
“..silahkan tuan muda, sekiranya mau makan dilantai mana?” sambutan pelayan yang melihat Zio memasuki pintu masuk restoran yang terlihat agak ramai namun masih nyaman.
“..saya dilantai bawah saja, tolong siapkan makanan paling enak dan paling mahal yang dimiliki restoran ini, segera!” perintah Zio meski dirinya belum duduk ditempat pilihannya.
“..baik tuan muda, silahkan tuan muda duduk dulu!” ucap pelayan mengarahkan Zio untuk duduk dikursi yang diinginkannya.
{sreeekkk}
Zio terlihat menarik kursi meja makan dan mengarahkan ibu paruh baya yang diajaknya untuk duduk duluan.
“..terima kasih tuan muda! Saya jadi tidak enak merepotkan tuan muda!”
“..ibu tenang saja! Bukan hal yang besar ini” jawab Zio berusaha menenangkan suasana yang terlihat canggung.
Beberapa saat lamanya Zio terlibat pembicaraan dengan ibu paruh baya yang duduk didepannya. Dari perkenalan, Ibu paru baya itu bernama Zu Mei. Dirinya sebatang kara tanpa keluarga, anak dan suaminya tewas terbunuh oleh perampok saat dirinya sedang keluar rumah.
Cerita menyedihkan itu ternyata dilatar belakangi ketidaksukaan salah satu kompetitior bisnis suaminya melihat perjalanan bisnis mereka.
Dulu Zu Mei memiliki restoran di wilayah kekaisaran, dirinya beserta suami saling bahu membahu membesarkan restoran hingga menjadi ramai. Kesuksesan yang membawa petaka bagi dirinya dan keluarganya.
Sampai akhirnya Zu Mei meninggalkan wilayah kekaisaran mencoba peruntungan yang baru. Ditengah jalan Zu Mei kembali dihadang oleh kelompok perampok yang memperkosanya hingga mengambil semua harta benda miliknya.
Sejak kejadian itu Zu Mei berusaha bertahan hidup dengan jalan menjual dagangan orang lain dan mendapatkan upah komisi setiap malam harinya.
Sudah dua hari lebih Zu Mei kejar-kejaran dengan petugas pajak walikota yang berusaha menagih dirinya.
“..silahkan tuan muda, ini semua masakan paling mahal dan paling enak di restoran ini!” ucap pelayan ketika semua pesanan Zio sudah terhidang diatas meja panjang.
“..mari ibu Zu Mei, silahkan dimakan, jangan sampai ada yang tersisa!” perintah Zio
“..bb-baik tuan muda!” Zu Mei terlihat canggung dengan perintah untuk menghabiskan semua masakan yang ada didepannya.
30 menit lebih Zio dan Zu Mei berkonsentrasi menghabiskan menu makanan yang telah dihidangkan diatas meja panjang.
{brakkk}
“..panggil pemilik restoran!” tiba-tiba muncul sekelompok orang dengan pakaian hitam-hitam bergambar kaki ayam emas dibagian emblemnya.
“..mohon maaf tuan, tolong, kami belum bisa mengumpulkan jumlah yang diinginkan, saya juga sudah menjual restoran ini namun belum juga ada pembeli yang berminat!”
{brakkk}
Lagi-lagi terdengar suara gebrakan meja yang membuat gaduh suasana.
Zio yang melihat kelompok preman ceker ayam merusak suasana makannya, segera mengalihkan pandangannya kearah depan.
“..kalian jangan merusak nafsu makanku! Tadinya makanan ini terasa enak, entah kenapa sekarang rasanya menjadi tidak enak!” Zio melontarkan provokasi yang ditujukan kepada kelompok preman meski meja Zio berjarak cukup jauh.
Suara yang dialiri energi Qi itu langsung terdengar jelas oleh mereka.
Ketua kelompok ceker ayam itu terlihat mengarahkan pandangannya langsung kearah Zio.
__ADS_1
“..minggir kamu!” ketua kelompok terlihat menggeser kasar tubuh pemilik restoran yang menghalangi jalannya.
“..hai anak kecil! Jangan kamu ikut campur urusan kami!” ucap ketua kelompok preman ceker ayam dengan penuh dominasi.
“..kka---“
{dassssh}
Belum juga ketua kelompok ceker ayam itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuhnya sudah lenyap, menguap-menghilang begitu saja.
“..kk-ketuaaa...”
“..dd-dimana ketua!”
Beberapa anggota yang melihatnya langsung gemeteran, ketua mereka yang berada diranah kultivasi RAJA*6 menghilang begitu saja tanpa ada sentuhan fisik.
“..jika kalian sayang nyawa kalian, segera tinggalkan tempat ini!”
“..sebelum itu, serahkan semua cincin penyimpanan kalian, taruh dimeja depan penerima tamu sana!”
Zio kembali berbicara dengan menggunakan suntikan aliran energi, sehingga suaranya langsung membuat anggota preman ceker ayam menjadi lemas dan menuruti kemauan Zio.
Sisa anggota preman ceker ayam itu segera bubar, melarikan diri menyelamatkan nyawa mereka masing-masing.
“..terima kasih tuan, tuan telah membantu saya!” ucap pemilik restoran.
“..sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku dengar kamu ingin menjual restoran ini?!” tanya Zio sambil membersihkan tangannya setelah semua masakan yang dihidangkan terlihat berpindah kedalam perutnya.
“..istri saya pun saat ini sudah meninggal dunia, karena tidak ada tabib yang mau menolongnya, padahal uang sudah saya terima, dan bahkan sudah saya kembalikan lagi 10rb koin emas kepada tuan kota”
“..kata tuan kota saya sudah menandatangi surat perjanjian dan tidak bisa ingkar dengan surat tersebut! Jadi mesti melunasi sisanya 490.000 koin emas!” ucap pemilik restoran.
Zio yang mendengarkan curhatan pemilik restoran terlihat kasihan.
“..begini saja, restoran ini akan aku beli, nantinya kepemilikan akan menjadi milik Ibu Zu Mei!”
“..uhuk..uhuk”
Zu Mei yang sedari tadi mendengarkan langsung terbatuk.
“..ss-saya tuan muda?!”
“..iya Ibu Zu Mei akan menjadi pemilik selanjutnya”
“..saya sarankan Ibu Zu Mei untuk tetap mempekerjakan pemilik restoran yang lama, kalo bisa menikah sekalian! Sama-sama sendiri ini” Canda Zio yang ditanggapi dengan raut wajah memerah.
“..untuk pembayarannya aku mesti ikut, aku ingin tahu seperti apa wajah tuan kota ini, sampai-sampai penindasan ada dimana-mana!” ucap Zio kepada pemilik restoran.
“..ini uangnya!, semuanya pas 490.000 koin emas!” ucap Zio sambil memberikan kantong tebal lumayan gede kepada pemilik restoran.
“..masukkanlah kedalam cincin penyimpananmu! Sekarang juga kita temui tuan kota!” perintah Zio sambil berdiri dari kursi meja makannya.
__ADS_1
Para pelayan yang sudah mengetahui kepemilikan restoran sudah berpindah tangan, segera menaruh hormat kepada ibu Zu Mei.
Zu Mei pun langsung tanggap sat set sat set mengatur restoran agar kembali bisa langsung berjalan normal. Keahlian dirinya dalam hal manajemen restoran begitu tepat dan terukur.
“..berhenti!”
“..ada keperluan apa kalian berdua!?” tanya penjaga pintu gerbang rumah tuan kota.
“..kami hendak bertemu tuan kota, guna membayar tunggakan hutang kami!” ucap pemilik restoran.
“..oh begitu, silahkan masuk dan tunggu dulu, aku akan mengabarkan berita ini pada tuan kota!” ucap sang penjaga.
Zio dan pemilik restoran terlihat memasuki pintu gerbang dan diarahkan kesebuah ruangan luas dan disuruh menunggu.
Tidak seberapa lama muncul pria perut buncit dengan pakaian yang tidak dikancingkan dibagian bawahnya menemui Zio dan pemilik restoran.
“..mana uang yang kau janjikan!” tuan kota langsung menagihnya.
Pemilik restoran menoleh kearah Zio sejenak, setelah mendapatkan kode anggukan kepala dari Zio, pemilik restoran langsung menyerahkan buntalan yang berisi koin emas sejumlah 490.000 dengan berat hati.
“..sudahlah, lihat saja nanti!” ucap Zio menenangkan pemilik restoran.
“..hahaha... sudah sana pergi!” ucap tuan kota mengusir.
“..eit, jangan dulu!” tiba-tiba Zio menahan pemilik restoran pergi.
“..serahkan dulu kertas perjanjian hutang piutangnya pada kami! Baru kami akan pergi” ucap Zio pada tuan kota.
Pemilik restoran yang tersadar dengan omongan Zio, segera mengarahkan telapak tangannya meminta kepada tuan kota.
“..nih! ambil itu surat! Hahahaha...” tuan kota melemparkan gulungan kertas yang setelah dibuka dan dibaca merupakan perjanjian asli antara tuan kota dengan pemilik restoran.
“..naah sekarang kita bisa pulang, kita lihat besok kegemparan apa yang akan terjadi!” kata Zio pelan menenangkan pemilik restoran yang masih terlihat kurang bersemangat.
Zio malam ini menginap tidak jauh dari lokasi restoran yang telah dipindah tangankan kepada ibu Zu Mei.
Setelah selesai dari rumah tuan kota, Zio melakukan beberapa diskusi kesepakatan terkait kepemilikan restoran, Zio juga meminta konsep restoran dirubah agar setiap tingkatan lantai memiliki kekhususan sendiri sendiri.
Malam ini Zio berencana mengubah gedung restoran hingga sesuai dengan keinginannya.
Dengan kemampuan dan pemahaman hukum penciptaannya, sangatlah mudah mengubah bangunan restoran dari hanya bertingkat dua menjadi tingkat Lima dengan desain yang lebih menarik.
Nantinya Zio ingin restoran disetiap lantainya memiliki kekhususan dalam hal tingkatan ranah kultivasi\, jika lantai dasar bisa dikunjungi oleh semua ranah kultivasi\, maka lantai 1 hanya akan bisa dikunjungi oleh pemilik ranah kultivasi minimal RAJA*7\, lantai 2 minimal tingkatan kaisar*2\, lantai 3 minimal tingkatan Kaisar *6\, lantai paling atas minimal tingkatan kaisar*9.
Bangunan restoran akan berdiri layaknya menara kultivasi, artinya meski tamu sedang makan, bonusnya adalah kenaikan ranah kultivasi setelah selesai aktivitas membayar makanan.
Untuk masakan Zio juga sudah mempersiapkan daging hewan spiritual yang dapat meningkatkan ranah kultivasi bagi yang memakannya, sehingga hidangan akan menjadi lebih mahal sesuai dengan tingkatan ranah kenaikan
yang diharapkan.
Zio sudah membayangkan pundi-pundi koin emas dan batu roh yang akan didapatkannya kedepan.
__ADS_1