
Bella yang begitu mengkhawatirkan keadaan putrinya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dia masih saja terjaga walau waktu sudah semakin larut. Dia menatap wajah polos putrinya yang sedang terlelap di bangku pesawat, dengan tampang terlihat cemas. Melihat keadaan Bela, Maik yang baru saja keluar dari ruangan depan, segera mendekat dan duduk di sampingnya.
"Maik, aku tidak ingin kehilangan Angel. Dialah penyemangat hidupku," ucap Bela dan air mata pun meluncur membasahi wajahnya.
"Aku pun tidak ingin kehilangan dia," jawab Maik sembari merangkul pundak wanita cantik yang masih sangat dicintainya itu. Tapi Bela malah menghindar dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah datar.
"Bela, apa kamu begitu membenciku?" tanya Maik dengan posisi sedikit membukuk, berusaha menatap wajah Bela dengan jelas.
"Andaikan bisa memilih, aku lebih menginginkan kamu yang menderita sakit, bukan putriku. Kamu sudah menyiksaku dengan semua beban ini. Kamu berbahagia di atas penderitaan aku dan Angel. Dan kamu akan baik-baik saja bila terjadi apa-apa dengannya. Karena kamu akan memiliki seorang anak dari wanita itu," ucap Bela dengan bibir bergetar berusaha menahan tangisnya.
Bela yang sudah tak sanggup menyembunyikan kekecewaannya terhadap Maik, mulai membicarakan sesuatu yang malah membingungkan pria bermata tajam itu.
"Apa maksud kamu?? Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan," ucap Maik sembari meraih kedua tangan Bela. Tapi Bela malah mendorongnya dan berteriak kencang, yang membuat Angel terbangun.
"Lepaskan..."
"Mama.. Ma.." Angel langsung menangis ketakutan, sambil memeluk Bela.
"Sini sayang. Tenanglah, Mama baik-baik saja sayang." Bela berusaha menenangkan putrinya, yang terlihat sangat ketakutan.
"Ada apa Maik??" tiba-tiba muncul Ronald sahabat Maik yang punya jet pribadi.
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa. Dia hanya sedang emosi sama aku," jawab Maik dan kembali duduk di samping Bela.
Maik benar-benar bingung mendengar ucapan Bela. Ingin sekali dia bertanya biar bisa mengetahui apa maksud dari perkataan Bela. Tapi dia pun sadar, kalau itu bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya. Dia tidak mau membuat Angel semakin ketakutan dan menjauh darinya.
Setelah beberapa jam lamanya berada di dalam pesawat, mereka pun tiba di Amerika tepat pukul 03.30 sore waktu setempat. Setelah keluar dari Bandara, mereka langsung menaiki sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka. Maik memerintahkan pria yang mengendarai mobil mewah itu menuju Rumah Sakit besar di tengah kota Washington DC.
Hanya dalam waktu beberapa menit, mereka tiba di Rumah Sakit tersebut. Buru-buru Maik keluar dari dalam mobil dan mengambil Angel dari dalam gendongan Bela. Dan kedatangan mereka ternyata sudah di sambut oleh seorang Dokter ahli juga beberapa orang perawat. Angel di masukan ke dalam ruangan khusus, dan langsung di tangani Dokter.
Bela dan Maik yang diminta untuk menunggu di depan ruangan, hanya terdiam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Dan tidak berapa lama, keluar Dokter yang menangani Angel.
"Bagaimana keadaan putri saya Dok?" tanya Bela tanpa menunggu lama.
"Saya sudah memberikan dia obat penenang biar dia bisa beristirahat. Dan saya ingin meminta Ibu dan Bapak ikut saya ke ruangan, untuk membicarakan semuanya," jawab Dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya Dok?"
"Sebaiknya Bapak dan Ibu duduk dulu. Kita harus tenang dalam situasi seperti ini. Masalah sebesar apapun pasti bisa teratasi dengan keadaan tenang. Karena kita bisa berpikir jernih hanya dalam keadaan tenang." Dokter berusaha menenangkan Maik, juga Bela yang semakin gelisah memikirkan keadaan Angel.
"Begini Pak, Bu. Penyakit putri kalian sudah sangat parah. Kankernya sudah memasuki stadium tiga. Tapi Bapak dan Ibu masih punya kesempatan untuk menyembuhkannya."
"Bagaimana caranya Dok?" tanya Maik dan Bela secara bersamaan.
__ADS_1
"Hanya ada satu cara. Yaitu, dia harus memiliki seorang adik. Karena hanya dengan plasenta adiknya, nyawanya bisa tertolong. Dan dia juga bisa dirawat dirumah sambil menunggu kehadiran adiknya," jawab Dokter, yang membuat Bela seketika tertunduk dengan air mata yang semakin meluncur deras. Tapi tiba-tiba dia pun kaget mendengar jawaban Maik.
"Baik Dok, saya dan istri saya ini, akan berusaha untuk mendapatkan anak, agar putri kita bisa disembuhkan."
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu??" tanya Bela dengan kedua mata terbuka lebar saking kagetnya.
"Terimakasih Dok. Kita pergi dulu." Maik malah menarik tangan Bela pergi dari dalam ruangan Dokter.
"Pak, tolong jaga putri saya sebentar. Jangan kemana-mana sampai saya kembali," ucap Maik pada seorang pria yang tadi mengantar mereka dari bandara. Dan ternyata pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Maik.
Maik terus menarik tangan Bela masuk kedalam mobil. Bela yang malu dilihat orang hanya terdiam walaupun dia sangat kesal dengan perlakuan Maik yang sedikit kasar dan terkesan memaksa. Maik melajukan mobil dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan kota Washington DC.
"Maik,, kamu mau membawaku kemana?? Dan apa maksud kamu menjawab seperti tadi??" Bela mulai bertanya, tanpa mau beradu pandang dengan pria bermata tajam itu.
"Kita harus pulang menyiapkan kamar untuk Angel. Aku akan memakai jasa Dokter dan suster untuk merawatnya di rumah," jawab Maik dengan tatapan lurus ke depan.
"Dan untuk pembicaraan aku dan Dokter tadi, akan aku jawab setelah menanyakan sesuatu sama kamu. Tapi aku akan menanyakan semuanya setelah tiba di rumah," lanjut Maik.
"Kita mau ke rumah siapa?? Kamu jangan pernah membawaku ke rumah wanita itu. Aku tidak mau mencari masalah. Karena masalah aku sudah terlalu berat."
Maik yang mulai mengerti tujuan pembicaraan Bela, lebih memilih diam. Dia yakin akan timbul keributan saat membahas tentang wanita lain. Karena dia tahu betul seperti apa sifat wanita di sampingnya itu. Dan dia berusaha untuk bersabar sampai di tempat tujuan. Melihat sikap diamnya Maik, Bela malah semakin geram. Dia mengepalkan kedua tangan, berusaha mengendalikan kemarahannya.
__ADS_1
Sementara di Indonesia, kedua orang tua Bela sudah seperti orang setengah gila mencari keberadaan Bela dan Angel. Mereka mencari dari Rumah Sakit, rumah beberapa orang yang dekat dengan Bela, bahkan sampai ke Bandara. Tapi pencarian mereka sedikitpun tidak membuahkan hasil. Sebab orang yang mereka cari sudah berada di negara yang jauh. Mereka pun tidak mengetahui kalau Maik yang sudah membawa Bela dan putrinya.
Kedua orang tua Bela hanya bisa menangis karena tidak menemukan jejak Bela dan Angel. Terutama Ibunya yang tidak bisa hidup terpisah dari Bela sejak dia masih kecil. Wanita itu benar-benar khawatir akan terjadi hal buruk pada Bela juga cucunya di luar sana.