Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 34. Pertemuan Secara Bertatap Mata.


__ADS_3

Awalnya Leon tidak mau menjelaskan masalahnya, karena adanya keberadaan Maik di situ. Tapi setelah di yakinkan oleh Endru, akhirnya Leon pun mau menjelaskan masalah antara dia dan Sari. Dan masalah itu yang membuat mereka berdua jadi tidak tenang, dan sangat ketakutan terutama Sari.


Sari memberitahukan keterlambatan datang bulannya kepada Leon, baru tiga hari yang lalu. Leon yang mengetahui itu sangat khawatir dan langsung berfikir, untuk menanyakan solusi dari kakaknya Endru. Karena setiap ada masalah dia selalu menanyakan pendapat dan saran dari kakaknya, yang menurut lebih berpengalaman dan bisa untuk di percaya.


Tapi mendengar masalah yang sedang di hadapi oleh adiknya, Endru sendiri jadi kaget dan bingung. Karena walaupun dia sudah berpengalaman dalam asmara, dia tidak pernah mengalami apa yang sedang di alami Leon adiknya. Akhirnya Endru pun meminta saran dari Maik.


Dengan begitu tenangnya, Maik memberi saran kepada mereka, untuk melakukan tes terlebih dulu biar semuanya menjadi jelas. Karena masalah yang membuat Leon juga Sari jadi ketakutan itu, baru sebuah perkiraan.


"Maik,, menurut kamu bagaimana,,?" Tanya Endru yang sudah mulai kebingungan.


"Menurut aku,, lebih baik kalian melakukan tes,,! Biar semua dugaan kalian bisa lebih jelas. Karena semua ketakutan kalian ini kan, belum terbukti." Kata Maik memberi saran.


"Kalau gitu kalian beli tespek aja biar lebih jelas." Sambung Endru.


"Ya sudah, beli sekarang saja,,!" Kata Sari dengan tampang yang terlihat begitu khawatir.


"Beli di apotik dekat sini saja,,!" Sambung Endru.


"Jangan beli di apotik dekat sini, soalnya aku takut ketahuan sama Bela." Kata Sari yang membuat Maik langsung menatapnya tiba-tiba dengan tatapan yang tajam.


"Tapi apotik yang lain terlalu jauh." Sambung Endru.


"Ngga apa-apa kak biar jauh, asalkan tidak di curigai Bela." Kata Leon yang membuat Maik langsung bersuara.


"Memangnya Bela itu siapa,,?" Tanya Maik yang semakin penasaran dengan nama itu.


"Dia sahabat aku Pak, kita tinggal bersebelahan apartemen, dan dia bekerja di apotik dekat sini, aku takut dia curiga." Kata Sari menjelaskan.


Apa yang Sari katakan barusan membuat Maik merasa semakin penasaran. Tapi tidak berapa lama dia kembali berfikir, dan berkata-kata dalam hatinya.

__ADS_1


"Untuk apa aku harus merasa penasaran seperti ini,,? Lagian dia hanya masalaluku yang pahit. Dan belum tentu juga wanita itu adalah dia." Maik berkata-kata dalam hatinya sambil menundukan kepalanya.


"Ada apa Maik,,?" Tanya Endru karena merasa aneh dengan sikap Maik.


"Tidak ada apa-apa, trus bagaimana dengan masalah ini,,?" Tanya Maik sambil menatap Endru.


"Begini Maik, Temannya Sari itu kan sudah mengenaliku juga, jadi bisa ngga kalau kita berdua pergi dan kamu yang membelikannya,,? Letak apotik itu tidak jauh ko dari sini." Kata Endru.


"Bisaa,, nanti biar aku yang membelinya." Kata Maik dan langsung berdiri.


"Ini uangnya." Sabung Leon sambil mengeluarkan selembar uang dari saku celananya.


"Biar pakai uang aku saja." Kata Endru dan langsung melangkah pergi bersama Maik.


Hanya beberapa menit mereka sudah sampai di depan apotik. Maik keluar dari mobil dan melangkah menuju apotik dengan jantung yang berdetak tak menentu. Dia merasakan sangat tidak tenang, seperti akan terjadi sesuatu. Dan apa yang dia rasakan itu memang benar-benar terjadi.


Sejenak langkah kaki Maik berhenti dan dia kembali berfikir, kalau dia tidak boleh seperti itu. Karena menurutnya, ketulusan hatinya tidak pantas di Permainkan oleh seorang wanita, yang sudah membuatnya hampir gila beberapa tahun yang lalu. Selesai berfikir sejenak, Maik kembali melangkah sambil berkata-kata pada dirinya sendiri.


"Jangan lemah hanya karena melihat penghianat itu. Dia adalah orang asing yang tidak punya arti apa-apa bagiku." Kata Maik sambil melangkah maju.


Hanya beberapa langkah, Maik akhirnya sampai di depan apotik, kemudian dia masuk ke dalam apotik itu dan langsung berdiri tepat di belakang Bela. Sedangkan Bela yang sedang sibuk melayani pembeli yang duluan datang, tidak menyadari keberadaan Maik di belangnya sama sekali.


Melihat Bela yang begitu sibuk melayani beberapa orang pembeli, membuat pemilik apotik itu langsung turun tangan. Pemilik apotik itu melangkah mendekati Bela, kemudian berbisik di samping telinga Bela yang membuat Bela jadi malu.


Sedangkan Maik yang sudah berdiri tepat di belakang Bela, hanya menatap ke arah Bela dengan tatapan yang sangat dingin.



"Layani saja orang yang baru datang itu,,! Dia tampan bangat, kalau aku ngga bisa karena sudah punya suami." Kata wanita pemilik apotik itu menggoda Bela.

__ADS_1


"Apa-apaan si Bu,,?" Kata Bela sambil tersenyum malu, dan langsung berbalik menatap orang yang ada di belakangnya.


Senyum Bela seketika langsung berganti dengan ketegangan yang luar biasa. Dia seperti tersambar petir, wajahnya pucat seketika, dadanya bergemuru dengan begitu hebat melihat laki-laki tampan yang sedang berdiri di hadapannya, dengan tatapan sedingin es. Bela menatap Maik sambil menggigit jarinya tanpa mampu untuk bersuara.



Wajah itu terlihat lagi untuk yang kedua kalinya dalam sehari. Wajah tampan yang setiap hari Bela rindukan dengan penuh derai air mata beberapa tahun yang lalu. Dan kini dia dapat melihatnya secara bertatap mata. Tapi tatapan dari mata yang indah itu, tidak menunjukan adanya kasih sayang seperti yang dulu, malah terlihat berjuta kebencian.


Maik menatap Bela tanpa berkedip sama sekali, kebenciannya terhadap Bela sudah sangat menguasai dirinya. Tidak terlihat adanya cinta di mata Maik walaupun tidak bisa dia pungkiri, kalau sampai saat itu dia belum bisa untuk melupakan wajah cantik itu sepenuhnya dari dalam ingatan.


Melihat tatapan antara Bela dan pria tampan itu, pemilik tokoh jadi bingung dan langsung mendekati Bela kemudian berbisik di telinga Bela yang membuat Bela langsung kaget.


"Bela,, sampai kapan kamu akan menatapnya,,?" Bisik pemilik toko yang sudah menganggap Bela seperti sahabatnya.


"Aaaa,, aaku,, aku ngga apa-apa." Jawab Bela dengan begitu gugup dan salah tingkah.


"Aku ngga tanya kamu kenapa,,?" Kata pemilik tokoh itu sambil tersenyum, yang membuat Bela semakin malu dan langsung memilih melayani pembeli yang lain.


"Mau beli obat Pak,,?" Tanya pemilik tokoh itu karena Bela sudah memilih untuk melayani pembeli yang lain.


"Aku mau beli tespek." Jawab Maik singkat yang membuat Bela langsung mematung seketika.


Dalam fikiran Bela, dia membenarkan semua yang dia dengar selama ini dari keluarganya, kalau Maik bukanlah laki-laki yang baik. Dia hanyalah seorang ******** yang suka merusak masa depan wanita. Tapi dengan segera, Bela kembali bersikap seperti biasanya, karena dia tidak ingin perasannya kembali di permainkan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.


Selesai membayar tespek yang sudah ada di tangannya, Maik dengan segera melangkah pergi tanpa memperdulikan Bela sama sekali. Dan Bela yang berusaha untuk menguatkan hatinya, hanya bisa menahan sesak di dadanya karena mengetahui kenyataan, kalau laki-laki yang pernah dia cintai itu, sudah punya wanita lain yang mungkin saja sedang mengandung anaknya.


Itulah kebodohan Maik juga Bela selama ini. Mereka berdua sama-sama tidak pernah mencoba untuk mencari kebenaran yang sebenarnya. Dengan begitu mudahnya mereka berdua di pengaruhi dan di bodohi oleh keluarga mereka masing-masing.


Kebodohan mereka itu telah menciptakan keegoisan yang begitu besar, yang sudah menghancurkan cinta dan rasa saling percaya di antara mereka berdua. Dan tidak ada kesadaran dari Bela, kalau yang menerima akibat dari semua itu adalah Enjel putri kecilnya yang tidak berdosa.

__ADS_1


__ADS_2