Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 50. Berada Dalam Situasi Yang Sulit.


__ADS_3

Kisah pahit yang pernah di alami Bela beberapa tahun yang lalu, membuatnya tidak semudah itu bisa percaya dengan apa yang Maik katakan barusan. Dia yakin Maik pasti ingin menyangkal kalau calon istrinya sedang mengandung darah dagingnya. Sedangkan Maik yang begitu kaget dengan apa yang di katakan oleh Bela, hanya terdiam dengan tampang kebingungan.


"Hmmm,, kamu pikir semuda itu kamu bisa membodohi ku? Aku bukan Bela yang dulu. Bela yang selalu percaya dengan semua kata-kata palsu yang keluar dari mulutmu." Ujar Bela yang membuat Maik semakin bingung.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Memangnya aku sedang berbohong tentang apa?" Tanya Maik sambil menatap Bela dengan kening yang berkerut.


"Mengapa kamu tidak mau jujur kalau calon istrimu itu sedang mengandung anakmu? Apa kamu pikir aku akan marah? Aku sekarang bukan siapa-siapanya kamu. Jadi buat apa aku harus marah?" Ujar Bela sambil menatap Maik dengan tatapan yang sangat tajam.


"Tapi semua yang aku katakan itu memang kenyataan yang terjadi. Buat apa juga aku harus berbohong sama kamu?" Ujar Maik.


"Maik,, Maik.. Mana mungkin laki-laki rakus seperti dirimu tidak pernah berciuman dan meniduri wanita? Kamu pikir aku ini bodoh?" Ujar Bela yang tetap percaya pada apa yang dia lihat dengan mata kepalanya.


"Aku sudah tahu semuanya. Wanita itu sudah menjadi tunangan mu selama dua tahun. Dan aku juga tahu kalau dia sedang mengandung darah daging mu." Tambah Bela yang tidak melepaskan pandangannya dari Maik.


"Aku tidak menyangkal kalau aku dan dia memang sudah bertunangan selama dua tahun. Tapi kalau untuk urusan anak, aku berani bersumpah kalau itu sama sekali tidak benar." Ujar Maik sambil menatap Bela dengan tampang yang semakin bingung.


"Terus,, buat apa kamu membeli alat tes kehamilan di apotek malam itu? Mau buat siapa lagi kalau bukan untuk calon istrimu." Bela berkata-kata sambil berbalik membelakangi Maik.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Bela, membuat Maik jadi sadar mengapa Bela bisa berpikir seperti itu. Tapi dia juga jadi serba salah untuk mengatakan yang sebenarnya. Sambil mencakar-cakar rambutnya, Maik pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.

__ADS_1


"Astaga... Apa yang harus aku katakan? Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena aku sudah berjanji untuk menyimpan semua itu. Tapi kalau aku tidak mengatakan yang sebenarnya, Bela akan tetap salah paham terhadapku."


"Mengapa kamu diam? Jangan pernah berpikir untuk membodohi ku lagi. Aku tidak akan pernah tertipu dengan kata-kata, yang keluar dari mulut laki-laki bajingan seperti dirimu untuk yang kesekian kalinya." Ujar Bela dan langsung melangkah pergi meninggalkan Maik.


Bela begitu sangat kecewa dengan sikap Maik yang selalu berusaha untuk membohongi dirinya. Padahal dia sendiri sudah siap menerima kenyataan, kalau Maik mau berkata jujur. Karena baginya saat itu hanyalah keselamatan putri kecilnya. Dia tidak perduli walaupun Maik harus menikah dengan wanita itu di depan matanya. Dengan penuh kemarahan, Bela langsung memilih untuk kembali ke RS menggunakan sebuah taksi, yang dia tumpangi dari depan hotel tempat Maik menginap.


Sedangkan Maik yang masih berada di dalam kamar hotel tempatnya menginap, hanya terdiam sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan demi menyelamatkan putrinya. Maik yang berada di dalam situasi serba salah, begitu bingung dengan masalah yang sedang dia hadapi. Tapi dia juga tidak bisa tinggal diam mengetahui keadaan Enjel yang sedang sekarat, karena penyakit turunan dari keluarganya.


"Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku memberitahukan yang sebenarnya. Tapi aku juga tidak bisa tinggal diam di saat putriku sedang sekarat." Maik berkata-kata sambil mencakar-cakar rambutnya sendiri.


"Sayang,, dari mana saja kamu?" Tanya Intan kepada putrinya yang baru saja datang.


"Aku dari rumah teman Ma." Jawab Bela berbohong dan langsung melangkah mendekati putrinya, yang sedang terlentang di atas tempat tidur RS sambil tersenyum menatapnya.


"Ma,, Mama sudah datang..? Mana oleh-oleh buat aku Ma..?" Tanya Enjel dengan kata-kata yang terdengar tidak terlalu jelas.


"Mama datangnya buru-buru. Jadi Mama ngga sempat beli. Tapi Mama janji besok akan membelinya." Jawab Bela sambil menahan air matanya yang sudah terbendung memenuhi kelopak matanya.


"Ma,, jangan nangis! Aku ngga apa-apa ko. Biar ngga ada oleh-oleh, asalkan Mama sudah ada di sini." Ujar Enjel sambil menghapus air mata yang sudah menetes membasahi wajah Bela.

__ADS_1


"Iya sayang. Mama ngga akan nangis." Jawab Bela sambil mendekap tubuh kecil putrinya.


Melihat keadaan Bela yang berpura-pura kuat di depan putrinya, hati Intan sebagai seorang Ibu terasa sakit karena tidak tega, menyaksikan penderitaan Bela yang tidak kunjung usai. Begitupun dengan Ferdi Papanya Bela yang juga ada di situ. Tapi biarpun begitu, Ferdi tetap pada prinsipnya untuk tidak mau meminta bantuan Maik Ayah kandung cucunya.


"Bela,, kalau kamu capek, biar Mama sama Papa saja yang menemani Enjel di sini." Ujar Intan.


"Ngga usah Ma,, biar aku saja yang menemani Enjel. Mama sama Papa pulang saja. Lagian anaknya Mas Fikram kan juga lagi sakit di rumah." Jawab Bela sambil menatap kedua orang tuanya.


"Iya Nek,, aku sama Mama saja di sini. Soalnya aku masih kangen sama Mama." Sambung Enjel dengan suara yang sangat bergetar.


"Kamu yakin mau temani Enjel sendirian?" Tanya Ferdi Papanya Bela.


"Iya Pa,, biar aku saja yang jaga Enjel. Nanti besok baru Mama dan Papa datang lagi." Jawab Bela.


"Ya sudah,, kalau gitu Mama sama Papa pulang dulu. Nanti besok baru kita ke sini lagi. Tapi kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi Mama dan Papa ya..!" Sambung Intan mengingatkan putrinya.


"Iya Ma." Jawab Bela.


Setelah kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan ruang rawat Enjel, Bela kembali mendekap tubuh Enjel dengan penuh kasih sayang bercampur kesedihan. Dia sangat tidak tega melihat keadaan putrinya yang semakin kurus dan terlihat begitu pucat. Apalagi dia tidak tahu dengan cara apa, dia bisa menyembuhkan putri kecilnya itu, dari penyakit yang sedang dia derita. Dengan air mata yang kembali bercucuran, Bela mulai berkata-kata di dalam hatinya.

__ADS_1


"Sayang,, maafkan Mama yang begitu tidak berdaya. Mama sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu. Tapi Mama juga tidak tahu harus berbuat apa? Mama harap kamu bisa bertahan, sampai Mama bisa menemukan cara untuk menyembuhkan mu. Apapun akan Mama lakukan demi keselamatan mu."


Hati wanita mana yang akan kuat melihat darah dagingnya menahan sakit di umur yang masih kecil seperti itu. Apalagi dalam keadaan seperti itu, tidak ada sosok yang bisa di panggil Ayah oleh putrinya. Bela sangat sedih melihat putrinya hidup tanpa Ayah, tidak seperti anak yang lain di luar sana. Tapi dia juga tidak ingin memberitahukan kepada Enjel siapa Ayahnya, dan di mana dia berada. Karena bagi Bela, kehadiran Maik hanya akan mendatangkan masalah dalam keluarganya. Apalagi Maik sekarang sudah menjadi milik orang lain.


__ADS_2