Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 38. Mencari Tanpa Tujuan.


__ADS_3

Menyusuri jalan tanpa tujuan, Maik melajukan mobilnya mencari keberadaan Bela. Namun hampir satu jam dia lalu lalang dengan mobil mewahnya, tidak ada sedikitpun jejak yang dia temui. Akhirnya dia pun memutuskan untuk segera pulang ke hotel tempat dia menginap. Tapi di saat dia mau memutar balik mobilnya, matanya sekilas tertuju pada seseorang, yang berada di dalam sebuah taksi yang baru saja lewat.


Tanpa berpikir panjang, Maik memilih untuk segera mengikuti taksi yang sudah melaju di depan sana. Maik melajukan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi, mengejar Sari yang berada di dalam taksi itu. Dalam pikirannya, hanya Sari orang yang bisa membawanya menemui Bela. Setelah berada di samping mobil itu, Maik langsung memanggil Sari, dan membuat Sari seketika kaget melihat Maik di dalam mobil mewah di sebelah taksi yang dia tumpangi.


"Sari... Sari tolong berhenti!" Suara teriakan Maik yang begitu kencang.


"Pak Maik." Kata Sari bingung.


"Pak,, tolong berhenti!" Ujar Sari yang membuat supir taksi itu menepi di samping jalan.


Maik pun segera menepikan mobilnya dan keluar menghampiri Sari yang sedang berdiri di samping taksi. Sari begitu bingung melihat laki-laki super tampan dan kaya itu menemuinya. Dia merasa seperti mimpi di kejar oleh orang berpengaruh seperti Maik.


"Kamu mau pulang?" Tanya Maik setelah berada di dekat Sari.


"I,,, iya Pak." Jawab Sari gugup.


"Biar aku antar." Ujar Maik yang membuat Sari semakin kebingungan.


"Ya Tuhan,, apa ini mimpi? Mengapa Pak Maik mengejar aku?" Sari bertanya-tanya dalam hatinya.


"Pak,, aku bisa ko naik taksi." Ujar Sari sambil menatap wajah tampan di depannya itu.


"Biar aku saja yang mengantarmu, karena aku ingin menanyakan sesuatu sama kamu." Perkataan Maik yang membuat Sari seketika jadi ketakutan.


Melihat sikap Maik yang terkesan memaksa, membuat Sari jadi ketakutan. Dalam pikirannya Sari berpikir, kemungkinan Maik ingin memberitahukan apa yang mereka bicarakan tadi di apartemen Endru, kepada teman-temannya di apartemen nanti. Dengan tampang ketakutan, Sari kembali menolak ajakan Maik untuk mengantarnya pulang.

__ADS_1


"Aku tidak ingin merepotkan Pak Maik, jadi biar aku pulang sendiri saja." Ujar Sari.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan! Aku hanya ingin menanyakan sesuatu sama kamu." Ujar Maik yang membuat Sari yang sudah semakin menegang jadi bernafas lega.


"Ooo,,, begitu ya Pak? Ya udah kalau gitu aku bayar dulu ongkos taksinya." Ujar Sari sambil tersenyum ramah.


"Biar aku saja yang bayar ongkos taksinya." Sambung Maik sambil mengeluarkan dompetnya dan langsung membayar ongkos taksinya, kepada supir yang sejak tadi hanya terdiam di dalam taksi.


"Pak,, ini kembaliannya." Kata supir taksi itu sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


"Ambil saja kembaliannya!" Kata Maik sambil melangkah menuju mobilnya.


Maik melajukan mobilnya mengikuti arah jalan yang di tunjuk oleh Sari. Setelah mobil mereka melaju beberapa meter di jalanan yang terlihat mulai sepi, Sari yang begitu penasaran dengan apa yang mau di tanyakan oleh Maik, mencoba untuk memulai percakapan.


"Aku ingin menanyakan tentang sahabatmu, yang tadi sempat kamu ceritakan di apartemen Endru." Kata Maik sambil terus menatap lurus ke depan.


Mendengar apa yang di katakan oleh Maik, Sari langsung terdiam dengan tampang yang terlihat kaget. Dia begitu kaget juga bingung dengan Maik, yang ingin mengetahui tentang Bela sahabatnya.


"Maksud Pak Maik Bela?" Tanya Sari dengan tatapan kebingungan ke arah Maik.


"Iya. Aku ingin tahu tentangnya." Jawab Maik.


"Apa yang ingin Pak Maik ketahui tentang dia?" Tanya Sari yang semakin kebingungan.


"Aku ingin tahu semua tentang dia." Jawab Maik yang membuat Sari semakin kebingungan.

__ADS_1


Sari begitu bingung dengan makhluk Tuhan yang paling tampan di sampingnya itu. Yang begitu ingin tahu tentang Bela hanya sekali bertatap muka di apotek tadi. Dia tidak menyangka Bela bisa semudah itu, membuat laki-laki yang sangat sempurna seketika jadi penasaran terhadapnya.


"Apa kamu bisa ceritakan semua tentang dia padaku?" Suara Maik yang membuat Sari tesadar dari kebingungannya.


"Bisa ko pak." Jawab Sari.


"Tolong ceritakan sekarang juga." Ujar Maik sambil menatap Sari sebentar dan kembali fokus menyetir.


"Bela itu gadis yang baik juga mandiri. Dia kuliah di sini karena beasiswa, sama seperti aku dan satu orang sahabatku lagi yang bernama Mita." Jelas Sari.


Dan di saat Maik ingin kembali bertanya, tiba-tiba ponsel Sari berdering yang membuat Maik harus menunggu. Melihat nama Bela di layar ponselnya, Sari langsung tersenyum sambil berkata.


"Pak Maik,, aku jawab telpon Bela dulu ya." Ujar Sari sambil menatap Maik.


"Iya,, tapi jangan katakan apapun tentang aku." Ujar Maik dan Sari hanya mengangguk sambil tersenyum.


Maik memilih untuk tidak bersuara di saat Sari sudah menjawab telepon dari Bela. Maik tidak ingin Bela menyadari kedatangannya dan menghindar darinya. Tapi tiba-tiba Sari mengatakan sesuatu, yang membuat Maik seketika terkejut dan menegang.


"Apa...? Anakmu sakit parah..?" Suara Sari yang membuat mata Maik langsung terbelalak.


Tanpa menunggu lama, Maik langsung menambah kecepatan mobilnya. Dan apa yang di lakukan Maik itu membuat Sari yang sedang berbicara dengan Bela, jadi ketakutan dan memilih untuk mengakhiri pembicaraannya dengan Bela.


"Oke,, sebentar lagi aku sudah sampai." Kata Sari dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Sari sama sekali tidak curiga dengan sikap Maik. Dia hanya berpikir, Maik melajukan mobilnya karena tahu kalau dia ingin segera sampai di apartemennya, menemui Bela yang sedang membutuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2