
Sebagai seorang Ayah, Maik benar-benar berada di posisi yang sangat sulit. Dia ingin sekali mengikuti Bela untuk melihat keadaan putrinya, yang selama ini keberadaannya di rahasiakan oleh Bela dan keluarganya. Namun di sisi lain, dia tidak bisa lari dari tanggung jawabnya terhadap wanita yang kini menjadi tunangannya. Dengan terpaksa Maik harus membiarkan Bela untuk berangkat sendiri. Walaupun dia tidak tega melihat keadaan Bela, yang begitu terpuruk karena mendengar kabar putri mereka.
"Aku pergi dulu. Malam ini juga aku akan mengurus semua keperluan, untuk keberangkatan kamu ke Indonesia. Sebentar aku akan kembali lagi kalau semuanya sudah selesai di urus." Ujar Maik tapi tidak di jawab oleh Bela sama sekali. Akhirnya Maik pun segera melangkah pergi. Walaupun dia merasa sedikit kecewa terhadap Bela, yang tidak memperdulikannya sama sekali.
Bela hanya terdiam di atas tempat tidur, sambil memasukan pakaiannya ke dalam koper. Bendungan air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya, menandakan betapa hancur perasaannya. Di saat mengetahui kalau Maik tidak akan ikut bersamanya. Tapi dia pun tidak bisa untuk berkata-kata. Setelah menyadari status mereka saat itu.
"Enjel,, aku adalah Ibu sekaligus Ayah bagimu. Sampai kapanpun, Ayah kandungmu akan tetap menjadi rahasia. Maafkan aku karena tidak bisa memberitahukan siapa laki-laki, yang telah menghadirkan dirimu di dunia ini. Karena saat ini dia sudah memiliki kehidupan baru bersama wanita lain, dan calon anak dari wanita itu." Bela berkata-kata sendirian di dalam kamarnya, dengan berlinang air mata.
Bela yang tidak tahu apa-apa tentang alat tes kehamilan, yang di belikan oleh Maik di apotek tadi, masih tetap menyangka kalau yang sedang mengandung saat itu, wanita yang bersama Maik di kampus siang itu. Dia menjadi lebih yakin dengan pikirannya yang salah, setelah mengetahui status Maik dan wanita yang bersamanya.
Betapa menyedihkan keadaan Bela di saat itu. Berharap tanpa ada harapan, dan menanti tanpa adanya kepastian. Namun dia tetap berusaha tegar demi buah hatinya yang sedang dalam keadaan sekarat. Walaupun harapan telah musnah dengan status yang tak lagi menjanjikan, Bela tetap berjuang sebagai Ibu sekaligus Ayah, untuk putrinya yang tidak pernah mengetahui tentang Maik.
Sedangkan Maik yang sudah berada di salah satu tempat bersama Endru, sedang mengurus semua berkas untuk keberangkatan Bela pagi nanti. Sebenarnya tidak semudah itu mendapatkan semua berkas untuk keberangkatan Bela. Apalagi di waktu tengah malam seperti itu. Namun dengan uang yang dia miliki, Maik dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau, hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Tepat pukul 4:00 dini hari, Bela yang terlihat begitu rapuh sedang terduduk di atas tempat tidurnya, dengan tatapan yang begitu kosong. Dari pancaran matanya, terlihat ada beban yang begitu besar di dalam benaknya. Namun semua itu hanya bisa dia luapkan, dengan butiran bening yang senantiasa menghiasi bola mata indahnya.
Bela yang sudah pernah merasakan kesakitan yang teramat parah, lebih memilih untuk terdiam di saat berada di dalam situasi sulit seperti itu. Karena menurutnya, berkata-kata belum tentu bisa mengurangi beban dalam hidupnya. Sambil menatap foto Enjel yang ada di layar ponselnya, Bela kembali berkata-kata sendirian sambil menatap gambar putrinya.
__ADS_1
"Sayang,, walaupun hidupmu telah di takdir kan menjadi seorang anak tanpa Ayah, namun aku masih bisa membahagiakan dirimu, dengan seluruh cinta dan kasih sayang ku kepadamu, aku yakin kamu tidak akan merasakan kesepian. Janganlah berkecil hati. Masih ada Ibumu yang akan selalu setia menemanimu sampai kapanpun." Ujar Bela dengan suara yang tersendat-sendat, karena air mata tidak henti-hentinya berderai dari kelopak mata indahnya.
Tanpa Bela sadari, apa yang dia katakan di dengar oleh Maik yang sedang berada di balik pintu kamarnya. Mendengar kata-kata Bela di iringi tangisan yang begitu menyedihkan, membuat laki-laki kaku itu langsung mematung. Dari raut wajah Maik, terlihat dia begitu hancur mendengar apa yang baru saja di katakan Bela. Dengan raut wajah penuh bersalah, Maik pun mulai bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bertanggung jawab dengan keadaan putriku sekarang ini. Apapun yang terjadi, aku harus mengikuti apa yang di inginkan Bela. Demi kebaikan putriku."
Maik yang begitu bingung dalam mengambil keputusan, seketika berpikir untuk menanyakan pendapat Bela. Dan dia sudah bertekad untuk melakukan apapun yang di katakan oleh Bela. Asalkan itu demi kebaikan putri kecilnya. Setelah memikirkan apa yang harus dia lakukan. Maik langsung mengetuk pintu tanpa bersuara.
tok...tok...tok...
"Siapa...?" Suara Bela dari dalam kamar, yang terdengar begitu parau.
"Masuk saja! Tidak di kunci." Sambung Bela.
Setelah membuka pintu, Maik langsung menatap Bela yang hanya terdiam di atas tempat tidurnya. Dengan langkah perlahan, Maik pun mendekat ke arah tempat tidur sambil bertanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Maik dengan tatapan penuh perhatian.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin segera bertemu Enjel." Jawab Bela berbohong dengan senyum yang sangat di paksakan.
Untuk menutupi keadaan hatinya yang sedang luluh lantah karena situasi yang ada. Bela berusaha untuk tersenyum walau hatinya merintih. Rasa yang ada di dalam hatinya, dengan susah payah harus dia sembunyikan. Karena menyadari kalau laki-laki yang ada di depannya itu, bukan lagi laki-laki yang dulu sangat dia cintai.
"Mengapa kamu tidak tidur? Apa kamu tidak mengantuk?" Tanya Maik, yang membuat hati Bela semakin bersedih.
Sikap Maik yang tiba-tiba lembut dan penuh perhatian. Membuat Bela semakin bersedih mengingat masa lalunya, yang begitu pahit mengandung tanpa ada seorang suami. Tapi dia tidak ingin rasa itu kembali menguasai dirinya. Karena yang ingin dia pikirkan saat itu hanyalah Enjel. Bukan kisah masa lalunya.
"Aku akan tidur di pesawat saja. Apa semuanya sudah selesai di urus?" Tanya Bela tanpa menatap Maik.
"Sudah. Tapi aku ingin menanyakan satu hal padamu." Ujar Maik sambil terus menatap Bela.
"Apa kamu siap pergi sendiri? Atau kamu ingin pergi bersamaku?" Tanya Maik dengan tatapan mencari tahu.
"Aku pergi sendiri saja. Lagian selama ini Enjel tidak pernah tahu tentangmu. Dan aku juga tidak ingin membuatnya bingung, karena kehadiranmu dengan keadaannya saat ini." Ujar Bela yang membuat Maik langsung terdiam.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan mengantarmu ke bandara besok pagi." Ujar Maik dengan tampang tidak bersemangat.
__ADS_1
Mendengar jawaban Bela, Maik langsung kecewa karena merasa sangat tidak berarti sebagai seorang Ayah. Tapi dia juga tidak ingin membuat Enjel kebingungan dengan kehadirannya, seperti apa yang di katakan oleh Bela. Selain itu, Maik juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, yang sudah memilih pendaping hidup untuknya.