Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 32. Di Permainkan Persaan Sendiri.


__ADS_3

Sampainya di parkiran, Bela menatap ke sana ke mari mencari keberadaan kedua sahabatnya itu, tapi dia tidak menemukan mereka. Akhirnya Bela mengambil ponselnya dari dalam tasnya, dan memilih untuk menelfon salah satu sahabatnya, dan yang Bela telfon adalah Mita, karena nama Mita yang duluan muncul di deretan daftar telfonnya.


("Halo Beel,,") Suara Mita dari balik telfon.


("Kalian di mana,,?") Tanya Bela.


("Maaf ya Beel, kita sudah duluan sama vero dan Leon.") Jawab Mita.


("Iya ngga apa-apa. Kalau gitu aku langsung pulang ya,,!") Kata Bela.


("Iya. Kamu hati-hati yaa.") Kata Mita.


("Iya.") Jawab Bela dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Vero adalah pacar Mita dan Leon adalah pacar Sari. Vero dan Leon itu asli Amerika. Sebenarnya Bela tidak setuju kalau kedua temannya itu, berpacaran dengan orang luar, karena dia sudah trauma dengan kisa cintanya bersama Maik yang berujung kehancuran. Tapi dia juga tidak bisa untuk melarang kedua sahabatnya, karena dia pun sadar, kalau dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi mereka.


Setelah mendapat kabar dari kedua temannya, Bela segera bergegas untuk langsung pulang. Sambil melangkah menuju jalan raya yang berjarak beberapa meter dari depan Kampus, Bela mengingat semua yang barusan dia alami. Bela yang masih merasa sedih mengingat semua kejadian di dalam ruangan tadi, melangkah dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Bela sangat tidak menyangkah, kalau hari ini adalah harinya yang paling buruk, selama dia berada dua tahun di Amerika. Tidak pernah terbayang dalam fikirannya untuk bertemu Maik, karena selama ini dia ingin sekali menghapus semua tentang Maik dari dalam ingatannya. Tapi hari ini, dia malah bertemu dengan Maik, dan luka hatinya yang sudah hampir membaik, jadi semakin parah karena sikap Maik yang begitu keterlaluan padanya.


Tidak berapa lama air mata Bela kembali menetes membasahi wajahnya yang cantik. Untung saja jalanan Kampus sudah sangat sepi, karena para Mahasiswa dan Mahasiswi sudah pulang setelah bubar dari ruang pertemuan tadi, jadi tidak ada yang melihatnya sama sekali. Dengan berlinang air mata, Bela pun berkata-kata dalam hatinya sambil terus melangkah.


"Putriku sayang, mama sangat merindukanmu. Maafkan Mama karena Mama tidak akan pernah mempertemukanmu dengan Papamu, karena dia bukanlah yang terbaik untuk kita berdua. Tanpa dia Mama janji akan membahagiakanmu." Bela berkata-kata sambil menghapus air matanya.


Tanpa Bela sadari ada sepasang mata coklat yang sedang memperhatikannya dari dalam mobil, yang terparkir di samping jalan raya. Dan orang yang sedang memperhatikannya itu tidak lain adalah Maikhel.


Setelah Bela keluar dari ruang Rektor tadi, tidak lama Maik dan yang lain pun ikut berpamitan. Maik yang sudah menjalankan mobilnya menuju jalan raya, segera memarkirkan mobilnya di samping jalan karena Felisia ingin buang air kecil.


Maik memilih untuk menunggu Felisia yang sedang buang air kecil di sebuah toilet umum, yang ada tidak jauh dari situ, di dalam mobil. Dan tidak lama dari situ, dia melihat Bela melangkah keluar dari gerbang Kampus, menuju jalan raya sambil menghapus air matanya.


"Mengapa dia menangis seperti itu,,? Apa karena tadi,,? Kalau memang dia menangis karena kejadian tadi, itu lebih baik. Setidaknya dia bisa merasakan sakit." Maik berkata-kata dalam hatinya sambil menatap ke arah lain.


Tidak lama kemudian, Felisia datang dan langsung masuk ke dalam mobil. Dan tanpa menunggu lama, Maik segera melajukan mobilnya tanpa menoleh ke arah Bela, yang sedang menunggu taxi di samping jalan.


Bela yang tidak mengetahui keberadaan Maik, sedang menunggu di samping jalan dengan wajah yang terlihat sangat sembab. Dia tidak tahu kalau Maik yang mengemudi mobil yang baru saja pergi.

__ADS_1


Setelah menunggu hampir dua menit, datang sebuah taxi dan Bela langsung menaikinya. Dalam perjalanan, Bela hanya menatap ke luar melewati kaca mobil, sambil mengingat kesakitan yang Maik berikan padanya. Dan setelah itu, dia pun mulai berkata-kata dalam hatinya.


"Aku tidak akan membiarkan dia mengetahui tentang Enjel. Dan aku yakin, walaupun dia mengetahui tentang Enjel, dia juga nanti tidak perduli. Jadi tidak perlu dia mengetahuinya." Kata Bela dalam hatinya sambil menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


"Aku hanya berharap, semoga Enjel bisa selalu tersenyum bahagia. Karena kebahagiaan Enjel adalah hal yang terpenting dalam hidupku." Tambah Bela.


Sampainya di apartemen, Bela langsung memilih untuk tidur, karena dia merasa sangat lelah. Bela tidak ingin memikirkan tentang Maik lagi. Dan dia juga tidak ingin membuka hatinya kepada laki-laki lain, walaupun ada banyak lelaki yang menginginkannya.


Setelah pisah dari Maik, Bela memutuskan untuk menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk semua lelaki. Dia melakukan itu karena dia terlalu menyayangi Enjel. Bela tidak ingin cinta dan kasih sayangnya kepada Enjel, terbagi dengan laki-laki lain. Apalagi dia seperti sudah trauma dengan kisah cintanya yang menyakitkan.


Sedangkan Maik yang sudah berada di hotel tempatnya menginap, sedang duduk bersandar di sofa yang ada di dalam kamar itu, sambil memejamkan mata.



Maik dan Felisia tidak tinggal dalam satu kamar, malahan tidak satu tempat. Sebenarnya Felisia ingin tinggal bersama Maik dalam satu kamar selama berada di Amerika, tapi Maik yang menolaknya. Akhirnya, Felisia memutuskan untuk tinggal di apartemen salah seorang sahabatnya yang ada di Amerika.


Bayang-bayang Bela semakin menghantui pikiran Maik, setelah bertemu dan melihat Bela menangis tadi. Padahal selama ini, dia sudah berusaha melupakan semua tentang Bela. Tapi hari ini, setelah bertemu kembali, dia pun di permainkan oleh perasaannya sendiri.

__ADS_1


Maik tidak tahu harus berbuat apa, dia ingin marah, tapi entah pada siapa. Akhirnya dia memilih untuk keluar dari apartemen dan melajukan mobil mewahnya tanpa tujuan.


__ADS_2