Tukang Tambal Ban SUPER

Tukang Tambal Ban SUPER
Menjadi Murid Sekte


__ADS_3

{brakkk}


Kembali lagi gebrakan gagang pedang milik pengawal yang arogan menghantam meja tempat Zio menikmati makan paginya sambil mengarahkan pandangan matanya kejendela didepannya. Zio terlihat membelakangi arah pintu masuk lantai bawah restoran tuan Jiang.


“..kamu, se-----“


Belum juga sang pengawal menyelesaikan kalimatnya tiba tiba tubuhnya tidak bisa digerakkan. Lidahnya serasa sudah hilang dari rongga mulutnya. Matanya melotot seolah – olah merasakan sakit yang luar biasa.


{gedebukkkk...}


Tubuh pengawal tuan muda Yun terkulai lemas layaknya tidak ada tulangnya sama sekali. Energi kehidupannya sudah menghilang. Tubuhnya mirip lembaran koran bekas dilantai.


“..ii-inii...!”


Pengawal yang lain segera bersiap siaga, sementara tuan Jiang, tuan muda Yun masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“..ss-siapa yang melakukannya?” ujar Tuan muda Yun terlihat gagap.


Suasana restoran segera hening, satu persatu tamu bergegas menyudahi makan pagi mereka dan segera  meninggalkan restoran setelah menaruh koin emas mereka dimeja begitu saja.


Zio sendiri masih terlihat mengunyah makanan dengan santainya tanpa berubah posisi duduknya.


Diraihnya lap pembersih mulut yang disediakan oleh restoran tuan Jiang, sepintas terlihat jika Zio telah  menyelesaikan makan paginya.


{sreeettt}


Kursi yang didudukinya terlihat bergeser kearah belakang.


Pengawal dan tuan muda Yun terlihat gemetar badan mereka, tanpa ada yang disuruh mereka semua membelah jalan, memberikan ruang bagi Zio untuk meninggalkan posisi tempat duduk makannya.


Zio terlihat berjalan dengan mantab kearah pintu keluar, Zio menyerahkan segenggam koin emas kepada pelayan yang ada di meja penyambutan restoran.


“..**-terima kasih tuan muda!” ucap pelayan sambil terlihat ketakutan.


Beberapa menit kemudian Zio telah sepenuhnya menghilang dari pandangan semua orang yang ada didalam restoran. Suasana restoran sendiri masih terlihat hening sepeninggalan Zio pergi.


Dengan berjalan santai Zio menyusuri jalanan yang jika diukur memiliki kelebaran sekitar 5meter. Banyak pedagang yang menjajakan dagangan mereka disebelah samping kiri kanan jalanan yang Zio lewati.


Sesuai informasi yang telah dibagikan oleh pelayan tadi, jalanan sepanjang 2 kilometer jauhnya terlihat sangat ramai penuh dengan orang – orang usia muda menuju kearah satu titik tujuan yang sama.


Lima belas menit berlalu, kini didepan Zio terpampang jelas gerbang lapangan mirip alun-alun kota besar, tempat berkumpulnya warga secara beramai-ramai.


Zio terlihat mengikuti pola antrian sesuai dengan tulisan yang terlihat jelas. Pendaftaran calon murid laki-laki dan calon murid perempuan terlihat dibedakan.

__ADS_1


Antrian panjang dibagian pendaftaran laki-laki terlihat mengular hingga ratusan meter dari meja pendaftaran.


Pendaftaran tahap pertama ini hanya mendata calon murid sesuai dengan persyaratan utamanya. Calon murid hanya disuruh meletakkan tangannya disebuah lempengan batu yang telah diletakkan dimeja pendaftaran, nantinya lempengan akan memberikan informasi umum terkait kondisi calon murid.


Hingga hampir sore hari antrian itu belum juga selesai dengan Zio berada diakhir antrian.


“..nama kamu siapa?! Dan letakkan telapak tangan kamu di lempengan itu” ujar panitia pendaftaran yang terlihat tidak ada senyumnya sama sekali.


“..Zio Tian” sambil meletakkan telapak tangannya keatas lempengan.


{18 tahun 5 bulan, tulang perak, jendral bintang 5}


Begitulah informasi yang muncul dilempengan panitia.


Zio yang bisa memanipulasi sekaligus menyembunyikan tingkatan ranah kultivasinya tidak ambil pusing dengan isi informasi yang ditunjukkan oleh lempengan milik panitia pendaftaran.


“..ini token calon muridmu, besok jangan sampai telat hadir, karena besok adalah acara sebenarnya dari  pemilihan calon murid sekte teratai hitam!” ucap panitia pendaftaran mengingatkan Zio.


“..heummnnn” Zio hanya memberikan anggukan kepalanya saja sebagai tanda mengerti.


Karena tidak ada lagi yang dapat Zio kerjakan, dirinya segera bergerak kembali menuju penginapannya. Zio  berencana untuk menghabiskan waktunya dengan melakukan kultivasi didalam dunia jiwa miliknya.


Entah kenapa, kemampuan dan kekuatan Zio sampai saat ini masih macet dan bertahan diangka 75% dari  kemampuan awalnya sebagai Dewa terkuat. Padahal menurut dia, kloningannya juga sudah melakukan banyak kegiatan yang mengarah perubahan positif diseluruh galaksi yang ada dialam Fana.


Setelah lelah memikirkan anomali yang terjadi pada dirinya, kini Zio terlihat kembali tenggelam dengan  kultivasinya. Pemahaman demi pemahaman Zio tingkatkan hingga ketahap paling maksimal. Hingga waktu telah


bergulir pagi hari.


Pagi itu restoran terlihat ramai kembali, mungkin karena hari ini adalah hari pemilihan calon murid sekte teratai hitam jadi semua tamu restoran adalah para calon murid di akademi sekte.


Setelah acara sarapan pagi dengan tidak adanya drama dari tuan muda arogan, Zio segera meninggalkan restoran menuju tempat berkumpulnya calon murid sekter teratai hitam.


Dua puluh menit lebih perjalanan pagi ini ditempuh Zio hingga sampai kelokasi acara. Ada lebih dari 500 calon murid yang terlah terdaftar mengikuti proses selanjutnya.


500 lebih calon murid yang ternyata memang didominasi oleh gender perempuan, hampir ¾ lebih calon murid sekte teratai hitam merupakan wanita dengan umur menginjak dewasa.


Setelah acara pembukaan yang menjemukan dengan diawali pidato walikota kemudian dilanjutkan dengan pidato perwakilan sekte teratai hitam, acarapun dimulai.


10 lapangan pertandingan telah dipersiapkan oleh panitia, dengan harapan mempercepat proses penyaringan calon murid.


Kesempatan pertama ini, semua murid akan diadu secara berkelompok, tiap lapangan terdiri dari 50 orang, hasil akhirnya adalah 20 orang disetiap lapangan.


Peserta yang tersisa akan diambil sebagai murid luar sekte teratai hitam. Jadi total akan ada 200 lebih calon murid yang akan diterima dalam kesempatan kali ini.

__ADS_1


Zio yang sudah naik dilapangan nomor 3 terlihat berdiri ditengah lapangan pertandingan. Sementara peserta yang lain terlihat ada yang berkelompok ada yang sendiri-sendiri.


“..pertandingan dimulai!”


{siuuuutt...}


{...wuuuuussssshhh}


{....dentaanggg}


Beberapa peserta langsung menyerang satu sama lain, tujuan mereka hanya satu mengeliminasi sebanyak – banyaknya.


Ada yang menyerang secara kelompok untuk mengirim keluar peserta yang lain, ada juga yang terlihat sendiri berusaha menyingkirkan peserta yang lainnya.


Ada kejadian yang janggal disini, semua sibuk dengan pertarungan mereka masing-masing, namun sosok Zio masih terlihat tidak bergeser dari tempatnya berdiri sejak awal.


Puluhan orang sudah terjatuh dikirim keluar arena oleh peserta yang masih tegak berdiri didalam arena pertandingan. Ada wanita, ada laki-laki secara bergantian mereka dikirim keluar arena dan mengakui kekalahan mereka.


Zio tidak melakukan aktivitas apapun ditengah arena, karena peserta lain seolah – olah tidak melihat keberadaan Zio sama sekali.


Setengah jam lamanya akhirnya didalam arena pertandingan nomro 3, tinggal 20 orang saja, angka itu sudah sesuai dengan kuota yang diharapkan oleh panitia.


Dan Zio pun berhak lolos untuk menjadi murid luar baru sekter teratai hitam meski dirinya tanpa mengeluarkan kemampuannya sama sekali.


“..yaa sudahlah, mungkin mereka melupakanku yang ada ditengah-tengah arena pertandingan sedari tadi!” gumam Zio pelan sambil menuruni anak tangga setelah pengumuman panitia penyelenggara.


Panitia penyelenggara mengumumkan terkait keberangkatan calon murid yang berhasil lolos akan dilakukan besok tengah hari dan diharapkan semuanya kembali berkumpul ditempat yang sama.


“..pria itu sungguh beruntung, tanpa mengeluarkan keringat langsung bisa masuk menjadi calon murid sekter teratai hitam!”


“..aku bahkan tidak merasakan keberadaanya tadi sewaktu bertarung di arena!”


“..sama, aku bahkan tidak bisa melihat dirinya berdiri diatas arena pertandingan”


“..ah sudahlah, yang penting kita juga sudah masuk kuota calon murid akademi sekte teratai hitam!”


“..iya benar kawan, mungkin pemuda itu keberuntungannya setinggi langit”


Beberapa komentar dari peserta yang tidak percaya sosok Zio bisa langsung otomatis masuk dalam kuota calon murid akademi dengan begitu mudahnya setelah Zio ikut terhitung dalam 20 orang yang tidak terlempar keluar


dari arena pertandingan.


Zio yang tidak ambil pusing segera berjalan mengarah kepenginapan dengan santai sambil kedua tangannya diletakkan dipinggang belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2