Tukang Tambal Ban SUPER

Tukang Tambal Ban SUPER
BAB 8 Pengalihan


__ADS_3

{ciiiittt, bruummm}


Pagi itu saat jam dinding menunjukkan pukul 08:10 , terlihat mobil sedan mewah buatan eropa terparkir didepan tempat usaha milik kakek Misran.


{dap}


Pintu mobil terbuka dan dari dalam mobil keluar sosok paruhbaya yang berusaha berjalan dibantu dengan menggunakan kursi roda elektrik.


“..apakah benar disini rumah Zio?!” tanya pelayan disamping yang terlihat memberikan penjagaan super ketat bagi pria paruh baya yang sedang duduk  dikursi roda.


Zio yang melihat kedatangan tamu yang baginya tidak pernah merasa bertemu sebelumnya, segera  membersihkan tangannya di wastafel.


“..saya Zio!” ucap Zio sambil mengelap tangannya menggunakan majun (potongan kain bekas)


“..apakah kamu yang menolongku kapan hari anak muda?” sapa pria paruh baya yang terlihat sudah berada didepan Zio.


“..oooh, saya ingat sekarang!”


“..bapak yang mengalami kecelakaan tempo hari didepan TPA, bukan?”


“..benar anak muda, saya ucapkan terima kasih, jika tanpa pertolonganmu malam itu, mungkin saat ini saya tidak bisa datang kemari untuk menyampaikan ucapan terima kasihku” ujar pria paruh baya.


“..maaf, dengan bapak siapa?” Zio terlihat sopan menghampiri sambil mengarahkan jabat tangannya.


“..oh ya, panggil saja kakek Tendri anak muda!” ujarnya sambil menerima uluran jabat tangan dari Zio.


Entah sengaja atau tidak, disaat kakek Tendri datang, disaat itu pula konsumen pengguna layanan Zio tidak ada, jadi mereka berdua bebas berbicara satu sama lainnya.


“..siapa itu Zio?!” tanya kakek Misran yang baru datang dari kelurahan.


“..eh. kakek sudah datang? Perkenalkan kek, beliau kakek Tendri, korban kecelakaan tempo hari!”


“..ooh, perkenalkan nama saya Misran, kakeknya Zio, meskipun Zio datang kepada saya dalam kondisi sudah dewasa, saya tetap menganggapnya cucu saya sendiri” jelas kakek Misran.


“..waaah, sungguh beruntung sodara Misran, memiliki cucu angkat yang luar biasa seperti Zio” sanjung Kakek Tendri.


Dengan bertambahnya kakek Misran ikut nimbrung, jadilah diskusi itu semakin mondar mandir kesana kemari.


“..jadi begitu anak muda, yang tua ini sekali lagi mengucapkan terima kasih padamu, jika tanpa pertolonganmu, praktis yang tua ini tidak akan bisa berkunjung kemari lagi”


“..sudah menjadi kewajiban saya kakek Tendri, tidak perlu terlalu sungkan” jawab Zio.


“..oh ya anak muda, terima lah ini sebagai bentuk ucapan terima kasih atas pertolonganmu tempo hari..” ucap kakek Tendri sambil menyerahkan selembar kertas putih dengan logo bank swasta tempat Zio membuka rekening tabungan.


“..apa ini kakek?!”


“..sudah Zio, kamu terima saja, tidak baik menolak rejeki!” ucap kakek Misran menengahi.


Drama tarik ulur cek itu akhirnya berakhir setelah Zio menyimpan pemberian kakek Tendri kedalam tas punggung miliknya.


“..kakek Tendri, jika kakek percaya, saya bisa menyembuhkan kakek, bahkan nantinya kakek kembali bisa berjalan dengan normal” ucap Zio.


“..yang benar anak muda!”


“..percayalah sodara Tendri, Zio ini mempunyai kemampuan untuk mengobatimu sodara Tendri!” kakek Misran memberikan penekanan.


“..baiklah, mari, silahkan masuk kedalam rumah dulu, kita lakukan pengobatannya didalam saja” ucap Zio sambil mengarahkan kursi roda elektrik milik Kakek Tendri masuk kedalam rumah.


Setelah berada didalam rumah, Zio mempersiapkan perlengkapan jarum akupuntur miliknya dan diletakkan dalam nampan stainless yang terlihat sudah berjejer rapi.

__ADS_1


“..tolong rebahkan kakek Tendri disofa panjang itu” ucap Zio kepada para pelayan kakek tendri.


Tidak menunggu lama, empat orang pelayan kakek tendri langsung sigap bergerak sesuai arahan Zio.


“..kakek tolong tahan ya, pengobatan ini akan berjalan dalam kurun waktu satu jam lebih” ucap Zio


“..baiklah anak muda, aku percaya akan kemampuanmu!”


{zrappppp}


Tiba tiba puluhan jarum akupuntur yang berderet didalam nampan stainlesteel itu langsung menancap diseluruh titik tubuh kakek Tendri bagian bawah, sesuai dengan yang Zio harapkan!


Puluhan jarum menempel disekitar lutut, betis, pergelangan kaki bagian kanan dan kiri dengan posisi berdiri.


Tangan Zio terlihat mulai bergerak gerak untuk mengirimkan gelombang energi yang segera masuk melalui perantara jarum akupuntur.


“...aaahkkhhhh” teriakan kakek Tendri terdengar.


Keempat pelayan kakek tendri yang ditugaskan untuk memegang kepala tangan dan badan dari kakek Tendri terlihat berupaya keras agar kakek Tendri tidak bergerak meronta ronta sehingga bisa mengganggu jalannya


pengobatan Zio.


Sepuluh menit berselang, kotoran berwarna kuning pekat keluar melalui jarum akupuntur dan terlihat meleleh turun membasahi kursi sofa tempat kakek Tendri berdiam.


Satu jam lebih dua puluh menit,


{zrapppp}


Zio menarik semua jarum yang menempel diatas tubuh kakek Tendri, terdengar dengkuran keras keluar dari mulut kakek Tendri.


Pelayan yang melihat tuan mereka tertidur dengan mendengkur keras, hanya bisa menahan rasa bahagia mereka, keempatnya paham betul kondisi tuan mereka selama ini.


“..kalian berjaga didalam saja, selebihnya tolong belikan obat tradisional ini diapotik herbal tradisional, nantinya racikan obat itu akan diminumkan setelah beliau bangun.


Segera salah satu pelayan kakek Tendri bergegas keluar dengan mengendarai mobil mereka mencari obat yang sudah diresepkan oleh Zio barusan.


Sementara itu Zio kembali kerutinitas kegiatan MNR nya.


Hingga sore hari, kakek Tendri baru terbangun dari tidur nyenyaknya.


“..dimana ini?!”


“..tuan, tuan sudah bangun?”


“..dimana ini?” kembali kakek Tendri bertanya.


“..maaf tuan, kita masih dikediaman kakeknya tuan Zio!”


“..tuan tertidur lama disini! Dan, maaf tuan mendengkur keras sekali!”


“..apa betul itu?!” kakek tendri terlihat langsung spontan berdiri!


“..tuan,,,!’


“..apa!!”


“..itu..itu tuan bisa berdiri!”


“..eeh...” sontak saja kakek tendri terkejut, takjub dan bahagia!

__ADS_1


{krieetttt}


Pintu depan terbuka, terlihat sosok pemuda 18 tahunan masuk kedalam rumah dengan membawa gelas porselin yang mengeluarkan uap panas.


“..syukurlah kakek sudah bangun, ini tolong  diminumkan ketika hangat dan tolong dihabiskan!” ucap Zio sambil menyerahkan minuman beruap didalam gelas porselin kepada pelayan kakek Tendri.


Tiga puluh menit yang lalu pelayan suruhan Zio sudah membawa keseluruhan obat yang diminta dalam tulisan resep Zio, dan dalam 30 menit itu Zio terlihat sibuk didalam dapur mempersiapkan racikan seduh untuk kakek


Tendri.


“..terima kasih anak muda!”


“..orang tua ini berhutang nyawa padamu! Dan kamu tolong ambilkan buku cek dimobil!”


Pelayan yang disuruh segera bergerak cepat keluar ruangan, sementara tiga lainnya membantu tuan besar mereka duduk meminum obat seduh yang telah diberikan oleh Zio.


Tiga puluh menit kemudian, kakek Misran kembali masuk kedalam rumah.


“..gimana kek hasilnya?!” tanya Zio pada kakek Misran.


“..pihak kelurahan meminta semua warga untuk segera mengosongkan wilayah TPA dalam tiga hari Zio!” ucap kakek Misran dengan tanpa ada semangat.


“..memang ada masalah apa?!” tanya kakek tendri.


“..jadi begini kakek Tendri, TPA ini rencanya menjual semua kepemilikannya kepada orang lain, dan dalam proses saat ini, untuk memberikan kesan baik, semua pemukiman liar didalam TPA harus segera dikosongkan..”


Zio menjelaskan dari A sampai Z terkait polemik yang ada di TPA kepada kakek tendri. Setelah itu,..


“..berapa biaya pengambil alihan TPA ini?” tanya kakek Tendri.


“..25 trilyun..itu informasi yang saya dapat dari pihak kelurahan, rencananya pengelola saat ini akan menjual kepada pihak lain dengan nilai 25 Trilyun!”


“..hemmm” terlihat kakek tendri mengangguk-anggukkan kepalanya.


{nuuuttt...nuuutttt}


Suara nada telepon keluar terdengar dalam mode speaker.


{klik}


“..saya tuan besar!” seketika nada sambung itu berhenti dan panggilan jarak jauh itu tersambung. terdengar suara wanita diujung telepon kakek Tendri.


“..kamu segera hubungi pihak pengelola TPA dikota ini, segera ambil alih pengelolaannya, hari ini juga harus selesai proses pengambil alihannya!”


“..baik tuan besar!”


{ceklik}


Suara komunikasi telepon terputus.


“..jangan khawatir, saya yang akan ambil alih TPA ini, dan kamu Zio akan menjadi pengelolanya dengan saham mayoritas!” ucap kakek tendri.


“..ini...ini...apa tidak terlalu..” Zio terlihat terbata bata berbicara.


“..sudahlah, apa yang aku berikan ini tidak sepadan dengan pengobatan yang telah kamu lakukan pada orang tua ini.”


“..disisa hidup orang tua ini bisa kembali merasakan nikmat sehat adalah suatu hal yang sangat luar biasa!”


“...terima kasih kakek Tendri!”

__ADS_1


__ADS_2