
Nalendra pulang dengan tubuh yang dipenuhi oleh darah, baju putihnya berubah warna menjadi merah hal itu terlihat sangat mengerikan mungkin orang yang melihat penampilannya sekarang akan lari terbirit-birit. Dia seperti anak kecil yang bermain di kubangan lumpur tapi bedanya dia bermain dengan kubangan darah. Eleena yang menyaksikan itu segera berlari kearah pemuda yang dipenuhi dengan darah. Dia sangat mengkhawatirkan pemuda itu, Eleena sudah mencarinya kesana-kemari dia pikir dia akan pergi tanpa berpamitan tapi siapa sangka orang itu kembali dengan keadaan yang mengerikan. Nalendra yang melihat Eleena berlarian ke arahnya tersenyum lebar. Dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk gadis ini dengan erat. Eleena memukul tangan Nalendra dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan kenapa bajumu penuh dengan darah, apa kau membunuh orang lagi?"
Nalendra menganggukkan kepala dan tersenyum lebar,
"Hanya sedikit bermain saja, kau yang membuat raja ini kesal jadi untuk melampiaskannya raja ini membantai mereka semua. "
"Kamu membantai mereka semua?cepat katakan siapa yang telah kamu bantai?! "Kata Eleena sorot matanya dipenuhi kemarahan.
Pemuda itu tertawa keras, gadis didepannya sangat menggemaskan saat marah.
"Bulan Berdarah, mereka semua sudah mati. Raja ini yang telah membunuhnya tapi sayang sekali Pandu tidak ada di sana. "Kata Nalendra mengerucutkan bibirnya.
Eleena yang sudah terpancing emosinya, segera menenangkan dirinya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan.
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Itu karena mereka berani melukai milik raja ini, raja ini tidak akan memaafkan siapa saja yang telah melukaimu. "
Alis Eleena terangkat dan melengkung tinggi,
"Jangan lakukan itu lagi, aku tidak ingin kamu dalam masalah walaupun aku tahu bahwa kamu sangat kuat. Kita tidak tahu bahaya bisa datang kapan saja meski mereka yang telah menyinggung kita terlebih dahulu tetapi kita harus berjaga-jaga di kemudian hari. Mereka adalah organisasi yang berbahaya dan licik mereka tidak akan tinggal diam ketika mengetahui bahwa semua anggota telah kamu bunuh. "
"Aku tidak peduli. "Kata Nalendra dingin.
Eleena menghembuskan nafas dan mengelus dadanya. Dia harus ekstra sabar menghadapi pemuda temperamental didepannya ini.
"Sudahlah, lebih baik kamu mandi saja "Kata Eleena melepas pakaian pemuda itu satu persatu diamati tubuhnya dengan teliti dan tidak terlewat seinci pun. Setelah mengamati tubuh ramping tapi berotot pemuda itu tidak ada luka sedikitpun Eleena mengangguk puas.
Nalendra yang ditatap begitu intens tersenyum jahil,
"Apa perlu raja ini membuka celana supaya kau bisa melihatnya dengan puas. "
"Tidak bisakah kamu sedikit serius" Kata Eleena cepat. Dia memalingkan mukanya yang telah bersemu kemerahan.
"Kau ingin raja ini serius, bagaimana dimulai dengan menanggalkan pakaianmu. Kau berhutang sesuatu padaku bukan. "Kata Nalendra mengedipkan sebelah matanya genit.
Eleena merapatkan bibirnya dia tidak tahu harus berkata apa lagi.
__ADS_1
Nalendra yang melihat ekspresi wajah Eleena tertawa pelan, Nalendra menjilat bibirnya yang tidak kering dengan cara menggoda.
"Lepaskan pakaianmu biarkan raja ini menidurimu sampai puas atau aku harus merobeknya seperti sebelumnya. "
Eleena yang mendengar kata vulgar itu meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Apa kau akan menghukum ku sekarang?"
"Tentu saja, aku ingin kau menari dengan heboh malam ini. "Kata Nalendra mendorong Eleena ke dinding kayu dengan kuat, tangan rampingnya membelai wajah Eleena dengan lembut
Nalendra mencium bibir mungil gadis ini dengan kasar, dia ingin menghajar gadis kurang ajar ini sampai puas. Dia sudah menahan amarah beberapa hari ini karena pemuda yang bernama Briyan, dia sangat benci dan marah kepada pemuda itu hatinya sangat gatal dan tidak nyaman. Dia pikir dia bisa merebut miliknya dengan mudah Nalendra tidak akan pernah membiarkan itu. Tubuh dan hati gadis itu hanya milik Nalendra. Diangkatnya gadis itu dengan kedua tangannya dan diceburkan nya tubuh ramping Eleena kedalam bak mandi air panas. "Lepaskan pakaianmu!"Perintah Nalendra dengan tegas.
Dia merasa pemuda ini marah, Eleena tidak tahu kenapa pemuda ini begitu marah, dia merasa tidak berbuat kesalahan apapun tapi kenapa dia terlihat marah. Apa karena dia tadi tertidur dan mengabaikan keinginannya?
Sudahlah biarkan dulu dia bermain.
Eleena mematuhi perintah Nalendra tanpa menolak, bercinta dengan pemuda ini sangat menyenangkan. Bagaimana mungkin Eleena menolak hal tersebut, dilepaskannya baju itu satu persatu hingga tidak ada sehelai benang pun.
Nalendra yang melihat hal tersebut tersenyum puas. Kemudian dia masuk kedalam bak dan mengigit bibir gadis itu sampai berdarah rasa logam dan bau darah yang khas memenuhi mulutnya. Setelah puas mengigit bibir gadis itu kemudian bibirnya turun ke leher dan pundaknya dia sangat menyukai warna kemerahan tubuh gadis ini. Warna itu menandakan bahwa gadis itu hanya miliknya seorang.
"Kau harus ingat tubuhmu dan hatimu hanya untuk raja ini, raja ini akan selalu mengingatkanmu. "
Eleena kemudian teringat, Mungkin itu semua karena Briyan yang baru mereka temui, Eleena belum memberi tahu Nalendra bahwa dia memiliki janji pernikahan dengan Briyan. Dia harus memberi tahu pemuda ini,
Nalendra terperangah, dia bertanya dengan jengkel,
"Benar, siapa dia sebenarnya apa hubunganmu dengannya?"
Eleena sudah tahu pemuda itu pasti akan bertanya tentang hal itu jadi dia harus cepat menjelaskan. Meski Eleena tahu pemuda ini akan marah tapi mencegah hal buruk lebih baik, dia berkata dengan ragu-ragu.
"Dia teman masa kecilku di Kerajaan Akasia dan aku memiliki janji pernikahan dengannya tapi itu hanya janji saat masih kecil mungkin dia tidak menganggap serius janji itu. "
Mendengar hal itu Nalendra sangat marah, dia mencengkeram leher Eleena dengan kuat seolah dia ingin mematahkan leher mungil Eleena.
"APA KATAMU?!"
Eleena yang dicengkeram lehernya dengan kuat meringis kesakitan, dia mencoba melepas cengkeraman tangan Nalendra yang begitu kuat tapi sia-sia tenaga Eleena tidak sebanding dengan Nalendra yang seorang pria. Eleena tidak menyangka pemuda itu begitu marah mendengar hal tersebut.
"Maaf..kan...aku, lepas..kan du..lu. "
__ADS_1
Sorot mata Nalendra yang dipenuhi kemarahan sangat menakutkan ekspresi diwajahnya seperti orang sinting, Nalendra sangat marah, dimasukkannya kepala Eleena ke dalam air berulang kali. Pemuda dihadapannya sangat mengerikan dia tidak seperti Nalendra yang dia kenal.
Nalen..dra..dengar...kan aku, lep..askan..aku..dulu. "
"Kau..akan..mem..bun..uh..ku. "
"Tol..ong..lep..as..kan..aku. " Kata Eleena terputus-putus. Kerongkongan dan dadanya dipenuhi air dia tidak bisa bernafas lagi dadanya sangat sakit pemuda ini menghukumnya tanpa ampun. Eleena memejamkan matanya Dia tidak bisa terjaga lagi mungkin dia akan mati ditangan pemuda ini.
Melihat gadis dihadapannya tidak bersuara dan tidak bergerak Nalendra panik. Dia terpancing emosi dan tidak bisa mengendalikannya. Keinginan untuk membunuh pemuda bernama Briyan bertambah berlipat ganda. Dia akan membunuh pemuda itu langsung ketika sampai di Kerajaan Akasia. Dia sangat marah mengetahui hal tersebut. Siapa sih seorang pria yang ingin miliknya diambil orang lain tak terkecuali dengan Nalendra dia tidak ingin miliknya diambil orang lain. Diangkatnya tubuh gadis itu dengan lembut dan ditutupi tubuh mungil itu dengan jubah hitam miliknya dan diletakkan tubuh itu diatas ranjang dengan perlahan. Dia sudah gila hampir saja dia membunuh gadis itu. Nalendra meraba nadi di daerah leher dan lengan bawah. Nalendra memberi nafas dari mulut ke mulut dengan kasar kemudian menekan dadanya. Melihat Eleena yang membuka matanya perlahan Nalendra segera memeluknya dengan erat dan berkata,
"Maafkan aku. "Kata Nalendra untuk pertama kali disepanjang hidupnya. Eleena terbatuk-batuk dadanya masih sakit dia memuntahkan air. Melihat temperamen pemuda ini sedikit membaik, Eleena mengusap pundak pria ini dengan pelan.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tapi aku tidak suka kau melakukan itu, itu sangat sakit jika kau ingin membunuhku jangan menggunakan cara yang menyakitkan. "
Nalendra yang mendengar hal tersebut semakin mengeratkan pelukannya, dia mengatupkan giginya rapat.
"Lepaskan, apa kamu ingin mencoba membunuhku untuk yang kedua kalinya? "Kata Eleena jengah pelukan pemuda ini membuat tubuhnya sakit. Dia memeluk Eleena seperti memeluk batang pohon sangat erat dan menyesakkan.
Pemuda itu melepaskan pelukannya dan menyelimuti Eleena dengan lembut.
"Tidurlah Raja ini akan menemanimu disini. "
"Maafkan aku, aku hanya menganggap Briyan seperti kakak laki-laki saja, aku akan tetap menjadi milikmu, kamu yang telah menyelamatkanku semenjak itu nyawaku adalah milikmu. "Kata Eleena menjelaskan.
Nalendra yang mendengar itu tersenyum lebar, dia merasa sedikit lega mendengar perkataan tulus gadis itu.
"Kau harus ingat orang yang merebutmu atau mengambilmu dariku mereka akan mati aku tidak peduli siapa mereka. "
Eleena hanya mengangguk dan tersenyum simpul jika dia salah berbicara mungkin dia tidak hanya dicekik dan ditenggelamkan ke dalam air mungkin juga dia akan dilemparkan kelaut dan membiarkan tubuhnya digerogoti oleh ikan besar. Eleena tidak bisa membayangkannya jadi dia mengambil jalan aman yaitu patuh dan menurut apa yang dititahkan Nalendra.
"Baik. "
"Sekarang tidurlah. "Kata Nalendra.
"Kau tidak akan melakukan hal yang aneh bukan?"tanya Eleena.
"Raja ini tidak akan melakukanya. "Jawab Nalendra tegas.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, jika kau bicara lagi Raja ini akan menidurimu lagi. "
Mendengar hal tersebut Eleena tertawa pelan dia merasa pemuda ini sangat lucu, emosinya tidak stabil ketika dia marah dia tidak ragu untuk membunuh orang tersebut tapi ketika dia baik dia akan sangat baik. Eleena hanya menggelengkan kepalanya bukankah pria besar ini seperti anak kecil. Untuk pertama kalinya Eleena tahu sisi gelap pemuda ini Nalendra yang biasanya tidak marah tiba-tiba sangat marah mendengar hal tersebut. Mungkinkah pria besar ini cemburu.