Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 44. Kabar Yang Buruk.


__ADS_3

Malam itu terasa begitu panjang bagi Bela yang tidak kuasa menahan rindu, ingin bertemu buah hatinya yang sedang sekarat. Kekhawatiran yang begitu besar, membuat Bela tidak bisa untuk memejamkan mata walau hanya sesaat. Keadaannya itu membuat kedua sahabat baiknya juga tidak bisa untuk tertidur. Mereka berdua terlihat begitu sabar menemani Bela sampai pukul 5:30 pagi.


"Aku kembali dulu ke kamarku. Aku harus bersiap-siap untuk ke bandara." Ujar Bela sambil beranjak turun dari tempat tidur.


"Mita,, aku juga mau kembali ke kamarku untuk bersiap-siap." Sambung Sari sambil mengikuti Bela yang sudah melangkah ke arah pintu.


"Iya,, aku juga mau segera bersiap-siap." Jawab Mita.


"Kalian beristirahat saja! Aku biar pergi sendiri saja ke bandara. Kalian berdua kan belum tidur dari semalam." Ujar Bela sambil berbalik menatap kedua sahabatnya.


"Bela,, kita akan tetap mengantarmu ke bandara. Kita tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri." Ujar Mita sambil melangkah mendekati Bela dan Sari, yang sudah berada di depan pintu.


"Iya Bel,, kita akan tetap mengantarmu ke bandara walau apapun yang terjadi." Sambung Sari yang sedang berdiri di samping Bela.


Tali persahabatan yang sudah terjalin sekian lama, membuat Mita, Sari, dan Bela tidak dapat di pisahkan dalam situasi apapun. Hubungan mereka bertiga sudah seperti saudara bukan hanya sekedar sahabat. Mereka sudah sangat mengenal satu sama lain. Bahkan keluarga mereka pun sudah sangat dekat karena tali persahabatan mereka.


"Bela,, kita janji akan segera pulang setelah libur nanti. Kita juga tidak bisa tenang berada di sini, mendengar keadaan Enjel di Indonesia. Karena Enjel bukan hanya putrimu. Tapi putri kita bersama." Ujar Mita yang membuat Bela langsung tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, karena merasa terharu atas ketulusan kedua sahabatnya itu.


"Bel,, kalau soal urusan kampus, tidak perlu kamu pikirkan. Itu akan menjadi tanggung jawab kita berdua. Selama kamu masih berada di Indonesia." Sambung Sari sambil mengusap-usap punggung Bela, yang kembali di selimuti kesedihan memikirkan nasib buruk yang sedang menimpanya.

__ADS_1


"Aku percaya, kalian berdua akan selalu melakukan yang terbaik untukku." Ujar Bela dan kembali memeluk kedua sahabatnya itu.


Setelah itu, Bela langsung keluar dari kamar Mita dan melangkah menuju kamarnya. Bela melangkah tanpa ekspresi sambil memikirkan keadaan putrinya. Dan di saat berada di depan pintu kamarnya, langkah Bela langsung tertahan di saat teringat dengan Maik, yang semalam dia tinggalkan di dalam kamarnya.


Dengan perasaan ragu, Bela membuka pintu kamarnya sambil menatap ke setiap sudut kamar yang terlihat begitu sederhana. Dan seketika dia pun menarik nafas panjang, karena tidak melihat keberadaan Maik di dalam kamar itu. Sambil melangkah menuju tempat tidurnya, Fara pun mulai bergumam di dalam hatinya.


"Apakah dia di suruh pulang oleh wanita itu? Tapi itu hal yang wajar. Karena biar bagaimanapun, dia harus pulang menemani calon istrinya yang sekarang sedang mengandung darah dagingnya. Biarlah aku sendiri yang melakukan semua untuk Enjel. Karena dia bukan siapa-siapa bagi putriku."


Tanpa menunggu lama, Bela pun langsung bergegas untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak ingin memikirkan tentang Maik lagi. Karena baginya Maik hanyalah masa lalu yang tidak akan pernah kembali menjadi masa depannya. Bela terlihat begitu sangat berubah menghadapi Maik yang pernah mematahkan semua harapannya. Tapi hal itu tidak membuatnya merasa dendam. Walau sakit hati atas perbuatan Maik masih membekas di dalam hatinya sampai saat itu.


Dinginnya air yang membasahi tubuh Bela, semakin membuat dia bersemangat melakukan semua tanggung jawabnya sebagai orang tua seorang diri. Apalagi selama ini dia memang sudah berjuang sendiri untuk masa depan Enjel. Dan dia juga tidak ingin di kasihani oleh Maik karena keadaan putrinya saat itu.


"Bela.. Enjel Bela.." Ujar Mita dengan tampang yang terlihat panik menatap Bela, yang berekspresi kaget bercampur khawatir.


"Enjel kenapa..? Ada apa dengan putriku..?" Tanya Bela panik.


"Tadi Ibumu menelpon aku karena nomormu tidak bisa di hubungi." Ujar Mita yang membuat Bela semakin panik, sampai dia tiba-tiba merasakan sesak di dadanya.


"Apa yang terjadi dengan Enjel..?" Teriak Bela dengan raut wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


"Bela,, kondisi Enjel semakin memburuk. Semua keluargamu sedang panik di RS." Sambung Sari yang membuat Bela langsung tersandar ke dinding kamarnya, dengan tampang yang tiba-tiba terlihat begitu lemas.


"Bela.. Bela kamu harus kuat..! Ingat Enjel sedang menunggu kedatangan mu. Jangan kau lemah seperti ini. Kamu adalah wanita yang kuat Bela." Ujar Sari dan Mita bersamaan, berusaha menguatkan Bela yang hampir tidak berdaya karena mendengar kabar putrinya.


"Ayo..! Sekarang kita harus berangkat ke bandara. Kamu harus bisa melewati semua ini." Ujar Sari sambil menggandeng lengan Bela dan melangkah keluar dari kamar. Sedangkan Mita langsung buru-buru meraih barang bawaan Bela, dan melangkah mengikuti Bela dan Sari yang sudah melangkah duluan.


Di dalam perjalanan, Bela buru-buru menghidupi ponselnya yang tadi sempat dia matikan, dan berusaha menghubungi keluarganya. Tapi tidak ada satupun dari keluarganya yang menjawab panggilan telponnya. Dan hal itu semakin membuat Bela merasa sangat khawatir akan kondisi putrinya.


"Apa yang terjadi dengan putriku ya Tuhan..? Tolong selamatkan dia,,! Hanya dialah harapan hidupku satu-satunya. Aku rela berpisah dengan laki-laki yang sangat aku cintai untuk selamanya. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengan putriku ya Tuhan..! Hiks...hiks...hiks.." Pinta Bela sambil menangis tersedu-sedu.


Melihat keadaan Bela, kedua sahabatnya ikut meneteskan air mata. Siapapun akan bersedih melihat keadaan Bela di saat itu. Apalagi kedua sahabatnya itu tahu bagaimana penderitaan Bela selama ini bersama putrinya, yang harus menanggung malu karena tidak ada sosok suami juga sosok Ayah di tengah-tengah mereka. Semua penderitaan yang pernah Bela lalui, sudah merubahnya menjadi wanita yang kuat dalam menjalani hidup. Tapi kali ini, dia benar-benar tidak berdaya menerima kabar buruk itu.


"Bela,, kamu yang kuat ya,,! Semoga Enjel akan baik-baik saja." Ujar Mita sambil mengusap-usap punggung Bela, yang masih terus merintih tanpa suara.


"Bel,, aku yakin kamu bisa melalui semua ini. Jadilah wanita kuat demi Enjel." Sambung Sari sambil menggenggam tangan Bela.


"Mengapa dunia ini begitu kejam terhadapku. Salah apa yang sudah aku buat, sampai putriku yang tidak berdosa, juga harus menderita seperti ini? Hiks...hiks...hiks.." Bela bertanya-tanya dengan bercucuran air mata.


Bela merasa sangat kecewa atas apa yang menimpa putrinya. Sampai-sampai dia menyalahkan dunia yang menurutnya begitu kejam terhadap dirinya. Bela seperti itu, karena dia sangat tidak sanggup menerima kenyataan pahit yang menimpa putri kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2