Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 43. Ketegaran Yang Runtuh.


__ADS_3

Di tengah malam yang sudah sangat larut, Bela sama sekali tidak bisa untuk tertidur. Mungkin dia seperti itu karena adanya keberadaan Maik di dalam kamar apartemennya. Bela yang sama sekali tidak ingin berbicara dengan Maik, memilih untuk menyibukan dirinya dengan tugas kampusnya. Sedangkan Maik yang sedang duduk di sofa di dalam kamar itu, hanya terdiam dengan tatapan yang tidak bisa di artikan ke arah Bela, yang sama sekali tidak perduli dengannya.


Melihat Bela yang sejak tadi seperti tidak fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan, membuat Maik ikut gelisah. Dengan raut wajah tanpa ekspresi, Maik langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian bersuara.


"Bela,, apa kamu tidak ingin tidur sebentar?" Tanya Maik sambil menatap Bela dengan sebelah tangan di pinggangnya.



"Aku lagi sibuk mengerjakan tugas kampusku." Jawab Bela tanpa menatap Maik.


"Memangnya harus di kerjakan sekarang?" Tanya Maik lagi.


"Iya,, aku harus kerjakan sekarang. Karena aku juga tidak tahu kapan aku bisa kembali." Jawab Bela tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop yang ada di depannya.


"Bela,, kamu kan bisa mengirimkannya lewat email. Jadi lebih baik kamu beristirahat sebentar. Biar kamu tidak lemas dalam perjalanan besok." Ujar Maik sambil menatap Bela penuh perhatian.


"Kamu tidak perlu menghawatirkan aku. Aku sudah terbiasa seperti ini. Dan aku juga tidak bisa bermalas-malasan dalam mengerjakan tanggung jawabku, sebagai seorang mahasiswi yang berada di sini karena beasiswa. Aku tidak ingin semua perjuanganku sia-sia." Jawab Bela panjang lebar tanpa mau menatap Maik.


"Bela,, Enjel sangat membutuhkanmu. Apabila kamu sakit dia pasti akan sangat sedih. Jadi tolong pikirkan itu." Tambah Maik yang membuat hati Bela kembali terenyuh.


"Aku tahu itu. Tanpa kau beritahu pun aku sadar, kalau hanya aku yang Enjel butuhkan. Tapi semua yang aku lakukan ini semata-mata hanya demi dia. Aku harus berusaha untuk menggapai masa depan yang lebih baik untuk putriku. Karena aku bukanlah orang yang berada seperti dirimu. Yang tidak akan pernah merasakan susah dengan semua yang kamu miliki." Bela berkata-kata sambil menatap Maik dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


__ADS_1


"Mengapa kamu berkata seperti itu? Sebagai seorang Ayah, aku tidak akan membiarkan Enjel menderita. Aku akan memberikan semua yang Enjel butuhkan untuk masa depannya." Ujar Maik sambil melangkah mendekati Bela.


"Jangan katakan itu! Dan jangan pernah berpikir untuk melakukan itu! Saat ini kamu bisa berbicara seperti itu. Tapi setelah kamu memiliki kehidupan yang baru bersama istri dan anak-anakmu, semuanya pasti akan sirna." Ujar Bela yang sudah kembali menatap layar laptopnya.


"Bela,, mungkin aku sudah banyak berbuat salah terhadapmu. Tapi aku tidak akan pernah melupakan darah daging ku sendiri." Ujar Maik yang sudah berada di depan Bela.


"Terserah apa yang ingin kamu katakan. Tapi aku yakin, Enjel tidak akan pernah berharap apapun darimu. Karena kamu hanyalah seorang Ayah yang tidak pernah Enjel kenali." Ujar Bela dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Maik sambil meraih lengan Bela yang hendak melangkah pergi.


"Aku ingin beristirahat sebentar di kamar Mita." Jawab Bela dengan posisi membelakangi Maik.


"Mengapa kamu tidak beristirahat di sini saja? Aku janji tidak akan mengganggumu." Ujar Maik tanpa melepaskan lengan Bela.


"Bela,, mengapa kamu begitu berubah? Dulu kamu begitu nyaman tidur saat aku berada di sampingmu." Tanya Maik dengan tatapan penuh kesedihan.


"Aku tidak pernah berubah. Aku adalah wanita yang sama seperti wanita yang kamu kenal dulu. Hanya keadaan lah yang berubah. Dan kita tidak bisa pungkiri semua itu." Jawab Bela dan langsung melangkah pergi meninggalkan Maik, yang hanya bisa menatapnya tanpa bersuara.


Kata-kata yang baru saja Bela ucapkan, membuat Maik sampai tidak sanggup untuk berucap sepatah katapun. Walaupun begitu sakit karena merasa tidak di anggap, namun Maik hanya terdiam menerima kenyataan pahit itu. Maik pun sadar betul akan kesalahannya, yang sudah melupakan Bela juga putrinya tanpa ada kabar berita.


Ketegaran Bela saat berada di depan Maik, runtuh dengan seketika setelah berada di dalam kamar Mita. Sebagai sahabat karib, Mita dan Sari tidak bisa untuk tertidur, karena memikirkan musibah yang sedang menimpa Bela. Dan di saat melihat keadaan Bela, mereka berdua yang kebetulan sedang menonton film menggunakan laptop, langsung bergegas melangkah mendekati Bela yang sedang menangis di depan pintu.


"Bela,, kamu kenapa..? Mengapa kamu menangis seperti ini?" Tanya Mita sambil meraih tangan Bela. Tapi Bela sama sekali tidak menjawab.

__ADS_1


"Bela,, ayo duduk dulu!" Sambung Sari sambil menarik tangan Bela menuju tempat tidur Mita.


"Kamu kenapa Bel,,? Apa yang membuatmu menangis seperti ini?" Tanya Sari setelah mereka sudah duduk di atas tempat tidur Mita.


"Aku sangat merindukan Enjel. Dialah harapan dan penyemangat ku. Mengapa dia yang harus menanggung semua ini? Mengapa bukan aku saja?" Ujar Bela dengan bercucuran air mata.


"Bel,, kamu yang sabar ya,,! Semua ini pasti ada hikmahnya. Kamu harus kuat. Karena Enjel sangat membutuhkanmu." Ujar Mita berusaha menguatkan Bela.


"Iya Bel. Enjel akan sangat sedih kalau melihatmu seperti ini. Kamu tidak ingin membuat Enjel sedih kan,,?" Sambung Sari sambil mengusap-usap punggung Bela.


"Hanya di depan kalian aku menangis. Aku tidak akan seperti ini di depan putriku. Aku tidak ingin air mataku semakin menambah kesakitan yang sedang dia rasakan." Ujar Bela sambil menghapus air matanya dengan sebelah tangannya.


Siapapun akan terpuruk berada di dalam posisi Bela. Berusaha kuat walaupun dia begitu hancur menanggung semua beban hidupnya. Hidup Bela benar-benar berubah setelah bertemu dengan Maik tanpa di sengaja. Maik adalah orang yang sudah menghancurkan masa depannya. Dan di saat putrinya sedang sekarat, dia harus menerima kenyataan kalau sosok Ayah dari putrinya, sudah memiliki pendamping hidup pilihan orang tuanya.


"Bel,, apa kamu tidak mau meminta Maik untuk berangkat bersamamu? Biar bagaimanapun, dia adalah Ayah dari putrimu. Mungkin dengan kedatangannya, Enjel bisa kuat untuk melawan rasa sakitnya saat ini." Mita berkata-kata dengan niat membuka jalan pikiran sahabatnya.


"Aku tidak mau melakukan itu. Kehadirannya hanya akan menimbulkan keributan. Dan aku tidak ingin Enjel terkejut dengan semua kenyataan yang selama ini sudah kita sembunyikan. Apalagi dia masih terlalu kecil untuk memahami kenyataan ini." Jawab Bela sambil menatap kedua sahabatnya.


"Kita selalu mendukung apapun keputusanmu. Tapi kamu harus janji untuk selalu tegar dalam menghadapi semua ini. Jangan biarkan Enjel sedih dengan air matamu." Ujar Mita.


"Iya Bel,, kamu harus berusaha untuk selalu tersenyum demi Enjel. Jangan lupa kabari kita tentang keadaannya. Karena kita tidak akan tenang sebelum mendengar kabar baik darimu." Sambung Sari penuh perhatian.


"Makasih karena kalian berdua selalu ada untukku dalam keadaan apapun. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi semua ini tanpa ada kalian yang menemaniku di sini." Bela berkata-kata sambil memeluk Sari dan Mita secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2