
Mobil Maik yang melaju kencang tiba-tiba memasuki pekarangan sebuah rumah yang sangat mewah, setelah pagar dibukakan oleh seorang pria berpakaian sekuriti. Bela yang kebingungan dan takjub melihat kemewahan rumah itu, hanya terdiam menatap Maik yang sudah keluar dari dalam mobil, melangkah memutar ke arahnya.
"Ayo turun! Kita harus melakukan semuanya, dan kembali ke rumah sakit secepatnya," seru Maik yang seketika menimbulkan kerutan di dahi Bela.
"Melakukan apa?? Kamu jangan gila ya Maik. Aku kembali ke rumah sakit." Bela malah menolak karena kembali berpikir buruk tentang Maik.
"Mengapa kamu begitu keras kepala??" Maik langsung menariknya untuk keluar dari dalam mobil, dan menggendongnya melangkah pergi.
"Maik.. Turunin aku!! Aku bisa jalan sendiri. Malu dilihat orang.." Bela mulai berontak dalam gendongan Maik, saat melihat dua orang wanita, juga seorang pria yang menatap mereka dengan tampang kaget bercampur bingung.
Ketiga orang itu bernama Keti, meli, dan Semi. Mereka adalah pembantu dan tukang kebun, yang sudah bekerja sejak Maik baru membelikan rumah mewah itu satu tahun yang lalu.
"Tolong siapkan kamar di samping ruang keluarga! Dan tolong buatkan makanan, susu, juga buah untuk dibawa ke rumah sakit," seru Maik, dan ketiga orang itu langsung bergegas pergi menuju dapur, sambil berbisik satu sama lain.
__ADS_1
"Ternyata istri Pak Maik sangat cantik. Pasti putri mereka yang lagi sakit sangat imut," ujar Keti sambil tersenyum.
"Iya, aku sampai kaget saat melihatnya, karena terlalu cantik. Pantesan Pak Maik nggak bisa berpaling ke lain hati," sambung Meli.
"Sudah-sudah. Kalian cepat kerjakan apa yang diperintahkan sama Pak Maik!" ucap Semi yang ingin membantu pekerjaan kedua wanita itu.
Maik membawa Bela masuk ke dalam kamar utama. Setelah diturunkan, Bela langsung bergegas menuju pintu hendak keluar. Tapi dengan cepat Maik pun menariknya, dan mendekap nya erat sembari berujar.
"Bela, tolonglah bersikap dewasa. Aku hanya ingin kamu tenang, biar kita bisa bicarakan semuanya. Aku sangat lelah."
"Bukan aku lelah menghadapimu. Tapi aku belum sempat tidur sejak kemarin. Tolonglah mengerti keadaanku." Maik malah terlihat sangat menyedihkan.
"Apa kamu bilang? Mengerti keadaanmu?? Apa kamu pernah mengerti keadaanku saat kamu menghilang dari kehidupanku, yang saat itu sedang mengandung Angel?? Kamu lebih memilih untuk bersama wanita lain, tanpa pernah mau tahu dengan keadaan aku juga putrimu." tanya Bela dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
Perlahan Maik melepaskan pelukannya. Dia duduk di tepi ranjang tertunduk lesu. Dia benar-benar tidak bertenaga, karena belum pernah tidur sejak kemarin, juga tidak makan ataupun minum, karena terlalu sibuk memikirkan Bela dan Angel. Tapi Bela yang sudah terlanjur sakit dibuatnya, sama sekali tak mau perduli. Melihat Maik yang hanya diam, dia semakin yakin ats apa yang ada dalam pikirannya tentang wanita itu.
"Mengapa kamu diam?? Kamu sekarang pasti bingung dalam situasi ini kan?? Kamu tidak tahu harus memilih dia atau Angel?? Aku mau kembali ke rumah sakit. Dan kamu disini saja, biar bisa memikirkan wanita itu," ucap Bela dan langsung bergegas pergi. Tapi Maik tidak hanya tinggal diam, walaupun dia hampir kehabisan tenaga.
"Bela,, kita harus bicara. Semua yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan." Maik kembali menghadang Bela tepat di depan pintu. Tapi Bela malah berontak, mendorong Maik untuk menyingkir dari depan pintu, sambil berteriak kencang meluapkan emosinya.
"Jangan halangi aku... Aku mau pergi. Aku mau kembali ke rumah sakit. Pergi kau dari hadapanku..!!"
Maik yang sudah tak tahu harus berbuat apa, segera mengangkat Bela dan menindih nya di atas tempat tidur. Bela masih belum menyerah. Dia kembali berontak berusaha mendorong Maik. Namun Maik yang sudah kehabisan akal, langsung menciumnya dengan penuh hasrat. Dia ******* bibir Bela sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala, yang membuat wanita cantik itu tak lagi bisa melawan. Dan tidak berapa lama, Maik pun menghentikan serangannya, saat menyadari kalau Bela sedang menangis.
"Kamu jahat Maik. Kamu telah menyiksa jiwa dan ragaku. Aku benci laki-laki bajingan sepertimu. Bisa-bisanya kamu menciumku, sementaranya di dalam hatimu ada orang lain." Bela berkata-kata dengan bercucuran air mata.
"Bela,, kamu sudah salah paham. Aku tidak pernah mencintai wanita itu. Aku bersamanya karena permintaan orang tau ku. Mereka ingin ada orang yang bisa menghiburku. Tapi aku menganggapnya hanya sebatas teman. Dan wanita yang ada di dalam hatiku hanyalah kamu seorang. Aku jauh lebih tersiksa, saat menerima surat perceraian darimu," ujar Maik panjang lebar, tanpa bergeser dari atas tubuh Bela.
__ADS_1
"Berhentilah untuk membodohi ku. Aku bukan Bela yang dulu. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya. Dan aku yakin, kamu belum lupa dengan pertemuan kita di apotik malam itu. Kamu membelikan alat tes kehamilan di apotik tempat aku bekerja. Dan aku ada disana melihat semuanya. Aku pun tidak pernah mengirim surat cerai padamu. Jadi kamu jangan mengarang cerita." Bela masih tidak percaya dengan kata-kata Maik.
Penderitaan yang dialami Bela, sudah menutupi mata hatinya untuk Maik. Apapun yang dikatakan Maik selalu salah. Akhirnya Maik pun memutuskan untuk mengatakan semuanya dengan jujur, tentang tes kehamilan yang dibelikanngnya malam itu.