
Kekecewaan yang sangat mendalam, membuat Bela melangkah menyusuri jalanan dengan berderai air mata. Luka yang masih membekas di dalam hatinya terasa begitu perih. Sehingga dia tidak merasakan lelah melangkahkan kakinya sejak tadi, menuju apartemennya seorang diri. Bela begitu sangat sedih mengetahui Maik akan punya anak dari wanita lain, tanpa pernah tahu keberadaan Enjel putrinya yang malang.
Walaupun sudah berusaha untuk melupakan Maik selama beberapa tahun, namun Bela tidak mudah untuk menghapus semua cerita yang pernah ada di antara mereka berdua. Apalagi cerita cinta mereka, sudah menghadirkan seorang malaikat kecil yang sama sekali tidak berdosa.
Bela juga ingin seperti wanita lain, yang memiliki pelindung untuk dirinya juga Enjel putri cantiknya. Namun semua itu tidak membuat Bela membuka hatinya kepada laki-laki lain. Di dasar hati yang paling dalam, Bela berharap putrinya itu bisa melihat sosok ayahnya, walau hanya dari kejauhan. Tapi setelah mengetahui kalau Maik akan memiliki anak dari wanita lain, Bela langsung bertekad merahasiakan sosok Maik dari Enjel untuk selamanya.
Sampainya di apartemen, Bela yang sudah berhenti menangis memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan setelah berada di dalam kamar, dia kembali menangis setelah melihat foto putrinya, yang dia letakan di atas meja samping tempat tidurnya. Dengan berderai air mata, Bela pun meraih foto itu dan terduduk di tepi ranjang, dengan tampang yang terlihat sangat menyedihkan.
"Sayang,, Mama sangat merindukan dirimu. Kamu baik-baik di sana ya sayang!" Bela berkata-kata sendirian di dalam kamarnya, sambil mengusap-usap foto putrinya dengan air mata yang bercucuran.
Hati Bela bagai teriris menatap wajah polos yang ada di dalam foto itu. Dia menatap wajah lucu putrinya yang sedang tersenyum di dalam bingkai, dengan kristal bening yang menetes tiada henti. Tapi tiba-tiba dia langsung di kagetkan dengan suara seekor kucing peliharaannya, di depan pintu kamarnya. Sehingga membuat foto Enjel terjatuh dari tangannya tanpa di sengaja.
Bela yang masih saja terduduk di tepi ranjang, hanya menatap bingkai foto putrinya yang sudah hancur berserakan di lantai, dengan mata yang terbelalak, dan kedua tangan menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
Perasaan khawatir seketika menyelimuti hati Bela. Dia takut telah terjadi apa-apa dengan putri kecilnya di Indonesia. Dan tanpa menunggu lama, Bela pun langsung mengambil ponsel di dalam tasnya, kemudian menghubungi Mamanya. Bela menelpon Mamanya berulang-ulang namun tidak ada jawaban sama sekali. Dan itu membuat dia semakin khawatir. Karena tidak di jawab oleh Mamanya, akhirnya Bela menghubungi nomor kakak laki-lakinya, untuk menanyakan kabar orang tuanya juga putri kecilnya. Baru beberapa kali berdering, teleponnya langsung di jawab oleh kakaknya Fikra.
__ADS_1
"Halo Kak..!" Sura Bela memanggil Fikram Kakaknya setelah telpon tersambung.
"Halo Bel,," Jawab Fikram yang terdengar begitu tidak bersemangat.
"Kak,, ko suara kakak aneh? Ada apa?" Tanya Bela.
"Ngga ada apa-apa. Kamu kuliah yang rajin ya! Kakak harap apapun yang terjadi nanti, kamu bisa tegar menghadapinya." Kata Fikram yang membuat Bela merasa ada yang aneh.
"Kakak,, sebenarnya ada apa sih? Ko kakak ngomongnya aneh." Tanya Bela semakin khawatir.
Sebenernya Fikram sendiri tidak tega harus membohongi Bela. Tapi dia terpaksa harus melakukan itu demi mengikuti kemauan orang tuanya.
Tanpa Bela ketahui, ternyata putrinya sedang mengalami sakit yang sangat serius sudah dua bulan ini. Enjel malaikat kecil yang tidak berdosa itu, sedang di rawat di RS sudah hampir seminggu. Dan Anggota keluarga Bela setiap hari bergantian untuk menjaganya, karena kondisinya semakin lemas dan butuh perawatan intensif.
Sebagai seorang Ibu, Bela memiliki firasat yang sangat tajam terhadap putrinya. Dia tidak percaya begitu saja dengan perkataan kakaknya, namun dia juga tidak ingin memaksa Fikram untuk mengatakan yang sebenarnya. Karena dia sangat yakin, Fikram pasti di larang untuk memberitahukan dia tentang apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan Fikram, Bela memutuskan untuk segera menghubungi seorang kakak kelasnya waktu SMA, yang kebetulan bertetangga dengan rumah orang tuanya. Dan dari temannya itulah, Bela mengetahui sesuatu yang membuatnya hampir tidak bisa bernafas saking terkejut, dengan apa yang dia dengar.
"Halo kak Fira,," suara Bela memanggil nama kakak kelasnya itu setelah telponnya tersambung.
"Halo Bel,, Bela ko kamu ngga pulang? Anakmu kan lagi sakit parah!" Perkataan Fira yang membuat Bela terkejut.
"Apa..? Putriku sakit..? Memangnya dia sakit apa..?" Tanya Bela dengan air mata yang sudah membendung memenuhi kelopak matanya.
"Aku juga ngga tahu dia sakit apa. Tapi sudah hampir seminggu dia di rawat di RS." Jawab Fira yang membuat air mata Bela langsung meluncur membasahi wajah cantiknya.
"Makasih ya kak, kamu sudah beritahu aku." Kata Bela dengan nada suara terbata-bata, karena dia sudah menangis memikirkan keadaan putrinya.
"Sudah dulu ya kak,, aku mau telpon Mama aku dulu." Kata Bela dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Bela menelpon Mamanya sambil menangis tak tertahankan. Dunianya seakan-akan mau runtuh mendengar kabar putrinya yang sedang sakit. Apalagi di saat seperti itu dia tidak ada di sana untuk mendampingi putrinya. Rasa-rasanya Bela ingin pulang malam itu juga untuk melihat keadaan putrinya. Namun dia bukanlah seekor burung yang bisa terbang melintasi samudra luas. Akhirnya dia hanya bisa menangis sendiri di dalam kamar apartemen yang begitu sepi.
__ADS_1