Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 46. Keputusan Yang Benara.


__ADS_3

Sebagai seorang Ayah, Maik telah mengambil keputusan yang memang seharusnya dia ambil demi putri kecilnya. Setelah berpikir semalaman, Maik memutuskan untuk berangkat bersama Bela ke Indonesia. Dia tidak bisa hanya terdiam menunggu kabar putrinya, yang sedang sakit parah di Indonesia. Dengan buru-buru, Maik berlari menghampiri kedua sahabat Bela, yang sedang berpelukan sambil menangis di dalam ruang tunggu.


"Pak Maik..." Suara Sari setelah melihat Maik berlari dari arah sana.


"Di mana Bela..?" Tanya Maik sambil menatap ke sana kemari, mencari-cari keberadaan Bela.


"Dia sudah berada di dalam pesawat." Jawab Mita dengan segera.


"Terimakasih,, kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Maik yang kembali berlari menuju pesawat, yang sebentar lagi akan lepas landas.


Melihat sikap Maik yang terlihat begitu khawatir, membuat Sari dan Mita kembali berpelukan, sambil tersenyum dengan berderai air mata bahagia bercampur haru. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba Maik di tahan sama seorang laki-laki, yang terlihat seperti seorang pegawai bandara. Dan tanpa menunggu lama, kedua sahabat Bela yang melihat itu segera berdiri, dan menghampiri Maik juga laki-laki yang menahannya itu.


"Pak,, Bapak mau kemana?" Tanya laki-laki itu.


"Aku mau naik ke dalam pesawat itu." Jawab Maik dengan tampang yang terlihat datar ke arah pesawat.


"Tidak bisa Pak. Pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Jadi Bapak tidak bisa di ijinkan masuk." Ujar laki-laki itu.


"Siapa yang tidak mengijinkan aku untuk masuk ke dalam pesawat?" Tanya Maik dengan nada suara yang terdengar mulai kesal.


"Bapak jangan seenaknya! Ini peraturan yang sudah di tetapkan." Tambah laki-laki itu dengan nada suara yang sudah mulai tinggi.


"He... Kamu jangan main-main sama aku, kalau kamu memang masih mau bekerja di sini. Aku bisa laporkan tindakan kamu yang tidak sopan ini." Ujar Maik yang membuat laki-laki itu langsung terdiam dengan tampang kebingungan.

__ADS_1


Tanpa berkata-kata Maik yang sudah sangat kesal dengan sikap laki-laki itu, langsung mengeluarkan pasport dan di perlihatkan kepada laki-laki di depannya itu. Melihat pasport yang di tunjukan Maik, laki-laki itu langsung bermohon meminta maaf kepada Maik, yang sedang menatapnya dengan tatapan yang terlihat sangat tajam.


"Maafkan atas kelancangan saya Pak. Saya benar-benar tidak tahu siapa Bapak. Saya hanya mengikuti aturan yang di tetapkan." Ujar laki-laki itu dengan tampang memohon.


"Tolong Pak,, jangan laporkan masalah ini,,!Kalau tidak saya bisa di pecat. Saya ini seorang suami juga seorang Ayah. Bagaimana Saya bisa menafkahi keluarga saya, kalau sampai saya di pecat?" Tambah laki-laki itu dengan tampang yang terlihat begitu menyedihkan.


"Ya sudah. Tapi lain kali jangan seperti ini. Aku juga seperti ini demi putriku yang sedang sakit. Kalau tidak aku tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar aturan." Jawab Maik dan langsung bergegas pergi, menuju pesawat yang di tumpangi Bela.


Mendengar ucapan Maik yang rela melakukan semuanya demi Enjel, Sari dan Mita langsung saling menatap sambil tersenyum. Sedangkan laki-laki di samping mereka itu, seketika menarik nafas panjang sambil berkata-kata.


"Astaga.. Untung saja Bapak itu mau memaafkan ku. Kalau tidak bagaimana dengan nasibku?" Ujar laki-laki itu yang membuat Mita dan Sari segera menatapnya, kemudian bertanya.


"Pak,, memangnya siapa orang itu? Sampai Bapak begitu takut?" Tanya Sari dan Mita secara bergantian, karena mereka memang belum tahu seberapa besar pengaruh Maik.


"Dia itu putra dari seorang pengusaha ternama di Italia. Dan pesawat yang akan berangkat itu, sudah di beli oleh Ayahnya beberapa bulan yang lalu." Jawab laki-laki itu yang membuat mata Sari dan Mita, langsung terbuka lebar saking kagetnya.


"Iya Mit,, aku juga baru dengar hal semacam ini. Enak bangat Bela kalau dia tidak di pisahkan dari laki-laki sekaya itu. Apa Ayah Bela tidak pernah memikirkan masa depan Bela? Sampai dia mengambil keputusan untuk memisahkan Bela dari Pak Maik?" Sambung Sari dengan tampang kebingungan.


"Jangan dulu kita berburuk sangka. Mungkin saja orang tua Bela punya alasan tersendiri mengambil keputusan itu. Karena semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Jawab Mita mencoba untuk berpikir positif.


"Iya juga ya,,? Tapi aku heran saja. Soalnya Pak Maik itu terlihat sangat Baik." Ujar Sari.


"Sudah,,! Kita tidak usah memikirkan hal itu. Sekarang kita hanya perlu berdoa untuk kebaikan Bela dan putrinya. Ayo kita pulang!" Ujar Mita sambil menarik tangan Sari dan melangkah menuju pintu keluar.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam pesawat, Maik langsung menatap ke sana kemari mencari keberadaan Bela. Dia sedikit kebingungan, karena penumpang yang ada di dalam pesawaran tersebut, lebih banyak perempuan muda. Tapi tiba-tiba ada seseorang pramugari cantik menghampirinya dan bertanya.


"Apa ada yang bisa saya bantu Pak? Tanya pramugari tersebut.


"Aku ingin mencari seseorang." Jawab Maik tanpa menatap wanita cantik di depannya itu.


"Pak,, apa saya bisa melihat pasport anda? Soalnya saya lihat anda baru saja naik ke dalam pesawat." Ujar pramugari tersebut.


Karena tidak ingin berdebat juga tidak ingin membuang-buang waktu, Maik segera menyerahkan pasport yang masih berada di tangannya kepada pramugari itu. Setelah mengetahui siapa Maik, pramugari cantik itu langsung menatap Maik dengan tampang kagetnya sambil berkata.


"Astaga,, Pak maafkan saya yang sudah lancang meminta pasport Bapak." Ujar wanita itu sambil menyerahkan pasport Maik.


"Siapa yang Bapak cari? Biar saya bantu menemukannya." Tambah wanita itu.


"Aku mencari istriku. Namanya Bela. Dia juga menumpangi pesawat ini." Jawaban Maik yang terdengar di telinga Bela, yang sedang termenung di bangku bagian belakang.


Mendengar namanya di sebut oleh suara yang tidak asing lagi di telinganya, membuat Bela yang sedang melamun menatap ke arah luar melewati kaca, langsung berbalik dan menatap Maik dengan tampang kebingungan juga kaget.


Melihat tatapan Bela yang begitu aneh, membuat pramugari yang sedang berdiri di depan Maik langsung bersuara.


"Apa anda yang bernama Ibu Bela?" Tanya pramugari itu yang membuat Maik segera berbalik menatap ke arah Bela, yang ada di deretan paling belakang. Tapi Bela yang terlihat begitu kaget, sama sekali tidak bersuara.


"Iya,, dia yang bernama Bela." Jawab Maik.

__ADS_1


"Ooo dia istri Bapak?" Tanya pramugari itu sambil menatap Bela, dengan tatapan yang terlihat sangat aneh.


Tanpa menjawab pertanyaan pramugari itu, Maik pun segera melangkah menuju tempat duduk Bela. Kemudian dia langsung meletakkan kopernya ke dalam bagasi yang ada tepat di atas kepala Bela. Bela yang terhimpit dengan tubuh Maik, hanya terdiam dengan wajah yang berada tepat di depan perut Maik. Aroma tubuh yang sejak lama hilang dari indra penciumannya, kini begitu jelas dia menghirupnya dengan jarak yang begitu dekat.


__ADS_2