Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 35. Pertemuan Yang Pahit.


__ADS_3

Hati Bela terasa begitu perih, mengetahui dengan secara langsung keburukan sifat Ayah dari putrinya, yang selama ini hanya dia dengar dari keluarganya. Walaupun dia sudah memutuskan untuk melupakan masa lalunya itu, namun hati kecilnya tidak pernah bisa membohongi rasa yang masih membekas di dalam hatinya sampai detik itu.


Air mata yang sudah tidak Bela izinkan menetes untuk laki-laki yang telah mencampakannya itu, kini kembali terbendung memenuhi kelopak mata indahnya. Kesedihan yang selama ini berusaha dia sembunyikan, akhirnya meluap tanpa bisa untuk di tahan. Dengan langkah kaki yang bergetar dan berlinang air mata, Bela pun melangkah menuju toilet yang ada di bagian belakang.


Air mata berlinang membasahi wajah cantik Bela yang sudah berdiri di depan cermin besar dalam toilet itu. Dia menangis bukan karena sakit hati karena tidak di perdulikan oleh Maik. Tapi karena dia begitu merasa bersalah kepada keluarganya, yang dia ragukan di saat mereka mengatakan hal yang buruk mengenai Ayah dari putrinya itu.


Sempat timbul keraguan di dalam hati Bela di saat mendengar keburukan Maik dari keluarganya. Namun setelah mengetahui secara langsung keburukan sifat Maik, Bela seketika sangat menyesali sikapnya yang kasar terhadap keluarganya, demi membela Maik beberapa tahun yang lalu.


Bela yang semakin salah faham dengan apa yang dia dengar juga dia lihat pada hari itu, semakin membenci Maik. Begitupun dengan Maik yang sudah terlanjur membenci Bela. Dia semakin tidak sudi melihat Bela yang terlihat begitu bebas, setelah melakukan kejahatan terhadap buah cinta mereka.


Kesalapahaman dan keegoisan yang begitu besar, telah mengalahkan logika mereka. Namun hati mereka tidak bisa membohongi rasa yang masih ada. Kebencian yang begitu besar antara mereka, menandakan kalau masih ada cinta di dalam hati keduanya.


Maik yang berada di dalam mobil bersama Endru, hanya menatap ke arah luar melewati kaca mobil dengan tampang yang terlihat penuh beban pikiran. Sedangkan Endru yang sejak tadi memperhatikannya, merasa sedikit penasaran dengan sikap juga ekspresi Maik. Dan rasa penasaran itu akhirnya membuat dia memilih untuk bertanya.


"Apa yang kamu pikirkan Maik?" Tanya Endru sambil mengemudi yang membuat Maik langsung kaget.


"Ngga ada apa-apa kok." Jawab Maik berbohong.


"Oooo,, aku kira ada apa? Soalnya kamu tu terlihat aneh di saat keluar dari apotek tadi." Ujar Endru tanpa menatap Maik.

__ADS_1


Karena merasa di curigai, Maik akhirnya berpura-pura santai dan memilih untuk mengobrol dengan Endru. Tapi obrolan mereka malah membuat Endru merasa sedikit bungung. Endru yang sudah sangat mengenali sikap Maik, begitu bingung dengan Maik yang tiba-tiba ingin tahu masalahnya. Karena Maik bukanlah orang yang seperti itu. Setau Endru, Maik adalah orang yang sangat tidak suka membahas masalah orang lain.


"Kamu kapan nikahnya?" Tanya Maik dengn tatapan tertuju ke depan.


"Entahlah. Aku belum targetkan." Jawab Endru singkat dengan tampang penuh keheranan.


"Umur kamu tu sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga." Tambah Maik.


"Ya aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Pacarku masih belum siap." Jawab Endru.


Tidak berapa lama dari situ mereka pun sampai ke apartemen Endru. Dengan pikiran yang tak menentu, Maik melangkah masuk mengikuti Endru tanpa bersuara. Pikiran Maik sudah di penuhi dengan bayangan Bela. Rasa benci dan cinta yang sudah menjadi satu, membuat laki-laki gagah itu jadi sangat kacau. Dadanya terasa begitu sangat sesak memikirkan wanita yang selama ini sudah mempermainkan perasaannya.


"Ngga usah khawatir! Lagian kan itu belum terbukti. Bisa saja kamu ngga hamil." Kata Endru kepada Sari, dan Sari hanya menanggapinya dengan senyum yang di paksakan.


Sari sangat khawatir dengan dirinya yang sudah beberapa hari terlambat bulan. Dia sangat takut kalau nanti dia benar-benar hamil. Hidup dalam keluarga yang begitu kekurangan, membuat Sari yang berkuliah di luar negeri menjadi kebanggaan dalam keluarganya. Dan dia sama sekali tidak ingin mengecewakan keluarganya, yang sudah bersusah paya selama ini demi masa depannya.


Sedangkan Maik yang sejak tadi tidak bersuara, hanya tersandar di sandaran sofa dengan wajah yang terlihat sangat lesu. Tampangnya yang dingin terlihat semakin beku. Dan hal itu membuat Leon yang tidak sengaja melihatnya langsung bertanya.


"Pak Maik,, apa ada masalah?" Tanya Leon yang membuat Maik kaget.

__ADS_1


"Ngga ada apa-apa." Jawab Maik singkat dengan tampang datar seperti tembok.


"Terus bagaimana selanjutnya?" Tanya Maik.


"Nanti biar dia tes dulu." Jawab Leon.


"Tapi aku bingung menggunakannya." Sambung Sari penuh kecemasan.


"Kan ada petunjuknya di situ." Sambung Endru.


"Iya sih,, tapi katanya kalau salah di pergunakan hasilnya ngga benar." Jawab Sari.


"Bagusnya kalau ada orang terdekat kamu yang sudah berpengalaman, kamu tanya saja langsung!" Perkataan Maik yang langsung di sambut Endru.


"Iya,, itu ide yang bagus." Sambung Endru.


"Ada sih teman aku yang sudah berpengalaman. Tapi aku ngga mau dia tahu." Ujar Sari dengan tampang penuh beban.


"Teman kamu yang mana?" Tanya Leon penasaran.

__ADS_1


Leon begitu penasaran karena teman Sari yang dia kenal hanya Bela dan Mita. Dan setahu Leon, Bela dan Mita itu masih singel yang belum berpengalaman untuk masalah itu sama seperti Sari.


__ADS_2