
Kepedihan akan luka karena penghianatan seseorang, yang teramat di cintainya kini kembali terasa. Kristal bening yang meluncur dengan begitu deras di wajah cantik Bela, menandakan betapa terguncang hati dan pikirannya, di saat menatap mata tajam laki-laki yang sudah mencapakan cintanya, dan memberikan goresan luka yang tak kunjung hilang.
Hanya air mata yang dapat mengurangi beban derita yang sedang dia rasakan saat itu. Setelah dari toilet, Bela kembali bekerja tapi tampangnya terihat begitu berbeda dari sebelumnya. Untung saja pemilik apotik yang tadi ada bersamanya, sudah pulang sejak dia masih berada di dalam toilet tadi, dan di gantikan oleh adik perempuannya yang tidak terlalu pusing dengan ekspresi Bela.
Di apartemen yang terlihat mewah, Maik yang tadinya hanya bersandar dengan raut wajah penuh beban, seketika membenarkan posisi duduknya setelah mendengar percakapan antara Sari dan Leon. Bukan hanya Maik yang terlihat penasaran dengan omongan Sari. Leon juga turut penasaran ingin mendengar siapa teman Sari, yang sedang di bicarakan oleh kekasihnya itu.
"Maksud kamu siapa? Siapa teman kamu yang sudah berpengalaman?" Tanya Leon penasaran.
"Tapi kamu harus janji! ngga boleh bilang ke siapapun tentang semua ini di kampus nanti! Karena tidak ada yang mengetahuinya selain aku dan Mita." Pinta Sari kepada Leon.
"Iya aku janji." Jawab Leon penuh keyakinan.
Raut wajah Maik begitu penasaran menunggu apa yang ingin di katakan oleh Sari. Dia penasaran bukan ingin tahu siapa orang itu. Tapi dia ingin mengetahui tentang apa yang di lakukan Bela terhadap kandungannya dari mulut Sari, orang yang sangat dekat dengan Bela.
Maik sudah bisa pastikan orang yang di maksud Sari itu adalah Bela. Tapi dia tidak ingin berkomentar sama sekali, karena orang-orang yang ada bersamanya saat itu, tidak mengetahui apa-apa tentang dia dan Bela, termaksud Sari.
__ADS_1
"Sebenernya Bela itu bukan singgel, dia itu sudah pernah menikah dan memiliki seorang putri. Putrinya bernama Enjel. Dia anak yang sangat cantik juga lucu." Sari berkata-kata sambil tersenyum membayangkan Enjel, yang sangat lucu dan menggemaskan itu.
Detakan jantung yang berdetak tak menentu sejak tadi, seketika ingin keluar dari dalam rongga dada Maik saking terkejut dengan apa yang di katakan oleh Sari. Maik tidak percaya dengan semua kenyataan yang bertolak belakang, dengan apa yang dia dengar dari keluarganya sekian lama.
"Terus,, suaminya di mana? Ko aku tidak pernah melihat dia bersama laki-laki. Bahkan di apartemen dia hanya sendirian." Tanya Leon ingin tahu.
"Jangankan kamu, aku saja ngga pernah melihat suaminya. Dan aku juga ngga ingin lihat laki-laki brengsek seperti itu." Ujar Sari yang membuat ketiga laki-laki yang ada bersamanya jadi menatapnya bingung.
"Meksud kamu apa?" Tanya Maik tiba-tiba yang membuat Sari jadi bingung.
"Maksud aku, memangnya apa yang di lakukan suaminya?" Tanya Maik dengan berusaha tenang. Namun tangannya yang berusaha melonggarkan dasi di lehernya, dan pancaran mata tajamnya menunjukan betapa dia sangat serius ingin mengetahui sesuatu.
"Suaminya lebih memilih wanita lain, dan mencapakan dirinya yang lagi mengandung saat itu. Dan karena itu, sehingga keluarganya memilih untuk memberitahukan kepada keluarga suaminya, kalau mereka sudah menggugurkan kandungannya." Jelas Sari yang membuat Maik seperti tersambar petir di siang bolong saking kagetnya.
__ADS_1
Maik tidak menyangka, semua yang di ketahuinya selama ini, hanyalah suatu karangan karena kesalahpahaman. Dan dia sangat menyesali kebodohannya yang sama sekali tidak menyadari, dan tidak mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Tanpa menunggu lama, Maik pun segera berdiri dari duduknya, dan beralasan kalau dia harus pulang secepatnya karena ada yang sedang menunggunya di hotel tempatnya menginap. Sampainya di luar, Mauk dengan buru-buru langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil ke suatu tempat dengan kecepatan tinggi.
************
Kejadian yang membuat guncangan dahsyat di dalam diri wanita rapuh itu, membuatnya menyusuri jalanan yang penuh hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang dengan berlinang air mata. Bela tak kuasa menahan sakit hatinya mengetahui apa yang selama ini hanya dia dengar dari keluarganya.
Ingin sekali tak percaya, tapi kata-kata yang sangat nyata di telinganya, membuat dia kembali terluka semakin parah. Bela memilih pulang ke apartemennya dengan berjalan kaki. Dia tidak naik kendaraan umum seperti biasanya, karena tidak sanggup bertatap muka dengan orang lain dengan keadaan seperti itu.
Sampainya di depan apotik tempat kerja Bela, Maik langsung menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, setelah melihat apotik itu sudah di tutup. Maik ingin sekali menemui Bela dan memintanya untuk menjelaskan semua, yang tidak dia ketahui selama ini. Bodohnya Maik, dia sama sekali tidak meminta alamat apartemen Sari, karena apartemen Sari bersebelahan dengan kamar apartemen Bela. Dengan tampang kebingungan juga kekesalan atas kebodohannya, Maik kembali menjalankan mobilnya sambil berkata-kata sendirian.
"Mengapa aku bisa sebodoh ini? Bagaimana aku bisa mencarinya kalau aku saja tidak tahu alamat tempat tinggalnya." Maik berkata-kata sendirian sambil terus menjalankan mobilnya.
Maik ingin menemui Bela, bukan karena dia ingin kembali bersama Bela. Tapi dia ingin mengetahui kabar tentang putrinya yang selama ini Bela dan keluarganya sembunyikan. Rasa kesal di dalam hati Maik terhadap Bela tidak berkurang sedikitpun, walaupun sudah mengetahui cerita dari Sari. Dia sangat merasa kesal karena tidak terima dengan Bela, yang sudah menyembunyikan Enjel darinya.
__ADS_1