
PROLOG
{duarrrr}
Suara ledakan terdengar nyaring seantero galaksi, sosok dewa
terkuat itu sedang melancarkan serangan pamungkasnya, serangan yang ditujukan
kepada para pengkhianat alam dewa yang berkongsi dengan sosok iblis terkuat. Para
pengkhianat alam dewa itu telah bekerja sama untuk menghidupkan kembali dewa
iblis azura, dalam proses pembangkitannya mereka telah berhasil melenyapkan
sahabatnya yaitu dewa penjaga neraka.
{duuuummmmmbbb}
Gemuruh suara benturan energi terdengar sangat nyaring,
hampir membuat semua yang terlibat dalam pertempuran, langsung menutup telinga
mereka masing-masing.
Akibat serangan pamungkas itu tidak hanya alam dewa yang
mengalami kerugian besar, kekuatan dewa iblis Azura pun terlihat sudah mulai
perlahan menghilang seiring dengan berpendarnya sosok dewa iblis Azura
dihadapan sosok dewa terkuat.
“..ternyata kekuatan pamungkasku telah membuat kerusakan
yang sangat parah dialam dewa ini, aku yakin, sang pencipta pasti akan segera
menurunkan murkanya pada alam dewa, khususnya padaku yang telah memporak
porandakan alam dewa dengan kekuatanku barusan” gumam sosok dewa terkuat.
Kerusakan yang terjadi merupakan kerusakan terparah yang
pernah dialami oleh alam dewa, tidak hanya keseluruhan para dewa yang lenyap
tak bersisa, semua elemen pendukung alam dewa juga terlihat hilang layaknya dihisap
oleh lubang hitam energi yang sangat rakus.
Alam dewa saat ini, hanya tersisa satu sosok dewa terkuat
yang terlihat melayang digelapnya langit-langit galaksi tak berbintang.
Kekosongan alam dewa saat ini sangat berpotensi mengganggu
stabilitas alam paralel yang lain dalam pelaksanaan kedepannya.
“..hanya dengan cara itu, alam dewa dapat kembali seperti
awal mulanya” kembali sosok dewa terkuat bergumam pada dirinya sendiri.
“..jika aku menggunakan cara itu, pastinya tubuhku akan
segera dikirim ke roda kehidupan oleh aturan sang pencipta!”
“..akan sia sia perjuanganku saat ini!” ujar sosok dewa
terkuat berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah banyak berpikir dan pertimbangan pribadi, sosok dewa
terkuat akhirnya memutuskan untuk menggunakan kekuatan tertinggi dalam hukum
ruang dan waktu, dengan tujuan mengembalikan alam dewa layaknya kondisi awal
sebelum para dewa terpilih mendiami.
Beberapa gerakan tangan serta letupan letupan energi
berwarna pelangi terlihat mengikuti pergerakan dari telapak tangan sang dewa
terkuat.
“..selesai,..” ucap sosok dewa terkuat.
“..sekarang tinggal menunggu “..
Zio Tian, sosok dewa terkuat dialam dewa saat ini terlihat melayang
dengan posisi duduk lotus, terlihat pasrah dengan kondisinya yang sudah
terlihat kehabisan sumber energi kehidupannya. Waktu hidupnya dengan jumlah
trilyunan tahun telah dipertaruhkan dalam serangan terakhir miliknya, hingga..
{blarrrr}
{blarrrr}
Kilatan petir diangkasa yang gelap gulita terlihat saut
sautan secara terus menerus.
“..keliatannya waktuku telah tiba!” gumam Zio Tian pada
dirinya sendiri.
{zlapppp}
Salah satu petir yang terlihat transparan langsung menyambar
tubuh Zio Tian tanpa ampun, terlihat tubuh Zio Tian sudah mulai menghilang dari
posisi terakhirnya.
{dap}
Zio terlihat berpindah tempat hanya dalam sekejap mata,
dirinya kini terlihat berada dalam ruangan serba putih dengan tubuh polosannya.
“..apa-apaan ini!?”
“..bagaimana bisa aku berpindah kesini!” zio berteriak
dengan kondisinya saat ini.
{nggguuuuuungggg}
Suara dengungan yang terdengar menggema didalam ruangan
putih terus terusan bersaut sautan. Hingga...
Sosok cahaya dengan warna transparan, dengan aura yang penuh
dengan penindasan, muncul, membuat kondisi zio langsung dibuat merangkak
dilantai ruangan. Pemandangan layaknya bayi polosan merangkak habis mandi
terlihat dalam ruangan yang serba putih.
Malu..jelas Zio terlihat sangat memalukan, dirinya yang
merupakan eksistensi dewa terkuat kini terlihat merangkak.
“..kk-kekuatan ini” zio terlihat sangat tertekan dengan
__ADS_1
kemunculan sosok cahaya transparan yang ada didepannya, hanya berjarak dua
meter saja.
“..Zio sang dewa terkuat” tiba tiba terdengar suara penuh
dengan energi penindasan menggema didalam ruangan.
“..apa yang telah kamu lakukan di alam dewa, telah
menimbulkan banyak kegaduhan diseluruh kehidupan yang ada di dunia paralel”
“..untuk itu, sebagai bentuk pertanggung jawabanmu, jiwamu
akan dikirim kesalah satu tubuh yang berada di salah satu dunia paralel dengan
tujuan melakukan pembetulan dan koreksi dari bawah sebelum kembali ke Alam dewa”
“..kamu akan memulai dari bawah, segala pengetahuan serta
kemampuanmu sebagai dewa terkuat masih ikut bersamamu”
{zlaapppp}
Setelah selesai dengan pembicaraan satu arah, sosok cahaya
transparan itu langsung menghilang dari hadapan Zio Tian.
Seketika itu juga, aura penindasan yang tadinya terlihat membebani
telah menghilang dan Zio Tian langsung terbangun dalam kondisi meringkuk dengan
pakaian yang sangat minim menutupi bagian bawah tubuhnya.
{cuwit ...cuwiit...cuwiit..}
{pekok..pekok..pekok}
Saut-sautan suara burung liar dan ayam kampung peliharaan
entah siapa, terdengar menyapa dengan nyaring kala itu.
Matahari juga masih belom memperlihatkan ketangguhan
cahayanya menerangi langit. Dunia masih terlihat gelap dengan penerangan lampu
lampu yang tidak sebegitu terang.
Terlihat sosok pemuda umur 18 tahunan dengan kondisi tubuhnya
yang nyaris telanjang hanya menggunakan semvak penuh dengan lubang disepanjang
pantatnya yang terlihat jelas dengan posisi badannya yang meringkuk berada dipojokan
tempat sampah, disalah satu tempat pembuangan akhir.
{byuuuurrrr}
“..bangun elu! Sampah!” terdengar suara nyaring yang
terdengar cempreng menantang pagi, suara teriakan yang diiringi dengan aksi
mengguyurkan paksa air comberan bekas cuci piringnya, air comberan itu langsung
menerpa sosok tubuh yang tergolek lemas didepan rumahnya.
Bangunan reyot itu bisa dibilang rumah tidak layak, bangunan
liar yang mereka bilang sebagai rumah itu telah lama menjadi perbincangan warga
sekitar tempat pembuangan akhir.
{eeeggkkhhhh}
Sosok yang meringkuk itu kini terlihat meregangkan kedua
kesakitan, ekspresi antara terkejut karena guyuran air comberan serta kesakitan
karena dirinya merasakan luka memar diseluruh tubuhnya terkena guyuran air yang
mengandung garam.
“...aaarrrrgggkkghhh” suara teriakan kesakitan keluar dari
mulut sosok pemuda kumuh dan lusuh itu dalam beberapa saat. Ingatan membanjiri
dirinya dengan paksa.
Ingatan tubuh yang datang barusan memberikan informasi
jikalau pemilik tubuh sebelumnya telah meninggal karena aksi pengeroyokan
massal yang dilakukan oleh kawanan preman disekitar lokasi pembuangan akhir
yang memang suka membully Zio dalam kesehariannya.
Tadi malam adalah aksi paling brutal dilakukan oleh para
gerombolan preman tersebut. Tubuh Zio mereka siksa hingga meninggal dan
akhirnya dibuang dipojokan tempat pembuangan akhir dengan kondisi hampir polosan.
“..tubuh ini.. benar benar sampah masyarakat” batin Zio
berbicara.
Belum juga dirinya sadar sepenuhnya akibat guyuran air
comberan,
“..woi sampah, buruan elu pergi, bikin seret rejeki saja elu
didepan rumah gue!”
“..sono sana luu pergi jauh jauh” suara teriakan emak-emak dengan
perawakan mirip buntelan kentut dengan baju daster kumalnya.
Aksi main dorong dengan tujuan ingin mendorong tubuh pemuda
lusuh dan kumuh yang ada didepannya itu agar bisa menjauh dari depan pintu
rumahnya.
“..jbruuuurrr”
Pemuda itu langsung terjebur dikubangan yang memang lebih
mirip layaknya parit buatan yang ada disamping rumah reyot milik emak-emak yang
mendorong Zio sampai terjebur.
Aliran air yang mayoritas berasal dari hasil endapan tumpukan
sampah itu terlihat sangat keruh dengan bau yang sangat menyengat.
sosok Zio Tian, sang dewa terkuat itu kini mukanya terlihat
penuh dengan lumpur hitam pekat dan bau tak sedap muncul dari dalam kubangan. Namun
tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Parit yang terlihat lembek dibagian dasarnya
itu seolah olah menghisap kedua kakinya.
Setelah berusaha sekuat tenaga muncul dipermukaan dengan
__ADS_1
sisa sisa tenaga yang melekat ditubuhnya. Zio berusaha untuk melihat kondisi disekitarnya,
dengan posisi tubuh yang masih sebatas pinggang kebawah masih terendam air
parit timbunan sampah.
“..dimana ini?”
“..tubuh ini sangat lemah sekali!” tampak Zio berusaha melihat
dengan kesadaran yang dimilikinya, dengan posisi kedua tangannya terbentang.
Ekspresinya seperti sedang meneliti keseluruhan anggota
tubuhnya mulai dari ujung jari telunjuk tangannya hingga keseluruhan tubuh
luarnya.
Banyak orang yang melihat aksi emak-emak yang menjeburkan
Zio kedalam parit sampah, namun tidak ada satupun yang memiliki niatan untuk
membantu sang pemuda bisa keluar dari dalam parit kotor dan penuh bau itu.
Dengan susah payah Zio berusaha untuk mendaki terjalnya
dinding parit buatan itu, tangannya mencengkeram lapisan tumpukan sampah,
dengan sekuat tenaga dirinya berusaha hanya untuk bisa keluar dari kubangan.
Bentuk tubuhnya yang sudah terlihat penuh dengan kotoran
endapan lumpur parit, menjadikan dirinya mirip orang yang kejebur didalam aspal.
Hitam kelam, lengket dan bau.
Tidak ingin berlarut larut dengan keadaannya yang sekarang,
Zio segera mencari air bersih untuk membersihkan diri.
Zio yang dibekali dengan pengetahuan serta kemampuan dewanya,
mampu secara langsung beradaptasi dengan kondisi sekitarnya. Baik bahasa maupun
pengetahuan dunia yang dihuninya saat ini, langsung otomatis terekam dan
melekat didalam memory otak dewanya.
Disisi pojokan tempat pembuangan akhir yang terhubung dengan
aliran sungai yang langsung mengarah ke pesisir laut itu, Zio langsung
menjeburkan dirinya untuk membersihkan diri.
Disaat dirinya sedang menikmati jernihnya air..
“...eh, kau, Zio, sampah! Jangan kau mandi disitu!”
“..iyaa.. lihat, cucian kita semuanya jadi kotor!”
“..pergi sana kau sampah!”
Berbagai cacian dan makian ibu ibu yang sedang beraktivitas
cuci baju dan mandi pagi semuanya langsung mengajukan protes
{glontanggg}
{glontanggg}
Lemparan panci dan perkakas dapur diarahkan pada diri Zio
yang masih juga belum juga keluar dari tempatnya berendam.
Zio berusaha menghindar, meski sendok-garpu sempat
menghantam kepalanya hingga benjol.
“..maaf..maaf!” ucap Zio pada sekumpulan ibu ibu yang masih
dengan mode marah mereka sampai melupakan posisi mereka yang sedang mandi
sambil beraktivitas.
Tubuh ibu ibu yang sudah turun mesin dengan polosnya
langsung terekspose mempertontonkan lemak lemak bergelambir dipojok pojok
pinggang mereka serta pepaya menggantung yang sudah kendor.
“...kyaaaa!”
“..awass kamu yaa sampah!”
Zio langsung sekuat tenaga pergi keluar dari tempatnya
berendam, meski wajahnya masih penuh dengan lumpur sampah yang melekat.
Tidak berapa lama kemudian terlihat ziao menemukan tempat
yang pas untuk melanjutkan aktivitasnya bersih bersih.
Sebuah sumur terlihat terbuka dan tidak ada orang yang
sedang beraktivitas disana. Terlihat ember dengan tali tergolek bebas disamping
bangunan sumur.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, segera dirinya melanjutkan
aktivitas guyur mengguyur badan dipagi harinya. Hingga...
“..eh”
“..habis mandi, terus pakaianku?”
{tepokkk}
Suara tepokan tangan Zio ke jidatnya sendiri.
Dirinya yang sekarang memang sudah terbebas dari endapan kotoran
parit sampah, namun Zio sadar, tubuhnya saat ini hanya menggunakan semvak, yang
menutupi bagian kelaki lakiannya bagian depan saja, sedangkan bagian belakang
terlihat belahan pantatnya terekspose dengan bebas.
Celingukan kanan kiri, Zio melihat ada sebuah bangunan reyot
yang terlihat memojok dan terdapat pakaian set (atas/bawah) yang ditempatkan
begitu saja.
Tidak ingin membuang waktunya, segera, Zio mengambil pakaian
itu dan langsung lari dengan kecepatan penuhnya meninggalkan bangunan reyot
tadi.
“..bajingaaaaaannnnnnn!!!”
Suara teriakan seseorang yang kehilangan set pakaian yang
sengaja di taruh diatas dinding bangunan reyot.
__ADS_1
Pagi itu Zio sudah membuat gempar seisi tempat pembuangan
akhir dengan aksi aksinya.