
Malam itu udara terasa begitu dingin menembus tulang. Bela yang begitu terpuruk dalam musibah yang sedang dia hadapi, mendekap tubuh mungil putrinya dengan penuh kasih sayang di atas tempat tidur RS. Kesedihan Bela tidak dapat tertahankan melihat kondisi putrinya yang semakin memburuk. Dia seperti berada di ambang kematian melihat kesakitan yang di tanggung putrinya. Walaupun waktu sudah semakin larut, namun Bela belum juga bisa untuk tertidur walau hanya sesaat. Dengan deraian air mata yang membasahi wajah cantiknya, Bela mulai berkata-kata di dalam hatinya.
"Ya Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelamatkan nyawa putriku? Aku sama sekali tidak berdaya menanggung semua beban ini. Kalau bisa aku gantikan, biarlah aku yang tanggung semua rasa sakitnya. Karena aku lebih menderita menyaksikan putriku terbaring tak berdaya seperti ini."
Bela yang semakin tenggelam di dalam kesedihannya, hanya bisa mengeluarkan suara hatinya dengan berderai air mata. Tapi tiba-tiba dia di kagetkan dengan suara ketukan pintu.
"Siapa yang datang di tengah malam seperti ini? Apa itu Papa?" Bela bertanya-tanya sambil turun dari tempat tidur dengan perlahan-lahan.
"Tok...Tok...Tok..
"Untuk apa kamu datang ke sini? Pergi sana..!" Ujar Bela setelah melihat Maik yang sedang berdiri di depan pintu.
"Aku ingin melihat keadaan putriku." Jawab Maik sambil menatap Bela dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Pergi sana..! Enjel tidak membutuhkan dirimu ada di sini." Ketus Bela sambil memalingkan mukanya.
"Aku mohon Bela.. Tolong izinkan aku melihat dia. Walaupun hanya sebentar saja." Pinta Maik dengan tatapan memohon.
"Tidak.. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk melihatnya. Pergi kamu dari sini! Dan jangan pernah datang lagi!" Ujar Bela sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya.
Sekuat apapun Bela menyembunyikan kesedihannya, tapi tetap di ketahui Maik yang sudah sangat mengenali, sifat wanita yang pernah ada di dalam hidupnya itu. Hati Maik seketika berkecamuk di saat melihat sisa air mata yang ada di samping kelopak mata Bela. Ingin sekali dia menghapusnya dengan jari tangannya. Namun menyadari situasi yang sudah tidak seperti dulu lagi, membuat Maik tidak dapat melakukan semua itu.
__ADS_1
"Bela,, aku janji akan pergi dari hidupmu untuk selamanya. Tapi tolong izinkan aku untuk melihat darah daging ku sendiri." Permohonan Maik yang membuat hati Bela semakin tidak kuasa menahan jeritan hatinya.
"Kemana saja kamu selama ini..? Di mana kamu berada di saat aku memperjuangkan hidup dan mati demi melahirkan anakmu..? Aku sangat membencimu... Hiks...hiks...hiks.." Suara Bela yang membuat Enjel jadi kaget dari tidurnya.
"Ma... Mama... Hiks...hiks...hiks..." Suara tangusan Enjel yang terdengar begitu lemah.
"Iya sayang..." Jawab Bela dan langsung berbalik. Kemudian melangkah sambil buru-buru menghapus air matanya.
"Mama kenapa berteriak..?" Tanya Enjel dengan berderai air mata.
"Mama ngga apa-apa sayang." Jawab Bela dan langsung mendekat tubuh putrinya.
Melihat mata biru yang mengeluarkan kristal bening di dalam pelukan Bela, seketika membuat seluruh tubuh Maik lemas tak berdaya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hati Maik terasa sangat perih melihat wajah mungil yang begitu pucat menangis di dalam dekapan Bela. Dengan perlahan-lahan, Maik melangkah mendekat sambil memanggil nama Bela.
"Bela.." Suara Maik yang sudah berada tepat di belakang Bela.
"Bela,, aku mohon jangan seperti ini..!" Pinta Maik yang membuat Bela langsung berbalik menghadapnya, tanpa melepaskan Enjel dari dalam pelukannya.
"Maik,, aku mohon pergilah! Lupakan kami! Tolong jangan kau ganggu aku lagi! Karena kamu juga akan memiliki kehidupan baru." Ujar Bela sambil meneteskan air mata.
"Ma,, Mama kenapa nangis..? Apa Om ini mau menyakiti Mama?" Tanya Enjel yang juga ikut menangis karena melihat keadaan Bela.
Mendengar kata Om yang keluar dari mulut putrinya sendiri, begitu menyakitkan hati Maik sebagai seorang Ayah. Air mata yang sudah terbendung di bola matanya langsung tumpah seketika. Hatinya begitu hancur mendengar sebutan itu.
"Ma,, aku takut.." Ujar Enjel sambil menatap Maik dengan tampang ketakutan.
__ADS_1
"Tidak sayang. Om tidak akan menyakiti Mama ataupun kamu. Om hanya ingin melihat keadaanmu dan Mama." Maik berkata-kata mencoba menenangkan Enjel.
"Tapi mengapa Mama menangis? Aku mohon,, Om jangan sakiti Mama. Karena aku sangat menyayangi Mama." Ujar Enjel yang membuat hati Maik terasa begitu sakit.
"Om tidak menyakiti Mama ko sayang. Om ini hanya ingin melihat putrinya yang juga di rawat di sini." Bela terpaksa berbohong agar Enjel tidak ketakutan melihat situasi saat itu.
"Kamu di sini dulu ya,,! Mama mau mengantar Om ini menemui putrinya." Ujar Bela yang membuat hati Maik semakin hancur.
"Iya Ma.. Tapi Mama jangan lama ya..!" Jawab Enjel dengan kata yang belum terlalu jelas.
"Ayo aku antar Pak!" Ujar Bela sambil menarik tangan Maik.
"Om pergi dulu ya sayang.. Kamu baik-baik ya.. Om berdoa biar kamu cepat sembuh." Ujar Maik dan langsung melangkah mengikuti Bela dengan tampang yang begitu menyedihkan.
Maik yang selalu terlihat tegar menghadapi semua masalah, seketika di selimuti kesedihan yang tak bisa dia kendalikan. Perih luka yang berdarah, tidak sebanding dengan perih di hatinya saat itu. Menyaksikan derita putrinya sendiri, tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi biarpun begitu, dia tetap berusaha untuk memohon kepada Bela sambil bersujud.
"Apa yang kamu lakukan..?" Tanya Bela kaget karena melihat Maik sudah bersujud di kakinya.
"Bela,, aku mohon Bela..! Tolong izinkan aku untuk bisa membantumu menyembuhkan putri kita. Apa kamu tega melihatnya dalam keadaan seperti itu..? Tolong Bela..! Aku berjanji akan pergi sejauh mungkin setelah dia sembuh nanti." Ujar Maik sambil berlutut memohon pengertian Bela.
"Tidak Maik. Aku tidak bisa mengizinkanmu untuk berada di samping Enjel. Karena kalau aku melakukan itu, sama saja dengan aku melukai kedua orang tuaku, yang sudah banyak berkorban demi aku juga putriku." Tolak Bela namun Maik tidak menyerah begitu saja.
"Bela,, aku mohon sekali ini saja, tolong izinkan aku untuk melakukan sesuatu kepada Enjel. Aku bersumpah tidak akan pernah hadir di kehidupan kalian lagi, kalau dia sudah sembuh dari penyakitnya." Ujar Maik berusaha meluluhkan hati Bela yang sudah sekeras batu.
"Tolonglah Maik.. Tolong mengerti keadaanku..! Tanpa kedua orang tuaku, mungkin aku dan putriku yang saat itu berada di dalam kandunganku, sudah mati karena di tinggalkan olehmu. Aku tidak bisa menerima kehadiranmu semudah itu, setelah semuanya sudah terjadi." Jawab Bela tanpa mau menatap Maik yang masih terus berlutut di kakinya.
__ADS_1
Bela yang sudah terlanjur sakit dengan Maik yang tidak mau mengakui kehamilan wanita itu, membuatnya tidak bisa untuk menerima Maik kembali, walaupun Maik sudah bersimpuh di kakinya. Apalagi dia sangat mengingat jasa kedua orang tuanya. Yang sudah banyak berkorban demi dirinya, setelah Maik pergi dari kehidupannya beberapa tahun yang lalu.