Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Karena Kamu Memiliki Wanita Cantik Dan Setia


__ADS_3

Entah sejak kapan pemuda ini berubah menjadi sedikit manusiawi tetapi Eleena bersyukur Nalendra sedikit berubah menjadi orang yang lembut meski hobi membunuh dan marah masih melekat di dalam dirinya.


Nalendra sudah menjelaskan semuanya, tentang kenangan yang telah dimodifikasi tersebut tetapi Eleena masih merasa ada yang aneh. Sepertinya dia telah bertemu pemuda itu sebelumnya tetapi Eleena tidak ingat kapan dan dimana.


Eleena melirik Nalendra sebentar, pemuda itu masih sibuk dengan tumpukan kertas yang menggunung di depannya. Wajah tampannya yang sedingin es sedikit berbeda dari biasanya mungkin Eleena baru pertama kali melihat ekspresi serius di wajah pemuda ini selebihnya ia selalu memasang ekspresi kejam, dingin, dan datar. Tidak banyak ekspresi yang ditampilkan pemuda ini jadi Eleena terpesona ketika melihat wajah serius Nalendra, membuat gadis itu ingin menggodanya.


"Haruskah aku membantumu sepertinya kamu sedikit lelah?"


Nalendra meletakan gulungan kertas lalu ia mengangkat kepalanya untuk menatap Eleena sebentar. Gadis di depannya selalu saja terlihat cantik meski dia hanya memakai pakaian rumahan kecantikannya tidak berkurang sedikitpun.


"Tidak perlu repot-repot membantuku kau hanya akan menambah pekerjaanku. "


Eleena mengerucutkan bibirnya, dia mendekat ke arah pemuda itu sengaja mengecup pipi Nalendra dan berlari meninggalkan pemuda itu dengan cepat.


"Aku akan pergi menemui ayah sebentar. " Eleena mengucapkan dengan lantang dan keras dari luar ruangan. Nalendra mengepalkan tangan gadis itu berhasil menggodanya dia tidak ingin menyelesaikan pekerjaan lagi.


"Gadis itu semakin hari semakin berani menggodanya dengan terang-terangan, tidak tahukah ia bahwa perbuatan membuat Nalendra tersiksa karena menahan gairah terlalu lama. "


Eleena menemui ayahnya yang berdiri di depan kolam ikan, emosi Gilang tidak stabil terkadang dia marah dan berteriak histeris jadi Eleena jarang menemui ayahnya semenjak pindah ke Istana Kegelapan. Dia akan menemui ayahnya ketika emosinya stabil.


Beberapa hari yang lalu Nalendra memanggil tukang kayu untuk membuatkan Eleena dan ayahnya rumah. Rumah ini sama persis dengan rumah lamanya yang ada di Kerajaan Akasia. Jadi Gilang tidak bingung dan merasa bahwa dia masih berada di rumah lamanya meski semua hanya tipuan, namun detail-detail terkecil bahkan tidak terlewatkan sedikitpun. Mereka yang melihat rumah ini tidak bisa membedakan mana yang asli atau palsu ketika di jejerkan.


Eleena melangkahkan kaki ringan ke arah Gilang dan memanggilnya dengan lembut.


"Ayah, apa yang sedang kamu lakukan?"


Gilang menolehkan kepala dan tersenyum kepada Eleena.


"Ayah sedang memberi makan ikan, aku sudah lama tidak bertemu dengan Briyan apa dia baik-baik saja?"


Eleena mengaitkan lengannya lalu menarik tangan Gilang untuk duduk di dekat kolam.


Eleena membantu Gilang duduk dengan baik. Setelah ayahnya duduk dengan baik Eleena menarik kursi dan duduk di samping Gilang.


"Briyan sedang pergi mengecek perbatasan mungkin dia akan pergi sedikit lebih lama. "

__ADS_1


Gadis itu berbohong tentu saja ia tidak tahu bagaimana keadaan Briyan sekarang tapi Eleena berharap semoga dia tetap baik-baik saja.


Gilang menganggukkan kepala.


"Baiklah ayah mengerti. Apa kamu sudah makan ayah akan menyiapkan makanan untukmu. "


Eleena menggelengkan kepala, meletakkan tangan rampingnya diatas tangan Gilang dan menggosoknya pelan.


"Aku sudah makan ayah, ayah tidak usah menyiapkan makanan untuk Eleena. Ayah sebaiknya istirahat dengan baik hari sudah malam. Eleena akan kembali ke Istana. "


Gilang menepuk pelan tangan Eleena dan tersenyum lembut.


"Pergilah, ayah baik-baik saja jangan biarkan pemuda itu menunggumu. "


Eleena tercengang, kedua alisnya menyatu.


"Apa yang ayah maksud?"


Gilang tertawa pelan dan mengangkat tangan mengusap rambut Eleena lembut.


Eleena tidak menjawab dia menganggukkan kepala ragu. Namun, Gilang melanjutkan perkataanya.


"Jika dia baik pada Eleena ayah tidak akan menghalangimu untuk tetap bersamanya. "


Eleena semakin terkejut. Dia tidak mengira jika ayahnya telah mengetahui semuanya. Namun gadis itu lega karena hubungannya dengan Nalendra mendapat restu dari ayahnya. Dia pikir Gilang akan menentangnya mentah-mentah tetapi....siapa sangka semuanya mengalir begitu saja.


Eleena berdiri dari kursi dan membantu Gilang untuk berdiri.


"Aku ingin menjelaskan semuanya tetapi ayah sudah tahu. Eleena pikir ayah tidak akan suka jika aku berhubungan dengan Nalendra. "


"Kamu sudah besar, ayah tidak berhak mengaturmu seperti anak kecil lagi. Siapapun pria pilihan Eleena, ayah percaya dia adalah orang yang baik. Orang jahat atau orang baik dilihat dari hatinya bukan tindakannya. "


Eleena tersenyum cerah, mata besarnya berbinar.


"Terimakasih ayah Eleena akan selalu mengingat perkataan ayah. "

__ADS_1


Gilang menepuk pundak Eleena pelan.


"Kamu anak yang baik dan kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Jika dia orang yang ditakdirkan untuk Eleena dia akan kembali lagi meskipun langit dan bumi mencoba memisahkan. "


Eleena menganggukkan kepala dan mengantar Gilang masuk ke dalam rumah.


Setelah mengantar Gilang masuk ke dalam rumah Eleena mencari Nalendra di Aula Istana tetapi pemuda itu tidak ada disana. Gadis itu kembali ke dalam kamar dengan riang gembira. Berbicara dengan ayahnya membuatnya tidak henti-hentinya bersenandung sesekali Eleena menggoyangkan tubuhnya karena sangat bahagia. Ia lantas berhenti bersuara dan melangkahkan kaki dengan pelan saat masuk ke dalam kamar. Itu karena ia melihat Nalendra sedang tidur di atas ranjang dengan nyenyak.


Tidak biasanya pemuda itu tidur di kamarnya. Eleena bahkan berpikir Nalendra tidak butuh tidur untuk bertahan hidup. Gadis itu meletakan tubuhnya perlahan di samping pemuda itu lalu menarik selimut dengan perlahan. Dia tidak ingin membangunkan singa yang sedang tidur. Eleena sudah capek dia tidak ingin tidur di kamar lain karena hanya kamar inilah kamar ternyaman yang ia miliki.


Keesok harinya Eleena terpaksa terbangun. Dia bahkan tidak bisa bernafas karena tangan besar Nalendra memeluknya terlalu erat. Gadis itu mencoba membangunkan pemuda itu tetapi tubuhnya bahkan tidak bergerak seincipun malah pemuda itu memeluknya semakin erat.


"Nalendra aku mohon bangunlah kau memeluk tubuhku terlalu erat, aku tidak bisa bergerak. "


Nalendra tidak merespon ucapan Eleena merasa ada yang aneh Eleena meletakan tangannya di kening pemuda itu. Betapa terkejutnya Eleena sekarang dahi Nalendra sangatlah panas dia seperti memegang bara api. Gadis itu melepaskan tangan besar Nalendra pelan-pelan. Setelah dia melepas tangan pemuda itu dengan sempurna Eleena segera berdiri dari ranjang tapi saat ia sudah setengah berdiri tangannya ditarik oleh pemuda itu.


"Jangan pergi, aku tidak apa-apa hanya sakit musiman. "


Eleena berbalik melihat wajah tampan Nalendra memerah, ia semakin khawatir dan cemas. Eleena memaksa Nalendra untuk tidur kembali.


"Aku akan memanggil tabib sebentar tidak akan lama, bagaimana mungkin baik-baik saja tubuhmu sangat panas. Kamu sakit dan harus segera di rawat. "


Nalendra mematuhi perkataan Eleena dan meletakan tubuhnya kembali di atas ranjang. Dia memiringkan tubuh dan menatap wajah Eleena.


"Tidak perlu tabib cukup kompres dengan air dingin maka semuanya akan baik-baik saja. "


Eleena bisa mendengar bagaimana suara Nalendra saat berbicara. Suara pemuda itu tidak seperti biasanya suaranya lebih rendah dan lebih serak, kerutan kecil muncul di antara alisnya menandakan dia tidak baik-baik saja. Eleena merapikan selimut Nalendra dan berkata lembut.


"Berhentilah berbicara dan bergerak, aku akan mencari tabib sebentar meski kamu baik-baik saja tetapi aku merasa tenang jika tabib yang mengatakan sendiri bagaimana kondisimu sekarang. "


Nalendra menopang kepala dan berkata sambil tertawa.


"Baiklah terserah kau saja. Kamu terlalu mengawatirkan aku, tapi aku senang ada kamu disini. "


Eleena tersenyum dan berkata dengan bangga.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu. Bersyukurlah kamu memiliki wanita cantik dan setia sepertiku. "


__ADS_2