Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Sakit Atau Hamil


__ADS_3

Sepuluh tahun lalu, Eleena kecil menghadiri perjamuan Istana bersama orang tuanya. Perjamuan di hadiri oleh para pejabat dan sang raja. Waktu itu Eleena sangat bosan, dia berpamitan kepada orangtuanya pergi ke halaman belakang untuk menghirup udara segar. Saat sampai di halaman belakang Eleena kecil terkejut melihat pemandangan yang mempesona di depannya.


Eleena kecil dengan gesit memanjat pohon plum, untuk menatap pemandangan dari atas. Pemandangan dari atas berkali lipat lebih cantik daripada di bawah. Entah takdir atau nasib sial Eleena tanpa sengaja menginjak ranting pohon yang hampir patah. Dia terjatuh dari atas pohon dan tidak sengaja menimpa Briyan kecil yang ada di bawah pohon.


Briyan tidak meringis kesakitan dia malah tertawa pelan dan mengulurkan tangannya pada Eleena kecil.


Eleena yang masih kesakitan dan bingung menerima uluran tangan anak kecil itu tanpa berpikir.


"Apa kamu baik-baik saja?"tanya anak kecil laki-laki dengan senyum yang terpampang di wajahnya. Briyan kecil menarik tangan Eleena dan membantunya berdiri.


Eleena menepuk pakaian dan menatap Briyan heran. Bagaimana mungkin orang yang habis terjatuh dari atas pohon secara luar biasa baik-baik saja, apa dia bodoh, namun. Eleena dengan polosnya tetap menjawab


"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"tanya Eleena menatap wajah Briyan. Ekspresinya santai dan tenang


Briyan menjawab lembut, suaranya halus dan sopan.


"Aku baik-baik saja, tetapi bagaimana kamu bisa terjatuh dari atas?"


Eleena kemudian menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun. Semenjak itu Eleena berteman dan bersama dengan Briyan. Eleena tidak ingin menyakiti Briyan, menyakiti Briyan sama saja menyakiti dirinya sendiri.


Briyan mengamati wajah cantik Eleena, sebesit ingatan masa lampau terlintas di kepalanya.


"Apa kamu ingat kita bertemu pertama kali di sini?"


Eleena tersadar dari lamunan, dia menatap Briyan yang berdiri di sampingnya, pembawaan yang kalem dan menenangkan membuat orang lain betah berlama-lama di sisinya.


"Tentu saja aku mengingatnya, saat aku jatuh menimpa dirimu kenapa kamu tertawa?apa itu tidak sakit?"


Briyan melengkungkan bibir, wajah tampannya dipenuhi dengan kelembutan.


"hmm, itu karena. "Briyan berpikir sejenak lalu melanjutkan.


"Saat kamu jatuh dari atas pohon dan menimpa diriku tentu saja sakit tapi, melihat ekspresi bodoh dan polos di wajahmu membuatku melupakan rasa sakit dan ingin tertawa. "


Eleena mengerutkan bibir dia melirik pemuda di sampingnya sedikit kesal.

__ADS_1


"Apakah itu lucu? menertawakan kemalangan seseorang untuk menyenangkan hatimu?"


Mulut Briyan berkedut dia menutup mulutnya agar tidak tertawa lepas.


"Lihat, ekspresi yang kamu pasang sama persis waktu kamu terjatuh dari atas pohon. "


Eleena yang digoda memalingkan muka kesal, rasanya dia ingin berkaca saat ini juga.


"Itu tidak lucu sama sekali. "


Briyan meletakan tangan di atas kepala gadis itu lalu mengacak-acak rambutnya. Eleena yang diacak-acak rambutnya semakin mengerutkan bibirnya jengkel, merasa gadis di samping terlihat kesal Briyan menurunkan tangan dan menarik pipi halus dan lembut Eleena dengan kencang. Kemudian Briyan melarikan diri.


"Tidak lucu sama sekali Briyan, aku akan menangkap mu dan memukulmu. "


"Baik, tangkap lah aku kalau bisa. "Kata Briyan lantang.


Eleena lari mengejar Briyan, mereka berlarian seperti anak kecil. Para pelayan yang berada di sana menggelengkan kepala dan tersenyum lebar.


Eleena gigih mengejar Briyan, Briyan yang di kejar semakin cepat berlari.


"Berhenti! aku....capek. "Kata Eleena lantang nafasnya tersengal-sengal.


Briyan berlutut dan meletakan tangan di kening Eleena, pupil mata hitamnya melebar sempurna. Gadis itu sedang sakit suhu tubuhnya sangat panas. Briyan panik dan khawatir, dia mengangkat tubuh Eleena dan membawanya kembali ke dalam kamar.


Setelah sampai ke dalam kamar Briyan meletakan Eleena di atas ranjang dengan perlahan. Briyan telah memerintah para pelayan untuk memanggil tabib istana.


"Aku sudah memanggil tabib, sebentar lagi mereka akan sampai. "


Eleena melengkungkan bibir pucatnya, sejak dari tadi dia merasa tidak enak badan, tetapi dia memaksakan diri untuk bertemu dengan para penatua. Ketika sampai di tempat para penatua Eleena semakin syok mengetahui dia akan menikah dengan Briyan dalam waktu satu bulan. Semua itu terlalu cepat bagi Eleena.


Pertama; Dia berpisah dengan Nalendra secara tiba-tiba, tidak tahu kenapa pria itu memulangkannya, kedua; Dia tiba-tiba berada di Kerajaan Akasia dan menjadi seorang tahanan, dan yang ketiga; Penatua ingin Eleena cepat menikah dengan Briyan.


Eleena seperti orang yang sudah jatuh tertimpa tangga. Mengalami kesialan demi kesialan tanpa jeda.


Briyan mondar-mandir kesana kemari seperti orang kebingungan. Eleena tidak tahan untuk memanggil pemuda itu.

__ADS_1


"Briyan. "


Briyan yang di panggil segera menolehkan kepala. Raut wajahnya di penuhi kecemasan dan kekhawatiran. Pemuda itu mendekat ke arah Eleena dan duduk di pinggir ranjang.


"Kenapa apa ada yang sakit?"


Eleena menggelengkan kepala sedikit dan menyunggingkan senyum.


"Tidak, hanya saja melihatmu mondar-mandir membuat kepalaku semakin pusing. Tenanglah aku tidak apa-apa. "


Briyan memegang tangan Eleena, dia meletakan tangan di atas kening gadis itu sekali lagi, berharap suhu panas di tubuhnya sedikit mereda. Namun, suhu di tubuhnya tetap sama. Tangan Briyan seperti terbakar api, panas dan terbakar.


"Maafkan aku, aku sangat khawatir. Kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalau kamu sedang sakit. "


Eleena melepaskan tangan Briyan perlahan dan sedikit tersenyum.


"Bagaimana mungkin aku bisa menunda pertemuan dengan para penatua bukankah itu akan terlihat tidak sopan. "


Briyan meletakan tangan dan menjawab dengan tegas, tetapi tidak mengurangi nada kekhawatiran di setiap ucapannya.


"Aku tidak peduli Eleena yang terpenting adalah kesehatanmu. "


Eleena mengangguk patuh, dia merasa sedikit bersalah.


"Baik aku tidak akan mengulanginya lagi, ini yang terakhir. "


Tak lama kemudian tabib datang dengan peralatan lengkapnya, nampaknya dia tergesa-gesa saat datang kesini. Tabib tua memberi hormat dan mendekat kearah mereka.


"Pangeran dan nona muda, maaf saya sedikit terlambat. "


"Tidak masalah, sekarang periksa dia. "Kata Briyan cepat.


Pangeran berdiri dan mempersilahkan tabib tua untuk memeriksa tubuh Eleena. Tabib tua memeriksa dan meraba denyut nadi Eleena dengan teliti dan hati-hati. Tabib tua menggelengkan kepala kemudian mengeryitkan kening setelah itu menyunggingkan senyum di bibirnya. Tabib tua berkata pelan dan yakin.


"Nona Eleena baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan capek saja. Nona Eleena cukup dikompres dengan air dingin maka tubuhnya akan berangsur-angsur membaik.

__ADS_1


Tabib tua berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya dengan riang gembira.


Orang tua ini juga memberi selamat pada Pangeran, nona Eleena sudah hamil 1 bulan. "


__ADS_2