Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Keputusan


__ADS_3

Entah berapa lama Eleena tertidur, dia tidak ingat. Barangkali mimpi atau angan-angan,


dia merasa seseorang mengecup keningnya. Kecupan itu masih terasa basah dan lembut.


Gadis itu memegang keningnya, mengumpulkan sisa-sia kehangatan yang ditinggalkan orang itu, ia tanpa sadar meneteskan air mata.


Sekarang Eleena berada di ruangan bernuansa putih dan biru. Ruangan ini terlihat tidak asing. Eleena hafal dan ingat setiap tata letak benda yang ada di kamar mewah ini. Kamar ini adalah kamarnya yang berada di Kerajaan Akasia.


Pelayan wanita masuk ke dalam kamar membawa sebaskom air hangat dan meletakkan di atas meja.


"Nona, pangeran telah menyuruh pelayan rendahan ini membantu nona membersihkan diri. "


Eleena berusaha duduk di pinggiran ranjang dengan tangan yang masih terikat.


"Apa kau tidak akan melepaskan ikatan ini?aku tidak bisa bergerak dengan leluasa. "


Pelayan wanita menjawab dengan sopan.


"Maaf nona itu tidak bisa. "


Eleena tersenyum muram,


"Apa Briyan yang melarang mu?"


Pelayan wanita mengangguk kemudian membantu Eleena untuk melepaskan pakaian. Pelayan wanita berhenti sejenak dan menatap sebuah kalung indah yang melingkar di leher Eleena.


"Nona kalung yang anda pakai sangat cantik. Apa ini pemberian pangeran?"


Eleena tercengang, dia menunduk untuk melihat kalung yang tergantung dilehernya. Kalung itu sangat cantik, liontinnya berwarna merah dan berbentuk lingkaran.


Eleena menurunkan sudut bibirnya lalu tersenyum, senyum itu bukan senyum kebahagiaan ada kesedihan yang tak terlihat di wajah cantiknya.


"Benar, kalung ini sangat cantik. "


Eleena berbisik di dalam hati,


"Aku sangat merindukanmu Nalendra. Aku akan sabar menunggumu untuk menjemputku"


Pelayan tersenyum lalu kembali membantu gadis itu untuk melepaskan pakaian. Eleena tidak memberontak dan membiarkan pelayan untuk melepas pakaiannya. Dia sangat lelah terlalu banyak pikiran yang memenuhi kepalanya. Tapi tidak ada orang yang bisa menjawabnya yang ia lakukan hanya mengira-ngira.


Pelayan mengusap tangan Eleena menggunakan kain lap yang sudah dicelupkan air hangat. Ketika pelayan wanita mengusap pundak Eleena pelayan itu mengernyitkan dahi. Pelayan melihat tanda berbentuk bulan sabit berwarna merah, dia pikir itu hanya kotoran sehingga pelayan mencoba mengusap bekas luka aneh itu beberapa kali tapi bekas itu tidak bisa hilang.


Pelayan itu bingung dia hanya bisa menggelengkan kepala pelan lalu melanjutkan pekerjaannya.


Setelah membersihkan tubuh Eleena dengan baik, pelayan wanita mengganti pakaian Eleena dengan pakaian yang baru. Pakaian itu tampak cantik saat dikenakan gadis itu.


Pelayan wanita tidak tahan untuk memuji kecantikan Eleena.


"Nona anda sangat cantik, pasti pangeran akan terpesona. "


Eleena menjawab dengan wajah merona.

__ADS_1


"Terimakasih, siapa namamu?"


Pelayan menjawab dengan pelan sambil merapikan pakaian berwarna merah muda yang dikenakan Eleena.


"Sarah nama saya Sarah. "


"Kamu juga cantik Sarah. "Kata Eleena memuji dengan tulus pelayan muda berusia 15 tahun. Pelayan ini cantik, hidungnya kecil dan bibirnya tidak tebal dan juga tidak tipis sangat pas dengan bentuk wajahnya yang oval.


Sarah tersenyum malu,


"Terimakasih nona. "


Eleena menatap pantulan dirinya melalui cermin. Dari pantulan cermin terlihat wajah mempesona seorang gadis berusia 18 tahun, penampilannya tidak terlalu berlebihan, tapi tidak mengurangi kecantikan yang dimilikinya.


Setelah pelayan membantu Eleena membersihkan diri dan mendandani Eleena. Sarah menundukkan badan dan berkata lembut.


"Pelayan rendahan ini pergi dulu, jika nona memerlukan sesuatu nona bisa memanggil saya. "


Eleena tidak menjawab dia menganggukan kepala dan tersenyum.


Sarah memutar badan dan mengundurkan diri dari kamar bernuansa biru dan putih. Tidak lama kemudian Briyan masuk ke dalam kamar dengan langkah lebar.


Pemuda itu tersenyum lembut kepada Eleena, pakaian berwarna hitam yang dikenakannya menambah kesan menawan pemuda berusia 20 tahunan itu.


"Eleena kamu sudah bangun, para penatua ingin bertemu denganmu. "


Eleena melebarkan pupil hitam miliknya, dia memiliki firasat yang tidak baik. Jika penatua ingin bertemu dengannya itu pasti masalah serius.


Eleena menjawab dengan ragu dan keengganan di hatinya.


Briyan mendekat ke arah Eleena dan melepaskan ikatan itu satu persatu.


"Aku sudah melepaskan ikatan di tanganmu, kamu jangan berpikir untuk kabur. Aku tidak akan membiarkan itu. "


Eleena tahu sekarang dia tidak bisa kabur, dia harus pura-pura menjadi gadis penurut untuk sementara waktu.


"Baik, aku tidak akan kabur. Ayo temui para penatua. "Kata Eleena menarik tangan Briyan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Ketiga penatua duduk di atas kursi yang sama dengan usia para penatua. Penatua Lim duduk diantara penatua Lee dan Jang. Penatua Lim memiliki sifat bijak dan murah senyum, Penatua Lee orang yang pendiam dan acuh tak acuh, sedangkan Penatua Jang memiliki sifat galak dan mudah marah emosinya seperti kembang api yang setiap saat bisa meledak. Mereka memiliki sifat yang saling bertolak belakang terkadang keributan kecil muncul di tengah perdebatan,


Seperti saat ini.


Eleena memandang ketiga penatua yang sedang memperdebatkan sesuatu yang Eleena tidak mengerti. Sesekali mereka saling adu sikut karena berbeda pendapat dan pandangan. Tapi menurut yang Eleena dengar mereka sedang membicarakan Pangeran yang belum kunjung menikah. Mendengar hal itu Eleena yang semula tenang menjadi tegang.


Penatua Lim tersenyum melihat gadis cantik yang berdiri di hadapan mereka. Eleena menunduk memberi hormat kepada para penatua. Lalu berdiri dan berkata lembut.


"Saya telah kembali Penatua Lim, Eleena datang untuk menghadap penatua, apa yang penatua ingin bicarakan?"


Tempat yang semula riuh dan ramai seketika berhenti ketika Eleena datang. Mereka saling tatap satu persatu kemudian terbatuk pelan.


"Ini menyangkut dengan janji pernikahanmu dengan pangeran. Kamu sudah berusia 18 tahun kami akan mengadakan pesta pernikahan untukmu. "Kata Penatua Jang tanpa basa basi.

__ADS_1


Eleena tertegun tapi kemudian berusaha menenangkan diri.


"Jadi tetua memanggil saya untuk segera menikah dengan Briyan. Tapi penampilan Eleena biasa saja, Eleena juga tidak berpendidikan, sering membuat masalah dan juga tidak tahu malu. Eleena tidak pantas dengan Briyan. Briyan orang yang berpendidikan tinggi dan berbudi luhur. Eleena tidak cocok untuk mendapat penghormatan seperti ini. "


Penatua Jang berdiri lalu mengusap janggutnya yang sudah memutih.


"Eleena itu tidak menjadi masalah sama sekali, semua telah di tentukan, kamu akan menikah dengan Briyan dalam waktu satu bulan. "


Eleena melirik Briyan untuk meminta pertolongan agar pernikahan di tunda sementara waktu. Briyan seolah mengerti apa yang dibicarakan Eleena.


"Tetua Jang Eleena baru kembali dari Kerajaan Akasia. Saya pikir itu bukan ide yang bagus mungkin pernikahan bisa di tunda untuk sementara waktu. "


Eleena tidak puas dengan perkataan Briyan. Matanya melirik ke segala arah lalu tatapannya berhenti pada Penatua Lim. Dia ingin meminta bantuan Penatua Lim tetapi dia hanya mengedipkan mata dan menganggukan kepala. Seolah berkata,


'Ikuti saja apa yang dikatakan Penatua Jang'


Eleena maju selangkah, dan menatap wajah para penatua satu persatu.


"Penatua, saya berharap kalian berpikir sekali lagi dan berbesar hati. "


Penatua Jang berkata yakin.


"Eleena kamu adalah anak perempuan satu-satunya Gilang. Sudah sepatutnya kamu mengemban tugas untuk kerajaan kita. Jangan gugup pernikahan nanti akan dilakukan sesuai aturan istri utama putra mahkota. "


Penatua Lim tersenyum, dan menatap Briyan sekilas.


"Kamu seharusnya bangga Eleena, Briyan ingin menikahi mu sebagai istri utama bukan sebagai selir. "


Briyan mengangguk dan menatap Eleena.


"Benar, kita sudah mengenal sejak kecil aku ingin kamu menjadi istriku. "


Eleena menatap rumit Briyan, sejak kecil Eleena hanya menganggap Briyan sebagai kakak laki-lakinya. Dia tidak mencintai Briyan. Eleena pikir Briyan hanya menganggapnya sebagai adik tapi siapa sangka Briyan menyukainya. Eleena tidak menginginkan itu.


Eleena berlutut dengan cepat dan meletakan keningnya di atas lantai.


"Saya harap penatua memikirkan sekali lagi, menikah bukan perkara yang mudah. "


Penatua Jang marah. Ekspresi wajahnya sangat jelek. Dia berkata dengan lantang dan keras.


"Tidak ada penolakan, semua telah di tentukan, jika kamu masih memberontak. Ayahmu akan di hukum mati. "


Eleena membelalakan mata, dia tidak menyangka bahwa mereka akan menjadikan ayahnya sebagai alasan.


"Ayah adalah orang yang telah mengabdikan seumur hidupnya untuk Kerajaan Akasia. Saya harap penatua berbelas kasih untuk mengingat semua kontribusi ayah saya kepada Kerajaan. "


Penatua Lee yang semula diam berdiri dan mendekat kepada Eleena. Dia menepuk pundak Eleena dengan pelan.


"Eleena kamu tidak bisa menolak, ini adalah keputusan yang terbaik. Kami harap kamu menyetujui keputusan ini. "


Eleena tidak bisa menentang keputusan ini, tubuhnya terkulai lemah, bibirnya memucat. Dia harus memilih keselamatan ayahnya atau kebahagiannya.

__ADS_1


Eleena terdiam sejenak, lalu berkata.


"Baik, saya akan menikah dengan Briyan. "


__ADS_2