
Setelah membuat makam peringatan pembantaian Dermaga berbintang. Eleena meletakan bunga krisan di atas makam, berdoa bagi mereka untuk menghormati dan mengenang mereka, Bahkan meminta para leluhur terus menjaganya dengan baik.
Senyum remeh itu tersungging di bibirnya merasa aneh dengan tindakan gadis itu. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mendengar doa dan permintaan orang yang masih hidup. Sejak dulu Nalendra tidak punya siapa-siapa dia tidak mengerti apa itu keluarga atau persahabatan, yang dia andalkan hanyalah dirinya sendiri. Nalendra pernah mempunyai seseorang yang peduli kepadanya tapi orang itu kemudian mengkhianati dan menipunya dengan kejam. Semenjak saat itu dia membenci manusia mereka adalah orang bermuka dua penampilan dan perilakunya bertentangan dengan keadaan hatinya, mereka dipenuhi kebohongan dan kepalsuan. Manusia lebih menyeramkan daripada iblis. Mereka yang mulia mengatakan bahwa iblis adalah makhluk jahat yang harus dimusnahkan. Namun, sesungguhnya mereka adalah orang jahat yang sebenarnya.
Eleena berdiri dan berbalik menatap Nalendra di belakangnya, pemuda itu menatap bosan kearah makam yang terbuat dari batu seolah hal itu tidak menarik sama sekali. Eleena yang melihat Nalendra mengerutkan bibirnya berdecak heran. Pemuda itu bisa mengesampingkan semuanya untuk menjaganya. Nalendra tidak pernah marah iblis itu bahkan sabar menghadapi tingkah Eleena yang menyebalkan hal itu membuat Eleena selalu berharap setiap kali mendapat masalah seperti saat dia menghadapi ratusan boneka yang dikendalikan dia berharap pemuda itu datang menolongnya dia sudah bergantung kepada iblis itu bagaimana jika Nalendra tidak ada dan tidak bisa datang membantunya? Eleena tidak bisa membayangkan dia tidak boleh merepotkan pemuda itu terus-menerus dia harus mengandalkan dirinya sendiri sebisa mungkin. Jika dia terus diberi permen yang manis ketika dia sakit dia tidak mau makan obat yang pahit.
Hari sudah menjelang malam besok pagi dia akan pergi bersama Nalendra ke Kerajaan Akasia. Eleena membuka bekal makanan yang diberikan oleh bibi Dong kepadanya betapa terkejutnya Eleena sekarang bekal yang berisi makanan enak kini telah berubah menjadi sepuluh jari tangan manusia dan sepuluh jari kaki manusia yang masih mengeluarkan darah segar seolah benda menjijikan itu baru dipotong dari tubuhnya beberapa saat lalu. Eleena membanting kotak makanan itu dengan keras dia terkejut. Mendengar suara gaduh di dalam Nalendra yang berada di halaman segera mendekat kearah suara itu berasal. Di sana dia melihat Eleena berdiri membeku seperti patung.
"Kenapa?"tanya Nalendra cepat.
Eleena tidak menjawab dia menatap lantai tanah yang tergeletak sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki manusia yang masih berdarah-darah. Nalendra menatap mata Eleena yang terkunci pada sesuatu, dia tertawa terbahak-bahak seolah hal itu sangat lucu.
"Ternyata ada yang ingin bermain dengan milik Raja ini, tidak bisakah mereka memberi sesuatu yang lebih menjijikan lagi jika ingin mengancamnya. Sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki manusia tidak elegan sama sekali. Kenapa tidak sekalian sepuluh ******** perempuan dan sepuluh ******** laki-laki, Raja ini akan sangat senang menerimanya?"
Eleena menatap Nalendra keheranan dia segera berlutut memunguti benda menyedihkan itu dengan santai.
Dia menghela nafas panjang,
"Orang yang melakukan ini begitu kejam, kenapa mereka harus menyiksa orang sebelum membunuhnya bukankah itu sangat menyakitkan jika mereka ingin membunuh bunuh saja tidak perlu memotong-motong tubuhnya seperti ini. "
Nalendra menjawab,
"Itu karena mereka sangat bodoh, mereka pikir dengan melakukan hal tersebut bisa membuat kau ketakutan. "
Eleena tidak takut dia merasa kasihan kepada pemilik tubuh ini, dia mengangkat jari ramping yang telah terpotong rapi dengan bibir berkerut,
"Dilihat dari bentuk jarinya mungkin jari itu milik seorang perempuan dia masih hidup dan disiksa sedemikian rupa. Aku sudah sangat lapar dan ingin segera menyantap masakan Bibi Dong yang enak. Tapi semuanya sia-sia, aku sangat kesal, kesal karena orang konyol telah menukar makanan berharganya dengan barang aneh dan menjijikan. "
Melihat gadis itu mengomel terpampang senyum di wajahnya,
"Ayo kita pergi. "
"Pergi kemana?"tanya Eleena menyipitkan mata.
Nalendra menjawab,
"Membeli makanan. "
__ADS_1
Eleena bertukar pandang, dia menatap keheranan kepada pemuda di depan.
"Apa kamu lupa kota yang terdekat dengan desa Dermaga Berbintang telah kau bantai habis pada waktu itu. "
Nalendra mengerutkan kening, mencoba mengingat hal tersebut.
"Benarkah, aku sudah lupa kalau aku pernah membantai kota itu. "
Eleena menarik nafas dalam, dia tidak ingin berdebat dengan iblis pelupa ini.
"Sudahlah, lupakan saja aku akan memasak beberapa makanan. "
"Terserah kau saja. "Kata Nalendra acuh tak acuh.
Eleena menuju gudang penyimpanan yang berada di samping rumah, Gudang itu kecil, debu halus memenuhi ruangan ini, sesekali dia terbatuk-batuk saat mengangkat beberapa karung goni. Di sana terdapat berbagai bahan makanan yang masih layak dimakan seperti beras dan singkong yang sudah dikeringkan di atasnya tergantung beberapa ikan yang sudah dikeringkan. Ikan kering adalah ikan tanpa garam diawetkan melalui proses fermentasi di mana bakteri yang telah beradaptasi dengan dingin mematangkan ikan tersebut, Ikan dikeringkan dalam keadaan segar dan dapat disimpan untuk beberapa tahun. Dia akan membuat sup ikan pollock kering saja.
Setelah menyiapkan beberapa bahan yang diperlukan Eleena memasukan bahan tersebut dalam kuali tanah liat. Bau harum masakan memenuhi rumah beratap jerami. Eleena menepuk ringan tangan Nalendra yang sedang tertidur. Merasa ada yang menganggu tidurnya pemuda itu menarik tangan Eleena dengan keras. Orang yang ditariknya hanya meringis kesakitan. Nalendra melepaskan tangan gadis itu dengan pelan. Dia menatap luka kecil di pergelangan tangan gadis itu.
"Apa ini sakit, Raja ini tidak sengaja. "
Eleena menggelengkan kepala, dia tahu
"Tidak ini hanya luka kecil, bangunlah ayo kita makan. "
Nalendra menatap wajah Eleena untuk melihat bagaimana ekspresi gadis ini dia sangat tenang dan santai tidak ada ketakutan diwajahnya setelah puas mengamati wajah cantik gadis ini Nalendra menyeringai dia mengangkat tangan ramping Eleena dan menyentuh luka itu dengan lidahnya yang lembut. Eleena tersentak pemuda itu sedang menjilat lukanya dengan lembut.
Melihat ekspresi terkejut gadis itu membuatnya ingin menggodanya lagi. Ditariknya gadis itu kedalam pelukanya dia tersenyum menggoda,
"Bagaimana kalau aku makan kau dulu?"
Eleena tersenyum kecil dia mengerlingkan mata jail,
"Tidak, aku sangat lapar. Kita lakukan nanti saja setelah makan. "
Nalendra.
"..."
__ADS_1
"Kita harus makan dulu selagi masih panas. "Kata Eleena melepaskan tangan besar Nalendra dengan pelan kemudian melompat turun dari atas ranjang.
Eleena membuka hidangan itu satu persatu menyebabkan asap keluar dari makanan panas bau harum makanan membuat Eleena meneteskan air liur. Diisinya mangkok itu dengan nasi dan sup ikan kemudian diberikan kepada pemuda itu.
"Aku sudah menghilangkan beberapa duri dan tulang, sekarang makanlah ini. "
Nalendra yang dilayani seperti anak kecil hanya menurut saja diambilnya mangkok itu dan dimasukannya makanan itu ke dalam mulut.
Melihat ekspresi datar diwajah Nalendra dia tidak tahan untuk bertanya,
"Apa itu tidak enak. "
Nalendra tidak menimbulkan reaksi wajah yang mencolok lantaran rasanya yang menyenangkan.
"Ini enak. "
"Benarkah, aku pikir kau tidak suka dengan rasa gurih dan asin tapi syukurlah kalau itu sesuai dengan selera mu. "Kata Eleena tersenyum puas.
Nalendra menganggukkan kepala dia tidak bohong masakan gadis ini enak hanya saja dia tidak bisa mengekspresikannya. Dia tidak menyangka gadis liar yang selalu membuat masalah bisa memasak dengan begitu sempurna.
Setelah selesai makan Eleena mencuci piring di sungai depan rumahnya. Dia tidak percaya pemuda itu menghabiskan semua makanan yang disiapkannya bahkan dia mengambil jatah Eleena. Eleena mengusap perutnya yang masih lapar tapi dia terlalu mengantuk untuk makan jadi dia membiarkan saja. Kembali kedalam rumah Eleena menarik selimut dan tidur diatas ranjang tanpa mempedulikan tatapan kesal pemuda itu. Eleena sudah sangat lelah dan mengantuk dia sudah tidak punya tenaga lagi.
Nalendra sudah memasang pembatas di sekeliling rumah ini dengan kekuatan nya dan menutupi keberadaan dengan sihirnya. Gadis ini akan aman dan baik-baik saja untuk sementara waktu dia hanya ingin pergi bermain sebentar.
Di malam itu saat Bulan bersinar sangat terang menyinari gelapnya malam. Seorang pemuda berpakaian putih sedang duduk santai di atas genteng. Rambut merahnya seperti kobaran api neraka yang menyala. Dia terkekeh pelan,
"Jadi ini adalah sarang bulan berdarah, tempat ini sangat jelek dan berantakan. "
Nalendra tidak akan memaafkan seseorang yang telah melukai miliknya jadi disinilah dia sekarang dia akan membunuh mereka dengan cepat. Karena seseorang sedang menunggunya.
Nalendra turun dari atas genteng dengan ringan di atas tanah, prajurit yang melihat ada penyusup datang segera berteriak dengan keras dan lantang.
"ADA PENYUSUP. "
"ADA PENYUS.... "
Belum selesai pria itu mengucapkan kalimatnya lehernya telah dicengkeram kuat oleh seseorang. Orang itu melempar prajurit itu dengan enteng. Melihat hal tersebut para prajurit segera berkumpul dan mengerumuni orang gila yang telah berbuat onar .
__ADS_1
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Para prajurit yang mendengar pemuda itu tertawa tanpa sadar mundur kebelakang, tangan mereka yang memegang senjata bergetar hebat. Mereka sangat ketakutan keringat dingin membasahi keningnya. Melihat para prajurit yang ketakutan membuat pemuda itu semakin tertawa dengan keras. Suara tawanya menggeleggar dan mengerikan prajurit itu meneguk ludah mereka tahu ajal telah datang menjemputnya tidak ada jalan untuk kembali lagi.