
Malam itu terasa sangat berat oleh Maik, yang sedang berada di dalam situasi yang begitu sulit. Setelah berbicara dengan Endru hampir satu jam, Maik memilih untuk langsung kembali ke apartemen Bela. Dia melajukan mobilnya sambil memikirkan langkah yang harus dia ambil sebagai seorang Ayah.
"Aku harus bicara dengan Bela. Aku tidak bisa tinggal diam dalam keadaan seperti ini. Dia adalah putriku. Dan Aku berhak atas putriku l." Maik berkata-kata sendirian sambil melajukan mobilnya menuju apartemen Bela.
Perasaan yang pernah ada di dalam hati Maik untuk Bela, tidak hilang begitu saja walau telah berpisah dalam waktu yang sangat lama. Namun saat itu, dia sama sekali tidak memikirkan tentang Bela. Yang ada di dalam hati dan pikirannya hanyalah keadaan putrinya yang di kabarkan sedang sakit parah.
Sampainya di depan gedung apartemen, Maik langsung memarkirkan mobilnya dan melangkah masuk menuju kamar Bela yang berada di lantai atas. Dia sudah memikirkan kata-kata yang harus dia keluarkan di depan Bela untuk mempertemukannya dengan Enjel putrinya. Tapi setelah berada di depan kamar Bela, Maik seketika terkejut karena melihat Bela sedang menangis sambil membenturkan kepalanya ke dinding kamarnya.
"Bela... Apa yang kamu lakukan..?" Teriak Mail sambil berlari menghampiri Bela. Namun Bela sama sekali tidak memperdulikannya.
"Bela... Apa kamu sudah gila.." Maik kembali berteriak dengan keras sambil mencengkram kedua tangan Bela dengan sangat kencang.
"Lebih baik aku yang mati... Aku tidak sanggup berada di dalam situasi ini. Hiks,,,hiks,,,hiks." Bela berkata-kata sambil menangis dengan kepala tertunduk di bagian dada bidang Maik.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Bela, Maik seperti tersambar petir saking terkejut. Dia berpikir telah terjadi apa-apa terhadap putrinya sampai Bela jadi seperti itu. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca Maik kembali berteriak sambil menggoyangkan tubuh Bela dengan sangat kencang saking panik mendengar kata-kata Bela.
__ADS_1
"Apa maksud kamu..? Bagaimana keadaan putriku...? Jawab Bela! Jawab...!" Teriakan Maik dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Enjel terkena kanker darah. Dan penyakitnya sudah sangat parah. Aku takut terjadi apa-apa sama dia. Hanya dia satu-satunya harapan hidupku. Hiks,,,hiks,,,hiks." Bela berkata-kata sambil menatap Maik dengan bercucuran air mata.
"Apa yang sudah kamu lakukan sampai dia sampai dia bisa sakit seperti itu? Jawab aku Bela! Jawab...!" Teriak Maik sambil mencakar-cakar rambutnya.
"Aku melakukan semua yang di lakukan oleh setiap wanita yang sudah menjadi seorang Ibu. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk putriku yang tidak pernah tahu siapa laki-laki brengsek yang sudah menyia-nyiakan dia di dunia ini. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan aku. Karena kamu tidak pernah tahu bagaimana penderitaanku menjadi orang tua tunggal buat putriku." Bela berkata-kata panjang lebar dengan tatapan yang terlihat sangat tajam ke arah Maik.
Kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Bela seketika membungkam mulut Maik. Hati kecilnya terasa begitu perih membayangkan penderitaan Bela dan putrinya selama ini. Tapi tidak lama dia kembali merasa sangat mengingat keegoisan orang tuanya juga orang tua Bela yang begitu tega memisahkan mereka tanpa memikirkannya nasib Enjel.
"Ini semua kesalahan orang tuamu. Terutama Papamu. Dia adalah pria yang sangat egois." Ujar Maik dengan ekspresi marah.
"Apa yang tidak pantas? Papamu yang telah memisahkan aku dari putriku. Dia mengarang cerita kepada orang tuaku kalau anakku sudah tidak ada. Dan kamu tidak ingin bersamaku lagi." Ujar Maik sambil menatap Bela yang sudah terduduk di tepi ranjangnya.
__ADS_1
"Kamu jangan berbicara sembarangan! Tidak mungkin Papaku tega melakukan itu." Ujar Bela dengan tampang tidak terima.
"Kalau kamu tidak percaya, dengar rekaman ini. Rekaman suara Ayah kamu di saat menelpon Papaku. Dan aku masih menyimpannya samapi saat ini." Maik berkata-kata sambil membuka rekaman pembicaraan Papanya Bela dengan Papanya beberapa tahun yang lalu.
Semua pembicaraan Papanya Bela terdengar begitu jelas dalam rekaman yang sengaja di simpan oleh Maik. Dan Bela yang mendengar semua itu, langsung mematung dengan tampang penuh kekecewaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Batin Bela yang sudah rapuh semakin hancur mengetahui kenyataan yang selama ini tidak dia ketahui sama sekali. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Bela menatap Maik sambil bertanya.
"Mengapa kamu tidak pernah mengambil langkah selama ini setelah mengetahui semua itu? Apa jangan-jangan kamu mendukung keputusan Papaku untuk berpisah denganku? Kalian semua telah membuatku menderita." Kata-kata Bela yang membuat Maik langsung tertunduk karena merasa bersalah atas kesalahannya yang tidak pernah berusaha untuk mencari tahu kenyataan yang sebenarnya.
"Aku sangat menderita melahirkan anakku tanpa ada suami. Hiks,,,hiks,,,hiks." Bela berkata-kata dengan tangisan yang begitu menyedihkan karena teringat penderitaannya di saat mengandung dan melahirkan Enjel tanpa ada Maik di sampingnya.
"Maafkan aku. Saat itu aku begitu bodoh mempercayai semua cerita Papamu. Tapi aku janji akan menebus semua kesalahanku padamu juga Enjel." Ujar Maik sambil melangkah menghampiri Bela.
"Jangan bersedih lagi! Sekarang kita harus fokus memikirkan kesembuhan Enjel." Ujar Maik setelah duduk di samping Bela yang masih terus menangis.
"Aku harus kembali ke Indonesia secepatnya. Aku harus melihat keadaan putriku." Ujar Bela sambil menundukkan kepalanya menahan kesedihan yang teramat menyiksa.
__ADS_1
"Aku akan mengurus semua keberangkatan mu. Tapi kamu harus berjanji untuk mengabari aku. Aku akan menyusul mu kalau semua urusanku sudah selesai." Ujar Maik dan Bela hanya mengangguk mengiyakan apa yang di katakan oleh Maik.
Bela merasa sangat lega karena dia akan segera pulang melihat keadaan Enjel. Tapi di dalam hati yang paling dalam, dia sedikit kecewa dengan Maik yang lebih mementingkan urusannya dari pada keadaan Putrinya sendiri.