
Pukul 4 sore Bela yang sudah rapi, memilih untuk langsung berangkat ke tempat kerjanya. Sedangkan kedua sahatnya belum juga pulang, dan itu membuat Bela sedikit khawatir memikirkan mereka. Tapi sesaat Bela kembali berfikir, mungkin mereka sudah langsung ke tempat kerja tanpa pulang ke apartemen. Dan untuk memastikan itu, Bela pun memutuskan untuk menelfon mereka.
("Halo Taa,,") Sapa Bela setelah telponnya tersambung dengan Mita.
("Iya Bel ada apa,,?") Jawab Mita.
("Apa kalian sudah di tempat kerja,,?") Tanya Bela.
("Iyaa,, aku sudah di tempat kerja.") Jawab Mita.
("Sari juga,,?") Tanya Bela.
("Sari hari ini ngga masuk, katanya dia ngga enak badan. Dan dia tadi muntah-muntah, mungkin karena dia terlambat makan.") Jawab Mita.
("OOO iya,, soalnya dari pagi tadi dia ngga makan. Trus dia di mana,,?") Tanya Bela.
("Dia tadi sama Leon, mungkin mereka dalam perjalanan pulang.") Jawab Mita.
("OOO iya sudah. Kalau gitu udah dulu yaa,,!") Soalnya aku sedang dalam perjalanan ke tempat kerja.") Kata Bela.
("Iya Bel, kamu hati-hati di jalan yaa,,!") Kata Mita dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Bela ke tempat kerja selalu menggunakan angkutan umum, begitupun ke Kampus. Terkecuali dia pulang terlambat seperti tadi baru dia terpaksa menggunakan taxi. Bela selalu berusaha untuk menghemat, karena selain biaya hidup yang mahal di Amerika, Bela juga selalu menabung agar bisa membelikan oleh-oleh buat putrinya, di saat dia kembali ke Indonesia nanti.
Setiap kembali ke Indonesia, Bela selalu berusaha untuk membelikan oleh-oleh buat Enjel putrinya yang lucu itu. Dan walaupun harga oleh-oleh yang Bela belikan tidak seberapa, tapi itu bisa membuat Enjel bahagia. Demi kebahagiaan Enjel, sampai membuat Bela harus menghemat hidup di Negara orang.
Terkadang Bela harus menahan hati kalau dia melihat dan menginginkan sesuatu, walaupun dia sudah susa payah bekerja sampai pulang malam. Karena bagi dia, kebahagiaan Enjel yang paling penting dari pada keinginannya.
Sedangkan di sebuah apartemen yang begitu mewah, Maik sedang mengobrol dengan seorang sahabat lamanya yang baru dia temui satu jam yang lalu, di depan kafe yang ada di pusat kota. Sahabatnya itu bernama Endru, dia asal Amerika tapi dulu dia kuliah di Italia, dan menjalin persahabatan yang akrab dengan Maikhel.
__ADS_1
Dalam perjalanan ke apartemen Endru tadi, Maik sudah menceritakan kepada Endru mengapa sampai dia bisa berada di Amerika. Mereka berdua mengobrol banyak, termasuk tentang Endru yang lebih memilih tinggal di apartemen, dari pada di rumah orang tuanya.
Ternyata Endru memilih tinggal di apartemen, karena dia ingin hidup mandiri, dan dia memang sudah biasa hidup sendiri dari semenjak duduk di bangku kuliah.
"Menurut aku memang lebih baik kita tu tinggal sendiri dari pada sama keluarga, biar kita bisa mandiri." Kata Endru di saat dia dan Maik sudah duduk di ruang tamu dalam apartemen Endru.
"Iya itu memang benar, biar kita ngga selalu bergantung sama orang tua. Apalagi aku tu punya adik laki-laki yang rese bangat di rumah, jadi aku malas berada lama-lama di rumah." Kata Maik sambil tersenyum, mengingat kelakuan adiknya Luis.
"Iya sama, aku juga punya seorang adik laki-laki, dan adik aku itu, umurnya cuman beda beberapa tahun dari aku. Dia itu ngga bisa melakukan apa-apa, yang dia taunya cuman minta uang, tidak tahu bagaimana carinya." Kata Endru dan mereka berdua langsung tertawa.
Baru setengah jam Maik dan Endru mengobrol, tiba-tiba ponsel Endru berdering, dan itu panggilan masuk dari Leon adiknya. Leon menelfon Endru dan mengatakan kalau dia sedang dalam masalah besar, jadi dia ingin ke apartemen Endru untuk menceritakan masalahnya dan meminta solusi. Dan Endru yang begitu sangat menyayangi adiknya itu, tidak bisa untuk menolak walaupun saat itu dia lagi bersama dengan Maik.
Selesai mengobrol dengan Leon, Endru jadi kepikiran. Dia merasa cemas dengan Leon yang katanya sedang dalam masalah besar. Dan Maik yang melihat ekspresi Endru, jadi bingung dan langsung memilih untuk bertanya.
"Kamu kenapa,,? Apa ada masalah,,?" Tanya Maik dengan tampang mencari tahu.
"Bukan aku, tapi adiku. Tadi dia katakan di telpon kalau dia sedang dalam masalah besar, dan dia sedang dalam perjalanan ke sini." Kata Endru dengan tampang yang terlihat sangat khawatir.
"Jangan pulang dulu,,! Aku mau kamu membantu aku untuk mencari jalan keluar buat masalah adiku." Kata Endru.
"Ngga apa-apa,,? Soalnya aku ngga enak mencampuri urusan orang." Kata Maik yang sudah kembali duduk.
"Aku kan sahabat kamu, bukan orang lain." Kata Endru sambil menatap Maik.
"Ya sudah kalau gitu. Aku akan membantumu kalau aku bisa." Kata Maik sambil tersenyum kepada Endru.
Tidak lama dari situ, bel apartemen Endru tiba-tiba berbunyi. Dan Endru dengan segera langsung berdiri dan melangkah menuju pintu, karena dia sudah tahu yang datang itu pasti adiknya Leon.
Setelah pintu terbuka, Endru langsung kaget di saat melihat Leon sedang berdiri di depan pintu apartemen, dengan seorang wanita yang terlihat seperti baru selesai menangis. Wanita itu tidak lain adalah Sari pacar Leon, dan Endru sudah mengenalnya. Wajah Sari terlihat sangat sembab seperti baru selesai menangis. Dan tanpa menunggu lama, Endru langsung menyuruh mereka untuk masuk.
__ADS_1
Endru melangkah menuju ruang tengah dan di ikuti oleh Leon juga Sari dari belakang. Sampainya di ruang tengah, Leon langsung kaget setelah melihat Maik yang sedang duduk bersandar di sofa, begitupun dengan Sari. Karena orang yang mereka lihat itu adalah pengusaha muda yang membuat seisi Kampus merek heboh siang tadi.
Selain terkejut, Leon juga merasa bingung dengan kehadiran Maik di apartemen kakaknya. Sambil melangkah di belakang kakanya bersama Sari, Leon pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Mengapa pengusaha sukses itu ada di sini,,? Apa ada kaitannya sama aku,,?" Leon bertanya-tanya dalam hatinya dengan tampang kebingungan.
Sedangkan Maik yang sedang fokus dengan ponsel di tangannya, tidak memperhatikan mereka yang sedang melangkah menuju ke arahnya, dan di saat Endru, Leon dan Sari sudah berada dekat di depannya, barulah Maik mengangkat mukanya dan langsung tersenyum setelah melihat mereka, kemudian menyapa dengan begitu ramah.
"Haloo,," sapa Maik sambil menatap Leon dan Sari, yang juga sudah menatapnya sambil tersenyum malu-malu.
"Eh Pak Maiik,,!" Balas Leon sambil melangkah dan duduk di samping Endru, kemudian di susul Sari.
Setelah berada di samping Endru, dengan segera Leon yang begitu penasaran dengan keberadaan Maik, langsung merapatkan wajahnya ke telinga Endru dan berbisik.
"Kak, kenapa Pak Maikhel bisa ada di sini,,? Apa dia mencari ku,,?" Tanya Leon kepada Endru dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Buat apa dia mencarimu,,? Pak Maikhel ini teman kuliahku waktu di Italia." Jawab Endru dengan nada yang begitu kuat, sehingga membuat Leon jadi malu. Sedamgkan Maik yang sedang menatap kakak beradik itu hanya tersenyum begitupun dengan Sari.
Setelah itu mereka langsung memilih untuk mengobrol. Dan Endru yang sangat penasaran dengan masalah yang mau adiknya itu ceritakan segera bertanya.
"Masalah apa yang mau kamu ceritakan,,?" Tanya Endru yang membuat Leon juga Sari jadi menegang dan terlihat panik.
"Masalah pribadi." Jawab Leon ragu-ragu.
"Ngomong aja di sini,,! Ngga apa-apa, Pak Maikhel ini sahabat aku yang paling baik. Dia sudah aku anggap seperti saudara sendiri, jadi tidak perlu ragu walaupun itu masalah pribadi " Kata Endru menjelaskan.
Walaupun Endru sudah menjelaskan tentang Maik, Leon masih tetap terdiam dan tidak mau bercerita. Dia seperti itu, karena dia tidak ingin Maikhel mengetahui masalahnya. Sebab masalah yang sedang dia hadapi itu, bukan sesuatu yang terpuji.
__ADS_1
Leon sangat takut kalau Maik mengetahui masalahnya, dia dan juga Sari akan di keluarkan dari Kampus. Karena ternyata masalah yang di maksud oleh Leon itu adalah, ketakutannya terhadap Sari yang sudah terlambat datang bulan seminggu ini.