Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Anggrek Hitam


__ADS_3

Eleena membuka mata perlahan dia menguap dan menyentuh pelipis yang agak sakit. Seperti biasa jika dia berada di Istana Kegelapan Eleena tidak bisa membedakan waktu sore atau malam. Di samping Eleena seseorang bertubuh mungil tidur dengan lelap. Dia meringkuk seperti bayi. Eleena mendekat ke arah bocah kecil itu dan merapikan selimut dengan hati-hati. Setelah memperbaiki selimut dengan benar dia turun dari ranjang dengan hati-hati. Eleena berjalan dengan kaki telanjang lalu melangkah pelan menuju pintu besar berwarna hitam, ditarik pintu itu dan ditutup secara perlahan. Sesudah pintu tertutup sempurna, Eleena berlari menuju ruang kerja untuk mengunjungi Banyu.


Banyu sedang duduk di meja kerja dengan serius, sesekali keningnya berkerut menatap tumpukan kertas yang memusingkan kepala. Dia sudah kembali ke wujud asli seperti sedia kala. Eleena pasti akan merindukan saat-saat mendandani Banyu dengan sangat cantik. Namun, itu tidak akan terjadi lagi. Kertas itu menumpuk memenuhi meja panjang yang berada di depan. Sebagian wajah tampan Banyu tertutupi kertas.


Menurut Banyu luka yang di derita Nalendra tidaklah ringan sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh, hal itu membuat Eleena cemas dan khawatir. Oleh karena itu dia pergi ke tempat Banyu dengan tergesa-gesa. Eleena ingin menyembuhkan Nalendra dia tidak akan tinggal diam dan menunggu saja.


Eleena mendekat ke arah Banyu perlahan, pemuda itu mendorong kacamata yang melorot dengan jengkel.


"Banyu, apa ada cara lain untuk menyembuhkan Nalendra?"


Banyu masih memasang ekspresi wajah serius. Ekspresi itu sangat berbeda dengan ekspresi Banyu yang selalu santai dan tenang seolah dia tidak memiliki beban hidup yang berat.


Dia sedang berkutat dengan tumpukan kertas di depannya. Kepalanya mendongak ke atas untuk menatap Eleena yang sedang berdiri lalu memasang wajah seriusnya lagi.


"Ada, tapi lupakan saja cara itu sangat berbahaya. "


Mendengar ada secercah harapan Eleena tidak akan menyia-nyiakan harapan itu, dia menjadi sangat bersemangat Eleena bertanya dengan mata berbinar.


"Apa itu?"


Banyu mendengar gadis itu tampak bersemangat. Dia merapatkan kedua jari dan menaruh dagunya diatas.


"Anggrek hitam. "Jawab Banyu.


Bunga anggrek hitam, memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka dalam dan luar. Bisa membantu mengembalikan kekuatan dengan cepat. Bunga ini hanya tumbuh di dunia bawah.


"Di mana aku bisa mendapatkan bunga anggrek hitam, bukankah bunga itu sangat langka?"seru Eleena cepat. Dia harus menemukan bunga itu.

__ADS_1


"Di dunia bawah. Tempat Raja Neraka berkuasa. "


Dunia bawah adalah dunia orang-orang yang mati, tempat roh untuk orang-orang yang telah mati. Ada tiga sungai yang mengalir di dunia bawah, yaitu sungai kesedihan, sungai ratapan, dan sungai kebencian.


Eleena tertegun, Dia pikir Raja Neraka hanyalah mitos belakang tapi ternyata mereka benar-benar ada. Ternyata dunia ini sangat luas, Eleena saja yang tidak tahu.


"Bagaimana aku bisa ke dunia bawah untuk mendapatkan bunga it...?tanya Eleena.


Banyu menyela pertanyaan Eleena dan menantang ide gila itu dengan tegas.


"Tidak, tempat itu sangat berbahaya, banyak orang yang tidak bisa kembali ke dunia atas ketika kau sudah menginjakkan kaki ke dunia bawah.


Eleena yang merasa dilarang tidak menyerah tekadnya sudah bulat. Dia malah semakin tertantang. Larangan adalah perintah.


"Aku tidak takut beritahu aku cara untuk menuju dunia bawah. "Kata Eleena dengan keras kepala.


"Dengan cara menyeberangi sungai kesedihan yang di dayung oleh Sharon.


Banyu terdiam sejenak kemudian melanjutkan.


"Tapi, Sharon akan meminta bayaran dengan suatu hal berharga yang kau miliki. "


"Baik aku akan pergi. "Eleena menjawab dengan cepat sekarang bukan saat untuk tawar-menawar asal itu bisa menyelamatkan Nalendra Eleena tidak peduli.


"Kau yakin?"tanya Banyu.


"Aku sangat yakin. "Jawab Eleena.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menemanimu, aku akan memanggil Renata untuk menjagamu. "


Banyu berdiri dari dan melangkah pergi untuk memanggil Renata untuk menemani Eleena menuju dunia bawah. Meski mereka pernah ke dunia bawah tapi untuk pertama kalinya mereka membawa manusia. Banyu tidak bisa berbuat apa-apa. menolak kegigihan Eleena juga bukan hal baik mengingat betapa keras kepala gadis itu. Banyu tahu Eleena adalah orang yang keras kepala sekali dia bilang iya ya harus iya. Mungkin dia akan di cincang tuannya ketika tahu bahwa Eleena pergi ke dunia bawah. Namun, kesembuhan Tuan Nalendra adalah prioritas utama.


Renata yang dipanggil sudah menunggu Eleena di pintu Istana Kegelapan. Renata adalah wanita yang sangat cantik selalu memakai pakaian berwarna merah, kulit putihnya seperti salju sangat menawan dan mempesona. Namun, dia adalah wanita yang dingin itu terlihat dari wajah cantiknya yang tidak pernah tersenyum.


"Aku akan mengantarmu lakukan dengan cepat jangan membuat masalah. "Kata Renata dingin.


Eleena menganggukan kepala, gadis ini sangat dingin dia persis seperti Nalendra, Dia seperti Nalendra versi wanita. Mereka akan cocok jika bersama tapi apa hati Eleena akan menerima jika melihat mereka bersama. Membayangkan saja Eleena tidak tahan.


Eleena mengikuti Renata dari belakang mereka menuju sungai lava panas yang berada di bawah jembatan. Untuk menuju dunia bawah mereka harus melewati aliran sungai lava yang teramat panas. Renata mengelus kepala besar ular berkepala tiga dengan lembut seolah dia mengelus hewan peliharaan yang menggemaskan. Ular itu sangat senang, dia menikmati setiap sentuhan lembut tangan Renata. Setelah hewan itu tenang Renata membisikan sesuatu yang membuat ular itu menurut. Ular itu menundukkan kepala sejajar dengan mereka.


"Naiklah. "Kata Renata singkat.


Eleena yang masih tercengang mulai tersadar. Dia menaiki kepala ular itu dengan pelan. Kepala ular ini bersisik, licin, dan keras. Ular itu meliuk-liukkan tubuh ke kiri dan ke kanan melewati lautan lava panas dengan gesit. Eleena memegangi tanduk ular dengan sangat erat dia tidak ingin jatuh ke lautan lava yang teramat panas jika terjatuh dia akan menjadi abu membuat Eleena bergidik ngeri.


Tidak lama kemudian ular itu berhenti di mulut gua yang berada di ujung lautan lava Eleena turun dari kepala ular dengan hati-hati dan mendarat ringan di atas bebatuan. Dia tidak bisa membayangkan jika tersesat di gua ini karena tidak ada jalan yang bisa dilalui yang ada hanya lautan lava.


Renata berjalan beriring-iringan di samping


Eleena untuk memasuki gua. Gua ini tidak besar dan tidak kecil sangat cantik dan indah, lumut-lumut hijau menempel di dinding gua, sungai kecil mengalir di dalam gua, pohon kecil tanpa dahan tumbuh di dalam gua. Hamparan berwarna hijau dari kejauhan menyambut kedatangan Eleena.


Eleena terpesona dengan pemandangan yang sangat indah. Tidak ada pemandangan seperti ini di dunia manusia. Dia merasa seperti berada di dunia yang berbeda.


"Ini sangat cantik. "Kata Eleena tersenyum.


Renata menatap Eleena yang sedang tersenyum, dia yang seorang perempuan saja terpesona melihat senyum menawan Eleena. Renata yang memasang mimik wajah datar tanpa sadar ikut tersenyum.

__ADS_1


Di Kerajaan Akasia. Seorang pria berpakaian serba hitam berlutut di hadapan Briyan, pria ini adalah orang yang diperintah oleh Briyan untuk mencari informasi tentang Nalendra. Pria itu tidak berbicara tapi dia meletakan sesuatu di atas tangan. Briyan membuka gulungan itu dengan tidak sabar. Matanya menatap baris demi baris kalimat di gulungan itu lalu berhenti di sebuah kalimat yang membuat kelembutan di wajah tampan pemuda itu secara bertahap menghilang, urat-urat di wajah Briyan mengeras di sertai mata yang membesar. Tanpa pikir panjang Briyan memanggil para prajurit. Eleena dalam bahaya.


__ADS_2