Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 39. Kemarahan Bela.


__ADS_3

Maik melajukan mobilnya dengan pikiran yang sudah sangat kacau, karena mengetahui putrinya yang selama ini di sembunyikan oleh Bela sedang sakit parah. Dia benar-benar marah dengan apa yang di lakukan oleh Bela, yang tega memisahkan Enjel darinya selama beberapa tahun ini. Dengan tampang penuh kemarahan, Maik menambah kecepatan laju mobilnya sambil berkata-kata dalam hatinya.


"Kamu akan merasakan betapa tersiksanya di pisahkan dengan putri kandungmu sendiri. Karena setelah ini, aku akan mengambil hak asuh putriku yang selama ini sudah kau sembunyikan."


Ekspresi Maik seketika membuat Sari yang tidak sengaja melihatnya melalui kaca spion, yang ada di atas kepala mereka jadi bingung namun dia tidak berani untuk bertanya. Duduk bersebelahan dengan orang berkelas seperti Maik, membuat Sari yang cuma dari kalangan biasa merasa begitu tidak nyaman. Apalagi Maik orangnya tidak banyak bersuara.


Maik yang bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan segala kekuasaannya, benar-benar bertekad ingin mengambil hak asuh putrinya. Dan dia tahu Bela tidak akan bisa melawannya. Kemerahan yang begitu besar terhadap Bela dan keluarganya, telah mengalahkan rasa yang pernah ada di dalam hati pria tampan bermata tajam itu.


Tidak berapa lama dalam perjalanan, Maik dan Sari akhirnya memasuki parkiran gedung apartemen yang begitu tinggi. Setelah memarkirkan mobil mewah yang di Kendarainya, Maik langsung melangkah mengikuti Sari dari belakang. Hal itu membuat Sari semakin bingung dan memilih untuk bersuara.


"Pak Maik,, aku bisa ko masuk sendiri. Pak Maik pulang saja!" Ujar Sari yang sudah berbalik menghadap Maik, namun Maik malah melangkah maju sambil berkata.


"Di mana kamar Bela?" Tanya Maik sambil terus melangkah.


Sari yang memperhatikan ekspresi Maik sejak di dalam perjalanan tadi, merasa ada yang aneh di saat Maik menanyakan kamar Bela. Dan di saat dia sedang kebingungan, Maik kembali bersuara yang membuat dia secara spontan langsung menjawab.


"Di mana kamar Bela?" Tanya Maik lagi karena tidak mendengar jawaban Sari.


"Di lantai 5 kamar nomor 50 Pak!" Jawab Sari secara spontan.

__ADS_1


Dengan wajah yang begitu datar, Maik mempercepat langkahnya menuju lift yang ada di depan sana. Dan Sari yang melihatnya langsung berlari mengikutinya, karena dia juga akan menaiki lift itu. Di dalam lift Maik hanya menundukkan kepalanya sambil bersandar di dinding, dengan wajah yang sudah memerah saking emosinya. Sari yang melihatnya semakin bingung bercampur takut. Sari tidak tau pasti apa tujuan Maik ingin menemui Bela. Tapi dia yakin ada kesalahan yang di buat oleh Bela, sehingga laki-laki terhormat itu bisa mencarinya. Sambil melirik Maik dengan tampang ketakutan, Sari pun mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


"Sebenernya apa yang sudah di lakukan oleh Bela? Apa dia melakukan kesalahan di apotek tadi, sehingga Pak Maik jadi seperti ini? Tapi apa kesalahan yang dia buat?"


Sampainya lantai 5, Maik segera keluar dari dalam lift dan melangkah tanpa menunggu Sari. Dia melangkah sambil mencari-cari nomor kamar apartemen Bela. Dan setelah sampai di depan pintu kamar apartemen yang terdapat nomor 50, Maik langsung menghentikan langkahnya dan menyuruh Sari untuk mengetuk pintu.


"Tolong ketuk pintunya!" Perintah Maik yang langsung di turuti oleh Sari.


Sari yang sudah menegang dengan melihat ekspresi Maik, segera mengetuk pintu Bela tanpa bersuara. Dan baru beberapa kali ketukan, pintu pun terbuka dan muncullah Bela dengan wajah yang di penuhi dengan air mata. Bela yang masih menunduk sama sekali tidak menyadari keberadaan Maik di belakang Sari, yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Sari,,, Enjel sakit." Bela berkata-kata dengan suara yang bergetar, sambil memeluk Sari yang sudah begitu menegang. Walaupun merasa serba salah dengan keberadaan Maik, namun Sari tetap membalas pelukan Bela sambil berusaha membuatnya tenang.


"Semoga Enjel baik-baik saja ya Bel." Ujar Sari sambil mengusap-usap punggung Bela.


"Kamu..." Teriak Bela yang membuat Sari juga Mita yang berada di dalam kamar Bela jadi terkejut.


"Iya aku. Kenapa, kamu kaget melihat keberadaanku?" Ujar Maik yang membuat Sari juga Mita yang sudah berada di belakang Bela, saling menatap dengan tampang kebingungan.


"Sari.. Buat apa kamu pergi sama laki-laki brengsek ini? Dia ini hanya seorang penghianat yang akan merusak masa depanmu." Bela berkata-kata dengan nada yang tinggi sambil menatap tajam ke arah Maik.

__ADS_1


"Aku tidak ada apa-apa sama Pak Maik. Pak Maik ke sini dengan tujuan ingin menemuimu." Jawab Sari dengan segera.


"Buat apa kamu ingin menemuiku?" Tanya Bela sambil menghapus air matanya dengan begitu kadar saking marahnya.


"Aku ingin menuntutmu juga keluargamu, yang sudah menyembunyikan Enjel dariku selama ini." Jawab Maik yang membuat Sari juga Mita langsung terkejut.


"Kamu ngga berhak menuntut aku. Enjel adalah putriku, dan dia tidak membutuhkan seorang Ayah penghianat seperti kamu." Sura Bela yang sangat bergetar karena menahan tangisnya.


"Apapun itu aku akan tetap menuntut kalian. Dan aku pastikan kalian akan menerima hukuman sesuai perbuatan kalian yang sudah memisahkan aku dari putriku sendiri. Dan satu lagi, aku akan merebut hak asuh Enjel." Ancaman Maik yang membuat emosi Bela tidak dapat di kendalikan lagi.


Dengan serentak Bela langsung menyerang Maik. Dia menarik baju Maik dan mencakar dada bidang Maik dengan sangat kencang, sampai membuat Maik mengangkat sebelah tangannya hampir berbuat kasar padanya. Tapi Sari dengan cepat langsung berdiri di tengah-tengah mereka sambil berteriak.


"Jangan Pak Maik...!" Suara Sari yang cukup keras, dan berhasil menyadarkan Maik dari kemarahannya.


"Biarin saja dia melakukannya! Biar dia puas menyakiti aku. Hiks,,,, hiks,,, hiks,,," Ujar Bela yang sudah di bawa masuk ke dalam kamarnya oleh Mita.


Maik yang merasa sangat kesal dengan apa yang di lakukan oleh Bela, hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Dan Sari yang melihatnya dengan ragu-ragu langsung bersuara.


"Pak Maik,, apa Bapak mau langsung pulang?" Tanya Sari.

__ADS_1


"Aku ngga mau pulang sebelum berbicara dengannya." Jawab Maik dengan tatapan tajam ke arah Bela yang sedang menangis di atas tempat tidurnya.


"Ya sudah,, kalau begitu Pak Maik masuk saja! Biar aku sama Mita kembali ke kamar kita." Ujar Sari dan langsung memberi kode kepada Mita untuk segera keluar dari kamar Bela.


__ADS_2