
Bela merasa sangat salah tingkah, karena semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatapnya, tanpa berkata-kata terkecuali Maik. Maik memalingkan pandangannya ke arah samping, dia tidak ingin melihat Bela sama sekali. Sedangkan Bela yang sudah berdiri di depan orang-orang penting itu, hanya mematung tanpa bersuara. Dan tidak lama, Rektor pun mengatakan alasannya menyuruh Bela datang ke ruangannya.
"Belaa,, saya ingin kamu meminta maaf kepada bapak-bapak ini, atas kesalahan kamu di dalam ruangan tadi,,! Terutama kepada Bapak Maikhel." Kata Rektor yang membuat Bela terkejut, begitupun dengan Maikhel dan yang lainnya.
"Tidak usah Pak,,! Lagian Bela tidak sengaja menjatuhkan ponselnya, dan kami sama sekali tidak merasa terganggu dengan semua itu. Iya kan Pak Maik,,?" Kata salah seorang pengusaha yang kira-kira berumur 50 tahun.
"Iya. Aku juga merasa itu bukan satu kesalahan, jadi buat apa harus minta maaf,,?" Sambung salah seorang pengusaha yang lain.
Sedangkan Maik yang tidak mau menatap ke depan, berpura-pura sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya, dan dia juga tidak ingin berkata apa-apa.
"Tidak apa-apa Pak. Saya hanya ingin mengajarkan anak-anak saya, untuk bisa bertanggung jawab dengan semua yang mereka lakukan." Kata Pak Rektor.
"Oo gitu ya Pak,,? Bagus kalau kaya gitu." Kata salah seorang pengusaha.
"Luar biasa Pak Rektor ini." Sambung yang lainnya.
Sedangkan Maikhel yang sudah bersandar di sandaran kursi, hanya terdiam sambil fokus dengan ponsel di tangannya. Dia seperti tidak sudi menatap wanita di depannya itu, begitupun dengan Bela, dia hanya menunduk dan sesekali menatap ke arah Rektor, tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
Bela merasa sudah sangat tidak tahan berada lama-lama di dalam ruangan itu, dia ingin segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Pak Rektor, tapi Pak Rektor malah asik mengobrol dengan beberapa pengusaha itu. Untung saja ada salah seorang dari pengusaha yang ada di situ, segera membuka suara yang membuat Bela merasa sangat legah.
"Nak Bela,, kamu ngga perlu minta maaf, karena kami sudah memaafkan kesalahan kamu. Sekarang kamu sudah boleh pergi." Kata pengusaha yang lebih tua di antara yang lainnya.
"Trima kasih Pak,, tapi aku tetap ingin meminta maaf pada Bapak-bapak sekalian, atas kesalahan saya tadi. Tolong maafkan saya." Kata Bela sambil membungkukan badannya.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Bela, membuat emosi Maik langsung naik, karena di dalam fikiran Maik, Bela itu hanya wanita munafik, yang pintar berpura-pura baik untuk mengambil hati orang lain. Tanpa menunggu lama, Maik yang sejak tadi hanya fokus dengan ponsel di tangannya, segera mengangkat mukanya kemudian berkata.
"Yaa,, kamu memang harus meminta maaf, karena apa yang tadi kamu lakukan itu, mengganggu jalannya acara, dan itu sangat tidak sopan,,! Kamu pernah di ajari sopan santun ngga sama orang tuamu,,?" Kata Maik yang membuat Bela merasa sangat malu.
Mereka semua yang ada di situ sangat terkejut dengan perkataan Maik barusan, tapi mereka juga tidak bisa membantah, kare Maik punya pengaruh yang sangat besar di antara mereka semua, jadi mereka tidak berani untuk membatahnya.
Rektor dan beberapa pengusaha lainnya, merasa sangat kasihan melihat keadaan Bela.
Sedangkan Felisia yang berada di samping Maik, malah tersenyum sinis sambil menatap Bela. Felisia sangat bahagia dengan melihat Maik memperlakukan wanita lain seperti itu, sebab dia berfikir, Maik seperti itu karena dia sudah tidak punya rasa kepada wanita lain selain dirinya.
"Makannya,, kamu harus tahu cara menghargai orang itu seperti apa,,? Kamu itu Mahasiswi tapi sama sekali tidak punya sopan santun,,!" Kata Felisia dengan angkuhnya.
__ADS_1
Mendengar perkataan Felisia, Rektor yang sudah sangat kasihan dengan Mahasiswinya itu, merasa menyesal telah meminta Bela menghadap ke ruangannya. Rektor merasa itu sudah sangat berlebihan, karena kesalaha Bela itu tidak di sengaja sama sekali. Apalagi Rektor sangat kenal dengan Bela, dia adalah Mahasiswi yang sangat baik, rajin, juga disiplin, dan Bela itu termasuk salah satu Mahasiswi yang mempunyai kepribadian yang sangat baik di Kampus itu.
Tapi apapun yang terjadi, Rektor tidak bisa untuk membantu Bela, karena biar bagaimanapun, Maik dan Felisia adalah tamu penting di Kampus mereka itu. Selain tamu penting, Maik juga datang dengan membawa sumbangan terbesar untuk Kampus mereka.
"Ayo minta maaf,,! Apa perlu aku ajari,,?" Kata Felisia lagi dengan begitu sombongnya.
"Iya Bu." Jawab Bela dengan nada suara yang sudah sangat bergetar.
Mendengar suara Bela, membuat Maik yang sedang sibuk dengan ponselnya, dengan segera langsung memejamkan matanya. Dalam hati kecilnya, Maik sebenarnya tidak tega memperlakukan Bela seperti itu, tapi karena sudah sangat terlanjur sakit hati dengan perbuatan Bela, akhirnya Maik berpura-pura santai dan tidak perduli.
"Saya minta maaf atas semua kesalahan saya." Bela berkata dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya.
"Ya sudah. Sekarang kamu boleh pergi,,!" Kata Maik dengan segera, karena dia tidak sanggup lagi melihat keadaan Bela.
"Terima kasih." Kata Bela dan berbalik, kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu, dengan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya.
Setelah keluar dari ruangan Rektor, Bela langsung berlari menuju lorong Kampus yang tidak pernah di lewati orang. Sampainya di sana, dia langsung terduduk di lantai, dan mengeluarkan air mata yang sejak tadi dia tahan. Bela menangis tersedu-sedu di lorong itu, sambil berkata-kata dalam hatinya.
__ADS_1
"Maik,, kamu tega memperlakukanku seperti ini. Selama ini aku tidak bisa untuk melupakanmu, walaupun kamu telah mencampakanku. Tapi kali ini, aku bersumpah untuk tidak mengingatmu lagi walaupun hanya sedikit." Bela berkata-kata dalam hatinya sambil terus menangis.
Setelah puas meluapkan semua kesedihan dan kekesalannya, Bela kemudian melangkah menuju parkiran untuk menemui kedua temannya, yang sudah menunggunya sejak tadi. Semua orang yang melihat Bela jadi bingung, karena wajah Bela terlihat sangat sembab, tapi Bela terus melangkah tanpa memperdulikan mereka.