
"Bela,, kamu sudah terlalu banyak salah paham sama aku. Makanya kamu itu jangan suka berburuk sangka sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." Main tetap bersabar, berusaha meyakinkan Bela yang masih berada di bawah tubuhnya.
"Apa maksud kamu?? Aku punya mata juga telinga Maik. Aku bisa melihat dan mendengarkan apa yang kamu minta di apotik malam itu." Bela tetap saja percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tes kehamilan itu aku beli buat Leon, untuk digunakan sama kekasihnya yang tidak lain adalah sahabat kamu sendiri. Sahabat kamu itu sudah mengandung anak Leon. Dan Leon itu adik dari Endru sahabat aku."
"Maksud kamu Sari??" Bela seketika kaget.
"Ya siapa lagi sahabat kamu yang punya hubungan dengan Leon?"
"Tapi aku tetap nggak bisa melakukan apa yang dianjurkan Dokter. Kamu punya wanita itu. Aku nggak mau merebut kekasih orang. Karena aku juga pernah merasakan sakit, kehilangan orang yang aku cintai."
"Bela, wanita itu sudah aku tinggalkan. Aku nggak pernah mencintainya. Dan sampai saat ini aku adalah suami kamu. Kita nggak pernah bercerai kan?" ucapan Edward yang membuat Bela terdiam, menatapnya dengan bendungan air mata yang siap meluncur membasahi wajah.
"Aku masih memiliki cinta yang sama. Aku tersiksa saat berpisah dengamu. Selama beberapa tahun aku hidup tanpa arah dan tujuan. Dan semua itu karena orang tuamu, yang begitu tega memisahkan kita tanpa memikirkan bagaimana keadaan anak di dalam kandungan kamu. Bahkan mereka membohongi ku juga kedua orang tuaku, kalau kamu mengalami keguguran."
"Aku yang lebih menderita. Aku menjalani kehamilan selama sembilan bulan tanpa kehadiran mu. Aku hanya bisa menyebut namamu di dalam hati, saat merasakan sakit melahirkan Angel. Setelah dia lahir, hampir setiap malam aku menangis mengingat dirimu. Aku benar-benar menyedihkan disaat itu. Hiks,, hiks,, hiks." Bela berkata-kata sambil meneteskan air mata.
Maik pun tak sanggup menahan kesedihannya mendengar cerita Bela. Dia benar-benar menyesali masa lalu yang sudah lewat dengan berjuta derita. Hanya kata maaf yang terlontar dari bibirnya. Dia mendekap tubuh Bela, mengecup kening sambil terus meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan aku yang telah gagal sebagai suami dan seorang Ayah. Aku bersumpah, akan menebus semuanya. Jadi tolong, tetaplah bersamaku apapun yang terjadi. Kita memulai semuanya dari awal."
"Kamu mau kan?" tanya Maik, dan Bela langsung mengangguk sambil mendekap erat tubuh kelarnya.
"Mau apa?" Maik kebali bertanya.
"Tetap bersamamu," jawab Bela sambil menatap Maik yang sudah bangkit dari atas tubuhnya.
"Terus, kamu mau nggak punya anak lagi denganku demi kesembuhan Angel." Bela lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
"Aku butuh jawaban. Bukan anggukan kepala."
"Iya, aku mau punya anak denganmu. Tapi, aku mau tanya satu hal."
"Selama kita berpisah, kamu pernah nggak tidur sama wanita lain. Karena aku nggak pernah melakukan itu. Hidupku hanya untuk Angel. Aku bahkan tidak punya rasa untuk pria mana pun," ujar Bela sembari memalingkan muka.
"Aku tidak pernah melakukan itu. Karena hanya kamu yang aku inginkan." Maik memberi jawaban, dan kembali mendaratkan ciuman di kening Bela.
"Kamu nggak bohong kan?" tanya Bela memastikan.
__ADS_1
"Aku bersumpah, kalau aku bohong, aku akan ditabrak.." kata-kata Maik seketika terhenti, karena mulutnya di bungkam oleh Bela menggunakan sebelah tangannya.
"Jangan bicara sembarangan. Aku dan Angel hanya punya kamu saat ini. Aku pun akan mati, kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu." Ucapan Bela yang membuat Maik kembali mendekap nya ke dalam pelukan.
"Aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar tersiksa saat kehilanganmu. Di saat keinginan batinku datang, aku selalu membayangkan dirimu, sambil memuaskan diriku sendiri. Aku melakukan itu, karena tidak ingin punya wanita lain selain dirimu."
"Maik,, maafkan kedua orang tuaku. Aku berjanji akan tetap bersamamu, sampai maut yang memisahkan kita." Dengan berderai air mata Bela mengucapkan janji.
Betapa bahagianya Maik dan Bela, bisa saling mengungkapkan semua tentang kehidupan masing-masing saat tidak bersama. Kesalahpahaman yang telah ada sekian lama, seketika musnah dalam sekejap. Mereka tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Mereka telah berjanji, bahkan bersumpah untuk tetap bersama selamanya.
Selesai mempersiapkan semuanya, Bela langsung buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan tubuh dibawah guyuran air shoer dengan posisi menghadap dinding. Tapi tiba-tiba, dipun dikagetkan dengan suara Maik tepat di belakangnya.
"Tubuhmu semakin indah."
"Maik,, kok kamu,, kamu kenapa masuk?? Aku, aku,," Bela seketika panik. Buru-buru dia meraih handuk untuk menutupi tubuhnya. Tapi Maik langsung menariknya, dan membuangnya sembarangan.
"Kita ini suami istri. Dan ini bukan kali pertama aku melihatmu dalam keadaan seperti ini," ujar Maik sambil melangkah mendekat ke arah Bela, yang sedang berusaha menutupi bagian sensitif nya menggunakan tangan.
"Dan kamu juga melihat semua di dalam diriku," lanjut Maik sembari menarik handuk yang masih melingkar di pinggangnya, dan membuangnya sembarangan.
__ADS_1
"Maik,, aku,, aku." Mulut Bela pun terbungkam dengan ciuman Maik yang begitu buas.
Tidak butuh waktu lama untuk Bela mengimbangi permainan Maik. Karena dia pun sangat merindukan sentuhan satu-satunya pria yang pernah memberikannya kenikmatan duniawi, sampai hadirnya Angel. Mereka saling beradu bibir di bawah guyuran air. Dan setelah puas, Maik langsung menggendongnya melangkah keluar menuju tempat tidur.