
Briyan tertegun lalu melengkungkan bibir, dia sangat senang dan bahagia mendengar Eleena mau menikah dengannya
Penatua Lee memasang ekspresi puas ketika mendengar jawaban yang diberikan Eleena. Dia mengusap kepala Eleena lembut,
"Kami senang mendengar jawabanmu yang memuaskan, tidak ada kandidat yang cocok selain dirimu untuk menempati posisi ini. Kami percaya kamu dan Briyan bisa mengatur dan memajukan Kerajaan Akasia. "
Penatua Lim menyambung, matanya menerawang jauh.
"Benar, aku teringat saat Eleena masih kecil. Gadis ini selalu membuat keributan dan masalah dimana pun. Sekarang dia tidak hanya tumbuh besar tapi dia juga bertambah cantik. "
Para penatua menganggukkan kepala, mereka mengiyakan perkataan Penatua Lim.
Eleena memang gadis yang selalu membuat masalah tetapi kecerdasannya dan kecantikannya membuat orang terpukau.
Eleena yang disanjung dan dipuji tidak besar kepala. Dia tersenyum sedikit,
"Penatua terlalu memuji Eleena. Untuk menjadi putri mahkota masih banyak hal yang perlu di pelajari. "
Penatua Jang tertawa pelan,
"Kamu bisa mempelajarinya sebelum menikah. Aku akan memanggil bibi pengajar untuk mengajarimu. "
Eleena tidak ingin berdebat dan berdiri terlalu lama disini dia harus memikirkan cara lain supaya pernikahan ini bisa dibatalkan.
Eleena mengangguk dengan sopan, senyum menawan terukir di bibirnya,
"Baik Penatua Jang, Eleena undur diri dulu. "
Penatua Jang mengedipkan mata dan tersenyum. Kemudian dia mempersilahkan Eleena untuk meninggalkan ruangan ini.
"Baik, masalah sudah di selesaikan dengan baik kamu bisa pergi. "
Eleena memberi hormat lantas memutar badan dengan anggun, dia pergi dari ruangan para penatua diikuti Briyan di belakangnya. Setelah keluar dari ruangan, Briyan mencekal tangan Eleena.
"Kau akan pergi kemana? "tanya Briyan dengan bibir di kencangkan. Tatapannya dalam seperti kedalaman laut yang tak berujung.
Eleena yang melangkahkan kaki seketika berhenti mendadak, dia menatap pemuda itu sejenak lalu melepas tangan Briyan. Tatapan tak terbaca tertuju kepada orang di depannya.
"Aku akan pergi ke halaman belakang, aku tidak akan kabur kamu tenang saja. "Kata Eleena menenangkan.
Briyan menatap tangannya sekilas lalu melemparkan pandangan kepada gadis cantik di depannya.
"Apa kau marah?"
__ADS_1
Eleena mengangkat matanya yang panjang dan cantik, dia bertukar pandang pada pupil mata hitam berkilat di depannya.
"Tidak, aku tidak marah hanya saja aku tidak suka kepada para penatua yang melibatkan ayah dalam hal ini Briyan. "
Briyan tahu Eleena sedang marah tetapi Briyan juga tidak tahu kenapa para penatua melakukan hal seperti itu hanya untuk membuat Eleena tunduk.
Briyan menurunkan mata, dan berbicara sangat yakin.
"Aku tahu, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "
Eleena menatap Briyan rumit, dia tidak suka jika orang lain memanfaatkan kelemahan seseorang untuk mencapai kesepakatan.
"Apa kau yakin untuk menikah denganku Briyan?"
Briyan menjawab, tatapan matanya tegas dan percaya diri.
"Aku yakin ingin menikahimu Eleena, Kenapa apa kamu tidak ingin menikah denganku?"
Eleena mendengus dingin,
"Menikah denganmu adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan tapi aku merasa tidak cocok denganmu, kamu terlalu baik kepadaku Briyan dan aku hanya menganggap mu sebagai kakakku. "
Briyan menyatukan alis, wajahnya yang lembut perlahan mengeras,
"Apa ini semua karena iblis itu Eleena, kau menyukai dan mencintainya. Dia iblis Eleena dia Iblis. "
Briyan tidak tahu harus berkata apa, dia marah dan bingung. Tangannya terkepal dan rahangnya terkatup rapat.
"Kau gila Eleena, aku katakan sekali lagi aku tidak akan mengijinkanmu bersamanya. Jika kau ingin bersamanya bunuh aku dulu.
Eleena tidak percaya dengan apa yang dikatakan Briyan, 'membunuhnya' tentu saja Eleena tidak akan pernah melakukannya. Briyan yang Eleena kenal bukan orang yang seperti ini, dia adalah orang yang lembut dan baik hati tetapi kenapa Eleena sekarang seperti tidak mengenal pemuda ini. Dia sangat berbeda dari pemuda yang Eleena.
Mata Eleena yang jernih dan bersih sedikit keruh.
"Aku tidak akan membunuhmu Briyan. Aku akan menikah denganmu tapi aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu. Karena aku menyukainya.
Wajah Briyan menggelap karena amarah, kepalan di tangannya semakin erat. Dia menghela nafas kasar untuk mengatur emosinya.
"Apa kau tidak bisa mencoba menyukaiku lebih tulus dibandingkan iblis itu. "
Eleena menggelengkan kepala. Tatapan matanya dipenuhi ketegasan dan kejelasan.
"Tidak bisa Briyan, rasa sayangku dan suka ku kepadamu hanya seperti seorang adik yang menyayangi kakaknya. "
Briyan mengerucutkan bibir, dia tidak ingin melepaskan Eleena begitu saja. Dia akan sabar dan mengalah untuk sementara waktu. Setelah emosi gadis ini membaik dia akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hati Eleena.
__ADS_1
Briyan menghela nafas sekali lagi lalu tersenyum masam, Wajahnya dipenuhi tekad dan kepercayaan diri yang sangat kuat.
"Baik, aku akan mengalah untuk sementara waktu. Mungkin kamu sedikit terkejut aku akan berusaha yang terbaik untuk mendapatkan hatimu nanti. Kita lihat siapa yang akan mendapatkan hatimu. "
Eleena mengangguk,
"Baik, aku mengerti. "
Mengiyakan perkataan Briyan adalah solusi yang terbaik untuk saat ini. Dia tidak ingin bertengkar dan melukai hati Briyam. Mungkin Eleena terdengar egois tapi dia juga tidak bisa kehilangan Briyan ataupun Nalendra.
Membuang kebahagiaan demi menyelamatkan ayah adalah keputusannya. Tetapi jika bisa memilih keduanya akan lebih baik. Eleena tidak akan menyerah dia harus mencari cara untuk membawa ayahnya pergi dari Kerajaan Akasia. Eleena mencintai Nalendra dia tidak ingin menikahi orang lain selain dirinya. Namun Briyan adalah sahabat Eleena, bagaimana mungkin Eleena bisa meninggalkannya.
Briyan mengalihkan pembicaraan dan bertanya,
"Apa kau akan pergi ke halaman belakang?
"Iya, "Jawab Eleena.
"Aku akan mengantarmu ke halaman belakang. "Kata Briyan menawarkan
Eleena menolak tawaran Briyan dengan sopan,
"Tidak perlu aku hanya akan pergi sebentar setelah itu aku akan mengunjungi ayah. "
Briyan menentang jawaban Eleena,
"Aku tidak akan mengijinkanmu pergi, kamu tidak boleh pergi tanpa aku. "
"Kenapa?apa kamu sekarang tidak percaya denganku lagi. Aku tidak akan melarikan diri. "Kata Eleena tegas.
Senyum kecil terpampang di wajahnya,
"Aku mengenalmu sudah lama Eleena, dengan sifat mu kau pasti akan mencari cara untuk melarikan diri. "
"Aku tidak akan melakukanya. "Kata Eleena cepat.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Jadilah patuh. "
Eleena menghela nafas sedikit menyesal,
"Terserah kau saja. "
Keduanya pergi ke belakang istana bersama tidak butuh waktu lama untuk sampai di halaman istana. Para pelayan yang melihat mereka memberi hormat.
Di halaman belakang Istana di penuhi dengan bunga plum yang sangat indah. Sebagian dari mereka sibuk memetik bunga dan buahnya digunakan untuk membuat berbagai minuman dan makanan, serta beberapa kegunaan penting dalam pengobatan
__ADS_1
Di sinilah Eleena bertemu dengan Briyan untuk pertama kalinya. Eleena menatap kosong ke depan tempat ini masih sama dengan sepuluh tahun lalu.