Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 52. Kenyataan Pahit.


__ADS_3

Maik yang sudah berputus asa karena penolakan Bela. Memutuskan untuk kembali ke Amerika besok paginya. Dia tidak sanggup berada dekat dengan putrinya. Namun dia tidak bisa melakukan apapun kesembuhannya. Sebelum pulang dari RS tempat Engel di rawat, Maik sempat menggenggam tangan mungil itu walau hanya sesat karena di batasi oleh Bela. Dan hal itu membuatnya semakin tersiksa. Karena tidak bisa melupakan bayangan wajah putri kecilnya yang terbaring lemah tak berdaya.


Sedangkan di RS, Bela yang sangat kelelahan memikirkan keadaan Angel memilih untuk langsung tidur bersamanya setelah Maik pergi. Dia sama sekali tidak ingin memberikan kesempatan kepada Maik. Karena mengingat pengorbanan kedua orang tuanya. Tapi hanya beberapa menit tertidur, tiba-tiba dia bermimpi akan sesuatu yang membuatnya langsung terbangun seketika.


"Astaga.. Apa sebenarnya maksud dari mimpi itu? Apa benar Papa yang sudah memisahkan aku dari Maik?" Bela bertanya-tanya sendirian sambil terus mendekap Engel dalam pelukannya.


Bela yang merasa aneh dengan mimpi yang tadi datang dalam tidurnya, jadi kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia tetap berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan kedua orang tuanya. Yang begitu berjasa untuk dia juga Angel putrinya. Di saat Bela ingin kembali memejamkan mata, tiba-tiba mendengar suara kedua orang tuanya yang sudah berada di depan pintu ruang rawat Engel. Dengan segera Bela pun berpura-pura tertidur karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya curiga. Dengan wajahnya yang terlihat sangat sembab.


"Pa,, bagaimana kita bisa mengobati Engel? Penyakit yang di derita Engel bukan penyakit yang bisa dengan mudah di sembuhkan. Engel harus mendapat donor sum-sum tulang belakang salah satu dari kedua orang tuanya."


"Itu tidak mungkin terjadi." Jawab Ferdi.


"Iya Pa,, lagian darah Bela tidak cocok dengan darah Engel. Apa sebaiknya kita menghubungi Ayahnya?" Ujar Mamanya Bela sambil menatap Bela dan Engel di atas tempat tidur.


"Apa maksud kamu? aku tidak akan membiarkan laki-laki brengsek itu datang menemui Bela juga Angel." Ucap Ferdi dengan nada suara yang terdengar kesal.


"Kalau itu demi kesembuhan Engel, kenapa tidak?" Jawab Indira.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi nanti aku tetap tidak akan melakukan itu. Aku tidak mau usahaku memisahkan Bela dengan Maik selama ini akhirnya sia-sia. Kalau aku sampai melakukan apa yang kamu inginkan." Jawaban Ferdi yang membuat jantung Bela seketika memburu dengan begitu kencangnya.


Hati Bela benar-benar hancur mendengar semua yang di bicarakan kedua orang tuanya. Laki-laki yang begitu dia hormati juga dia sayangi, dengan sangat tega menghancurkan hidupnya. Juga tega mengorbankan keselamatan putrinya hanya karena tidak menginginkan keberadaan Ayah kandungnya.


Air mata kekecewaan mulai menetes membasahi pipi Bela, yang sedang terbaring membelakangi kedua orang tuanya. Tanpa membuka matanya, Bela pun mulai berkata-kata di dalam hati dengan perasaan yang sudah hancur berkeping-keping.


'Ayah,, mengapa Ayah tega melakukan semua ini? Keegoisan Ayah telah menghancurkan hidupku.' Batin Bela sambil merintih menahan kesedihannya.


Bela yang sangat terpukul dengan apa yang baru saja dia dengar, tidak ingin menggantungkan hidup putrinya di tangan keluarganya. Dengan bercucuran air mata tanpa suara, Bela mulai memikirkan jalan yang harus dia ambil demi keselamatan putrinya.


"Ma,, aku harus menemui Dr yang menangani Engel besok pagi. Kita tidak bisa berada di sini lebih lama lagi." Ujar Ferdi setelah setengah jam menatap Bela. Yang masih terus memeluk Engel dengan mata yang tetap terpejam.


"Kita harus mengeluarkan Engel dari RS ini. Kita sudah tidak punya biaya untuk pengobatannya." Jawaban Ferdi yang membuat dada Bela semakin terasa sesak.


"Tapi keadaannya kan semakin memburuk. Bagaimana mungkin kita mengeluarkan dia dengan keadaan seperti ini?" Indira bertanya-tanya dengan tampang kebingungan.


"Tidak ada jalan lain selain keluar dari RS. Lagian kita sudah tidak punya harapan untuk menyembuhkannya. Sampai kapan lagi kita harus melihat Bela tersiksa seperti ini?" Ujar Ferdi tanpa ada rasa bersalah.

__ADS_1


"Pa,, kalau terjadi apa-apa sama Engel, Bela pasti semakin hancur. Engel adalah semangat hidupnya." Ujar Indira yang sangat tidak setuju dengan keputusan suaminya.


"Dia akan hancur dan sangat terpuruk di saat kehilangan Engel. Tapi itu tidak akan lama. Seperti saat dia kehilangan Maik beberapa tahun yang lalu." Jawaban Ferdi yang membuat Bela hampir membuka suara. Tapi dia berusaha untuk bersabar demi rencana yang sudah dia pikirkan sejak tadi.


Kasih sayang Ferdi terhadap Bela sudah menutupi mata hatinya. Karena tidak tega melihat penderitaan Bela dengan sakit yang di derita Engel, membuat Ferdi dengan tega memilih untuk mengorbankan cucunya sendiri. Dia tidak ingin menyaksikan Bela berlarut-larut dalam kesedihannya karena memikirkan keadaan putri kecilnya.


"Ayo kita pulang! Kita harus mempersiapkan semuanya untuk kepulangan Engel besok." Ferdi berkata-kata sambil meraih tangan Indira, yang hanya terdiam menatap Bela dan Engel di atas tempat tidur.


Setelah kedua orang tuanya meninggalkan RS, Bela langsung buru-buru bangun dan membereskan semua keperluan Engel. Selesai membereskan semuanya, tanpa menunggu lama dia segera membangunkan Engel, yang masih tertidur dengan keadaan semakin lemah.


"Ada apa Ma?" Tanya Engel dengan kata-kata yang tidak terlalu jelas.


"Ayo sayang,, kita harus pergi dari sini." Jawab Bela sambil memakaikan jaket kepada Engel.


"Kita mau kemana Ma? Apa kita mau pulang?" Tanya gadis kecil itu.


"Nanti kamu juga akan tahu. Sekarang jangan terlalu banyak bicara. Mama akan membawamu ke suatu tempat." Jawab Bela dan langsung menggendong Engel. Kemudian meraih plastik yang terisi dengan perlengkapan Engel.

__ADS_1


Dengan sangat berhati-hati Bela keluar dari ruang rawat Engel menuju pintu belakang RS itu. Dia memilih untuk melewati pintu belakang biar tidak ada yang melihatnya. Karena kalau sampai ada yang melihatnya membawa Engel di larut malam seperti itu, dia pasti akan di cegah dan mungkin akan di salahkan oleh pihak RS. Apalagi Engel termasuk salah satu pasien yang berada dalam penanganan serius.


__ADS_2