Tuan Putri & Raja Iblis Season 1

Tuan Putri & Raja Iblis Season 1
Adik, Lama Tidak Berjumpa


__ADS_3

Kata-kata Nalendra tertinggal, tapi tiba-tiba dia memutar pinggang Eleena dengan sekali putaran, mengunci tubuh mungil Eleena di bawah tubuhnya. Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa, Nalendra meraih pipinya, memblokir bibir Eleena dengan bibirnya seperti hewan buas yang kelaparan. Namun di saat mereka tengah tenggelam dalam kesenangan menggembirakan yang memabukkan mereka mendengar suara ketukan keras dari arah pintu.


"Tuan? apakah anda sudah tidur, ada beberapa hal yang ingin segera hamba ini sampaikan. "


Itu suara Banyu!


Dengan amarah yang menjulang tinggi Nalendra turun dari ranjang dan berjalan cepat ke arah pintu. Eleena yang berbaring disana terkekeh pelan. Pintu terbuka dengan suara yang sangat keras Nalendra menatap Banyu dengan gigi terkatup rapat.


Wajah Nalendra seperti awan mendung yang gelap dan suram, suaranya tajam dan mengerikan.


"Kenapa lagi?"


Banyu tanpa sadar mundur selangkah dan menatap wajah tuannya takut-takut. Suaranya gemetar ketakutan. Seperti mendengar suara Guntur yang menghantam langit membuat tubuhnya seketika kehilangan kekuatan untuk menopang badan. Banyu dengan susah payah mencoba mempertahankan keberanian yang masih tersisa.


"Seseorang datang mencari anda di aula Istana Kegelapan sepertinya dia ingin membicarakan hal penting kepada Tuan dan Nona Eleena. "


"Siapa yang mengijinkan orang asing masuk ke dalam Istana milik Raja ini, atas dasar apa dia dengan berani dan lancangnya mencari Raja ini. Suruh dia pulang dan jangan kembali lagi! Raja ini masih punya hal penting yang belum di selesaikan. "Kata Nalendra dengan urat biru yang sudah memenuhi wajah.


Banyu sudah seperti tikus yang terpojok sangat ketakutan dan menyedihkan. Banyu dengan lidah kaku menjawab.


"Tapi tuan dia tidak akan pergi sebelum menemui tuan. "


Nalendra mendengus marah dan berkata


"Kamu mulai berani menentang Raja ini. "


Eleena yang sadari tadi berbaring di atas ranjang. Segera melompat dari ranjang empuk, ia tidak bisa diam saja melihat temannya di bentak sedemikian rupa ia lantas mendekat ke arah mereka dan berbicara dengan lantang.


"Cukup!Berhentilah berteriak! apa kamu tidak bisa berbicara dengan baik-baik saja!?" Eleena yang jengkel menoleh kepada pemuda berambut merah yang sedang berdiri di sampingnya.


Nalendra memalingkan muka dan mengatupkan giginya rapat-rapat tidak ingin berdebat dengan gadis cantik di sebelahnya, melipat tangan di dada tanpa berbicara ia berjalan menjauh meninggalkan mereka.


Banyu yang berdiri disana menghela nafas lega. Jiwanya hampir keluar dari tubuhnya, Banyu tidak tahu harus bagaimana jika Eleena tidak datang menghampirinya. Mungkin dia sudah menjadi babi cincang. Banyu melengkungkan bibir dan berbicara pelan pada Eleena.


"Terimakasih preman pasar, jika kamu tidak datang mungkin aku sudah menjadi babi cincang. "


Eleena tertawa renyah dan menepuk pundak Banyu dua kali.

__ADS_1


"Hanya hal sepele. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang ayo kita ke aula istana kita sambut orang asing itu. "


Banyu menganggukkan kepala dan melangkah pergi bersama dengan Eleena di sampingnya.


Di Aula Istana Nalendra tengah berdiri mematung menatap orang yang jauh disana tanpa mengedipkan mata, jantung Nalendra berdebar di luar kendali. Disana dia melihat seseorang yang teramat dia kenal. Rasa benci melingkupi setiap inci tubuhnya. Rasa benci ini tidak pernah dia lupakan. Pemuda itu seperti mimpi buruk yang menghantuinya setiap malam. Dia adalah Mahesa orang yang sudah ia cari selama bertahun-tahun. Rasa keinginan membunuh teramat kuat menyelimuti tubuhnya. Mahesa menyeringai jahat, rambut merahnya seperti api yang menyala. Dia mendekat ke arah pemuda itu dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Adik? Lama tidak berjumpa. Aku sangat merindukanmu. "


Eleena yang yang berdiri disana menatap mereka dengan ekspresi terkejut. Dia bertukar pandang kepada Banyu seperti menanyakan apakah itu benar? tapi Banyu hanya menghela nafas panjang dan menganggukkan kepala. Meski susanan hati Nalendra tidak tampak tetapi Eleena tahu jika Nalendra tidak senang dengan kedatangan pemuda itu. Eleena menatap bingung pada pemuda berpakaian mewah serba putih yang sedang memeluk kaku dan ambigu Nalendra.


Pemuda itu memiliki tubuh tinggi dan tegap seperti gunung, rambutnya berwarna merah seperti Nalendra tetapi warna merah yang dimiliki sedikit lebih terang, kulitnya berwarna putih pucat sangat cocok dengan rambut merah yang dimilikinya meski dia tampan tetapi aura berbahaya yang sangat kuat memancar di seluruh tubuhnya. Aura ini lebih mengerikan daripada aura yang terpancar di tubuh Nalendra.


Mahesa melepas pelukan dan menolehkan kepala untuk menatap dua orang menarik yang berdiri tidak jauh dari sana. Dia dengan tidak tahu malu mulai melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah gadis cantik yang berdiri disana. Mahesa terpesona dengan kecantikan gadis itu hingga air liurnya hampir menetes.


Nalendra yang semula terdiam dan mematung disana berteriak dengan keras.


"Berhenti! dan jangan sentuh dia!"


Mahesa menghentikan langkah kaki dan memutar tubuhnya untuk menatap Nalendra dengan keheranan. Namun, kemudian dia tertawa dengan keras.


Nalendra tidak menjawab hanya melempar tatapan tajam kepada pemuda itu dan berjalan mendekat ke arah Eleena lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mahesa yang melihat hal tersebut tertawa pelan dan menggelengkan kepala. Mahesa tidak sakit hati atau marah ketika pemuda itu tidak menjawab pertanyaan ia sudah terbiasa dengan sikap adiknya yang seperti itu.


"Adikku yang sangat aku sayangi dan cintai. Apa kamu tidak ingin menyambut kedatangan kakakmu ini. Apa kamu masih membenci dan ingin membunuh kakak satu-satunya yang kau miliki?


Eleena ingin mengatakan sesuatu tetapi Nalendra melepaskan pelukan secara tiba-tiba dan berbisik pelan di telinga Eleena.


"Pergilah aku akan menjelaskan nanti, dia orang yang sangat berbahaya jangan keluar dari kamar sebelum aku menyuruhmu untuk keluar. Aku akan menemuimu nanti"


Eleena menatap pemuda itu sekilas dan menganggukkan kepala cepat. Dia tahu persis situasi mengejutkan dan menegangkan saat ini.


"Baik, aku akan menunggumu. "


Ekspresi wajah sarkastik Nalendra belum hilang. Dengan suara dingin sedingin es Nalendra memerintah Banyu.


"Banyu antar Eleena ke dalam kamar dan jaga dia dari luar kamar. "


Banyu menganggukkan kepala dan hanya mengucapkan sepatah kata

__ADS_1


"Baik. "


Lalu melangkah pergi bersama Eleena di sebelahnya.


Setelah Eleena dan Banyu pergi. Nalendra berjalan kembali ke arah Mahesa dengan keengganan yang sangat kentara di kedua mata hitamnya.


"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!"


Mahesa memiringkan kepala dan tersenyum lebar.


"Aku baru datang. Kenapa kamu ingin sekali aku pergi. Apakah kamu masih marah denganku setelah ribuan tahun berlalu. Aku disini ingin menemuimu dan ingin meminta maaf apa kamu tidak akan memaafkan kakakmu ini?"


Jika mengingat Mahesa dia ingin sekali menebasnya. Tapi sekarang bukan saatnya. Nalendra tahu persis dengan apa yang penting sekarang. Nalendra melengkungkan bibir. Sepertinya kedatangan Mahesa memiliki maksud tertentu dia akan melayani Mahesa untuk sementara waktu.


"Baik kau boleh tinggal untuk sementara waktu. Jika kamu ingin hidup besok pergilah. Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu waktuku terlalu berharga untuk disia-siakan untukmu. "


Wajah Mahesa semakin jelek. Tetapi kemudian senyum lebar merekah di antara kedua sudut bibirnya. Hawa memusuhi yang teramat kental melingkupi tubuh tegapnya dia mencoba mendorong tubuh Nalendra dengan sangat kejam tetapi Nalendra berhasil menghindari serangan yang mendadak tersebut dengan sigap.


Seringai jahat tumbuh di antara bibirnya dan berkata.


"Adik kecil apa Giok Tulang Dewa ada ditubuh gadis itu?"


...----------------...


Maheswari bersaudara


Maheswari Mahesa mantan Dewa Laut yang diturunkan dari Istana Surgawi bersama Nalendra. Suka memakai pakaian serba putih


Sifat : Masih Rahasia, meski tampan memiliki aura yang sangat berbahaya.



Maheswari Nalendra mantan Dewa Perang. Suka memakai pakaian serba hitam.


Sifat : Dingin, acuh tak acuh, kejam dan pemarah. Tatapan mata selalu tajam dan dingin, tidak banyak ekspresi yang ditampilkan Nalendra tetapi dia memiliki aura Nakal dan Badas.


__ADS_1


__ADS_2