
Dalam perjalanan menuju Indonesia, tidak ada pembicaraan antara Maik dan Bela. Ingin sekali Maik membuka percakapan di antara dia dan Bela di dalam pesawat. Namun dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia bicarakan. Sedangkan Bela yang menyadari akan statusnya yang hanya sebagai mantan, memilih untuk tidak bersuara sedikit pun. Karena dia tidak ingin masa lalunya yang begitu menyedihkan, menjadi bahan pembicaraan mereka berdua.
Perpisahan yang sudah cukup lama, membuat Maik juga Bela merasa seperti orang asing. Kegugupan dan rasa malu begitu besar di dalam benak mereka untuk saling berbicara. Terutama Bela yang masih sangat terluka mengingat penderitaannya, di saat mengandung dan melahirkan putrinya tanpa ada sosok seorang suami. Bagi Bela, semua cerita tentang mereka telah terkubur setelah mengetahui, kalau Maik sudah punya pilihan yang saat itu sedang mengandung darah dagingnya.
Sampainya di bandara Internasional Soekarno Hatta, Bela yang baru saja turun dari pesawat melangkah tanpa memperdulikan Maik, yang sedang mengikutinya dari belakang. Dia tidak perduli Maik mau kemana, walaupun mereka datang bersama dengan tujuan yang sama.
"Bela,, aku ingin melihat Enjel." Ujar Maik sambil terus melangkah mengikuti Bela.
"Kamu akan melihatnya, tapi bukan sekarang. Dan kamu juga hanya bisa melihatnya dari jauh. Karena aku tidak ingin putriku jadi bingung dengan kehadiranmu sebagai orang asing." Ujar Bela yang membuat hati Maik seketika terenyuh karena merasa tidak di anggap.
"Ya sudah,, kalau gitu aku minta nomor telpon kamu. Biar aku bisa menghubungimu untuk menanyakan keadaan Enjel." Maik berkata-kata sambil menguatkan hatinya, yang sedikit tergores dengan kata-kata Bela, karena di anggap sebagai orang asing bagi putrinya sendiri.
"Sini ponselmu biar aku tulis nomor telpon ku." Ujar Bela tanpa mau menatap Maik.
Tanpa berlama-lama, Maik pun segera memberikan ponselnya kepada Bela tanpa ada suara. Di saat Bela sedang fokus memasukkan nomor telponnya, Maik hanya bisa menatapnya dengan raut wajah tanpa ekspresi, sambil bergumam di dalam hatinya.
"Bela,, apa sebesar itu kebencian mu terhadapku..? Sampai kamu tidak ingin mempertemukan aku dengan putrimu yang juga darah daging ku..?" Maik bertanya-tanya di dalam hatinya, tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Bela.
__ADS_1
"Ini ponselmu. Aku sudah menyimpan nomorku dengan nama kontak Isabella." Ujar Bela dan langsung melangkah pergi, meninggalkan Maik yang masih saja terdiam di tempatnya.
Betapa hancurnya hati Maik menerima perlakuan Bela yang begitu dingin terhadapnya. Wanita yang lembut dan penuh perhatian terhadapnya beberapa tahun yang lalu, kini telah berubah seperti orang asing baginya. Tidak ada lagi rasa jenuh di dalam dirinya, menghadapi Bela yang begitu banyak mau seperti saat-saat mereka bersama dulu. Yang ada hanyalah perasaan sedih atas perlakuan Bela yang tidak perduli dengannya.
Setelah Bela sudah menghilang dari pandangannya, Maik pun langsung bergegas pergi menuju parkiran bandara, untuk melihat taksi yang mau dia naikin. Maik yang merasa sangat kelelahan karena melakukan perjalanan jauh, juga kelelahan dengan beban pikirannya saat itu, memilih untuk menginap di sebuah hotel yang terletak tidak jauh dari bandara.
Sampainya di hotel itu, Maik di perlakukan dengan begitu istimewa di saat dia menunjukkan identitas dirinya. Setelah berada di dalam sebuah kamar khusus para tamu penting, Maik langsung bergegas untuk masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya karena merasa begitu lengket.
Selesai mandi Maik pun memutuskan untuk beristirahat. Mungkin karena kecapean, tidak memakan waktu lama Maik langsung terlelap di atas tempat tidur yang terlihat begitu empuk. Sedangkan di RS tempat Enjel di rawat, Bela yang baru saja datang langsung di panggil seorang Dr ahli untuk ikut ke ruangannya.
"Ini sama Ibu Bela..?" Tanya seorang Dr laki-laki yang menangani Enjel.
"Tolong ikut ke ruangan ku..! Ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Ujar Dr itu yang membuat Bela dan kedua orang tuanya, jadi semakin cemas dengan keadaan Enjel.
Tanpa menunggu lama Bela segera melangkah mengikuti Dr itu menuju ruangannya. Jantung Bela seketika memburu dengan kencang memikirkan keadaan putrinya, yang belum sempat dia lihat sama sekali.
"Bagaimana keadaan putriku Dok..?" Tanya Bela segera, setelah duduk di depan meja kerja Dr yang menangani Enjel.
__ADS_1
"Maaf Ibu Bela,, aku sangat menyesal karena tidak bisa menangani putri Ibu lebih lama lagi. Putri Ibu tidak bisa berada lama di sini." Ujar Dr itu yang membuat Bela semakin khawatir.
"Maksud Dr apa berkata seperti itu..?" Tanya Bela panik.
"Begini Bu Bela,, keadaan putri Ibu semakin memburuk. Dan demi kebaikan juga keselamatannya, sebaiknya dia di bawa saja ke RS yang lebih canggih di luar negeri." Jawab Dr itu yang membuat Bela seketika jadi panik, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Sebenarnya apa penyakit putri aku Dok..? Dan mengapa dia sampai harus di bawa ke luar negri..?" Tanya Bela dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
"Putri Ibu menderita kanker darah. Dan dia sudah memasuki stadium lanjut. Mungkin dia bisa bertahan hidup selama satu tahun lagi. Itu pun kalau dia di rawat di RS yang lebih canggih. Kalau di sini tidak bisa di pastikan berapa lama dia bisa bertahan." Jelas Dr itu yang membuat air mata Bela langsung tumpah membasahi wajahnya.
"Maafkan aku Bu Bela. Aku terpaksa harus mengatakan semua ini sebelum terlambat. Karena itulah jalan satu-satunya untuk bisa membuatnya bertahan hidup lebih lama lagi." Tambah Dr itu.
"Iya Dok. Terimakasih atas semua bantuan anda. Kalau gitu aku pergi dulu." Ujar Bela sambil menahan tangisnya.
Mendengar keadaan putrinya, membuat Bela seperti tersambar petir di siang bolong. Dia tidak menyangka semuanya akan jadi seperti itu. Penderitaan yang telah dia lalui selama ini, ternyata belum juga berakhir. Malah semakin besar cobaan yang harus dia hadapi. Sambil melangkah menuju ruang rawat Enjel, Bela yang tidak henti-hentinya menangis mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Ya Tuhan,, cobaan apa lagi yang engkau berikan padaku..? Mengapa bukan aku saja yang sakit..? Mengapa harus putriku yang menanggung semua ini..? Hiks,,,hiks,,,hiks."
__ADS_1
Bela bertanya-tanya di dalam hatinya, sambil terus menangis memikirkan putrinya yang sedang berjuang, melawan kanker darah yang sudah mengancam keselamatannya. Kesedihan yang dia rasakan saat itu, membuatnya sampai tidak bisa berpikir apa-apa. Hanya air mata yang bisa dia tumpahkan, untuk melepaskan sedikit beban yang ada di dalam dirinya saat itu. Tapi sebagai seorang Ibu, Bela tidak akan bisa tenang walau air matanya mengering sekalipun. Menerima kenyataan yang begitu pahit.