
Di bawa langit luas yang di selimuti kegelapan. Bela yang sudah berdiri di samping jalan dengan Engel di dalam gendongannya. Menatap ke sana ke mari mencari tumpangan untuk segera pergi dari situ sebelum ada yang melihatnya. Namun tidak ada satupun cahaya kendaraan yang terlihat. Sebagai seorang Ibu, hati Bela benar-benar menjerat melihat wajah mungil yang begitu tidak berdaya.
'Sabar ya sayang. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhan mu. kamu adalah segalanya dalam hidupku. Jangan pernah khawatir selama kita masih tetap bersama.' Batin Bela.
Bela yang begitu terpukul atas apa yang baru saja dia ketahui. Hanya bisa meneteskan air mata melihat kondisi putrinya. Dan di saat dia sedang kebingungan karena tidak mendapat tumpangan sejak tadi, tiba-tiba pandangannya di silau kan dengan lampu mobil yang sedang melaju dari arah sana.
"Berhenti... Tolong berhenti..!" Suara Bela yang terdengar begitu keras, sambil melambaikan tangannya ke arah mobil yang sudah berada dekat dengan tempat dia berdiri.
"Mas... Tolong saya Mas..! Saya butuh tumpangan." Bela berujar setelah mobil mewah itu sudah berhenti tepat di depannya.
"Bela.." Suara seseorang yang terdengar sedikit berteriak, setelah kaca mobil di turunkan.
"Maik... Cepat buka pintunya..!" Seru Bela sambil mendekap Engel yang sudah terlelap di dalam gendongannya.
"Ayo masuk! Ada apa sama kalian?" Tanya Maik sambil buru-buru membukakan pintu mobilnya.
"Bawa kita pergi dari sini secepatnya sebelum orang tuaku datang! Aku akan menjelaskannya nanti." Seru Bela dengan tampang terlihat panik sambil menatap ke sana kemari.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Maik pun langsung melajukan mobilnya mengikuti permintaan Bela. Setelah Bela sudah duduk di sampingnya bersama Engel di dalam dekapannya. Maik benar-benar kaget dengan apa yang terjadi. Namun di sisi lain, ada sedikit rasa bahagia yang dia rasakan. Karena mendengar apa yang di katakan Bela barusan. Maik melajukan mobilnya melintasi jalan raya, sambil sesekali melirik ke arah kaca spion yang ada di atas kepalanya. Hatinya kembali teriris saat menatap Bela. Yang sedang mengecup kening Engel berulang-ulang.
Setelah mobil terparkir di parkiran hotel tempat Maik menginap, Maik langsung buru-buru keluar untuk membukakan pintu untuk Bela. Kemudian mereka segera bergegas memasuki hotel berbintang itu. Dari raut wajah Maik terlukis kebahagiaan yang tak terhingga. Melihat dua orang wanita yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya.
"Baringkan saja dia di sana!" Ujar Maik setelah berada di dalam kamar yang dia tempati.
"Maik,, Engel tidak bisa di biarkan lama seperti ini. Dia harus mendapatkan perawatan medis. Keadaannya sudah semakin memburuk." Ujar Bela setelah membaringkan Engel di atas tempat tidur.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak bisa mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasan darimu. Aku tidak ingin memaksakan kehendak mu. Walaupun Engel adalah darah dagingku." Maik bertanya sambil menatap Bela dengan tatapan serius.
"Aku ingin meminta tanggung jawab mu sebagai seorang Ayah untuk Engel. Saat ini hanya kamu yang bisa menyelamatkan dia. Tidak ada orang yang bisa aku harapkan selain kamu." Jawab Bela tanpa berani menatap wajah Maik.
"Aku memutuskan untuk melarikan diri membawa Engel dari RS, setelah mendengar pembicaraan kedua orang tuaku. Mereka sudah tidak ingin merawat Engel di RS karena masalah biaya. Dan mereka juga tidak mau melihatku tersiksa terlalu lama. Karena keadaan Engel yang seperti ini." Jelas Bela yang membuat Maik langsung menatapnya tajam.
"Maksud kamu, mereka sudah pasrah dengan keadaan Engel karena tidak ingin melihatmu menderita..?" Tanya Maik dengan tatapan tajam ke arah Bela yang hanya mengangguk sambil menatapnya gugup.
"Sebagai orang tua, mereka sangat memikirkan keadaanmu. Itu hal yang wajar. Aku pun merasakan hal yang sama. Aku tidak bisa membiarkan putriku menahan sakit terlalu lama. Kalau kamu masih ingin bersamanya, ikutlah denganku. Tapi kalau tidak, aku akan pergi membawa putriku." Ucap Maik dengan tatapan serius ke arah Bela.
__ADS_1
"Engel adalah segalanya bagiku. Apapun akan aku lakukan demi kesembuhannya. Tanpa dia, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan sampai saat ini atau tidak? Jadi tidak usah kamu mempertanyakan semua itu. Lakukan saja tugasmu sebagai seorang Ayah!" Jawab Bela dengan nada suara bergetar karena menahan tangisnya.
"Besok kita langsung berangkat ke Amerika. Tidurlah bersamanya!" Seru Maik kemudian melangkah menuju sofa yang ada di dalam kamar hotel itu.
Suasana menegangkan kembali di rasakan Maik juga Bela karena berada di dalam satu kamar. Dan di saat itu, tidak ada tempat untuk Bela bisa menghindar seperti waktu di Amerika. Di saat pertama kali Maik menemuinya di apartemen tempat dia tinggal.
Mereka berdua sama-sama tidak bisa tertidur memikirkan keadaan Angel. Orang tua manapun tidak akan bisa tenang melihat kondisi anaknya yang semakin memburuk. Tanpa bisa memejamkan mata. Bela memeluk tubuh mungil putrinya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Bela memutuskan untuk ikut bersama Maik demi keselamatan putrinya. Dia begitu sedih memikirkan semua pengorbanan kedua orang tuanya. Di saat dia di tinggalkan oleh Maik beberapa tahun yang lalu. Tapi apapun yang terjadi, Bela harus mengutamakan keselamatan putrinya. Dia rela melakukan apapun demi Angel. Bidadari yang menjadi penyemangat dalam hidupnya.
Melihat Bela yang belum juga tertidur. Maik jadi tidak tenang berada di sofa. Dengan perlahan dia melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Melihat bayangan Maik yang ada di dinding. Bela hanya terdiam tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Angel.
"Bela,, apa kamu tidak ingin tidur?" Tanya Maik dengan suara yang sangat pelan.
"Aku ingin menjaga Angel. Dia akan menangis kalau terbangun tidak mendengar suaraku." Jawab Bela dengan wajah yang terlihat sangat lesu.
"Aku akan membangunkan mu kalau nanti dia bangun. Tidurlah sebentar biar kamu punya tenaga untuk menjaganya besok hari." Pinta Maik dan Bela hanya terdiam.
__ADS_1
"Jangan lepaskan pelukanmu dari tubuhnya. Biar kamu bisa merasakan gerakannya kalau dia terbangun." Tambah Maik dan Bela hanya mengangguk tanda setuju.