
Eleena bangun dari ranjang empuknya yang berwarna hitam. Dia bangun entah disaat sore atau malam hari. Dia sangat bosan ingin sekali dia pergi jalan-jalan ke tempat lain tapi dia tidak tahu akan kemana. Eleena ingin kembali ke desa Dermaga Berbintang untuk mengunjungi desanya untuk melihat keadaanya sekarang. Tapi iblis itu tidak akan mengizinkan Eleena pergi. Dia ingin mencari kekeknya meski dia tahu bahwa kakeknya mungkin sudah mati. Eleena melihat dengan kepalanya sendiri Bagaimana orang itu membantai seluruh desanya, mereka sangat sadis dan kejam. Eleena sangat membenci pria itu dia bersumpah akan membalas dendam atas kematian semua orang di desanya. Dia yang akan membunuh pria misterius itu dengan tangannya sendiri. Manusia bahkan lebih kejam dari iblis itu sendiri mereka seperti binatang mungkin binatang lebih baik dari manusia. Eleena ingat bahwa dia atau penduduk desanya tidak pernah menyinggung orang tapi bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa harus mati mengenaskan bahkan jasad mereka tidak dikuburkan dengan layak. Eleena mengusap pipinya kasar air matanya mengalir deras dadanya sesak dan sangat sakit seperti diiris kecil-kecil oleh pisau. Awalnya Nalendra akan lewat saja, tapi ketika melihat Eleena dari luar pintu yang terbuka sedang diselimuti oleh kesedihan yang mendalam dia mendekat kepadanya.
Dia sedang bersimpati padanya bagaimana mungkin?
Eleena selalu memiliki kebiasaan membuka pintu sepanjang hari dia terkadang lupa menutupnya saat tidur. Eleena yang mendengar seseorang mendekat segera mengusap air mata dengan kasar.
"Kenapa menangis?"tanya Nalendra tanpa ekspresi. Pemuda itu menyilangkan kedua tangannya.
Eleena menatap pemuda itu dengan mata sembab. Gadis itu menggelengkan kepalanya,
"Tidak apa-apa, hanya teringat dengan kampung halaman saja. "
"Desa Dermaga Berbintang?"tanya Nalendra datar.
"Iya. Aku ingin pergi ke Desa Dermaga berbintang untuk terakhir kali dan kalau bisa aku ingin membuat makam untuk mereka, mendoakan mereka dan memberi mereka bunga." Jawab Eleena.
"Kau akan pergi?"
"Iya. Bolehkah aku pergi? "
"Tidak boleh.
"Aku tahu kau tidak akan mengizinkanku. "
Kecuali kau pergi denganku. "Jawab Nalendra.
Eleena menatap pemuda berambut merah itu dengan melengkungkan bibirnya.
"Kenapa kau begitu baik kepadaku?"tanya Eleena.
"Jangan berpikir aneh-aneh itu karena aku tidak punya kesibukan apapun. "Jawab Nalendra tegas.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
Karena kau mirip dengan seseorang,tapi...
"Kau ingin mati?"tanya Nalendra mencengkeram leher Eleena.
"Tidak, tidak bukan begitu. " Eleena melepaskan cengkraman tangan Nalendra di lehernya dengan kasar.
Eleena bergidik ngeri melihat tatapan membunuh Nalendra yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau menyakitiku. "
"Kau ingin bermain dengan Raja ini,Raja ini bisa memilihkan banyak kematian untukmu jika kau ingin mati. " Nalendra mengangkat tangan dan menjilat jarinya seolah ditangannya ada sesuatu.
Eleena yang menatap itu menggelengkan kepala.
"Tidak, aku belum mau mati dan aku tidak akan mati sebelum membunuh Pria misterius itu.Dia telah membantai desaku bagaimana mungkin aku dengan mudah membiarkan dia hidup. "
Gadis itu mengepalkan tangan dan mengatupkan gigi.
Eleena sangat membenci Pria misterius itu.
Aku akan menjadi hantu gentayangan yang akan memburumu,membuatmu takut dan memohon untuk mati.
Eleena menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk meredakan kemarahan dan kebencian.
"Kapan kita akan pergi? "
"Besok. "Jawab Nalendra singkat.
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Benarkah,bukankah ini masih siang?"
"Bodoh.Kau tidak sadar kalau kau sudah tidur dari siang hingga malam. "
Eleena tidak percaya dia berdiri dari atas tempat tidur dan melihat pemandangan dari jendela yang sudah gelap gulita.
"Sekarang jam berapa?"tanya Eleena.
"Jam sembilan. "
"Jam sembilan. "Kata Eleena tak percaya.
"Turunlah kita makan bersama. "Kata Nalendra datar dan berbalik meninggalkan Eleena yang masih bingung.
Eleena menatap Nalendra pergi. Pemuda itu tidak menghiburnya tapi membuat perasaan Eleena sedikit lebih baik. Nalendra tidak pernah mengusirnya atau menyuruhnya melakukan apapun di Istananya. Eleena bebas pergi kemana saja di Istana Kegelapan bebas melakukan apapun yang dia suka bahkan dia bebas untuk tidur, seperti saat ini Eleena sudah tidur dari siang hingga malam hari tapi Nalendra membiarkan saja.Dia benar-benar gadis tidak tahu diri dan seenaknya saja.Setelah makan dia akan mengunjungi Banyu dan Guntur di Inferno Da Eternidade.Jauh-jauh hari dia berencana akan mengunjungi Banyu dan Guntur tapi Eleena lupa. Kata pelayan, di bawah Istana Kegelapan ada air terjun yang sangat indah dia besok akan melihat air terjun itu.
Seorang pelayan berusia lima belas tahun masuk ke dalam kamar. Dia adalah Amanda. Amanda adalah satu-satunya pelayan yang dekat dengan Eleena. Eleena setiap hari selalu bersama Amanda mengobrol dan bercerita bersama. Dia sudah mengganggap Amanda seperti adiknya sendiri.
"Kakak. Tuan Nalendra menyuruhmu turun kenapa kamu tidak segera turun.Aku tidak ingin mati jadi segera pergilah. "Kata Amanda mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah...baiklah. Aku akan turun. "Kata Eleena sambil mengelus kepala Amanda.
"Ayo pergi. "Kata Amanda meraih tangan Eleena dan menariknya pergi.
Eleena menuruni tangga selangkah demi selangkah. Tangga ini melengkung memiliki dua cabang dari satu tangga awalnya, penghubung lantai ini memiliki dua arah yang berlawanan dari bagian tengah tangga. Ditengah tangga terdapat singgasana besar berwarna hitam.Singgasana itu menyerupai dua wajah manusia yang memakai tudung,wajah kanan masih berwujud manusia dan wajah kiri sudah menjadi tengkorak kedua tangan menengadah keatas langit. Disanalah biasanya Nalendra duduk dengan angkuh dan arogan, tepat diatasnya terdapat lampu kristal lilin berwarna hitam, didepan singgasana ada tangga lurus yang mengarah ke pintu utama, karpet merah membentang menuruni anak tangga hingga ke arah pintu utama. Eleena melangkah ke bagian kanan istana. Ruangan ini sangat besar terdapat meja panjang berisi tujuh belas kursi, terdapat lilin-lilin diatas meja menambah kesan aestetik, lampu gantung tepat diatas meja menambah keindahan ruang ini. Pemuda itu duduk diujung meja panjang mewah menopang kepalanya. Eleena menarik kursi dan duduk. Diatas meja terdapat banyak makanan yang menggoda salah satunya makanan kesukaan Eleena yaitu daging sapi lada hitam, sendok dan garpu emas berjejer rapi disebelah piring.
"Makanlah. "Kata Nalendra datar.
Eleena menganggukan kepalanya.Dia memasukan makanan didalam mulutnya dengan lahap sesekali tubuhnya bergoyang ke kanan ke kiri karena enak. Eleena mengambil daging sapi lada hitam dan meletakan ke piring Nalendra.
"Makanlah ini, ini sangat enak. "
Nalendra yang dilayani seperti anak kecil hanya mengambil daging itu dan memasukan kemulut. Nalendra yang melihat Eleena makan dengan lahap tersenyum tipis saking tipisnya orang tidak akan tahu kalau dia sedang tersenyum.
"Makanlah dengan perlahan dan jangan banyak bicara. "Kata Nalendra.
"Baik Tuan, karena kau sangat tampan aku akan menurutinya. "Eleena terkekeh pelan.
Nalendra,
"..."
Nalendra tidak tahu bagaimana caranya membujuk seseorang jadi dia sengaja untuk mengajaknya makan bersama supaya Eleena tidak sedih lagi. Dia makan dengan lahap tanpa mempedulikan pandangan orang lain terhadap dirinya, tidak seperti gadis lain yang makan dengan perlahan dan malu-malu.
Setelah makan Eleena duduk di pinggiran kolam air mancur yang terdapat di tengah-tengah istana. Dia memberi makan ikan yang berwarna warni. Eleena bosan, dia mencari Nalendra untuk meminta ijin pergi ke Inferno Da Eternidade tapi ketika dia pergi ke Aula Kegelapan pemuda itu tidak ada. Eleena nekat pergi ke Inferno Da Eternidade tanpa Nalendra.Ketika Eleena akan turun dari Istana Kegelapan menuju Inferno Da Eternidade.
Eleena harus melewati jembatan yang ribuan kaki dibawahnya terdapat lava panas yang menyala-nyala seperti lautan neraka. Jembatan itu berwarna hitam tampak seperti kayu tapi juga terlihat seperti batu, terlihat usang dan seperti sudah lama diterpa hujan dan badai, jembatan itu tergantung di udara, membentang dari kedua ujungnya. Eleena melangkahkan kakinya hati-hati ke jembatan itu. Jika salah langkah dan tergelincir dia akan tinggal nama saja.
Setelah mendapat satu langkah seseorang berteriak dengan keras dan lantang,
"JANGAN BERGERAK!"
Eleena tersentak kaget dia menoleh dan mencari dimana arah suara itu berasal. Betapa kasihan dia sekarang yang berteriak adalah Nalendra diwajahnya tampak kerutan vertikal di antara kedua alis.Tanpa sadar Eleena telah menarik kakinya kebelakang.
"Maaf, aku telah mencari mu untuk meminta ijin tapi kau tidak ada. "Eleena menundukkan kepalanya kebawah merasa bersalah.
Nalendra mendekat ke arah Eleena dan menunjuk ke bawah jembatan.
"Lihatlah. "Eleena mengikuti arah jari telunjuk Nalendra berada, dia terkejut dibawahnya terdapat ular besar berkepala tiga menyemburkan api kearah jembatan. Ular itu tingginya ratusan meter dan besarnya seperuh dari tingginya, berwarna hitam legam khas yang mencolok, ular itu mengangkat kepalanya, melebarkan tudung, dan mendesis. Mereka sudah dalam posisi menyerang.
Eleena beringsut mundur kebelakang.
__ADS_1