Tukang Tambal Ban SUPER

Tukang Tambal Ban SUPER
Orang Asing


__ADS_3

Pagi hari dirumah kakek Misran yang sudah jauh berbeda dengan kondisi bentuk fisik bangunannya, Kakek Tendri membawa seorang laki laki dengan umur yang sama dengannya, mereka berkunjung pagi buta, bagaimana tidak


pagi buta, jam dinding menunjukkan masih pukul 05:15 pagi.


Setelah memberikan penjelasan terkait maksud dan kedatangannya pagi-pagi, terlihat suasana menjadi hening, sampai-sampai suara detik jam bisa terdengar oleh semua yang hadir.


{slurrpppp}


Suara seruputan teh hangat kakek Misran terdengar memecah keheningan.


“..jadi begitu Zio, tuan Zhang ini kawan baik saya di china, beliau datang kemari dengan maksud untuk meminta bantu pengobatan ayahnya di daratan China sana” ucap Kakek Tendri kembali memberikan resume maksud dan


tujuan kedatangannya.


“..kapan kita mesti berangkat kek?” tanya Zio terlihat menunggu jawaban.


“..pagi ini juga kita bisa langsung berangkat, Zhang ini datang langsung dari daratan China dengan menggunakan Jet Pribadinya, dan saat ini masih terparkir dibandara dekat sini saja” jawab kakek Tendri.


“..apakah kakek Misran tidak masalah? Bagaimana dengan usaha kakek ?” nampak Zio mengkhawatirkan kondisi kakek Misran dalam hal ini.


“..hei, anak muda, meski kekuatan dan kemampuanku dalam hal bongkar pasang tidak secepat dirimu, paling tidak sebelum adanya dirimu disini, semua pekerjaan aku handle sendiri, jadi tidak usah terlalu  mengkhawatirkanku, lihat ini!” kakek Misran terlihat mempertontonkan otot lengannya yang terlihat menonjol.


“..hahahaha...” semua yang hadir didalam ruangan tertawa lepas dengan aksi yang dilakukan oleh kakek Misran.


Diskusi pagi buta itu terlihat selesai dengan kemunculan Zio, beberapa waktu lalu Zio terlihat keluar ruangan dan kembali dengan membawa tas ransel miliknya. Meskipun sebenarnya Zio tidak perlu membawa apa-apa selama


bepergian karena dunia jiwa miliknya mampu menyimpan berbagai macam benda dengan ukuran luas yang tak berujung.


“..sudah siap..?”


“..euhmmmm”


“..kakek Zio pamit pergi dulu, jaga diri kakek selama Zio tidak ada, jangan banyak ambil job yang berat, angka target produksi TPA juga masih sangat aman” terlihat Zio lebih cerewet ke kakek Misran.


“..berangkatlah Zio, bantulah sodara Tendri, dan segeralah kembali jika urusanmu sudah selesai!” ujar kakek Misran menenangkan kekhawatiran cucunya.


{dap}


{..bruuummm}


Sedan mewah kakek Tendri yang membawa ketiganya meninggalkan halaman rumah kakek Misran menuju bandara tempat jet pribadi Tuan Zhang terparkir semalam.


Dibandara sendiri, Zio dan kedua orang paruh baya sedang menjalani proses imigrasi VVIP. Tidak pakai acara antri-antrian ketiganya langsung dijemput mobil pribadi fasilitas bandara untuk diantarkan menuju lokasi terparkirnya jet Pribadi milik keluarga Zhang.


“..kamu tahu zhang, perusahaan yang sedang meningkat pesat dibidang pengolahan sampah akhir-akhir ini?” terdengar kakek Tendri memulai percakapannya ketika mereka bertiga sudah mulai duduk didalam jet pribadi milik


keluarga Zhang.


“..apakah kamu tahu Tendri, siapa pemilik perusahaan itu?” tuan Zhang terlihat sangat ingin tahu.


“..karena setingkat bank dunia saja tidak bisa mengetahui identitas dari pemilik perusahaan yang sedang naik daun itu!” lanjutnya dengan intonasi lemas.

__ADS_1


Zio yang mendengar diskusi kedua pria paruh baya itu terlihat santai saja tidak banyak mengambil pusing.


“..ck..ck.ck Zhang...” jawaban kakek Tendri sambil menggerak gerakkan kepalanya kearah Zio, dengan kode matanya.


“..maksudmu?...! “


“..zio!..maksudmu Zio Tendri!” tuan Zhang begitu terkejut dengan reaksi kakek Tendri yang terlihat tersenyum puas.


“..kamu harus merahasiakannya Zhang, cukup kamu saja yang mengetahuinya, jangan pernah adalagi yang tahu identitas Zio! Kamu paham!?” ujar kakek Tendri memberikan penekanan.


“..wow...menarik...ini sangat menarik Tendri”


“..sudah lama aku ingin bertemu sosok pemimpin perusahaan itu Tendri, pemerintah kami mengalami kendala terkait sampah sampah industri rumahan, kamu tahu sendiri kan, neraca perdagangan negaraku surplus luar biasa dalam dunia industri, dampaknya, sampah dunia industri menggunung..”


“..sedangkan produk-produk perusahaan milik Zio hanya bersentral untuk sampah hasil olahan rumah tangga saja!”


“..apakah kamu punya solusinya Zio?” tuan Zhang langsung bertanya pada Zio terkait permasalahan negaranya.


“..ada paman,..cuman, kita selesaikan dulu tujuan kita pergi ini..” jawab Zio yang sudah mulai melakukan setting tempat duduknya dikarenakan Pilot sudah menginstruksikan persiapan take off.


“..baik-baik..kamu memang luar biasa Tendri kawanku!”


“..terima kasih Zio!”


Mereka bertiga terlihat menikmati posisi mereka masing-masing hingga pesawat jet pribadi milik keluarga Zhang tinggal landas.


Tidak ada peristiwa yang istimewa selama perjalanan terbang, dengan kecepatan penuh jet pribadi itu terbang mengudara selama 2 jam saja.


Dibandara inilah jet pribadi milik keluarga Zhang mendarat dan terparkir.


Dinegara ini keluarga Zhang sangat terpandang, bahkan mobil pribadi keluarga zhang bisa langsung berjalan masuk kedalam wilayah bandara, langsung menjemput di hanggar tempat pesawat terparkir.


{dap}


{bruuummm}


Setelah ketiganya masuk kedalam limosin milik keluarga Zhang, mobil itu segera melaju menuju tol dalam kota tanpa ada hambatan yang berarti.


“..kamu tahu Zio, tuan Zhang ini adalah pemilik maskapai penerbangan yang banyak terparkir tadi di bandara Pudong..”


“...mereka sangat kaya raya di negara ini, sampai-sampai pemerintah negara ini menghormati mereka dengan sangat layak!”


“...ah, kamu terlalu membesar-besarkannya kawanku Tendri”


“..dibandingkan bisnis perusahaan Zio yang sudah merambah di 242 negara diseluruh dunia, usaha milik keluargaku hanya sebesar biji buah persik saja pastinya”


“..hahahaha...jangan terlalu merendah kawan,..” kakek Tendri kembali menimpali pernyataan tuan Zhang.


Zio sendiri lebih memilih untuk memasang sikap pasif dalam berbicara guna menghormati keduanya.


Jalanan kota besar shanghai terlihat sangat padat dengan banyaknya kendaraan yang melaju. Negaranya tuan Zhang ini sudah sangat besar dan maju jika dibandingkan dengan negara tempat Zio.

__ADS_1


Entah disengaja atau bukan, selama perjalanan, petugas kepolisian lalu lintas yang berjaga selalu membuka jalan bagi limosin tuan Zhang agar tidak terkena kemacetan yang parah.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit mobil limosin tuan Zhang sudah tiba dikediaman keluarganya.


{dap}


{tap}


Pintu limosin dibuka dari luar, ketiganya keluar dari mobil.


Disepanjang perjalanan masuk kedalam rumah super mewah milik keluarga Zhang, terlihat pelayan rumah tangga keluarga Zhang berbaris rapi memberikan penghormatan tanpa henti.


Zio yang melihat kejadian itu hanya tersenyum ramah. Beda dengan kakek Tendri yang terlihat seperti sudah biasa berada di kediaman keluarga Zhang.


“..silahkan tuan” ucap pelayan rumah tangga yang berjaga disebuah pintu kamar besar.


Ketiganya memasuki ruangan kamar, disana telah berdiri semua anggota keluarga dari Tuan Zhang.


“..papa!” seorang perempuan dengan umur belasan tahun langsung berlari menuju tuan Zhang.


Sikapnya yang manja membuat tuan Zhang menjadi kikuk sendiri.


“..issh... Laura, jangan begini, ada tamu papa ini, malu!” reaksi Tuan Zhang.


“..siapa ini pa?” tatapan sinis istri tuan Zhang terlihat ketika Zio ada dibelakang tuan Zhang.


Dari ujung atas hingga ujung bawah istri tuan Zhang melihat Zio dengan tatapan Jijik.


“..ma, perkenalkan ini tamu papa dari negara seberang laut, di garis khatulistiwa letaknya, namaya Zio, dia yang akan menyembuhkan Ayahku” jawab tuan Zhang.


“..apa engga salah pa? Pemuda belasan tahun ini bisa menyembuhkan Ayah?” tanya istri tuan Zhang kembali sembari memasang tatapan mata meminta penjelasan.


“..mama! jaga ucapan mama...!”


“..tuan Zio, maafkan perkataan istri saya, tolong jangan diambil hati!” terlihat tuan Zhang langsung memasang sikap hormatnya menundukkan kepalanya dengan posisi badan 90 derajat membentuk sudut siku-siku dengan genggaman tangannya mengarah kedepan.


Zio segera mengambil tangan tuan Zhang dan mengangkat kembali tubuh tuan Zhang dari sikap hormatnya.


“..tolong jangan terlalu berlebihan tuan Zhang!”


“..saya sadar dengan situasi ini dan saya tidak merasa direndahkan, karena memang kenyataannya umur saya masih 18 tahun!”


Tuan Zhang yang menyadari kesopanan Zio menjadi khawatir,


“..mama segera minta maaf pada tuan Zio, jangan sampai gara-gara sikap mama, tuan Zio tidak jadi menyembuhkan penyakit Ayah!”


Istri tuan Zhang terlihat ketakutan, karena tidak pernah suaminya membentak dirinya selama ini, bahkan bentakan suaminya kali ini seolah-olah dirinya bisa diusir pergi dari rumah keluarga Zhang jika tidak menuruti keinginan suaminya.


“..mm-maafkan saya tuan Zio, saya tidak tahu latar belakang tuan Zio, sekali lagi saya minta maaf” ujar istri tuan Zhang.


Kakek Tendri yang melihat suasana canggung segera bereaksi tanggap.

__ADS_1


“..sudah-sudah, kamu Ling, tidak boleh bersikap begitu dengan siapapun, kamu tidak tahu latar belakang orang didepanmu, lain kali jangan diulangi sikap kamu barusan!” kakek Tendri berusaha mencairkan suasana.


__ADS_2