
Yuan membawa singkong bakar dan meletakkannya di atas meja. Eleena ingin membantu Yuan tapi dia tidak ingin merepotkan Eleena. Noah dan Naya sudah tidur di tempat tidur tanpa alas. Melihat rumahnya yang berantakan dan kecil Yuan merasa berkecil hati.
"Maaf lumah kami kecil dan sempit. "Kata Yuan merasa bersalah. Yuan merasa orang didepannya berasal dari keluarga berada. Pakaian yang dikenakan gadis itu sangat cantik dan mewah, pernak pernik yang dia kenakan juga terlihat mahal terbuat dari emas dan perak yang berkualitas.
"Tidak apa-apa kakak, Eleena merasa bersyukur karena Kakak telah memperbolehkan kami menginap disini. "
Eleena mengambil jepit rambut emas dari rambutnya dan meletakan ke tangan Yuan. Eleena merasa berutang budi kepada Yuan karena telah memperbolehkan ia menginap disini,
"Ambil ini kak, ini memang tidak seberapa tapi aku sangat berharap kau mau menerimanya anggap saja ini pembayaran untuk sewa di rumah kakak. "Kata Eleena pelan.
Yuan menatap perhiasan cantik itu sekilas , kemudian menatap Eleena.
"Tidak ini telalu mahal, tidak usah membayal itu karena aku tulus menolongmu.
Eleena tersenyum,
"Tidak, Eleena merasa senang jika kakak menerimanya. "
Yuan menerima perhiasan itu dan memasukannya ke dalam kantong, dan berkata,
"Terimakasih Eleena, aku beldoa supaya kau panjang umur dan sehat selalu. "
"Terimakasih atas doanya jika kakak Yuan memerlukan bantuan Eleena kapanpun Eleena akan datang. "Kata Eleena meletakan lonceng bunyi ke tangan Yuan. Lonceng bunyi adalah alat komunikasi jarak jauh jika kau menggoyangkan lonceng ini maka di manapun kau berada dia akan tahu. Lonceng bunyi adalah hadiah yang diberikan Nalendra kepada Eleena. Tapi dia tidak butuh ini karena ada Pandu dan Guntur yang selalu mengekornya seperti itik.
"Bagaimana cala menggunakannya?"tanya Yuan dengan mata berbinar.
"Kau hanya perlu mengoyangkanya seperti ini. "Jawab Eleena sambil menggoyangkan lonceng itu.
Yuan memuji benda tersebut seperti anak kecil yang bahagia karena mendapat hadiah.
"Wah.. Benal-benal benda yang menakjubkan, benda ini sangat langka apa seseolang yang memberikannya kepadamu?"
Mata Eleena berbinar wajahnya bersemu merah,
"Benar itu pemberian seseorang."
"Bukankah ini sangat belharga? Apa ini pemberian dali kekasihmu?"tanya Yuan penasaran.
"eh, itu bisa dibilang begitu. "Kata Eleena malu-malu.
"Pasti dia olang yang sangat baik dan beluntung. "Kata Yuan menebak-nebak.
"Tidak juga. "
"Benalkah, kalau dia jahat tinggalkan saja dia kau sangat cantik pasti banyak olang yang menyukaimu. "Kata Yuan menyarankan.
"Tidak, aku hanya menyukainya, "Kata Eleena mantap.
"Kau olang yang baik dan setia,aku penasaran siapa olang tersebut. Apa dia ada diantala meleka?"tanya Yuan
"Tidak ada bukan mereka. "Jawab Eleena.
"Baiklah tidurlah, hari sudah malam. "
"Baik kakak. "
"Bagaimana dengan meleka?"
"Biarkan saja mereka mereka terbiasa tidur di alam terbuka. "
__ADS_1
"Baiklah, aku pelgi dulu. "Kata Yuan pergi meninggalkan Eleena ditempat tidur yang hanya beralas tikar tipis.
Eleena sangat merindukan pria itu dia merasa ranjangnya kini sangat dingin tanpa ada pria tersebut. Eleena menghela nafas dan mencoba memejamkan matanya.
Banyu mengawasi Eleena dari atas pohon besar sedangkan Guntur mengawasi seluruh desa ini dari jarak jauh. Dia memandang langit malam yang gelap gulita. Melihat tidak ada yang aneh dia memejamkan matanya sejenak.
Disepertiga malam Eleena terbangun dia mendengar bunyi gaduh di luar rumah. Dia melihat Yuan dikelilingi oleh sekelompok orang bertubuh kekar, tangan kecilnya ditarik paksa, wajahnya dipenuhi luka kebiru-biruan, bibirnya mengeluarkan darah. Sekawanan orang itu seperti penjahat kelas atas banyak luka di wajahnya dia tampak mengerikan dan menjengkelkan.
Eleena tidak tahan lagi dia maju dengan berani diayunkan pedang kearah sekelompok pria mengerikan itu.
"Lepaskan dia! "Teriak Eleena dengan nada marah.
Sekelompok orang itu menatap Eleena ada yang menatapnya cabul, mesum dan licik. Eleena tidak tahan ditatap dengan terang terangan dan tidak senonoh begitu.
"Gadis cantik apa kau mengenal wanita rendahan ini? "Kata salah satu sekelompok orang itu wajahnya terdapat banyak bekas luka yang mengerikan sepertinya dia adalah pimpinan kelompok ini. Dia menatap Eleena sangat intens seolah Eleena adalah harta karun yang berkilauan.
"Benar lepaskan kakakku." kata Eleena tajam.
"Tidak semudah itu dia telah merampokku saat itu sekarang aku telah membawa banyak orang untuk menghukumnya. "Kata pria yang mengerikan itu.
"Lepaskan dia aku akan menggantinya, sebutkan berapa harganya. "Kata Eleena mencoba menawar.
Sekelompok orang itu tertawa terbahak-bahak. Dia menatap gadis arogan didepannya. Gadis ini bahkan lebih menarik daripada benda yang dirampok Gadis cilik ini. Dia tersenyum jahat dan licik kemudian berbisik kepada sekelompok orang dibelakangnya. Sekelompok orang itu mengangguk mengerti.
"Aku akan melepaskan kakakmu ini sebagai gantinya bagaimana kalau kau ikut kami. "Kata pria berwajah mengerikan tersenyum cabul.
Eleena tertawa pelan,
"Baiklah lepaskan dia dulu. "
Sekelompok orang itu melepaskan Yuan dan melemparnya kearah Eleena.
"Tidak apa-apa kakak kau lihat saja nanti."Kata Eleena tersenyum aneh. Eleena berpura-pura berjalan mendekat kepada mereka. Kemudian Eleena berteriak.
"Banyu..bisa kau bereskan mereka. "Kata Eleena Enteng.
Mendengar Eleena memanggil namanya, Seorang pemuda berambut putih segera datang kearah Eleena. Banyu menerjang mereka dengan sangat cepat. Sekelompok orang itu sudah jatuh tumbang ketanah dengan wajah ketakutan. Banyu ingin membunuh mereka tapi Eleena menghalangi Banyu.
"Jangan bunuh mereka, buang saja mereka ke hutan belantara biarkan mereka mati dengan sendirinya. "Kata Eleena dingin.
Banyu mengangguk mengerti dan mengikat mereka diranting pohon dengan kepala dibawah dengan bentuk melingkar. Mereka menangis , tubuhnya bergetar karena ketakutan. Sebagian dari mereka kencing dicelana karena ketakutan. Benar-benar memalukan.
"Biarkan mereka seperti ini dulu besok ketika pagi buang mereka ke hutan belantara. "Kata Eleena tajam.
"Baik. " Kata Banyu singkat.
Eleena segera menghampiri Yuan tubuh Yuan dipenuhi luka lebam dan darah yang hampir mengering. Eleena mengangkat tubuh Yuan dengan hati-hati. Yuan meringis kesakitan dia merasa bersyukur karena ada Eleena hari ini dia tidak tahu bagaimana jika tidak ada Eleena hari ini mungkin dia sudah mati. Penduduk desa yang mendengar keributan segera menghampiri Yuan dan Eleena.
"Yuan.. Apa kau baik-baik saja. "Kata perempuan paruh baya.
"Bibi Jiang aku baik-baik saja. "Kata Yuan menenangkan mereka. Bibi Jiang membantu Eleena untuk memapah tubuh Yuan.
Sekelompok orang lain masuk kedalam rumah Yuan mereka membantu Yuan membersihkan luka, mengobati luka dan mengambilkan air hangat untuk Yuan. Eleena menatap mereka satu persatu hatinya menghangat, mereka memang tidak punya apa-apa tapi mereka saling membantu satu dengan lainnya bukankah ini lebih berharga dari emas dan berlian. ikatan kekeluargaan yang sangat indah membuat orang yang melihatnya iri. Eleena jadi teringat dengan orang didesanya mereka sangat baik dan ramah seperti orang di desa Yuan. Tapi kenapa dia harus mati. Matanya memanas menahan air mata. Dia tidak pernah melupakan pria berjubah hitam misterius itu sedetikpun. Dia akan datang membalas dendam. Sekalipun dia mati.
Eleena tidak bisa tidur lagi dia pergi mencari angin segar di pinggir sungai diikuti oleh Banyu. Eleena menoleh kekanan dan kekiri mencari Guntur tapi orang itu tidak ada disana.
"Di mana Guntur?"tanya Eleena kepada Banyu.
"Dia mengawasi dari jarak jauh. "Jawab Banyu sekedarnya.
__ADS_1
Eleena berkata pelan,
"Banyu, bisa tidak nanti kalau Guntur kembali kau pergi kekota untuk membelikan mereka sesuatu. "
"Kau ingin memberikan mereka hadiah?"tanya Banyu.
"Benar, belikan mereka beras untuk dimakan, biji-bijian untuk ditanam, dan beberapa sayuran dan daging, dan belikan mereka tikar dan selimut yang hangat. "Kata Eleena pelan.
"Baiklah, itu saja tidak ada yang lain. "
"Tidak, itu saja. "Kata Eleena menggelengkan kepala.
"Baik, nanti aku akan pergi. "Kata Banyu.
Yuan datang dari arah lain tubuhnya sudah dipenuhi perban. Yuan mendekat kearah Eleena dan membawakan Eleena manisan beraneka ragam. Eleena yang melihat itu segera mendekat kearah Yuan.
"Apa kau baik-baik saja, kau seharusnya tetap berbaring di tempat tidur."Kata Eleena khawatir dia membantu Yuan berjalan.
Yuan tersenyum lembut,
"Aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil aku akan mati kebosanan jika harus terus ditempat tidur. "
"Benar tidak apa-apa."
"Benar kau tenang saja. "
"Ini, makanlah."Kata Yuan menyodorkan beberapa manisan berwarna-warni kepada Eleena. Eleena mengambil manisan itu dan menyodorkan kepada Banyu. Banyu menerima manisan itu dan mengikuti Eleena dari belakang.
"Eh, dimana olang yang satunya. "Kata Yuan celingak celinguk mencari keberadaan Guntur.
Eleena menjawab dengan lembut,
"Dia akan kembali. "
Yuan menatap Eleena,
"Kau akan pergi hari ini? "
"Iya, aku akan pergi hari ini. "
"Yah, sayang sekali. "Kata Yuan sedikit kecewa.
"Kita pasti akan bertemu lagi, "Kata Eleena menenangkan. Eleena merasa sedih ketika berpisah dengan Yuan tapi Eleena harus segera melanjutkan perjalanan.
"Baiklah, ketika kau pulang dali Delmaga belbintang mampil lah kesini, "Kata Yuan percaya diri.
"Baik, Kakak Yuan. "Kata Eleena tersenyum ceria.
Setelah fajar menyingsih Eleena bersiap-siap untuk pergi. Banyu dan Guntur telah kembali dengan beberapa barang yang dipesan oleh Eleena.
"Belhati-hatilah dijalan. "Kata Yuan.
Noah dan Naya memeluk Eleena seolah mereka tidak ingin Eleena pergi. Eleena mengelus kepala mereka dan berpamitan kepada beberapa orang di desa.
"Baik kakak, sampai jumpa kembali. "
Eleena melambaikan tangan kepada Yuan si perampok kecil yang memiliki hati yang baik dan mulia.
Semoga takdir mempertemukan mereka kembali.
__ADS_1