Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku

Tunanganku Adalah Orang Yg Telah Menodaiku
Bab 48. Musibah Terbesar Bela Dan Maik.


__ADS_3

Dari balik kaca pintu RS, Bela yang tidak tega melihat keadaan Enjel yang terlihat pucat dengan mata terpejam di atas tempat tidur, hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa bersuara. Hatinya seketika luluh lantah mendengar kenyataan pahit tentang putri kecilnya. Sebagai seorang Ibu, jiwa Bela begitu terguncang menyaksikan kesakitan yang sedang di rasakan oleh anaknya.


"Sayang,, ada apa..? Mengapa kamu menangis seperti ini..?" Tanya Ibu Indira yang sudah berada tepat di samping Bela.


"Ma,, apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan putriku..?" Tanya Bela sambil menatap Mamanya dengan bercucuran air mata.


"Maksud kamu apa bertanya seperti itu..? Kamu jangan buat Mama panik..! Enjel akan baik-baik saja sayang." Ujar Ibu Indira berusaha menenangkan putrinya.


"Ada apa Ma..?" Tanya Ferdi, Papanya Bela yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Ngga apa-apa Pa... Bela hanya sedikit khawatir dengan keadaan Enjel." Jawab Indira tanpa menatap suaminya yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Bel,, kamu tidak usah cemas..! Enjel akan baik-baik saja." Ujar Ferdi sambil menatap putrinya yang terlihat begitu khawatir atas keselamatan cucunya.


"Dia tidak baik-baik saja Pa,, Ma.. Enjel sekarang lagi kritis. Putriku sedang sekarat Ma.. Hiks,,,hiks,,,hiks." Bela berkata-kata sambil menangis tersedu-sedu.


"Maksud kamu apa Bela..? Enjel sudah membaik. Kemarin memang dia sempat drop. Tapi sekarang dia sudah lebih baik." Ujar Indira yang terlihat sudah mulai khawatir dengan perkataan Bela barusan.


"Aku baru saja berbicara dengan Dr yang menangani Enjel Ma.. Dr itu bilang, kalau putriku menderita kanker darah stadium lanjut. Hiks,,,hiks,,,hiks.." Jelas Bela sambil tersandar di pintu ruang rawat Enjel, dengan air mata yang semakin meluncur membasahi wajah cantiknya.


"Apa...? Apa kamu bilang...? Tidak.. Tidak mungkin cucuku menderita penyakit seperti itu." Ferdi berkata-kata sambil menggelengkan kepalanya dengan tampang tidak percaya.

__ADS_1


"Apa yang tidak mungkin Pa..? Antoni memiliki penyakit keturunan, dan penyakit itu adalah kanker darah. Apa kamu lupa..? Papanya Antoni meninggal karena Leo kimia..?" Ujar Indira yang membuat suaminya langsung lemas tak berdaya, karena teringat dengan penyakit turunan keluarga Maik.


"Mengapa harus cucuku yang menanggung semua ini..? Mengapa tidak laki-laki keparat itu saja..?" Ujar Ferdi yang mengatai Maik sebagai laki-laki keparat.


"Bela,, apa yang harus kita lakukan..? Kita harus mencari cara untuk bisa menyembuhkan Enjel. Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan Enjel." Ujar Indira sambil mendekap Bela di dalam pelukannya.


"Ma,, kamu jangan menambah beban Bela dengan pertanyaan seperti itu! Biar nanti Papa saja yang mencari jalan keluarnya." Sambung Ferdi di saat melihat keadaan Bela yang benar-benar terpuruk.


"Ayo sayang,,! Kita ke dalam menemani Enjel. Nanti Papa yang akan mencari cara untuk menyembuhkan Enjel." Ujar Indira sambil merangkul Bela melangkah masuk ke dalam ruang rawat Enjel.


Melihat wajah imut yang sudah tidak lagi bersinar, membuat Bela seperti ingin mati saat itu juga. Dia tidak mampu berada di dalam keadaan sesulit itu. Wajah imut yang selalu ceria, kini hanya terlentang dengan di penuhi alat medis yang menempel di tubuhnya. Sambil mencium kening putrinya yang hanya memejamkan mata, Bela pun mulai berkata-kata di dalam hatinya.


"Sayang,, maafkan Mama yang selama ini berada jauh dari sisimu. Mama melakukan semua itu demi kamu. Mama tidak sanggup melihat kamu seperti ini. Tapi apapun akan Mama lakukan, demi untuk menyembuhkan mu. Agar kita bisa bercanda seperti hari-hari yang sudah-sudah.


"Sayang,, kamu jangan berputus asa! Mama yakin Papa akan berusaha demi kesembuhan Enjel. Lebih baik kita doakan keselamatan Enjel." Ujar Indira dengan berderai air mata.


"Ma,, aku harus kembali ke ruangan Dr yang menangani Enjel. Aku harus menanyakan solusi yang tepat untuk menyembuhkan putriku. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena penyakit yang di derita putriku ini bukan penyakit biasa." Ujar Bela setelah mendengar perkataan Mamanya.


"Iya sayang. Nanti biar Mama yang menjaga Enjel di sini. Tapi kamu harus kuat. Apapun yang di katakan Dr itu bisa saja salah. Karena yang menentukan umur manusia hanyalah Tuhan bukan Dr itu." Ujar Indira berusaha memberikan semangat kepada Bela.


"Iya Ma. Tapi aku juga tidak hanya bisa berdoa tanpa ada usaha. Dr memang hanyalah manusia seperti kita. Tapi pengalaman mereka bukan hanya sebatas kata-kata. Merea sudah terlatih dalam menangani penyakit." Sambung Bela yang membuat Mamanya seketika jadi terdiam.

__ADS_1


"Iya sayang. Kita memang harus berusaha dengan cara apapun demi Enjel." Ujar Indira setelah beberapa detik tak bersuara.


Tanpa menunggu lama, Bela yang sudah semakin tidak tenang memikirkan keadaan putrinya, langsung melangkah pergi meninggalkan ruang rawat Enjel menuju ruangan Dr yang menangani Enjel. Dan tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari bagian sudut ruang rawat Enjel.


"Permisi Dok." Suara Bela setelah Dr laki-laki yang kira-kira berusia 55 tahun itu, mempersilahkannya untuk masuk.


"Bagaimana Bu Bela..? Apa ada yang bisa saya bantu..?" Tanya Dr itu dengan nada suara yang begitu ramah.


"Dok,, aku ingin menanyakan solusi yang terbaik untuk kesembuhan putriku." Jawab Bela sambil menatap Dr laki-laki di depannya itu dengan tatapan serius.


"Hanya ada satu cara untuk menyembuhkan putri Ibu dari penyakitnya saat ini." Jawaban Dr yang membuat Bela kembali berharap.


"Bagaimana caranya Dok..? Apapun akan aku lakukan demi keselamatan putriku." Ujar Bela yang begitu tidak sabar ingin mendengar jawaban Dr di depannya itu.


"Apa Enjel punya saudara kandung..?" Tanya Dr itu yang membuat Bela jadi bingung.


"Tidak ada Dok. Memangnya kenapa Dok..?" Tanya Bela dengan tatapan serius.


"Harapan satu-satunya hanyalah kalau Enjel punya saudara kandung, yang bisa mendonorkan sum-sum tulang belakang. Dan yang lebih ampuh untuk menyembunyikan penderita kanker darah, hanyalah tali pusat dari adik kandung si penderita penyakit kanker darah tersebut." Jelas Dr itu yang membuat Bela langsung teringat dengan kehamilan calon istrinya Maik.


"Enjel memang tidak memiliki adik Dok. Karena sebelum dia lahir, aku dan Papanya sudah berpisah. Tapi Papanya sekarang akan memiliki anak dari wanita lain Dok." Ujar Bela tanpa ragu menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Di dalam situasi yang mendesak dan sulit seperti saat itu, Rasa benci juga kecewa terhadap Maik hilang seketika dari dalam pikiran Bela. Yang ada hanyalah keselamatan putri kecilnya. Walaupun semua itu tidak mudah untuk dia lakukan, namun Bela terpaksa memilih untuk melakukanya . Karena bagi dia, keselamatan Enjel lebih berharga dari pada harga dirinya. Dia siap walau harus memohon kepada Maik juga wanita yang sedang mengandung darah dagingnya Maik.


__ADS_2