bulat yang berwarna merah benda itu bersinar terang dia mencoba mencongkel dadanya dengan bebatuan tajam yang dia ambil dari pinggir sungai untuk mengambil benda aneh itu. Tapi, sayangnya usahanya sia-sia benda itu tidak bisa diambil, luka yang ditimbulkan oleh batu tajam itu berangsur-angsur membaik luka itu tertutup kembali. Mungkin benda aneh itu yang telah membantunya.
Sejak saat itu setelah melakukan percobaan berkali-kali dan tidak juga berhasil Eleena sudah pasrah dan membiarkan benda itu bersemayam ditubuhnya. Mungkin dia akan mati pada saatnya lagipula dia sudah pernah mati apa yang ditakutkannya?
Sebulan setelah kejadian itu. Eleena pergi ke pasar, dia meminta makanan sisa kepada salah satu pemilik kedai, tapi pemilik kedai itu sangat pelit. Dia jijik melihat penampilan Eleena yang seperti pengemis sang pemilik kedai tidak memberi Eleena makan dia meludahi dan menendang Eleena dengan keras. Eleena sangat marah dia cuma meminta makanan sisa, tapi dia diperlakukan seolah-olah seperti penjahat. Malam itu saat semua orang tertidur. Eleena mengendap-endap ke dalam kedai. Dibakarnya kedai tersebut, diambilnya dagangan pemilik kedai. Namun, aksinya ketahuan, Eleena dipukuli habis-habisan oleh para pedagang.
Tubuhnya dipenuhi luka lebam teramat pedih. Mereka memukuli Eleena tanpa belas kasih walaupun mereka tahu bahwa Eleena adalah seorang wanita. Melihat hal tersebut seorang Kakek tua datang membantunya. Dia membayar kerugian yang ditimbulkan olehnya kakek tua itu bahkan mengajaknya pulang, mengobati lukanya, memberinya tempat tinggal, dan memperlakukan Eleena seperti cucu yang berharga. Kakek tua itu sangat baik dan sabar menghadapinya. Eleena meneteskan air mata, kenangan itu memudar seperti debu yang berterbangan hilang dan tidak akan pernah kembali.
Sebuah suara yang memecah keheningan terdengar di telinga.
"Mau sampai kapan kau akan berdiri di sana?"
Mendengar hal tersebut Eleena kembali tersadar dan membalikkan badannya dengan cepat.
"Maafkan aku. "
Eleena tersenyum muram setidaknya dia masih memiliki Nalendra. Dia sangat bersyukur Eleena tidak meminta lebih. Asalkan pemuda itu ada bersamanya itu sudah cukup. Dia tahu kedepannya akan semakin sulit dan berbahaya. Identitas Nalendra sebagai raja iblis cepat atau lambat akan diketahui oleh orang lain. Mereka tidak akan menyangka jika Eleena gadis bangsawan dari Kerajaan Akasia tidur dengan raja iblis yang kejam. Mungkin bukan hanya Briyan saja yang tidak akan mengampuninya seluruh dunia akan membenci, mencemooh dan mencoba membunuhnya tapi dia sudah siap. Eleena sudah pernah mati sekali jika dia harus mati lagi dia tidak takut.
"Apa kau baik-baik saja?"tanya pemuda itu tanpa ekspresi di wajahnya.
"Aku baik-baik saja. "Kata Eleena cepat.
Sejak dari tadi Nalendra berdiri di belakang gadis itu seperti orang bodoh. Entah apa yang sedang ia pikirkan dia tidak tahu. Setelah dia bertemu pemuda itu Eleena menjadi aneh. Nalendra mengerucutkan bibir, dia tidak suka dengan pemuda yang bernama Briyan Briyan itu ingin sekali dia membunuh pemuda menjengkelkan itu. Nalendra bahkan tidak harus berpikir dua kali jika ingin membunuh. Tapi gadis itu dengan sok pahlawan menghalangi niat buruknya.
__ADS_1
Pemuda itu dengan mudah membujuk Eleena kembali ke Kerajaan Akasia. Mendengar nama Kerajaan itu membuat Nalendra naik darah. Kenapa juga dia sangat dekat dengan pemuda itu?apa hubungan Briyan dan Eleena?itu sangat mengganggunya.
"Kau akan kembali ke Kerajaan Akasia?"
Nalendra bertanya dengan temperamental.
"Iya, apa aku boleh pergi ke.... "
"Tidak boleh. "Kata Nalendra cepat.
Eleena sedikit geli menyaksikan tingkah laku bersumbu pendek itu dia bahkan belum selesai mengucapkan semua kalimatnya tapi orang didepannya sudah tidak sabaran dia seperti bom yang bisa meledak setiap saat. Melihat ekspresi jelek di wajah tampan Nalendra dia tidak tahan untuk menggodanya lagi.
"Tapi aku harus pergi. "
"Tidak bisakah kau mengatakan hal lain. "
"Jangan pergi. "Kata Nalendra.
Mendengar hal itu Eleena menggelengkan kepala,
"Kenapa kamu sangat membencinya?"
"Karena mereka pernah menerobos paksa Istana kegelapan dan aku tidak menyukainya. "
__ADS_1
"Bukankah itu sudah terjadi beribu-ribu tahun yang lalu?"
"Benar tapi aku belum melupakan keegoisan mereka yang telah membakar hampir seluruh hutan untuk ambisi gila mereka. Mereka bahkan tidak peduli dengan siluman dan binatang yang tinggal di hutan itu semua mati dengan mengenaskan. "Kata Nalendra mata hitamnya berkilat marah.
Eleena pernah mendengar cerita turun temurun yang diceritakan oleh nenek moyang Kerajaan Akasia yaitu tentang Raja pertama Kerajaan Akasia yang sangat serakah. Dia melawan Raja Iblis Kegelapan dan diakhiri oleh kekalahan yang mengakibatkan jutaan nyawa melayang sia-sia. Semenjak itu terbentuk perjanjian seribu tahun dan tiga telapak dewa. Perjanjian itu masih berlangsung hingga saat ini.
"Maaf tapi aku harus pergi ayahku mencari ku. "Kata Eleena menundukkan kepala.
"Apa kau percaya dengannya bagaimana
kalau mereka hanya menipumu?"Kata Nalendra bibirnya sedikit bergetar karena amarah.
"Tapi aku harus pergi sekalipun kamu melarangku aku akan tetap pergi. "Kata Eleena gigih.
Nalendra yang mendengar hal tersebut langsung mendekat kearah Eleena. Gadis ini sangat keras kepala jika Nalendra terus melarangnya mungkin dia akan kabur. Jadi sekali lagi dia harus mengesampingkan dendam dan tetap menjaga gadis ini dengan baik. Jika tidak, dia akan dalam bahaya Nalendra tidak mau itu. Giok ditubuhnya bisa saja mengambil alih tubuhnya setiap saat dan hal itu harus dicegah sebelum dia mengambil kembali Giok tersebut. Untuk pertama kalinya di hidupnya dia peduli dengan manusia. Itu benar-benar bukan gayanya dia sangat membenci manusia tapi gadis ini pengecualian. Bukan hanya tubuhnya saja yang menggairahkan hatinya yang telah dingin menghangat kembali ketika dia bersama gadis ini. Nalendra menghela nafas panjang, seolah dia mengangkat beban yang sangat berat.
"Aku akan pergi bersamamu, setelah itu aku akan menghukum mu. "
Eleena sangat bahagia dia tidak menyangka kalau iblis ini akan mengijinkannya dia bahkan sudah membuat banyak rencana gila supaya dia bisa kabur dari iblis kejam ini untuk pergi ke Kerajaan Akasia tapi sepertinya rencana gila itu tidak perlu lagi.
"Terimakasih Tuan Nalendra yang terhormat, aku janji tidak akan membuat masalah. "Kata Eleena melompat kegirangan.
Nalendra yang melihat betapa bahagianya gadis ini hanya menggelengkan kepalanya. Kebahagiaan Eleena adalah kebahagiaan Nalendra.
__ADS_1