
Zio saat ini sedang melakukan perjalanan mengarah ke Gunung keenam dari bukit barisan yang terletak dibelakang akademi sekte teratai hitam.
Setelah ketua sekte teratai hitam sadar, Zio dan ketua sekte terlibat diskusi serius terkait hubungan sekte teratai hitam dengan dewa iblis Azura. Terutama masalah ritual penyerahan darah perawan.
Dalam diskusi itu juga didapatkan kesimpulan jikalau Zio meminta ketua sekte untuk tidak lagi memberikan korban ataupun melanjutkan ritual yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan.
Zio yang sudah menunjukkan siapa jatidirinya kepada ketua sekte secara langsung, tidak ada penolakan, kekuatan ketua sekte meski sudah berada diranah kultivasi kaisar puncak*1 dan tidak ada yang dapat mengungguli kekuatannya disepanjang benua merasa layaknya semut didepan Zio.
Ketua sekte memberikan token pelindung agung kepada Zio, sehingga dirinya bisa menunjukkaan identitas dirinya jika berada diluar sekte teratai hitam.
Seperti saat ini, Zio melakukan perjalanan keluar sekte teratai hitam dengan maksud untuk menghancurkan altar persembahan dan juga mencari biang sumber masalah sebenarnya.
Setelah sekte teratai hitam 90% mengalami kenaikan ranah kultivasi dengan jalan pembukaan titik nadi meredian selain meredian utama, kedepannya akan lebih memudahkan mereka semua dalam menaikkan ranah kultivasi, tanpa harus melakukan ritual persembahan darah perawan maupun aktivitas kultivasi ganda.
Siang hari Zio tiba dibukit keenam.
Dengan mengedarkan persepsi kesadarannya Zio mencoba mencari formasi pelindung yang katanya akan terbuka lagi dua bulan kedepan saat ritual persembahan.
“..dapat!” gumam Zio, ketika sudah mendapatkan formasi pelindung yang menutupi gua tempat ritual dilakukan nantinya.
Dengan melesat cepat Zio segera meluncur mendekati titik formasi terlemah yang ada di depan pintu gua.
{duaarrr}
Formasi pelindung yang disertai ilusi itu telah dihancurkan oleh Zio dengan begitu mudahnya.
“grrrrr”
Muncul suara erangan sosok srigala berukuran tinggi 5 meter setinggi pintu gua, terdengar marah dari arah dalam.
“..serigala iblis darah!” gumam Zio.
{blussshh}
Dengan mempergunakan pemahaman tertingginya dalam hal menguasai hewan dan monster, serigala iblis darah itu terlihat langsung lemas tak berdaya.
Tatapan matanya langsung sayu dengan posisi badannya meringkuk dilantai gua.
{pokk..}
Zio menepuk ubun-ubun serigala iblis darah itu dengan pelan.
“..anjing baik..diam disitu!” ucap Zio memberikan perintah.
Jika ada orang lain yang mengetahui sosok serigala iblis darah dibilang anjing oleh Zio, mungkin mereka bakalan muntah darah tidak percaya.
Zio berjalan menelusuri lorong gua dengan berbekal api kekacauan yang diubahnya layaknya penerangan lampu yang melayang mengikuti keinginnya.
Setelah beberapa ratus langkah Zio mendapati ruangan dengan luasan mirip stadion bola internasional 50x100 m2 dilengkapi beberapa meja batu yang terlihat rendah layaknya closet jongkok berjumlah ratusan banyaknya.
__ADS_1
Dibawah ratusan meja kecil itu terdapat lubang yang menempatkan saluran mirip pipanisasi menuju kesatu arah.
Aura iblis terlihat sangat pekat, dengan kemampuan melahapnya Zio langsung menyerap semua aura iblis yang ada didalam ruangan kemudian memurnikannya menjadi sumber energi bagi dirinya.
“..apa itu!” Zio terlihat penasaran ketika melihat cahaya hitam lebih pekat melayang diatas altar.
{tappp}
Dengan kemampuan dan kekuatannya, ditariklah cahaya hitam pekat itu menuju telapak tangannya.
“..ini seperti kunci portal dimensi!” gumam Zio sambil mengamati dengan seksama.
Kunci portal dimensi adalah kunci atau titik temu yang bisa diaktifkan oleh pemilik portal dimanapun dia berada, bisa dikatakan kunci portal dimensi adalah titik GPS layaknya teknologi saat ini.
Karena dirasa tidak ada yang menarik bagi Zio, setelah mendapatkan kunci portal dimensi, Zio segera berjalan kearah luar gua.
“..kamu! mulai sekarang nama kamu Bleki! “ Zio terlihat langsung berbicara dengan serigala iblis darah yang masih meringkuk patuh didepan pintu gua.
“..masuklah kedalam dunia jiwa milikku dan bertemanlah dengan 5 tikus api yang sudah ada didalam sana!”
“..ingat!, jadi anjing yang baik mulai sekarang!” perintah Zio
Serigala iblis darah berwarna hitam kemerahan itu hanya mengangguk pelan, tidak ada manfaatnya memberikan perlawanan, meski kekuatan serigala iblis darah sudah berada ditingkatan hewan spiritual tingkat 6 (setingkat ranah kaisar) namun dihadapan Zio, dirinya bukanlah kekuatan yang bisa diperhitungkan.
{duarrrr}
Zio segera meledakkan gua tempat dilaksanakannya ritual penyerahan darah perawan, setelah serigala iblis darah terlihat sudah memasuki dunia jiwa milik Zio.
Gunung keenam terlihat mengalami perubahan dengan kemampuan penciptaan Zio. Hutan terlihat lebih hijau, hewan – hewan spiritual juga terlihat mulai bisa berkeliaran dengan bebas. Tidak ada lagi formasi pelindung dan ilusi yang mengekangnya.
Dengan disimpannya kunci portal dimensi oleh Zio, dirinya tinggal menunggu siapa yang akan membukanya dua bulan kedepan.
Setelah mengamati keenam gunung layaknya bukit barisan yang berjejer rapi, Zio segera terbang menuju pusat kekaisaran.
Tujuannya untuk menjelajahi isi dunia paralel ini siapa tahu dirinya bisa mendapatkan berbagai macam sumberdaya yang bisa disimpan, sambil menunggu waktu dua bulan kedepan.
Setelah melihat beberapa bangunan tinggi, Zio segera memasang mode kamuflase, dirinya langsung masuk kedalam wilayah kota besar kekaisaran tanpa melewati penjagaan digerbang pintu masuk.
Tujuan pertama yang ingin dituju adalah gedung informasi.
Dengan memunculkan sosok dirinya dari balik lorong gedung, Zio berjalan dengan santai.
“..tolong jangan ambil daganganku!” teriak ibu-ibu paruh baya berusaha menggapai barang dagangannya yang sedang diambil paksa.
“..diam! kamu sudah berapa hari belum juga kunjung bayar hutang pajak! Dagangan kamu kami sita!” ucap petugas dengan pakaian layaknya kerajaan.
“..habislah ibu itu, kasihan sebenarnya, walikota memang tidak ada mengenal kasihan sama orang kecil!”
“..iya pajak dipungut dengan setinggi-tingginya, kasihan kan orang kecil!”
__ADS_1
Beberapa komentator jalanan terlihat berbisik-bisik satu sama lain melihat keadaan didepan mereka tanpa ada yang berani membantu.
“..iisshh..isssh...iiiiisssh.. engga di dunia nyata, engga didunia paralel semuanya sama, masih saja ada penindasan semena-mena!” gumam Zio.
Dengan cepat Zio mendekati lokasi kejadian.
“..berhenti!” perintah Zio ketika petugas kota hendak memukul ibu paruh baya yang terlihat masih mempertahankan barang dagangannya.
“..apakah kalian tidak malu dengan aksi kalian?! Kalian petugas yang harusnya melindungi masyarakat kecil!” Zio terlihat memprotes aksi para petugas didepannya.
Empat orang petugas yang terlihat diceramahi oleh Zio langsung meletakkan begitu saja dagangan ibu paruh baya tadi, mereka langsung mendekat kearah Zio secara bersamaan dengan menunjukkan dominasinya.
“..siapa kamu anak muda! Dan apakah kamu tahu siapa kami!”
“..benar! kami ini petugas langsung dari walikota, semua orang disini tahu siapa kami!”
“..keliatannya anak ini tanpa basis kultivasi” ucap petugas paling belakang berbisik pelan namun bisa didengar oleh pendengaran Dewa milik Zio.
“..lalu! jika kalian petugas ?! harus semena-mena dengan rakyat kecil! Hah!” tegas Zio bertanya.
“..udah langsung eksekusi saja sampah depan kita ini, tugas kita masih banyak!”
{zriiinggg}
Terlihat satu petugas telah menghunuskan pedangnya.
{dasshh..!}
Belum juga pedang terhunus dengan sempurna, tiba-tiba tubuh petugas itu langsung menguap menjadi serpihan debu terbawa angin.
{brukkk... brukkk... brukkk...}
Ketiga petugas yang lainnya langsung ambruk ketanah, lemas tak bertenaga ketika melihat salah satu kawan mereka langsung menjadi debu tertiup angin.
“..mm-maafkan kami tuan muda, kami tidak bisa melihat dalamnya sumur tingginya langiit!”
“..bb-benar tuan muda tolong maafkan kami!”
Ketiganya berbicara dengan terbata-bata penuh dengan ketakutan sambil menundukkan kepala mereka.
“..apa ibu sudah makan?!” tanya Zio bertanya kepada ibu paruh baya yang terlihat ketakutan saat Zio mendekatinya.
“..mm-maaf tuan muda, saya belom makan sama sekali dari kemarin, ini dagangan saya ambil dari orang bukan dagangan saya sendiri, mohon tuan muda berbelas kasih, jangan diambil barang dagangan saya!” ucap ibu paruh
baya yang terlihat gemeteran.
“..ibu jangan khawatir, saya datang ingin mengajak ibu makan di restoran sana!” ucap Zio sambil membantu ibu paruh baya berdiri merapikan dagangannya.
“..betulkah tuan muda?!” terlihat dua bola mata ibu paruh baya itu berbinar tanda bahagia.
__ADS_1
Zio dan ibu paruh baya langsung berjalan beriringan menuju restoran yang terlihat ramai diujung jalan tempatnya berdiri.
Ketiga pasukan kota terlihat masih menundukkan kepalanya sambil posisi kedua lutut mereka masih menyentuh tanah.