
Di balik jendela sebuah kamar hotel, Maik berdiri di sana dengan tampang penuh beban. Maik begitu khawatir memikirkan keadaan putrinya, yang sama sekali belum pernah dia lihat. Apalagi sampai saat itu Bela belum juga mengabarinya tentang keadaan Enjel. Ingin sekali Maik menelpon Bela untuk menanyakan apa yang ingin dia ketahui. Namun dia tidak ingin melanggar apa yang sudah di pesan oleh Bela, kalau dia tidak boleh menghubunginya.
"Tok...Tok...Tok..."
"Siapa...?" Tanya Maik di saat mendengar ketukan pintu.
"Saya Pak." Suara seorang laki-laki dari arah luar.
"Masuk..!" Perintah Maik sambil berbalik menghadap pintu.
"Bagaimana..? Apa yang kamu ketahui..?" Tanya Maik di saat laki-laki yang tadi di luar sudah berdiri di hadapannya.
"Tadi aku melihat wanita itu masuk ke dalam ruangan Dr dengan berlinang air mata. Dan aku juga mendengar pembicaraannya dengan Dr yang menangani putrinya. Tapi aku mendengarnya tidak terlalu jelas." Ujar laki-laki yang di tugaskan Maik untuk mengikuti Bela.
"Apa yang kamu dengar..?" Tanya Maik yang begitu ingin mengetahui keadaan Enjel.
"Aku mendengar Dr itu bilang, kalau putri wanita itu menderita penyakit kanker darah." Ujar laki-laki itu yang membuat Maik langsung berteriak, dengan mata terbuka lebar saking terkejutnya.
"Apa....? Kanker darah...? Apa benar kamu mendengar semua itu..?" Tanya Maik dengan tampang yang terlihat kaget.
"Iya Pak. Dan kata Dr itu, kankernya sudah stadium lanjut. Untuk menyelamatkan nyawa putrinya, hanya dengan donor sum-sum tulang belakang dari saudara kandung putrinya." Jelas laki-laki itu yang membuat Maik langsung berbalik dan memukuli dinding dengan sangat kencang.
"Mengapa penyakit itu harus turun kepada putriku ya Tuhan...? Mengapa bukan aku saja yang menerima penyakit keturunan itu..? Hiks,,,hiks,,,hiks.." Maik berkata-kata sambil menangis dengan kepala yang tersandar pada dinding kamar.
Maik yang tidak pernah perduli dengan apapun, terlihat begitu hancur mendengar kabar keadaan putrinya. Dia benar-benar tidak menyangka, penyakit keturunan keluarganya turun kepada putri kecilnya. Laki-laki yang begitu tegar dan selalu bersikap datar, kini menangis tersedu-sedu karena tidak sanggup menerima kenyataan yang terjadi. Sedangkan orang suruhannya yang tidak lain adalah anak buahnya yang dia bawa dari Amerika, begitu kebingungan mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Maik. Dengan ekspresi kaget juga bingung, anak buah Maik pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Apa... Putriku..? Berarti gadis kecil yang sedang sekarat itu putrinya Pak Maik..?"
__ADS_1
"Apa lagi yang kamu dengar..?" Tanya Maik dengan posisi membelakangi laki-laki yang dia tugaskan, untuk mencari tahu keadaan Bela juga Enjel di RS.
"Kata Dr itu, gadis kecil itu hanya bisa bertahan selama satu tahun. Dan dia bisa saja sembuh, dengan menggunakan tali pusar adik kandungnya. Dan kata wanita itu, putrinya akan memiliki adik yang sekarang masih berada di dalam kandungannya." Jelas laki-laki itu yang membuat Maik langsung berbalik, sambil bertanya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa... Dia akan memiliki adik..? Di mana RS itu..?" Tanya Maik dengan raut wajah yang terlihat sangat aneh.
"Apa Pak Maik mau ke sana..?" Tanya anak buah Maik.
"Aku harus ke sana. Aku tidak hanya bisa menunggu kabar di sini. Putriku sekarang dalam keadaan kritis. Aku tidak bisa hanya tinggal diam." Jawab Maik dengan tampang yang terlihat kecewa.
Bela yang sudah mendengar penjelasan Dr yang menangani Enjel, langsung memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanan dia tidak berhenti menangis karena takut terjadi apa-apa dengan putri kecilnya. Hanya memakan waktu setengah jam, akhirnya Bela pun sampai di tempat yang dia tuju. Dengan buru-buru Bela keluar dari taksi setelah membayar ongkos taksinya. Dan tanpa menunggu lama dia langsung menghubungi seseorang.
("Halo Maik.." Panggil Bela setelah telponnya tersambung.)
("Kamu di mana..?" Tanya Maik dengan nada suara yang terdengar sangat datar.)
("Tunggu di situ..! Anak buah ku akan segera menjemputmu." Ujar Maik dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.)
"Turun dan jemput wanita yang ada di bawah..!" Perintah Maik kepada anak buahnya.
Tanpa berkata-kata, laki-laki itu langsung melangkah pergi dengan tampang kebingungan. Karena tidak tahu siapa wanita yang mau dia jemput, membuat prasangka buruk timbul di dalam benak laki-laki itu.
"Bisa-bisanya Pak Maik mau menghabiskan malam bersama wanita lain, di saat putrinya sedang berjuang melawan penyakitnya." Ujar laki-laki itu sambil terus melangkah keluar dari hotel berbintang itu.
"Nona... Apa anda yang ingin bertemu Pak Maik..?" Tanya anak buah Maik setelah melihat Bela yang sedang berdiri di depan hotel.
"Iya Pak. Saya mau bertemu Maik." Jawab Bela yang membuat laki-laki yang ada di hadapannya langsung bergumam di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku pikir wanita lain. Ternyata wanita ini. Apa dia mantan istri Pak Maik..?" Ujar laki-laki itu sambil menatap Bela dengan tatapan penuh kekaguman.
"Pak,, apa kita bisa langsung masuk sekarang..?" Tanya Bela yang membuat laki-laki itu langsung kaget.
"Bisa Nona. Maafkan saya! Soalnya saya terlalu kagum dengan kecantikan Nona. Sampai-sampai saya lupa kalau Nona mau menemui Pak Maik. Ayo saya antar..!" Ujar laki-laki itu dan langsung melangkah pergi.
Sampainya di depan pintu kamar yang di tempati oleh Maik, laki-laki itu langsung membuka pintu dan mempersilahkan Bela untuk masuk. Setelah Bela sudah masuk, dia kembali menutup pintu kamar Maik dan memilih untuk berdiri di depan pintu.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Ujar Bela setelah berada di belakang Maik.
"Tentang apa..? Kalau tentang Enjel akan aku dengarkan. Tapi kalau tentang kehamilanmu, lebih baik kamu pergi dari sini..!" Kata-kata Maik yang membuat Bela terkejut.
"Apa... Kehamilan ku...? Maksud kamu apa..?" Tanya Bela dengan nada suara yang terdengar sedikit keras.
"Aku sudah tahu semuanya Bela. Aku tahu kalau Enjel menderita kanker darah. Dan untuk menyembuhkannya, harus menggunakan tali pusar bayi yang ada di dalam kandungan mu." Kata-kata Maik yang membuat Bela seketika jadi kesal.
"Kamu jangan mencari-cari alasan dengan memfitnah aku. Aku bukan manusia yang tidak tahu diri seperti dirimu. Aku ke sini hanya ingin berbicara denganmu, agar kamu bisa melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang Ayah untuk Enjel." Ujar Bela dengan tatapan kesal ke arah Maik yang sudah berbalik menghadapnya.
"Apa maksud kamu bicara seperti itu..?" Tanya Maik bingung.
"Kalau aku sekarang sedang mengandung, tidak mungkin aku datang di tengah malam seperti ini untuk menemui mu. Enjel akan sembuh dengan menggunakan tali pusar saudari kandungnya. Jadi aku ingin kamu bisa melakukan semua itu." Ujar Bela yang membuat Maik semakin kebingungan.
"Bagaimana aku bisa melakukannya..?" Tanya Maik bingung.
"Enjel masih bisa bertahan selama setahun. Jadi kamu bisa menggunakan tali pusar anak kamu yang ada di dalam kandungan calon istrimu, untuk menyembuhkan Enjel." Jawab Bela yang membuat mata Maik langsung terbuka lebar saking kagetnya.
"Apa... Apa kamu sudah gila..? Siapa yang mengandung anakku..? Aku tidak punya anak selain Enjel. Dan siapa bilang Felisha sedang mengandung..? Ciuman saja aku ngga pernah. Apalagi buat anak." Ujar Maik kesal yang membuat Bela seketika jadi terdiam.
__ADS_1