Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 45. Menangis Bukanlah Pilihan.


__ADS_3

Sampainya di bandara, Bela langsung melangkah masuk ke dalam ruang tunggu bersama kedua sahabatnya, dengan wajah yang terlihat begitu sembab karena menangis sejak semalam. Bela yang sudah memutuskan untuk tidak menangis lagi, berusaha untuk tegar walaupun hatinya begitu terpuruk mendengar kabar putrinya. Malah kedua sahabatnya yang terlihat sedih, karena harus melepaskan Bela kembali ke Indonesia seorang diri dalam situasi seperti itu.


"Bel,, kamu yang kuat ya,,! Jangan pernah meneteskan air mata di depan Enjel. Karena kekuatan Enjel tergantung ketegaran mu." Ujar Mita sambil melingkarkan tangannya di sebelah lengan Bela.


"Iya Bel,, cobaan ini pasti akan berlalu. Jadi jangan pernah kamu berputus asa. Kita akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Sambung Sari yang sedang menarik koper Bela.


"Kita duduk dulu di sini." Ujar Mita setelah berada di deretan kursi yang masih kosong.


"Bel,, Pak Maik ada di mana?" Tanya Mita setelah mereka bertiga sudah mendudukkan tempat duduk yang masih kosong itu.


"Aku tidak tahu. Lagian di manapun dia berada, itu bukan urusanku." Jawab Bela tanpa ekspresi.


"Loh,, ko kamu jawabnya seperti itu? Apa Pak Maik tidak ikut bersamamu?" Tanya Sari dengan ekspresi kebingungan.


"Iya Bel,, biar bagaimanapun kan, dia adalah Ayah dari putrimu." Sambung Mita.


"Dia memang Ayah dari putriku. Aku tidak pernah menyangkal akan hal itu. Tapi sosoknya tidak pernah ada di dalam kehidupan putriku. Jadi keberadaannya sama sekali tidak ada artinya untuk Enjel apalagi aku." Jawab Bela sambil menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Bel,, apakah tidak ada lagi sedikit harapan di dalam hatimu untuk hidup bersamanya?" Tanya Sari dengan tatapan serius.


"Buat apa menyimpan harapan untuk seseorang yang tidak bisa untuk di harapkan? Aku bukanlah Bela yang dulu. Yang rela melakukan apapun demi cinta yang tiada pasti. Dia itu laki-laki yang tidak bisa untuk menepati janji. Jadi untuk apa aku harus berharap?" Ujar Bela sambil menatap kedua sahabatnya dengan raut wajah yang begitu datar.


"Bel,, memangnya apa yang Pak Maik katakan semalam sama kamu?" Tanya Mita.


"Dia bilang akan mengantarkan aku ke bandara. Tapi dia sudah pergi di saat aku berada di kamarmu. Dan aku juga tidak ingin di antar olehnya. Karena dia juga punya tanggung jawab besar untuk wanita yang sedang mengandung darah dagingnya." Ujar Bela yang membuat kedua sahabatnya itu langsung terdiam, dengan tampang penuh kesedihan.


Mita dan Sari begitu sedih melihat keadaan Bela. Sebagai sesama wanita, kedua sahabatnya itu sangat mengerti dengan situasi Bela saat itu. Apalagi mereka tahu semua tentang penderitaan Bela, setelah berpisah dari Maik. Jadi mereka berdua hanya berusaha untuk mendukung semua keputusan Bela.


"Semua keputusan ada padamu Bel. Karena yang merasakan semua penderitaan yang di berikan Pak Maik, hanyalah kamu seorang." Ujar Mita sambil menggenggam sebelah tangan Bela.


"Makasih atas semuanya. Aku sangat beruntung memiliki sahabat sejati seperti kalian berdua." Ujar Bela sambil memeluk kedua sahabatnya secara bergantian.


Setelah beberapa menit mereka mengobrol membahas tentang Maik, tiba-tiba terdengar pemberitahuan untuk para penumpang, agar segera memasuki pesawat. Dengan senyum yang di paksakan, Bela pun langsung berdiri dan segera memeluk kedua sahabatnya sebagai tanda akan berpisah.


Sari dan Mita yang begitu berat melepaskan kepulangan Bela ke Indonesia seorang diri, hanya bisa meneteskan air mata sambil membalas pelukan Bela tanpa mampu bersuara. Melihat keadaan kedua sahabatnya yang sudah bercucuran air mata, tanpa menunggu lama Bela pun langsung memilih untuk melangkah pergi, meninggalkan mereka sambil melambaikan tangannya. Bela yang juga tak kuasa menahan kesedihannya, berusaha sekuat hati untuk bisa terlihat kuat, di saat akan meningkatkan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Walaupun Bela terlihat begitu sangat tegar melangkahi kakinya menuju pesawat yang akan membawanya pulang, namun Sari juga Mita yang sudah sangat mengenalnya terlihat begitu sedih. Sebab mereka tahu kalau batin Bela saat itu sedang merintih, menahan siksa atas apa yang terjadi terhadap putrinya.


"Semoga Enjel akan baik-baik saja. Aku tahu, Bela pasti sangat menderita dengan apa yang menimpa Enjel." Ujar Sari sambil memeluk Mita dengan bercucuran air mata.


"Iya Sar,, aku tidak tega melihat Bela yang harus berjuang melewati semua ini sendirian, sebagai orang tua tunggal buat putrinya." Sambung Mita yang juga tak kuasa menahan air matanya.


Sebagai seorang wanita menangis bukanlah pilihan. Tapi air mata adalah satu-satunya cara untuk mengurangi beban di dalam hati. Bela melangkah menaiki tangga pesawat tanpa mau menoleh ke arah belakang. Dia tidak ingin menunjukkan air mata kesedihannya, yang sudah menetes membasahi wajah cantiknya untuk kedua sahabatnya.


Walaupun Bela sudah memasuki pesawat, Mita dan Sari memutuskan untuk tetap berada di situ, sampai pesawat yang di tumpangi Bela berangkat. Mereka tidak pernah melepaskan pandangan ke arah pesawat walaupun Bela sudah tidak terlihat sama sekali. Ingin sekali Mita dan Sari pulang bersama Bela ke Indonesia untuk melihat keadaan Enjel. Namun kewajiban mereka sebagai pelajar di salah satu universitas ternama di negara itu, tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja.


"Mita,, tinggal beberapa menit lagi pesawat akan berangkat. Bagaimana Bela di dalam sana ya,,?" Tanya Sari sambil terus menatap ke arah pesawat, yang sebentar lagi akan terbang membawa sahabat mereka pergi ke negara asal mereka.


"Semoga dia bisa lebih tegar menghadapi semua ini." Jawab Mita yang juga menatap ke arah yang sama dengan Sari.


Bela yang duduk di kursi paling pojok, hanya menatap ke arah luar melewati kaca sambil membayangi wajah putri kecilnya. Dari raut wajahnya, terlihat begitu berat beban yang ada di dalam dirinya. Air mata yang sudah tidak ingin dia teteskan, semakin meluncur di saat hatinya mulai berbicara.


"Sayang,, kamu yang kuat ya,, jangan pernah mengalah dengan rasa sakit yang sedang kamu rasakan. Sebentar lagi Ibu akan datang untuk menemanimu melewati semua ini."

__ADS_1


Bela berkata-kata di dalam hatinya dengan bercucuran air mata. Dia tak kuasa menahan air matanya, di saat mengingat wajah mungil yang selalu menyemangati dirinya selam ini. Andaikan bisa di ganti, Bela bersedih menanggung rasa sakit putrinya yang sama sekali tidak berdosa. Tapi apalah dayanya sebagai manusia biasa, yang hanya bisa pasrah atas semuanya. Walaupun batinnya sebagai seorang Ibu meronta ingin menolak.


Di saat mendengar pemberitahuan kalau sebentar lagi pesawat akan lepas landas, Mita dan Sari yang masih berada di ruang tunggu semakin tak kuasa menahan tangis. Begitupun dengan Bela yang harus meninggalkan kedua sahabatnya. Tapi tiba-tiba, mereka berdua di kagetkan dengan seseorang yang berlari dari arah depan, menuju tempat duduk mereka.


__ADS_2